Unboxing

Unboxing
87. Dia disini



Villa Leon adalah hadiah kelulusan SMA dari David untuk putra semata wayangnya. Sejak itu Leon,Frans dan Gio menggunakan Villa sebagai tempat untuk melepas penat dari kesibukan perkuliahan. Villa yang terdiri dari tiga kamar yang difasilitasi kolam renang disetiap depannya merupakan hasil renovasi Leon yang dikhususkan untuk dirinya dan kedua sahabatnya itu.


Pakde dan bude begitulah ketiga pria itu memanggilnya sejak dulu. Pasangan suami istri yang sampai sekarang belum dikarunia anak itu tinggal didekat Villa. Mereka adalah pasangan suami istri yang merawat Leon sejak kecil dikediaman Sanjaya. Leon yang mengetahui Pakde dan budenya berniat kembali ke kampung karna merasa keberadaan mereka sudah tidak diperlukan lagi. Dengan cepat Leon segera meminta keduanya untuk merawat dan menjaga Villa pemberian David.


Pasangan suami istri menyanggupinya dengan rasa haru akan kebaikan Leon yang memberikan tempat untuk mereka tanpa harus kembali ke kampung. Sejak itu Pakde dan Bude selalu menyediakan segala kebutuhan pangan saat ketiganya datang berlibur di Villa. Dan menganggap Leon,Frans dan Gio seperti anak kandung sendiri.


Namun 6 tahun belakangan ini pakde dan bude merasa kehilangan akan dua putranya yang lain. Keduanya hanya melihat kehadiran Leon yang datang sekali dua kali dalam sebulan ke Villa bersama dengan wanita. Leon bahkan meminta pasangan suami istri untuk tidak perlu repot-repot menyiapakan hidangan selama ia berada di Villa bersama wanitanya. Mereka pun memaklumi akan usia Leon yang sudah cukup untuk menghabiskan malam dengan seorang wanita. Meskipun sedikit kecewa akan sikap Leon yang selalu membawa wanita yang berbeda dari sebelumnya.


"Nak Frans tunggu di sini dulu." Pinta Menawarkan Frans duduk melirik Jesika yang pernah datang bersama Leon sebelumnya. "Nak Leon entar lagi turun. Pakde panggil bude dulu buat bantu beberes." Ucap Pakde yang tidak tahu akan perang dingin diantara Leon dan Frans.


Sementara dilantai atas Leon yang berhasil mengunci pintu kamar dan kembali menyusul Sandra yang memantau kondisi dibawah luar Villa.


"Kak Leon." Panggil Sandra yang berdiri di balkon melihat pakde keluar dari Villa tanpa Frans dan Jesika.


"Kenapa?" Tanya Leon berdiri dibelakang Sandra ikut melihat kebawah dan mendapati Pakde berjalan keluar gerbang menuju kediamannya yang letaknya disamping Villa.


"Ini waktunya Kak Leon turun kebawah." Ucap Sandra.


"Buat Apa?" Tanya Leon melingkarkan tangan dipinggang Sandra dari belakang lalu menyeruakkan wajahnya dileher Sandra.


"Sembunyiin Sandra dari mereka." Jawab Sandra menoleh ke wajah Leon yang kini menempel di tulang selangkanya. Ia merasakan kecupan bibir Leon menyentuh kulitnya.


"Gue gak mau." Balas Leon yang kini menurunkan satu tangannya kebawah masuk kedalam kaos yang dikenakan Sandra.


"Kak Leon dibawah ada Kak Frans." Ucap Sandra menangkap tangan pria itu yang hendak meremas dadanya. "Gak bisakah kita kerja sama?" Tanya Sandra berbalik badan membuat tangan Leon terlepas dari dadanya.


"Mengusir mereka?" Balas Leon balik bertanya mengeluarkan tangannya dari dalam kaos Sandra.


"itu terlalu kejam kak." Jawab Sandra.


"Terus Lo mau mereka nginap disini bareng kita?" Tanya Leon menaikan salah satu alisnya.


"Kenapa nggak?!" Jawab Sandra mengiyakan Frans dan Jesika bermalam disatu atap dengannya dan Leon. "Disinikan masih ada beberapa kamar kosong bisa ditempati." Tambahnya.


"Lo gak masalah jika tengah malam gue menerobos masuk ke kamar Jesika." Ucap Leon menarik pinggang Sandra merapatkan tubuhnya pada Sandra.


"Buat apa?" Tanya Sandra. "Bukannya Kak Leon bilang udah putus." Gerutu Sandra tak terima Leon menyusul Jesika.


"Emang kalau putus gak bisa berhubungan lagi." Ucap Leon pada Sandra.


