
Rosa mengambil tasnya dan buru-buru masuk ke mobil. Ia pergi begitu saja setelah keluar dari kamar Sandra membuat Ema dan Danu saling melihat satu sama lain.
Tangan Rosa gemetar memutar setir mobilnya sepanjang jalan. Sejak malam natal nomor Sandra hingga hari ini tidak bisa dihubungi. Awalnya ia berpikir mungkin hape Sandra lowbat atau jaringan yang susah dipedesaan. Namun setelah dirinya kembali menghubungi berkali-kali yang terdengar hanyalah suara operator yang memberitahu nomor yang ada hubungi tidak dapat dihubungi. Tolong periksa kembali nomor tujuan anda.
Rosa tidak bisa memberitahu Adit mengingat ini adalah akhir tahun banyak pekerjaan yang harus segera closing dipersusahaan.
Sandra...kamu ada dimana si sayang. Batin Rosa ketika ia sampai didepan rumah Frans. Hanya Frans satu-satunya tempat ia mencari tahu keberadaan putrinya itu.
"Tuan,Ada Nyonya Winata didepan." Ujar Bi Sumi.
"Rosa." Seru Feny pada Rosa yang berdiri dibelakang Bi Sumi dengan wajah pucat.
"Tante kenapa?" Tanya Frans yang melihat wajah panik dan gelisah pada Rosa.
"Sandra udah seminggu gak bisa dihubungi. Tante takut terjadi apa-apa padannya." Jawab Rosa.
"Duduk dulu." Ucap Feny menenangkan Rosa sembari mengajak duduk disampingnya."Adit tahu mengenai ini?" Tanya Feny yang dibalas gelengan kepala oleh Rosa.
"Tan,gue juga gak bisa hubungin dia sejak natal kemaren. Aku pikir emang dia sengaja gak mau ngangkat telpon." Ujar Frans membuat keduanya terkejut.
"Kamu gak usah khawatir Ros, bisa jadi pas kita mau nelpon hapennya lowbat." Ujar Feny berusaha menenangkan Rosa yang semakin panik dan khawatir.
"Tadinya aku mikir gitu juga Fen." Ujar Rosa mengeluarkan buku tabungan dan kartu ATM milik Sandra dari dalam tasnya. "Kita gak pernah kasih dia uang cash. Dia pergi tanpa bawa uang sepeserpun." Ucapnya Rosa menemukan kedua benda itu pagi ini di kamar Sandra.
"Kamu udah cek uang di rekeningnya?" Tanya Feny. "Siapa tau Sandra memang sengaja ninggalin tapi udah ambil uangnya dari ATM sebelum dia pergi belibur." Ucap Feny menjelaskan kemungkinan yang terjadi.
"Aku udah cek Fen." Ucap Rosa. "Sandra gak ada melakukan penarikan tunai sejak tanggal sebelum dia pamitan pergi."
"Tante udah coba nanya Stela?siapa tahu Sandra ngehubungi Stela kan?" Tanya Frans.
"Itu gak mungkin terjadi." Jawab Rosa membuat Frans mengernyitkan keningnya.
"Kenapa gak mungkin Tan?Stela kan---
"----Frans coba kamu yang temui Stela." Ujar Feny memotong ucapan Frans serta menarik putranya sedikit menjauh dari Rosa. "Tapi jangan cerita kalau Tante Rosa kesini." Tambah Feny memperingatkan Frans.
"Kenapa mah?" Tanya Frans.
"Takutnya Stela cerita ke Om Adit dan malah buat om Adit terganggu dengan kerjaan dikantor." Jelas Feny menghindari kecurigaan Frans yang terlihat diwajahnya.
"Mama gak lagi nyembunyikan sesuatukan dari Frans?" Tanya Frans melirik sebentar pada Rosa yang masih berusaha menghubungi Sandra dengan wajah cemas.
"Enggak sayang." Jawab Feny yang justru semakin membuat Frans merasa ada yang ditutup-tutupi darinya.
****
Sandra melangkah ke kamar dengan membawa sepiring nasi goreng dan segelas air putih ditangannya. Ia meletakkan keduanya diatas meja kerja Leon yang ada di room lain yang di kamar Leon. Leon datang dari belakang dengan handuk kecil dikepalanya dengan rambut yang masih sedikit basah. Ia duduk perlahan dikursi sekaligus menarik pinggang Sandra.
"Lo masak apa?" Tanya Leon membuat Sandra duduk dipangkuannya.
"Nasi goreng Kak." Jawab Sandra menjamah handuk dikepala Leon. Ia menggerakkan tangannya mengeringkan rambut Leon yang masih sedikit basah.
