Unboxing

Unboxing
81. Hampir Saja



Suara klakson mobil membangunkan Leon yang tertidur dengan Sandra yang hanya mengenakan kaos dan daleman menutupi pusat tubuhnya. Sebelumnya Leon melakukan pemanasan yang membuat peri kecilnya terkulai lemas dan tertidur.


Leon menyibak selimut turun dari ranjangnya. Ia melangkah menuju balkon kamar sambil meregangkan tubuhnya hingga memperlihatkan otot dan roti sobeknya pada Simon yang melambaikan tangan dari bawah.


"Bos!" Teriak Mona membuka bagasi mobil menunjukkan pakaian yang ia minta sebelumnya. Leon kemudian memberi kode masuk pada keduanya sambil berbalik badan kembali ke ranjang mengecup kening Sandra lalu menyelimutinya.


"Wah! Wanita baru Lo Bos!" Seru Mona diikuti Simon yang membawa pakaian untuk Leon. Keduanya masuk ke kamar dimana Leon bersandar dipintu meminta mereka untuk tidak berisik.


"Sssstt!" Desis Simon pada Mona yang tak berhenti mengoceh memasukkan satu per satu pakaian untuk Sandra ke lemari. Sesekali Mona dan Simon melirik pada Sandra yang tertutup selimut berbaring diranjang.


"Bos kamar lain masih kosong kan?" Tanya Simon yang kini berjalan disamping Leon dan Mona meninggalkan Sandra dikamar.


"Masih ada dua lagi." Jawab Leon menuruni tangga menuju sofa yang ada disebelah kitchen.


"Kalau gitu kita bermalam disini ya bos." Pinta Simon.


"Iya bos." Tambah Mona yang penasaran dengan wajah Sandra. "Lagian besok Sabtu." Tambahnya melirik Simon.


"Benar banget kantor libur yakan." Ucap Simon.


"Yaudah." Ucap Leon bangkit berdiri berjalan ke pantry. Ia membuka laci bawah dan mengeluarkan perlengkapan untuk BBQ dari bawah meja pantry.


"Benaran Bos." Ucap Simon yang menyusul Leon untuk membantu.


"Iya." Ucap Leon yang mengangkat peralatan ke depan taman. "Tapi kalian tidurnya di Villa lain."


"Pelit lu Bos!" Seru Mona membantu Leon memasang dudukan untuk memanggang dibantu oleh Simon.


"Iya nih siBos pelit." Balas Simon yang kini meletakkan wadah tempat arang. "Arangnya ada dimana Bos?" Tanya Simon mengkedipkan matanya ke Mona.


Gue yakin Bos pasti lupa beli arang. Batin Simon yang sebelum datang mengantar pesanan Leon, ia dan Mona juga membawa beberapa barang yang diperlukan untuk BBQ.


"Mampus gue lupa bilang ke pakde." Ucap Leon meletakkan panggangan.


"Tenang aja Bos kita ada Arang kok." Celetuk Mona meminta Simon untuk mengambilnya ke bagasi mobil.


"Serius?" Tanya Leon yang dibalas anggukan oleh Mona dan Simon kompak. "Tunggu apa lagi." Menggerakan wajahnya meminta mereka segera membawakan arang yang dimaksud.


"Tapi ada syaratnya Bos." Celetuk Simon melirik Mona.


"Apa?" Tanya Leon yang mendadak mendapat panggilan masuk dari pakde pengurus Villanya. "Ada apa pakde?" Tanya Leon yang beberapa menit kemudian tersenyum melihat ke Mona dan Simon. "Makasih Pakde." Mengakhiri panggilan. "Oh ya tadi kalian minta syarat apa?" Tanya Leon kembali yang membuat keduanya berakhir diluar gerbang dengan wajah cemberut memohon agar Leon membiarkan mereka tinggal.


"Nak Leon Arang sama jagung dan sayurannya udah bapak taruh di atas ya." Ucap Pakde keluar dari Villa bersama bude yang membawa beberapa daging pemberian Leon.


"Nak Leon makasih." Ucap Bukde mengangkat daging sapi yang ia bawa.


"Sama-sama bude." Balas Leon yang kembali melihat ke Mona dan Simon sambil mendorong gerbang lalu menguncinya. "Out!" Ejek Leon pada keduanya.


****


Aroma BBQ membangunkan Sandra dari tidurnya. Dengan tergesa-gesa ia bangkit dari ranjang dan menyibak gorden.


"Udah gelap." Serunya menutup kembali gorden dan berlari keluar kamar dengan pakaian minimnya. "Kak Leon!" Teriaknya memanggil Leon sambil menuruni anak tangga dan mendapati pria yang dicarinya berdiri ditaman. Leon membelakanginya berdiri sambil membalikkan beberapa daging dan sosis dari atas panggangan. "Kak Leon kenapa gak bangunin Sandra?" Serunya membuat Leon berbalik badan mendapati Sandra yang turun hanya mengenakan pakaian minim.


"Lo baru bangun?" Tanya Leon yang disusul Sandra berjalan mendekat padanya.


"Iya." Jawab Sandra yang mengulurkan tangannya memeluk Leon yang spontan mengangkat kedua tangannya keatas yang memegang daging yang sudah ditusuk pada tusuk sateπŸ€ͺ.


"Bangun dari ranjang langsung kesini?" Tanya Leon yang bisa merasakan dua gundukan tanpa pembungkus itu menempel didadanya.


