
Stela dengan wajah pucat Pasih dilarikan kerumah sakit tempat Gio bekerja. Dirinya ditemukan tergeletak dilantai dengan sebuah botol minuman yang didalamnya terkandung obat pereda sakit kepala dengan kadar dosis tinggi.
Sebelumnya Stela menenggelamkan dirinya pada minuman yang telah ia pesan untuknya dan Leon. Ia yang merasa kesal akan penantiannya yang menjadi pemicu kepalanya yang semakin terasa sakit. Akhir-akhir ini kepalanya sering sakit efek rasa sakit itu memunculkan sebuah memori yang tidak bisa ia ingat. Semakin Stela memaksakan diri untuk melihat apa yang terekam dalam otaknya semakin rasa sakit dikepalanya mencekam. Ia pun menggunakan obat pereda sakit yang kadar dosisnya tinggi namun malah membuatnya jatuh pingsang dan tak sadarkan diri.
Stela dilarikan oleh petugas hotel ke rumah sakit miliki keluarga Gio yang kebetulan berdekatan dengan hotel tempat Stela check-in.
"Ini yang Papa tidak mau kamu bekerja diperusahaan orang lain." Ucap Adit yang menerima panggilan rumah sakit setelah tengah hari. Stela meminta dokter untuk tidak memberitahu kedua orangtuanya namun dokter tidak bisa menahan lagi karna Stela tidak mau makan apapun. "Kamu lembur terus-terusan tapi tak ada kemajuan sama sekali." Ucap Adit mengingatkan Stela yang tujuannya dari awal bekerja disana untuk mendekati Leon.
"Udah Pah Stela jangan diomelin lagi." Bujuk Rosa yang duduk disebelah Stela yang sejak tadi memalingkan wajahnya dari Rosa dan Adit.
"Dokter bilang kamu mengonsumsi obat pereda sakit kepala." Ucap Adit membuat Rosa tersentak kaget.
"Maksud Papa---"
"---Gak mah." Potong Adit mengeluarkan obat yang ditemukan petugas hotel dan memberikannya pada Dokter yang menangani Stela. "Hanya obat sakit kepala tapi dosis sangat tinggi." Ucap Adit saling melihat dengan Rosa.
Mungkinkah sakit kepala yang diderita Stela akan kejadian dulu terusik kembali. Batin Rosa.
"Stela apa akhir-akhir ini kepalamu sakit lagi?" Tanya Rosa meihat ke Adit sebentar lalu meraih tangan Stela.
"Gak mah." Jawab Stela menoleh ke Rosa. "Stela mau sendiri." Ucap Stela meminta Adit dan Rosa meninggalkannya sendiri.
"Mama suapin Kamu makan dulu ya Sayang." Ucap Rosa mengambil bubur yang sudah diganti berapa kali dengan yang baru oleh perawat.
"Stela bisa makan sendiri kok mah." Tolak Stela akan kebaikan Rosa padanya. Ia mulai merasa ada memori yang menusuk dikepalanya saat melihat sikap Rosa yang kini mempedulikan Sandra ketimbang dirinya.
"Biarin mamah kamu suapin ya sayang." Bujuk Adit duduk ditepi ranjang Stela. "Lihat tangan kamu lemas begini." Meraih tangan Stela. "Gimana kamu pegang sendoknya buat makan dengan tangan kecil ini." Bujuk Adit yang diteruskan oleh Rosa menyuapinya.
Kenapa Mama dan Papa selalu kembali padaku saat sakit kepalaku kambuh lagi. Batin Stela menerima suapan tiap suapan dari Rosa.
****
Sementara itu di lantai lain ada Leon yang baru saja dipindahkan dari UGD. Ia masih belum sadarkan diri hingga Nadin tiba di kamarnya.
"Gio gimana keadaanya?" Tanya Nadin panik meraih tangan putranya itu. "Kenapa dia belum bangun-bangun?" Tanya Nadin mengusap pipi Leon.
"Gak ada yang serius kok Tante." Jawab Gio menenangkan Nadin yang cemas dengan wajah pucat.
"Lalu kenapa dia belum bangun?" Tanyanya lagi.
"Bentar lagi dia bangun kok." Jawab Gio mengusap bahu Nadin menenangkan. "Kita tunggu aja." Ucap Gio yang melihat Leon sudah bangun sejak Nadin masuk ke ruangan. Namun ia tidak tahu alasan Leon berpura-pura tidur dihadapan Nadin yang jelas-jelas mengkhawatirkannya.
"Padahal tadi siang dia masih baik-baik aja." Ucap Nadin membuat Gio melirik ke Nadin.
"Siang tadi Tante lagi sama Leon?" Tanyanya dibalas anggukan kepala sambil melap tangan putranya dengan tissu basah.
Berarti Leon kepergok sama Sandra dong. Batin Gio melihat ke Simon yang melihat kearahnya dengan tatapan serius.