****


Beberapa menit kemudian Pakde kembali menemui Frans dan Jesika bersama Bude yang membawa beberapa pakai seadanya untuk mereka berganti.


"Nak Leonnya belum turun?" Tanya Pakde yang meletakkan bed cover untuk dipakai Frans dan Jesika di sofa. "Nak Leon ini ada Nak Frans!" Serunya yang kini berjalan kearah kamar Frans yang berada di sebelah kiri dengan menapaki empat anak tangga mencapai kamarnya. Frans yang sejak tadi menunggu Leon turun dari kamarnya beranjak dari sofa. Ia menapaki anak tangga menuju kamar Leon diikuti oleh mata Jesika dari bawah mengamati pintu yang tidak terbuka sejak tadi.


"Leon!" Panggilnya. "Lo didalam kan?" Tanya Frans mengetuk kembali.


"Sial dikunci." Ucap Frans mencoba membuka pintu dengan engsel yang tergantung disana. Sementara itu dari balik pintu Leon dan Sandra menempelkan kupingnya mendengar samar-samar suara dari luar.


"Anaknya dah tidur kali nak." Seru Pakde keluar dari kamar Frans yang selesai ia bersihkan.


"Bisa jadi." Balas Frans berbalik badan menuruni tangga sambil memperhatikan kondisi dalam Villa. Ia menilik wastafel yang masih basah dan air dari keran yang masih menetes.


Gue harap bukan Sandra yang ada didalam sana dengannya. Batin Frans melangkah menyusul Pakde.


"Kamarnya udah tak bersihin nak." Ucap Pakde pada Frans yang menilik kedalam kamarnya. "Oh iya Leon ada bawa---" ucap Frans terputus melihat Pakde menatap aneh terhadap Jesika duduk bersama Bude."---Pakde kenal Jesika?" Tanya Frans membuat Pakde berdecak.


"Dia bukan wanita baik-baik." Ucap Pakde meneruskan langkahnya melewati Frans begitu saja. "Nak Frans jangan mau tergoda dengannya." Tambahnya lagi membuat Frans menekuk wajahnya menahan marah akan hinaan Pakde terhadap Jesika.


Fyuh! Keluh Frans menyusul Pakde dari belakang dengan tangan yang mengepal.


"Gimana Pak?" Tanya Bude pada Pakde.


"Nak Leon dah tidur kayaknya." Jawab Pakde.


"Oalah." Balas Bude melihat ke Jesika. "Kalau gitu besok pagi aja ketemu sama nak Leon." Ucap Bude. "Untuk nak----"


"---Jesika." Potong Frans. "Namanya Jesika Bude." Jelasnya lagi mengambil dua kunci ditangan bude. "Ini kunci kamar gue." Menyerahkan kunci ke Jesika. "Gue tidur dikamar Gio." Menunjukkan kunci kamar Gio pada semuanya lalu mengambil bed cover dan pergi kekamar yang berada dilurusan ruang tamu dengan menuruni tiga anak tangga kearah kamar Gio.


"Bude cuma punya baju ganti ini." Menyerahkan pakaian ke Jesika.


"Makasih Bude." Balas Jesika menerima pakaian dari tangan Bude.


"Kalau mau minum atau makan." Ucap Bude. "Di lemari ada mi instan." Menawarkan. "Ada minuman sachet juga." Tambahnya lagi. "Kompornya bisa dipakai buat masak air ya." Menemani Jesika masuk kekamar Frans meninggalkan Pakde yang kurang menyukai Jesika.


"Makasih Bude." Ucap Jesika lagi setiba keduanya didalam kamar.


"Nak Jesika kenapa datangnya bareng Nak Frans?" Tanya Bude yang merasa ada sesuatu diantara Frans dan Jesika. "Dan Nak Leon malah datang sama wanita lain." Terusnya membuat Jesika menangkap tangan Bude.


"Jadi dilantai atas ada orang lain selain Leon." Ucap Jesika yang sejak tadi tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Sandra di sekitar tempat mereka duduk. Ia tak melihat ada pakaian dalam wanita ataupun sejenisnya terlempar dilantai maupun sofa seperti waktu ia memergoki Leon dengan wanita lain ditahun sebelumnya.


"Iya." Balas Bude mengiyakan. " Yang ini jauh lebih muda dari Nak Jesika dan wanita sebelum-sebelumnya." Tambah Bude menjelaskan.


Dugaanku benar. Dia ada disini. Batin Jesika mel2epas tangannya dari lengan Bude.


🍁🍁🍁


Berikan Vote,Like dan Coment untuk dukung Author❤️❤️❤️❤️