"Iya." Jawab Sandra mendongak melihat ke Leon.


Sial! Umpat Leon pada adiknya yang menegang.


"Lo bisa lepas gue gak?" Tanya Leon.


"Ah,Sandra lupa Kak Leon lagi manggang." Jawab Sandra yang melepaskan pelukannya berjalan kearah meja yang sudah disiapkan Leon entah kapan. "Kak Leon dapat ini dari mana?" Tanya Sandra meraih botol wine dan memeluknya. "Perasaan kita gak ada beli ini tadi Siang." Berbalik badan melihat ke Leon yang meletakkan beberapa daging yang sudah masak ke atas piring.


"Ini gak buat mabukkan kak?" Tanya Sandra.


"Kenapa?" Tanya Leon memdekatkan wajahnya ke Sandra. "Lo takut gue apa-apain ya?" Goda Leon.


"Bu-bukan." Jawab Sandra meletakkan kembali botol wine.


"Minumnya dikit aja." Ucap Leon kembali membalikkan panggangnya. "Gue lebih suka gituan dalam keadaan sadar." Mengangkat keseluruhan daging dan mengakhirinya. "Lo dah siapkan?" Tanya Leon kembali meletakkan dimeja dan menarik Sandra duduk dikursi yang sudah ia siapkan.


"Siap apa?" Tanya Sandra takut.


"Siap makanlah sayang." Jawab Leon memberikan satu tusukan daging padanya. "Emang Lo mikir apa?" Tanya Leon masih menggoda Sandra.


"Gak ada." Jawab Sandra merebut daging pemberian Leon dan memakannya. Leon membuka botol wine dan menuangkannya digelas Sandra dan dirinya.


"Makan yang pelan." Ucap Leon menenangkan Sandra akan godaannya yang membuat peri kecilnya cemas. "Mau sosisnya gak?" Tawar Leon meletakkan didepan Sandra.


"Uhmmm. Masakan Kak Leon enak banget." Puji Sandra yang kemudian memasukkan sosis berlumuran mayonaise itu kemulutnya.


"Sosisnya gimana?" Tanya Leon ikut menikmati makanannya.


"Enak." Jawab Sandra yang menyodorkan bekas gigitan sosisnya ke Leon. "Cobain deh Kak." Tawar Sandra yang kemudian Leon membalasnya dengan membuka mulutnya menerima suapan dari Sandra begitu juga sebaliknya dibawah langit malam.


Setengah jam kemudian hape Leon berdering dari Gio. Ia bangkit dari kursinya menjauh dari Sandra untuk menjawab panggilan Gio.


"Halo." Ucap Leon membelakangi Sandra yang meraih gelas berisi wine yang belum mereka sentuh sejak tadi.


"Lo lagi dimana?" Tanya Gio.


"Lagi di puncak." Jawab Leon berbalik badan dan mendapati Sandra dengan gelas kosong. Sandra menjulurkan lidahnya menjilat sisa wine di sudut bibirnya dengan pipi memerah. "Mampus!" Ucap Leon.


"Apanya yang mampus?" Tanya Gio yang melihat ke Frans.


"Ah bukan apa-apa." Jawab Leon yang kini melihat Sandra meraih gelas winenya. "Gue tutup dulu ya." Ucap Leon pada Gio dengan mengakhiri panggilan.


"Sandra Ja---" teriak Leon terputus melihat Sandra meneguk wine miliknya seperti minum air putih. "---mabukkan lo." Sambung Leon yang kini duduk merebut gelas ditangan Sandra.


"Kak Leon." Desisnya dengan wajah menggoda.


"Apa?" Tanya Leon menangkup wajah Sandra.


"Sandra mau lagi." Menunjuk botol wine.


"Gak boleh!" Bantah Leon yang menyadari Sandra sudah mabuk. "Lo dah mabuk." Bangkit berdiri sambil mengangkat Sandra untuk ikut berdiri dari kursinya disertai dengan suara panggilan masuk yang kini berasal dari Stela.


"CK!" Decak Leon menolak panggilan.


"Brengsek!" Umpat Stela membanting stang mobilnya yang terparkir didepan kediaman Winata.


"Kak Leon." Desis Sandra mendongak ke Leon dengan tangan yang masuk kedalam baju Leon. "Sandra mau." Desisnya meraba otot perut Leon.


"Lo mau apa?" Tanya Leon yang kembali mendengar suara dering hapenya untuk ketiga kalinya. "Siapa lagi sih!" Melepas tangan Sandra dari perutnya dan mengangkat panggilan yang berasal dari Gio. "Iya! Apa lagi?" Menjauh dari Sandra agar tidak terdengar oleh Gio.


"Lo dipuncak ngapain?" Tanya Gio yang membuat Frans merebut hape dari Gio dan mengaktifkan speakernya.


"Kerjalah." jawab Leon yang melihat Sandra kini berjalan ke arah kolam sambil membawa botol wine.


"Oh kerja ki---"


"----jangan kesana!" Teriak Leon yang langsung menutup panggilan melempar hapenya kemudian menyusul Sandra yang berjalan dipinggir kolam sambil meneguk wine dari botolnya.


"Waw ada kerang!" Teriak Sandra kemudian. Dengan secepat kilat Leon meraih Sandra yang hampir jatuh kekolam yang permukaannya dipenuhi oleh lilin terapi yang menyala.


"Hampir aja." Ucap Leon merampas botol dari tangan Sandra.


🍁🍁🍁