Unboxing

Unboxing
45. Ada Yang Lain



Sudah setengah jam Leon melihat dokumen yang berisi keseluruhan identitas peri keci yang ia cari selama ini.


"Apa dia adik Bos dari Wanita Bos besar?" Tanya Simon yang suka bicara sembarangan didepan Leon.


"Simon!" Panggil Leon melihat kearahnya.


"Siap Bos!" Sahut Simon. "Rahasia aman terkendali!" Memberi hormat.


"Apa kamu pernah melihat David bersama dengan wanita lain selain Nadin?" Tanya Leon.


"Lapor!Bos Besar selalu menempel Pada Bos Ratu seperti perangko Bos." Jawab Simon lantang.


"Lalu darimana lo berpikir papah punya anak lain selain Gue." Ucap Leon melempar dokumen tentang peri kecil kedalam lacinya.


"Kalau bukan adik bos dia siapa?" Tanya Simon menurunkan tangannya.


"Simon." Panggil Leon yang menemukan kejanggalan pada identitas Peri kecilnya.


"Ya bos!"


"Bukankah Winata memliki perusahaan sendiri." Ucap Leon menaikan salah satu alisnya. "Kenapa putri tunggalnya malah bekerja diperusahaan kita?" Tanya Leon mengecek perusahaan yang dimiliki keluarga Winata yang dikelola oleh Aditya Winata.


"Aditya Winata ini---"


"---Dia adik dari pemilik perusahaan sebelumnya Bos." Potong Simon.


"Emang Siapa pemilik sebelumnya?" Tanya Leon.


"Ansel Winata Bos!" Jawab Simon menunjukkan ipadnya pada Leon mengenai identitas Ansel Winata pemilik perusahaan keluarga Winata.


"Gue gak pernah lihat nama lain selain Aditya Winata selama ini." Ucap Leon.


"Kabarnya pemilik asli Ansel Winata meninggal dalam kecelakaan bersama istrinya Bos. Ketika kecelakaan terjadi yang selamat hanya putri Tunggal mereka yang berusia 6 tahun." Ucap Simon. "Ketika musibah menimpa keluarga Ansel adiknya Aditya muncul sebagai penanggung jawab dan yang merawat putri tuan Ansel yang pada saat itu koma." Jelas Simon terakhir sebelum Leon pergi meninggalkan kantor.


"Auristela." Leon membaca nama yang tertera didokumen yang ia terima dari Simon sebelumnya. "Kenapa gue ngerasa nama yang dipanggil hari itu sama sekali gak terdengar seperti nama ini." Ucap Leon meraih hapenya. Ia membuat panggilan pada Simon.


"Halo Bos." Suara Simon.


"Gue mau informasi terkait keluarga Aditya sebelum kecelakaan merenggut nyawa Ansel dan istrinya." Ucap Leon mengamati dari jauh Sandra berjalan memasuki gang tempat dia berada.


"Bukannya Bos hanya menginginkan putrinya?" Tanya Simon.


"Gue mau tahu apa yang dilakukan Aditya dan kondisi istrinya saat kecelakaan terjadi." Jawab Leon.


"Apa Bos menemukan kejanggalan pada identitas putri Aditya Winata yang bekerja diperusahaan kita?" Tanya Simon.


"Kalau Auristela putri Aditya lalu kemana perginya putri Ansel?" Tanya Leon.


"Bukankah Bos hanya ingin menemukan keberadaan gadis kecil itu?" Tanya Simon.


Aih mencari gadis kecil tanpa ada foto dan nama benar-benar menyulitkan. Batin Simon.


"Gue ngerasa Ada putri lain." Jawab Leon melihat Sandra yang berjalan sambil melepas cepolan rambutnya sambil melambaikan tangan dan senyuman pada Leon yang melihatnya dari mobil.


"Putri lain?" Tanya Simon.


"Ya." Jawab Leon menutup panggilan dari Simon dan membuka pintu untuk Sandra.


****


Setelah memesan chrspy chicken muffin with egg, chicken burger,french fries, Chicken nugget, air mineral,dan Mcfloat cola-fanta di driver thru Leon dan Sandra pergi menuju pantai dipinggiran kota yang sepi pengunjung. Keduanya menikmati makanan dibawah pohon kelapa diatas mobil yang atapnya telah dibuka oleh Leon. Angin sore berhembus dari pantai menepis nyiur pohon yang melambai begitu juga dengan rambut Sandra terkibas memperlihatkan wajahnya yang menikmati satu persatu miliknya yang ia pangku dalam paper bag.


Sandra menikmati setiap gigitan nugget yang ia lumuri dengan saos yang tanpa disadari membuat belepotan disudut bibirnya.


"Syurp!" Leon menjilat saos yang berada disela pinggiran bibir Sandra.


