Unboxing

Unboxing
107. So Sweet



Malam semakin larut Jesika memiringkan tubuhnya membelakangi Stela yang menatap langit-langit. Keduanya memilih tidur diruang tamu yang lebih kecil dari kamar Stela dirumahnya.


"Frans cinta sama Lo." Ucap Stela melihat ke Jesika yang memunggunginya. "Itulah kenapa kita berbeda." Lanjutnya. "Gue harap Lo gak salah paham dengan perkataan sebelumnya." Membalikan badannya membelakangi Jesika.


"Lo yakin?" Tanya Jesika meringkuk.


"Ya." Jawab Stela. "Selama ini Frans hanya terjebak dalam perasaan kasihan ke Gue." Jelasnya. "Yaa, semua yang mengenal Frans mengakui bahwa dia pria yang hangat dan perhatian." Jelas Stela. "Ahh, dia kebalikan dari Leon." Lanjut Stela yang kemudian menceritakan ia dan Frans pada Jesika.


Malam itu Jesika mendengarkan kedekatan Stela dan Frans yang bermula dari Sandra. Kehadiran Sandra membuat dirinya terasingkan. Hal itu menarik perhatian Frans yang kala itu sering melihatnya diberbagai pertemuan keluarga. Kedekatan Frans dan Stela menimbulkan omong kosong. Ya, Stela yang masih berusia tujuh tahun meminta Frans untuk menikahinya kelak mereka dewasa. Frans yang tidak tahu apa-apa hanya mengiyakan apapun yang dikatakan Stela. Dan membuat permintaan itu menjadi sebuah aset yang ia butuhkan di masa depan.


Yup!Tahun berganti tahun Frans memanjakan dirinya dengan bersenang-senang dengan wanita yang jatuh diranjangnya. Tidak ada ikatan adalah sebuah persyaratan yang ia tawarkan pada wanita-wanita itu untuk bisa bergabung di ranjangnya yang hangat.


Dalam benaknya ia tak perlu repot-repot menjalin hubungan yang menyebabkan galau berkepanjangan. Toh! Ia hanya perlu menikahi satu wanita untuk dijadikan istri yang tidak lain adalah Stela.


Namun tanpa Frans sadari Stela tergoda oleh Leon. Tanpa rasa bersalah Stela pun mendorong Sandra untuk melanjutkan omong kosong yang membuat Frans terjebak didalamnya. Bukan hanya itu Stela bahkan mendorongnya sekali lagi pada Jesika.


"Thanks." Sahut Jesika bangkit duduk bersandar di kaki sofa.


"Sorry." Balas Stela melihat ke Jesika yang ia dorong pada Frans untuk memuluskan jalannya meraih Leon.


"Gue udah melupakannnya." Ucap Jesika mengusap perutnya.


"Frans benar-benar cinta sama Lo." Ucap Stela. "Lo harus kasih tahu dia,Jes!" Ucap Stela meraih hapenya meminta Jesika untuk menghubungi Frans.


"Gue gak bisa." Tolak Jesika.


"Kenapa?"


"Ini udah malam." Jawab Jesika berbohong. "Hari ini dia sangat sibuk." Merebahkan dirinya kembali sambil memikirkan apa keputusan yang akan dibuat oleh Frans untuknya setelah mendengar pernikahannya dengan Sandra. "Gue gak mau mengganggu tidurnya." Memiringkan tubuhnya membelakangi Stela.


"CK, kalian memang sungguh berjodoh." Balas Jesika yang ikut berbaring. "Lo tahu?" Tanya Stela.


"Apa?" Tanya Jesika.


"Ada yang bilang jodoh kita itu cerminan dari diri kita." Memiringkan tubuhnya balik memunggungi Jesika.


"Kalau gitu Gio kayak elo juga dong." Ledek Jesika yang tak menyangka Gio tak sebersih jas putihnya.


"Gue dan dia bagaikan langit dan bumi." Balas Stela yang teringat kembali akan Gio yang pagi ini ia tinggalkan bersama Rahel. "


"Tapi gue merasa kalian seperti amplop dan perangko." Ucap Jesika.


"Hei,itu mah elo sama Frans." Sahut Stela menarik selimutnya keatas menutupi tubuhnya.


"Benarkah?" Tanya Jesika.


"Ya." Jawab Stela. "Demi Lo dia bahkan pernah buat punggung gue sampai memar." Gerutu Stela yang membuatnya teringat kembali pada Gio yang mengobatinya.


Sweet. Batin Stela dan Jesika kompak sambil memejamkan mata dengan senyum disudut bibirnya.


****


Brukkk! Suara Leon melompat masuk ke kamar Sandra. Ia kemudian menelpon Simon untuk mencari penginapan disekitar rumah Winata tempat istirahat dan memarkikan mobilnya disana.