"Kebanyakan ini buat gue." Ujar Leon menyendok nasi goreng kemulutnya.
"Semalam 'kan Kak Leon lemburnya lama." Sahut Sandra menarik handuk dari kepala Leon. "Paginya juga bakal kerja lagi. Jadi makannya harus banyak." Meletakan handuk di pangkuannya.
"Gue gak ngantor kok pagi ini." Ujar Leon.
"Iya tapi ngantornya disini kan." Cibir Sandra melihat Leon berhenti mengunyah nasi dimulutnya mendengar sindiran Sandra padanya.
Sejak natal berakhir Sandra melihat Leon amat sibuk dengan pekerjaannya. Bahkan saat dirinya diapartemen pun pria tu tidak pernah lepas dari laptop dan tabletnya.
Notif pesan baru berbunyi dari hape Leon. Ia meraihnya dan membuka pesan dari grup chat proyek. Ia menutup kembali setelah membaca pesan yang masuk. Belum sempat ia meletakkan hapenya notif pesan baru kembali berbunyi bertubi-tubi dari grup chatt proyek lain.
"CK!" Decak Leon membuat Sandra meraih sendok ditangan Leon dan menggantikan dirinya menyuapi mereka secara bergantian. Sementara Leon menerima setiap suapan dari Sandra sambil membaca satu persatu pesan baru yang muncul berentetan.
"Done!" Ucap Leon meletakkan hapenya dimeja dan menaruh kepalanya dipundak Sandra.
"Tring!" Notif pesan kembali lagi terdengar. Pesan baru dari Jesika Anastasya terpampang dilayar.
"Kak hapenya bunyi lagi."
"Hape Lo kali yang bunyi."
"Itu hape kakak."
"Biarin aja." Ucap Leon menarik kepalannya dari pundak Sandra. "Hape Lo kok gak pernah bunyi?" Tanya Leon mengernyit. Selama Ia bersama tidak pernah sekalipun mendengar hape milik Sandra berbunyi.
"Hape aku lowbat Kak."
"Sejak kapan?"
"Sejak kakak pulang dari Bali."
"Kenapa belum di changer? Kalau orang rumah nyariin gimana?atau si Frans suami masa depan Lo itu kangen gimana?" Tanya Leon melemparkan pertanyaan bertubi-tubi.
"Biarin aja." Jawab Sandra meniru perkataan Leon sebelumnya.
"Ikut-ikutan." Cibir Leon dibalas senyum oleh Sandra.
"Kak nanti malam pas pergantian tahun kita main kembang api ya." Ujar Sandra mengalihkan topik melihat kalender dimeja Leon.
"Gak ah!" Sahut Leon.
"Ayo dong kak!" Ajak Sandra menaruh kedua tangannya dipundak Leon. "Kan' cuma main kembang api aja." Bujuk Sandra. "Mainnya dibalkon aja gak pa-pa kok." Memasang wajah memelas.
"Lo gak kangen sama nyokap-bokap?" Tanya Leon yang semakin merasa ada yang janggal pada sikap keluarga Sandra terhadap gadis didepannya. Sudah seminggu lebih gadis itu tinggal bersamanya dan ia tidak pernah melihat Sandra menerima telpon ataupun sebaliknya. Bukan pertama bagi Leon melihat kejanggalan itu.
Pertemuan pertama mereka sebelumnya pun demikian, ia tidak melihat ada yang menelponnya sekedar mencari tahu keberadaannya. Leon bahkan tidak pernah mendengar suara dering hape Sandra.
"Kalau aku jawab kangen." Ujar Sandra melepas tangannya dari pundak Leon. "Apa Kak Leon bakal mulangin Sandra kerumah?" Tanya Sandra.
"Iya." Jawab Leon.
"Kenapa?"
"Bekas ciumannya kan sudah hilang." Jawab Leon.
"Aku gak kangen." Ujar Sandra lirih menatap Leon.
Bohong! Gumam Leon dalam hati.
"Kak bolehkan Sandra tinggal disini sampai libur sekolah selesai?" Tanya Sandra."Sandra janji gak bakal ganggu kak Leon kerja dan gak minta aneh-aneh." Ujar Sandra memohon pada Leon. "Gak main kembang api juga gak pa-pa." Ucapnya lagi.
"Lo benaran gak kangen rumah?" Jawab Leon yang malah balik bertanya sambil mendekap Sandra dalam pelukannya.
"Enggak."
"Kenapa?" Tanya Leon.
Karna ada Kamu disini. Batin Sandra