
Keesokan paginya Stela tercengang melihat hasil pemeriksaan yang menyatakan dirinya hamil. Ia kemudian menukar hasil pemeriksaannya dengan amplop lain yang ada disana.
"Coba gue lihat." Pinta Gio meraih amplop putih dari tangan Stela.
"Hanya gejala masuk angin." Ucap Gio mengerutkan keningnya.
"Ya." Sahut Stela merampas kembali kertas ditangan Gio. "Lo gak perlu kha---"
"---Gio sorry kemaren gue mendadak ada urusan." Potong Rahel yang tiba-tiba datang mencela omongan Stela.
"Gue duluan." Ucap Stela berpamitan pada keduanya.
"Apa itu Stela?" Tanya Rahel memutar badannya menghadap ke Gio tak bisa mengalihkan pandangannya pada Stela yang berjalan kearah laboratorium.
"Ya." Jawab Gio berbalik badan pergi kearah yang berlawanan dengan Stela.
"Ckckck, membosankan." Ucap Rahel bertolak pinggang melihat keduanya secara bergantian. Lalu ia berbalik badan kearah yang sama dengan Stela.
Di waktu bersamaan Frans dikejutkan oleh Feny yang sudah duduk di sofa ruangannya sambil menyeduh teh.
"Tumben mama pagi-pagi udah disini." Sapa Frans duduk didepan meja kerjanya sambil membuat panggilan pada asistennya. Tiga menit setelah itu asisten Frans masuk dengan membawa beberapa dokumen yang harus ditanda tanganinya.
"Mah, Frans kayaknya masih lama loh." Ucap Frans pada Feny yang sebelumnya mengatakan ada hal yang ingin ia bicarakan.
"Gak pa-pa sayang." Sahut Feny yang kini berdiri memandang keluar gedung pemandangan dari atas lantai kantor putranya.
"Tolong undur jadwal rapat hari ini ke besok ya." Pinta Frans sambil menyerahkan dokumen ke asistennya juga pada kepala bagian lainnya yang datang meminta approval.
"Tapi Pak ada beberapa yang---"
"---Sore gimana?" Potong Frans ke asistennya yang melihat jam ditangannya menunjukkan pukul 11.00. Ia tak bisa menunda lagi akan penantian Feny yang kini duduk sambil membaca majalah.
"Saya rasa bisa pak." Sahut Asistennya.
"Oke." Menutup dokumen terakhir. "Jam 5 gimana?" Tanya Frans sambil mengembalikan dokumen terakhir yang ia approval.
"Baik pak." Ucap Asisten sekaligus undur diri dari ruangan bersama dengan yang lain.
Tring! Suara pesan baru masuk di hape Jesika.
📥FransrosoWardana
Jes hari ini gue nemanin mama makan siang. Sore gue masih ada rapat mungkin bakal selesai malam.
"Apa kalian bertengkar lagi?" Tanya Stela mendapati Jesika yang muram saat membaca pesan dari Frans. "Akhir-akhir ini gue cukup baik." Meletakkan dokumen yang ia bawa di meja Jesika. "Harusnya tak ada percikan salah paham diantara kalian." Jelas Stela yang kembali kekursinya.
"Lo kelihatan pucat." Lirik Jesika melihat ke Stela sambil membalas pesan dari Frans. "Perusahaan bokap amankan?" Tanya Jesika membuka dokumen yang dibawa Stela untuknya.
"Ya." Sahut Stela yang kembali merasa mual. Mau tak mau ia harus lagi dan lagi keluar masuk toilet.
Alunan musik jazz menemani pengunjung menikmati hidangan yang disajikan oleh Waitress. Frans memutar pastanya dengan garpu sambil melihat pesan Jesika yang hanya membalasnya "Ya."
Fyuh! Hela nafas Frans.
"Kalau kamu masih sibuk mama bisa tunggu dirumah." Ucap Feny yang melihat Frans menghela nafas.
"Gak kok mah." Sahut Frans meletakkan hapenya. "Mama mau bicara mengenai apa?" Tanya Frans yang kini menikmati pastanyanya sambil menunggu hal apa yang membuat Feny menemuinya.
"Kami sudah menetapkan tanggal pernikahan kamu dan Sandra." Ucap Feny dengan sangat hati-hati.
Aku hampir lupa mengenai ini. Batin Frans terus menikmati perlahan pastanya sambil menunggu perkataan Feny selanjutnya.
"Pemberkatan dilaksanakan Minggu ini." Lanjut Feny yang sontak membuat Frans menyemburkan pasta dari dalam mulutnya.
****
"Putramu mengotori bajuku didepan banyak orang." Jawab Feny bangkit dari kursinya membantu Fandy melepas jas yang dikenakan.
