Unboxing

Unboxing
56. Manja



Gaun tidur yang terbagi dua tergelatak dilantai dan pakaian dalam yang terpental kemana-mana. Suara deru nafas dan derasahan berpacu memecah kensunyian malam. Frans dengan keringat ditubuhnya masih kokoh tegap menghujani Jesika yang terkulai lemas dibawah tubuhnya.


Sebelumnya Frans menciumnya hingga membuat dirinya hampir tak bernafas. Ia tidak bisa mengelak cumbuan Frans yang membuat tubuhnya lemah tak berdaya. Terlebih sudah sebulan lebih ia tidak lagi berhubungan badan dengan sahabat kekasihnya itu.


"Franssss." Desah Jesika meraba dada Frans dengan mata terpejam dan bibir yang mengaga membuat Frans tak ingin melewatkannya untuk tidak memainkan lidahnya didalam.


"Uhmmm."


"Ahh!" Desah Jesika ketika Frans melepas bibirnya dan menghujaninya kembali hingga tubuh Jesika bergetar dengan hebat.


"Aahhhhh!" Teriak Jesika memeluk Frans dengan tubuh yang menggeliat menerima kenikmatan.


"Jess." Desis Frans turun dari atas tubuh Jesika sambil meninggalkan kecupan dikening. "Kita mulai dari awal ya?"pintanya meraih selimut untuk menutupi tubuh mereka yang dibalas dengan Jesika memiringkan tubuhnya menghadap tubuh Frans.


"Frans." Desisnya.


"Ya."


"Memulai hubungan seperti apa?" Tanya Jesika mendongak pada Frans.


"Kekasih." Jawab Frans.


"Kekasih gelapkah?" Tanya Jesika.


"Bukan." Jawab Frans.


"Lalu?"


"Sebentar." Ucap Frans menyibak selimut melompat turun dari ranjang tanpa sehelai benang ditubuhnya. Ia memungut boxer dilantai dan memakainya membuat Jesika tersenyum.


"Frans kemana?" Tanya Jesika bangkit duduk melihat Frans keluar kamar meninggalkannya dengan tubuh yang hanya tertutup selimut.


"Jes!" Panggil Frans dengan bunga mawar yang ia ambil dari vase bunga milik Jesika. Ia berlutut di depan ranjang tepat dihadapan Jesika yang setengah telanjang. "Gue gak pernah pacaran." Ucapnya. "Gue gak tahu gimana caranya ngajak wanita untuk pacaran." Ucapnya sambil mengajukan bunga ditangan pada Jesika. "Malam ini gue minta Lo bukan hanya jadi wanita penghangat ranjang, tapi gue mau Lo jadi wanita yang juga menggenggam tangan ini saat diluar." Ucapnya yang perlahan mendekat. "Dan gue mau Lo jadi pacarku."


"Frans." Desis Jesika melingkarkan tangannya dileher Frans membuat selimut yang menutupi dadanya merosot.


"Gue mau jawaban Lo." Ucap Frans. "Bukan dada seksi ini." Goda Frans yang mendapatkan pelukan erat dari Jesika.


"Bukannya itu yang paling Lo suka." Cibir Jesika.


"Dulu." Ucap Frans mengecup bahu telanjang Jesika. "Sekarang gue lebih suka pemiliknya." Ucapnya. "Jangan tolak gue ya Jes." Pinta Frans mendorong tubuhnya dan menatap dalam mata Jesika.


"Masih ada Leon dan Stela diantara kita Frans." Ucap Jesika mengusap lembut pipi Frans.


****


Sinar matahari pagi menerobos masuk menyentuh kelopak mata Frans yang kini mengerjap-ngerjap.


"Jes." Panggil Frans terduduk sambil mengucek-ngucek matanya. Ia melihat tak menemukan Jesika di ranjang dan setiap sudut kamar.


Tadi malam setelah mendengar jawaban Jesika, Frans memintanya untuk mengakhiri hubungannya dengan Leon.


"Bagaimana dengan Stela?" Tanya Jesika yang menahan rasa sakit untuk menyebut nama itu. Rasa sakit itu semakin dalam melihat Frans yang tak memberi jawaban akan pertanyaannya. Stela yang telah berhasil mendorongnya kejurang hingga membuat dirinya berakhir menjadi wanita yang paling menjijikan di mata Leon masih memiliki Frans yang selalu berpihak padanya.


Dibanding dengan status Stela,Aku bukanlah tandingannya untuk bersanding dengan kedua pria yang memiliki status yang sama dengannya. Batin Jesika yang menangis dalam diam memunggungi Frans yang tidur seranjang dengannya.