Leon menekan tombol menutup atap mobilnya kembali dan menurunkan kursi Sandra dengan bibir yang terus *******. Ia memajukan tubuhnya membuat tubuh Sandra terdorong tanpa perlawanan yang kini dibawah kekuasaan Leon. Keduanya pun tenggelam bersama dengan senja yang perlahan ikut menghilang.


"Kak Leon." Panggil Sandra diperjalanan keduanya pulang ke apartemen.


"Ya." Sahut Leon yang menyetir dengan satu tangan sementara tangan yang lain bergenggaman dengan tangan Sandra.


"Lusa Sandra UN." Ucap Sandra mengusap tangan Leon yang menggenggam tangannya yang lain.


"Yaudah entar gue antarnya lebih pagi dari biasanya." Ucap Leon.


"Maksud Sandra bukan itu."


"Lalu?"


"Selama ujian Sandra berangkatnya dari rumah aja." Jawab Sandra mengingat ia gak mungkin bisa berbohong sama orang rumah. Semua stasiun tv menyayangkan perihal ujian nasional. "Kak Leon gak pa-pa kan." Melihat Leon yang belum memberi jawaban apapun.


"Berapa hari?" Tanya Leon membelokan mobilnya masuk ke basemant.


"Ujian Nasional empat hari." Jawab Sandra. "Selang beberapa hari Ujian sekolah." Ucapnya. "Ujian sekolah kemungkinan lebih seminggu." Ucapnya melihat Leon yang sudah memarkirkan mobilnya.


"Selama jauh dari gue." Ucap Leon melepas seatbeltnya. "Jangan dekat-dekat sama cowok lain." Pinta Leon lanjut melepas seatbelt Sandra. "Mengerti?" Tekan Leon yang dibalas anggukan kepala oleh Sandra kemudian diteruskan dengan bibir Leon yang kembali meraup bibir Sandra.


"Untuk yang kemaren kamu coba periksa lagi." Ucap Frans yang berbicara lewat hape menutup pintu mobilnya. "Saya lihat masih ada yang belum pas." Lanjut Frans sambil berjalan dan mendengar suara ciuman dari mobil-mobil yang terparkir didepannya. "Oke itu saja. Saya tutup dulu." Ucap Frans melihat punggung Leon yang membelakanginya berdiri.


"Leon ciuman dengan siapa?" Tanya Frans yang tidak bisa melihat Sandra tertutup tubuh Leon.


Suara ciuman itu belum berhenti terdengar dari dalam mobil. Leon meraup lidah Sandra dan mengecapnya dengan lembut tanpa sadar ada Frans yang menangkap basah dirinya. Namun Frans tidak mengetahui bahwa wanita yang sedang Leon sergap tidak lain adalah tunangannya sendiri.


Frans mencari konta Jesika sembari berjalan menuju Lift.


"Gue tahu dia gak bakal angkat." Ucap Frans masuk kelift melakukan panggilan suara pada Jesika.


Sudah sebulan ia tidak pernah menemui Jesika. Ia menuruti kemauan wanita itu begitu saja meskipun jauh dilubuk hatinya Frans merindukannya.


Dan yang paling menyakitkan ketika keduanya berpapasan saat ia bersama dengan Stela, Jesika memalingkan pandangan padanya seolah tidak pernah ada yang terjadi diantara mereka berdua.


Berkali-kali ia melakukan panggilan pada Jesika,tak sekalipun wanita itu mengangkatnya.


Akan sangat baik kalo gue dengar kabar bahwa yang tadi bersama Leon itu dia. Batin Frans masuk ke apartemenya yang masih terus memanggil Jesika.


"Apa?!" Suara Jesika yang akhirnya menerima panggilannya.


"Gue cuma mau bilang selamat." Ucap Frans.


"Gue gak lagi ulang tahun." Ucap Jesika. "Lo mau nyelamatin gue buat apa?" Tanya Jesika.


"Bukannya Lo lagi sama Leon." Ucap Frans.


"Hah!" Keluh Jesika melepas nafas panjang. "Gue gak lagi sama dia." Ucap Jesika membuat Frans terdiam membeku.


"Frans!"panggil Jesika. "Halo!Frans?" Panggilnya lagi. "Lo masih disitukan?" Tanya lagi.


"Iya gue masih disini " sahut Frans."Lo gak bohong kan?" Tanya Frans.


"Kenapa?" Tanya Jesika. "Lo mau kesini?" Tanyanya lagi. "Gue kan dah bilang ki---"


"---Gue lihat Leon ciuman dengan cewek lain." Potong Frans membuat Jesika menjatuhkan hape ditangannya.


"Jes,gue gak ada maksud apa-apa." Suara Frans yang masih terdengar. "Jes!" Panggil Frans. "Jes!Lo masih disana kan?"


"Ada yang lain." Ucap Jesika mematikan panggilan Frans.