"Lalu?" Tanya Fandy yang penasaran akan reaksi putranya akan rencana Rosa yang begitu mendesak.
"Dia menanyakan pendapat Sandra." Ucap Feny yang kemudian duduk ditepi ranjang sambil angkat kaki.
"Lalu?" Tanya Fandy duduk disamping istrinya.
"Aku hanya bisa menggelengkan kepala." Jawab Feny. "Kamu gimana?" Tanya Feny. "Udah dapat informasi mengenai wanita yang bersama putra kita malam itu." Sambungnya yang dibalas dengan anggukan kecil oleh Fandy.
Di waktu yang bersamaan Frans yang sebelumnya tampak tenang didepan Feny kini memilih menenggelamkan dirinya dengan minuman usai menyelesaikan rapat. Ia mengacak-acak rambutnya sambil sesekali menatap keluar gedung dari balik dinding kaca ruangannya.
Tak tuk tak tuk tak! Suara ketikan tangan Jesika di keyboard. Ia mengetik surat pengunduran diri atas namanya.
Tak tak tak! Suara langkah sepatu memasuki ruangan dengan lampu yang sebagian sudah dimatikan.
"Apa belum mau pulang?" Tanya Stela yang baru saja kembali dari toilet melihat cahaya monitor menerangi wajah Jesika.
"Hm." Jawab Jesika yang kini menunggu kertas pengunduran dirinya keluar dari printer yang ada didepannya.
"Gue duluan kalau gitu." Ucap Stela mengambil tasnya. Namun dalam hitungan detik ia menghentikan langkahnya berbalik melihat kearah Jesika yang sedang melipat kertas dan memasukkannya dalam sebuah amplop. "Apa mau gue tunggu?" Tanya Stela menawarkan diri.
"Apa ada yang salah?" Tanya Jesika balik pada Stela yang bersikap tak biasa padannya.
"Ya." Jawabnya bersamaan dengan air mata yang kini jatuh kepipinya. Jesika bangkit berdiri memasukkan surat pengunduran dirinya kedalam tas dan menarik tangan Stela pergi bersamanya.
Dalam perjalanan Stela menceritakan semua yang baru ia ketahui tentang identitasnya. Tentang siapa dia. Dan mengapa orang tua yang selama ini ia pikir adalah orangtuanya menyembunyikan itu semua darinya. Ia bahkan menceritakan keangkuhan dan kekejamannya selama ini terhadap Sandra dengan tesedu-sedu. Sebaliknya Jesika tak menyangka Stela pernah mengalami kejadian seironis itu dalam hidupnya.
Klek! Suara Jesika membuka pintu tempat ia tinggal.
"Gue cuma punya satu kamar dan satu ranjang." Ucap Jesika. "Kalau gak keberatan kita bisa tidur diranjang yang sama." Membuka pintu kamar menunjuka ranjang yang ia maksud.
"CK!" Decak Stela melihat jas pria tergantung disana. Bukan hanya itu ia bahkan melihat jam tangan kemudian parfum laki-laki hingga cream. "Apa malam ini Frans gak kesini?" Tanya Stela.
"Apa Lo suka ngintelin kita?" Tanya Jesika balik.
"Gak." Jawab Stela menarik laci meja rias. "Jes." Panggil Stela melihat kertas yang mirip dengan apa yang ia lihat lagi tadi.
"Ya." Sahut Jesika.
"Apa Lo hamil?" Tanya Stela melihat nama Jesika diatas kertas yang menyatakan dirinya hamil.
"Itu bukan punya gue." Ucap Jesika merampas kertas dari tangan Stela.
"Jelas-jelas nama Lo yang ada disana." Bantah Stela. "Gimana mungkin itu milik orang lain." Terangnya. "Apa Frans sudah tahu?" Tanyanya membuat Jesika berbalik badan membelakangi Stela.
"Kenapa juga dia harus tahu?" Sahut Jesika yang balik bertanya.
"Karna dia ayah biologis dari janin yang Lo kandung." Jawab Stela. "Cepat telpon dia Jes!" Desak Stela.
"Gimana dengan lo?" Tanya Jesika yang memutar kembali badannya menghadap Stela yang tak menyadari bahwa selama ini Jesika telah memperhatikan gerak-geriknya. "Apa Gio tahu?" Tanya Jesika yang kini mengembalikan pertanyaan Stela.
"Dia gak perlu tahu." Jawab Stela menghindar. "Meskipun dia ayah biologisnya." Melangkah keluar kamar.
"Tadi lo desak gue sementara Lo malah me--"
"---Karna kita berbeda." Potong Stela melihat ke Jesika.
🍁🍁🍁
Jangan lupa untuk tinggalkan Vote,Like dan Coment nya ya reader"ku tercinta
love you ❤️❤️❤️❤️