
Langkah kaki Leon berjalan dengan cepat memasuki lift apartemennya. Ketika pintu lift akan tertutup mata Leon melihat mobil yang mirip dengan milik David terparkir lurus menghadap lift.
"Hanya mirip doang kali." Gumam Leon menggelengkan kepalanya.
Sebagai permintaan maaf Leon memberikan kejutan dengan membelikan kembang api yang ia genggam sejak dirinya turun dari mobil. Ia merasa bersalah telah meninggalkan Sandra tanpa pesan apapun.
"Nanti malam belum terlambatka." Ucap Leon menyembunyikan kembang apinya dibalik punggung sambil melangkah mencapai pintu dengan senyum yang merekah diwajahnya.
"Sandra." Panggil Leon membuka pintu.
"Kok gak ada suara." Ucap Leon menutup kembali pintu.
"Sandra!" Seru Leon lagi melangkah ke ruang tamu yang disambut oleh David yang berdiri disisi sofa dengan tangan terlipat didada dan Nadin yang duduk dengan raut wajah cemas.
"Pah,Mah kok disini?" Tanya Leon tercengang melihat David. Ini pertama kalinya David masuk ke apartemen Leon sejak putra semata wayangnya itu memilih untuk tinggal sendiri.
"Jadi nama gadis itu Sandra." Ujar David melempar amplop cokelat ke meja membuat foto-foto didalamnya berhambur keluar.
Leon melirik kecil pada foto yang ada diatas meja. Foto itu memperlihatkan cewek yang mengenakan seragam sekolah masuk ke dalam apartemennya.
Sial! Umpat Leon dalam hati mengepal tangannya. Seragam itu mirip dengan seragam sekolah yang Sandra kenakan.
Siapa yang berani mengambil foto ini. Batin Leon yang bercampur marah dan khawatir. Ia khawatir David telah memergoki dan melakukan hal yang akan menyakiti Sandra.
"Papa bicara apa? Gue gak ngerti." Sahut Leon melanjutkan langkahnya menghiraukan perkataan David dan juga mengabaikan Nadin. Pikirannya hanya dipenuhi dengan keberadaan Sandra. Ia ingin segera sampai ke kamar dan memastikan keberadaan gadis kecilnya itu aman.
"Leon!" Panggil David pada Leon yang melewatinya. "Papa gak peduli kamu mau main-main dengan wanita manapun." Ujar David dengan nada penekanan membuat Nadin berdiri sementara Leon tetap melanjutkan langkahnya tanpa peduli.
"Leon!!" Teriak David. "Apa kamu tau bagaimana penilaian orang melihat kamu bersama gadis dibawah umur?!!" Teriak David lagi membuat Leon menghentikan langkahnya.
"Pah jangan begini." Keluh Nadin mengelus lengan David. "Kita bisa bicarakan ini baik-baik." Tambah Nadin menggelengkan kepalanya.
"Kamu bisa dituduh melakukan pelecehan terhadap anak itu." Ujar David dengan nada keras menghiraukan Nadin.
"Leon gak ada nga--- ." Sahut Leon terputus begitu juga dengan langkah kakinya. Ia teringat dengan apa yang telah ia lakukan sejauh ini pada Sandra.
"Kita gak peduli kamu ada sesuatu ataupun tidak sama sekali dengan anak itu. ." Ujar David.
"Kamu tidak boleh ada hubungan lagi dengan gadis itu. Tidak ada yang tahu ia mata-mata atau suruhan dari orang-orang yang menginginkan perusahaan hancur." Ujar David lagi yang berpikir Sandra adalah mata-mata yang dikirim oleh pesaing mereka.
"Jika hal ini sampai terekspos kemedia bukan hanya kamu yang hancur tapi perusahaan juga akan ikut hancur." Ujar David menghela nafasnya memikirkan sebelumnya seorang yang mengancamnya dengan menggunakan foto Sandra yang masuk ke apartemen putranya itu.
"Kamu sendiri sudah tahu banyak orang yang menginginkan hal buruk menimpa perusahaan. Bahkan mereka berlomba-lomba mencari celah untuk menghancurkan semua." Ujar David mengakhiri kemarahan dan sekaligus peringatan untuk Leon.