"Frans." Panggil Jesika membangunkannya dari imajinasi liarnya. "Sini sarapan." Ajak Jesika meletakkan masakan yang udah tersaji dimeja. "Lo mau kopi atau teh?" Tanya Jesika yang berjalan kearah dapur disusul Frans yang datang kearahnya. Ia masih berutang satu jawaban untuk Jesika. "Gue lupa simpan dimana bubuk kopinys." Ucap Jesika dengan kaki menjinjit meraba lemari diatasnya membuat kaosnya terangkat keatas memperlihatkan **********.


"Gue mau Lo!" Ucap Frans dengan tangan kiri melingkar dipinggang Jesika dan tangan kanannya meraih tangan kanan Jesika untuk menuntun tangan itu menemukan bubuk kopi.


"Gue harus kekantor." Ucap Jesika yang berbalik badan dengan bubuk kopi ditangannya. Tubuhnya terperangkap dalam dada telanjang Frans yang seketika membuatnya gugup.


"Gue bilang gue maunys Lo!" Ucap Frans membuat Jesika mendongak. "Gue berhenti mengejar Stela." Meraih wajah Jesika. "Mulai hari ini gue hanya ada untuk Lo." Mengusap pipi Jesika.


"Kenapa?" Tanya Jesika yang tak percaya akan mendengar jawaban bahwa Frans yang dari dulu begitu antusias dengan Stela mengatakan dirinya akan berhenti.


"Gue gak tahu." Jawab Frans yang tak tahu menahu soal perasaan.


"Lo kasihan ya sama gue?" Tanya Jesika mengingat kenyataan bahwa Frans tahu apa yang terjadi padanya. Ia bahkan pernah melihat Leon bersama wanita lain.


"Kasihan?" Tanya Frans bingung. Ia bingung kenapa Jesika malah berpikiran ia melakukan itu karna kasihan.


"Ya." Jawab Jesika. "Sama seperti Leon terhadap gue." Ucapnya.


"Kasihan kenapa?" Tanya Frans melepas perangkapnya dari Jesika.


"Dari awal gue tahu Leon gak memiliki perasaan sama gue." Jawab Jesika berjalan ke meja makan diikuti Frans. Ia menceritakan mengapa akhirnya Leon memutuskan menjalin hubungan dengannya tidak lain karna keperawanannya.


Leon merasa berhutang karna merenggut kehormatan Jesika. Oleh karna itu ia memutuskan menerima dan menjalani hubungan itu tetap dengan dirinya yang tak bisa diubah oleh Jesika.


"Dan ditengah jalan gue malah merusak hubungan itu dengan kebodohan." Ucap Jesika yang kini duduk sambil menyendokkan nasi kepiringnya. Frans yang masih berdiri mendengar bahwa Leon merasa bersalah karna merenggut perawan Jesika malah tertawa terpikal-pikal. Ia tak menyangka bahwa Leon memiliki sisi lembut seperti itu.


"Hahahaha." Tawa Frans. "Gue yakin hari itu dia pasti takut banget." Ledeknya terus-menerus menertawai sahabatnya itu. "Dasar Cemen!" Ledek Frans lagi.


"Mana ada Kak Leon Cemen!" Bela Jesika.


"Kak Leon?" Tanya Frans dengan nada sinis. Ia kesal mendengar Jesika yang spontan memanggilnya seperti itu.


"Iya. Gue manggilnya mang begitu." Ucap Jesika yang menangkap raut kesal diwajah Frans. "Kenapa?" Tanya Jesika menarik Frans duduk disampingnya. "Lo gak senang gue manggilnya begitu,Hm?!" Goda Jesika menyolek pipi Frans disertai senyum diwajahnya.


"Tau ah!" Balas Frans dengan alis merengut mengambil piringnya.


"Sini Gue sendokin nasinya buat Kak Frans." Ucap Jesika menarik piring dari tangan Frans.


"Lo bilang apa tadi?" Tanya Frans yang mendengar Jesika memanggilnya dengan awalan Kak.


"Kak Frans makan sayur yang banyak ya." Jawab Jesika menyendokkan sayur dipiring Frans. Ia tahu Frans selalu menyingkirkan sayur-sayuran ketika makan.


"Gue gak suka sayur." Tolak Frans.


"Kalau mau jadi pacarku harus makan sayur." Pinta Jesika membuat Frans menjatuhkan kepalanya dipundak Jesika bermanja. "Manja." Cibir Jesika meledek Frans yang kini menguyel-nguyel kepalanya.


🍁🍁🍁


Frans itu kek lagu Antara nyaman dan Cinta kan yaa🤭🤭


Jangan lupa untuk Vote,Like dan Komen yaa❤️❤️❤️