Ahh! Jerit Sandra yang keluar dari kamar mandi mendapati Leon berdiri menutup kembali jendela.


Ssstt! Desis Leon membungkam mulut Sandra dengan tangannya. "Lo mau om nyamperin kita kesini?" Tanya Leon yang kemudian melepaskan tangannya dari mulut Sandra.


"Kak Leon udah mandi?" Tanya Sandra mengendus-endus ke tubuh Leon.


"Udahlah." Jawab Leon menangkup wajah Sandra lalu meraup bibir Sandra. Perlahan tangannya turun melingkar dipinggan Sandra.


"Sandra!" Panggil Rosa dari luar kamar membuat Leon melepas ciumannya.


"Stela gak ada didalam?" Tanya Rosa menilik kedalam kamar Sandra.


"Gak ada mah." Jawab Stela yang kini membelakangi Leon yang memainkan jarinya dari balik pintu.


"Tadi malam dia ada pulang gak?" Tanya Rosa membuka hapenya mencari kontak Stela. Ia mencoba menghubungi Stela namun tak ada jawaban.


"Gimana mah?" Tanya Sandra.


"Nomornya gak aktif." Jawab Rosa yang kemudian berbalik badan sekaligus mengajaknya turun kebawah untuk makan malam.


"Oka mah." Sahut Sandra menutup pintu. "Kak Leon udah makan?" Tanya Sandra dibalas gelengan kepala dari Leon. "Mau makan bareng kami gak?" Ledek Sandra yang kemudian menjinjitKan kakinya untuk mencium pipi Leon.


"Makan yang banyak ya." Ucap Leon sesaat Sandra akan pergi keluar kamar meninggalkannya.


"Oke." Sahut Sandra.


"Gue mau lembur." Ucap Leon membuat Sandra berhenti sejenak dan menoleh pada Leon. "Lo harus temanin gue." Goda Leon membuat Sandra cepat-cepat menutup pintu mengurung Leon didalam.


"Sandra." Panggil Adit yang melihat tingkah Sandra didepan pintu kamarnya.


"Iya lah." Sahut Sandra yang langsung mengunci pintunya.


"Pintunya kenapa dikunci?" Tanya Adit.


"Gak pa-pa lah." Jawab Sandra menghamburkan dirinya merangkul lengan Adit dan membawanya pergi dari sana bersama dengannya.


Hampir aja ketahuan. Batin Sandra kini didepan meja makan.


"Apa Stela belum ada kabar mah?" Tanya Adit ketika selesai makan malam sementara Sandra membuatkan beberapa makanan di piring untuk ia bawa keatas untuk Leon.


"Belum pah." Jawab Rosa mencoba kembali menghubungi Stela.


"Sandra itu makanan buat siapa?" Tanya Adit melihat Sandra menumpukkan beberapa lauk di wadah yang berbeda.


"Akhir-akhir ini Sandra suka lapar tengah malam pah." Jawab Sandra asal membuat Adit dan Rosa mengerutkan kening bersamaan.


"Oh jadi Non Sandra yang suka makan tengah malam didapur." Ucap Ema yang sedang membereskan sisa makan malam dari meja.


"Tengah malam?" Tanya Sandra yang sama sekali gak pernah turun untuk makan.


"Bukan Non Sandra kah?" Tanya Ema yang buat Rosa melihat ke Sandra yang kini menuangkan jus digelasnya.


"Oh, iYa kali." Jawab Sandra asal sambil mengingat malam-malam sebelumnya melihat Stela membawa beberapa makanan kedalam kamarnya. "Ya itu Sandra." Lanjutnya menutupi perbuatan Stela mengingat Kakaknya itu lagi diselimuti kesedihan.


"Aduh Non kenapa ditinggalkan berantakan?" Keluh Ema. "Bibi pikir entah siapa." Lanjutnya yang dibalas anggukan kecil dari Sandra.


"Iya." Jawab Sandra. "Sandra ketakutan makanya ditinggalin berantakan begitu." Jelasnya berbohong. "Maafin Sandra ya Bi." Pinta Sandra sambil menyodorkan piring makanan pada Ema. "Bantu Sandra bawain keatas ya Bi." Pintanya dengan wajah memelas.


"Sebanyak itu Sandra?" Tanya Adit yang dibalas anggukan kepala oleh Sandra.


"Makasih Bi." Ucap Sandra setiba didalam kamar sembari mencari keberadaan Leon.


"Baik Non." Balasnya pamit meninggalkan Sandra.


Cup! Kecup Leon di pipi Sandra yang muncul dari belakangnya dengan bunga seikat mawar.


So sweet. Batin Sandra yang kemudian memberikan kecupan di bibir Leon.


🍁🍁🍁


Berikan Vote,Like,dan Coment untuk dukung Author ❀️❀️❀️