*****
Leon menghela nafas panjang meraih minuman dari dalam kulkas. Ia kemudian meneguk sebotol air mineral dingin untuk mendinginkan kepalannya. Sebelum akhirnya David dan Nadin pergi meninggalkannya ia termenung memadangi foto-foto punggung Sandra yang tertangkap kamera saat masuk ke dalam apartemennya.
Foto itu diambil dihari pertama dirinya membawa Sandra pulang kekediamannya setelah menangkap basah perselingkuhan Jesika dan Frans.
Leon yang saat itu hanya memikirkan cara membalas Frans melalui Sandra. Ia lupa sebulan terakhir sebelum dirinya bertemu dengan Sandra ada yang mengirim foto kebersamaannya dengan Jesika pada David. Namun foto itu tidak sempat dilihat oleh David sehingga membuatnya masih bisa menyembunyikan fakta bahwa dirinya menjalin kasih dengan salah satu karyawan perusahaan ayahnya itu.
Leon beranjak kekamar dengan membawa amplop cokelat yang berisi foto-foto punggung Sandra dan juga hapenya yang lowbat. Ia mempercepat langkah kakinya masuk menerobos kamar menemui Sandra yang sudah tidak ada disana lagi.
"San..." Panggil Leon tiba di kamarnya. "Sandra!" Panggilnya lagi membuka pintu ruang kerjanya dan melihat kedalam. Namun ia tidak mendapati gadis itu juga disana. Ia lalu berbalik badan meninggalkan ruangan dan berjalan ke arah kamar mandi.
"Lo lagi di dalam ya?" Tanya Leon yang berdiri sambil mengetuk pintu kamar mandi. Namun tidak ada jawaban dari dalam yang membuat Pria itu membuka pintu yang nyatanya tak terkunci dan mendapati tidak ada orang didalam.
"Sandra." Panggil Leon beralih ke walk in closet miliknya dan tak melihat ada koper milik Sandra disana.
"Kapan dia pergi?" Tanya Leon melepas pakaian yang ia kenakan dan melemparnya begitu saja dilantai. "Mungkinkah sebelum Papa dan Mama sampai." Ucap Leon melemparkan tubuh setengah telanjang itu diranjang.
"Apa Frans memergokinya?" Tanya Leon merongoh kantong celana mengambil hape.
"Sial!" Umpatnya yang baru menyadari hapenya lowbat. Ia bangkit dari tidurnya dan berdiri sambil memasang charger ke hapenya.
Leon mengaktifkan hapenya yang kembali hidup. Ia mengecek panggilan masuk dan chat yang baru ke nomor pribadinya. Namun tidak ada satupun panggilan dan chatt itu berasal dari Sandra.
"Gadis ini bahkan gak ninggalin satu pesan pun buat gue." Gerutu Leon kesal dan juga khawatir.
"Semoga aja dia pergi karna kemauannya bukan karna papa memergokinya disini." Ujar Leon kembali melemparkan dirinya telentang diranjang.
"Bekas ciuman juga udah hilang." Ucap Leon mengusap wajahnya. "Gak ada hal lain lagi untuk gue dan dia bertemu!" Ujar Leon mengingat apa yang baru saja David peringatkan padanya.
"Begini juga bagus untuk gue dan dia." Ujar Leon. Keberadaan Sandra disisinya mungkin akan menjadi masalah untuknya dan juga untuk Sandra. Akan ada banyak orang yang memanfaatkan situasi keduanya yang mungkin bisa merendahkan Sandra dan juga merusak citra Leon dan perusahaan.
Leon memiringkan kepalanya kearah sisi ranjang yang menjadi tempat biasanya ia menemukan wajah Sandra tertidur disampingnya.
"Gue mikirin apa sih?" Tanya Leon dengan seuntai senyum membayangkan Sandra disana.Ia kemudian menarik bed cover yang selama ini melilit dan menutupi tubuh gadis itu untuk menyelimutinya.
Aroma ini. Batin Leon mencium aroma tubuh Sandra yang masih tertinggal di bed cover dan ingatannya.