"Siang tadi baru aja Tante suapin dessert ke anak nakal ini." Ucap Nadin mencubit pipi Leon. Ia melihat kelopak matanya mengerjap seolah sudah sadar sejak lama.
"AW!" Desis Leon spontan. "Mamah!" Ucap Leon mengusap pipinya yang baru saja di cubit Nadin.
"Dasar anak nakal!" Seru Nadin memukul Leon yang hendak duduk. Ia benar iseng mengerjai Nadin sampe panik karna ia tak bangun-bangun.
"Kamu tahu gak jantung mama hampir copot dengar kamu---." Ucap Nadin terjeda mengusap kembali pipi anak nakalnya yang berhasil mengerjainya. "---Gio,kamu yakin kepala anak saya gak ada masalah?" Sambung Nadin bertanya dengan menyentuh perban yang melilit dikepala Leon.
"Yaudah mamah ke bagian administrasi dulu." Ucap Nadin meninggalkan Gio untuk menemani Leon yang kini dengan ekspresi murung menatap keluar jendela. Sementara Simon menyusul Nadin untuk ikut kebagian administrasi.
"Lo kenapa?" Tanya Gio berdiri didekat jendela melihat langit jingga. "Sandra dimana?" Tanya Gio kini melihat ke Leon yang menekuk wajahnya.
"Kita udah pisah." Jawab Leon dengan tatapan kosong.
"Bukannya gue tinggalin kalian berduaan pagi tadi." Ucap Gio. "Kenapa tiba-tiba udahan?" Tanya Gio yang menangkap raut wajah Leon yang tidak terima dengan perpisahan dan menyebabkan masalah pada dirinya yang hampir mencelakai nyawanya.
"Yah mau gimana lagi dia tunangan orang lain." Jawab Leon. "Pada akhirnya juga bakal pisah." Ucapnya. "Kami hanya mempercepat aja." Jelas Leon.
"Bukan karna peri ke---"
"---Bos!" Potong Simon yang menerobos masuk membuat keduanya kompak melihat kearah Simon. "Stela ada disini juga." Ucap Simon berhenti melihat bergantian kepada keduanya.
"Stela siapa lagi?" Tanya Gio pada Leon lalu melihat ke Simon yang menutup mulutnya dengan tangannya.
"Peri kecil." Jawab Leon.
"Siapa?" Tanya Nadin yang masuk keruangan membuat Gio dan Leon melihat ke Nadin.
Peri kecil? Tanya Simon dalam hati yang masih mencari keberadaan putri Ansel sebenarnya.
"Mamah gak salah dengar kan?" Tanya Nadin mendekat pada Leon yang sebenarnya masih ingin menyembunyikan hal itu karna dia masih ragu kalau Stela adalah peri kecil yang selama ini ia cari.
"Simon segera temui keluarga Stela dan katakan David Sanjaya mengundang mereka untuk makan malam." Perintah Nadin pada Simon yang menunggu persetujuan Leon.
Gimana nih?Bos aja masih belum yakin Stela adalah orang yang dicari. Batin Simon dengan raut wajah gelisah yang menarik perhatian Gio.
"Oh iya tadi mamah sempat dengar anaknya sedang dirumah sakit ini juga kan?" Tanya Nadin pada Simon tapi melihat ke Leon. "Leon,kamu kenapa wajahnya begitu?" Tanya Nadin memergoki Leon memberi kode ke pada Simon untuk menolak.
"Kayaknya jangan dulu deh mah." Jawab Leon menolak maksud baik Nadin mengundang Stela dan keluarganya.
"Kenapa?" Tanya Nadin. "Bukannya kamu sudah lama menunggu saat-saat ini sayang." Ucap Nadin melihat ke Leon lalu melihat ke Gio. "Benarkan Gio yang Tante katakan?" Tanyanya meminta dukungan dari Gio.
"I-iya Tante." Jawab Gio menggaruk tekuknya yang tak bisa menghindar meskipun Leon memintanya untuk menolak dengan menyilangkan tanganya didada.
"Nah, Gio aja setuju sama mama." Ucap Nadin kembali melihat ke Leon yang langsung merubah ekspresi wajahnya seolah tidak terjadi apapun.
"Gimana kalau kita undang mereka diacara ulang tahun pernikahan papah dan mamah sayang?" Tanya Nadin. "Sekalian dimalam itu kita umumin pertunangan kamu dengan peri kecil kamu." Ucap Nadin membuat ketiganya shock.
"Mamah gak lagi bercandakan?!" Tanya Leon.
"Apa mama salah sayang?" Balas Nadin dengan balik bertanya.
"Enggak mah." Jawab Leon pasrah.
Gue yang salah. Batin Leon.
πππ
Wah tidak terasa sudah sampai di episode 60. Terimakasih buat para pembaca setia Unboxingπππ
Jangan lupa terus dukung dengan memberikan vote,like dan komennya ya cintah β€οΈβ€οΈβ€οΈ