
Leon menyeduh teh dimejanya sambil menerima informasi yang telah didapat Simon terkait Aditya Winata.
"Ini bukannya photo mama?" Tanya Leon menemukan ada potret Nadin saat muda didalam foto lama yang dibawahnya terdapat data pribadi Rosa.
"Iya Bos." Jawab Simon. "Saya juga gak nyangka Ratu mudanya secantik itu." Ucap Simon. "Pantesan aja Bos besar nempel terus kayak perangko." Ledek Simon yang mendapat pelototan dari Leon.
"Gue bukan minta Lo nilai kecantikan mama." Ucap Leon.
"Ah maaf Bos." Ucap Simon. "Yang sebelah Ratu itu Rosa istrinya Aditya Winata." Jelas Simon.
"Mama sama Istri Aditya berarti seumuran dong " ucap Leon mengecek beberapa foto lainnya.
"Mereka teman kuliah Bos." Sahut Simon. "Dan setelah menikah Rosa hilang kontak dengan Nyonya besar." Jelas Simon. "Saat Kecelakaan terjadi Rosa sedang hamil anak pertama mereka." Tambahnya lagi.
"Oh ya!" Ucap Leon membaca informasi tentang Rosa.
"Aditya dan Rosa hampir lima tahun menunggu bayinya Bos." Ucap Simon yang tidak ditemukan Leon tertulis didalam dokumen.
"Disini gak ada informasi begitu." Cibir Leon melihat ke Simon.
"Emang gak ada Bos." Sahut Simon santai.
"Lo ngarang ya dari tadi ke gue." Ucap Leon meletakkan dokumen.
"Saya dengar ceritanya dari Nyonya Besar Bos hehe." Ucap Simon melangkah mundur sebelum Leon melemparnya karna memanfaatkan Nadin tanpa sepengetahuannya.
"Mama?" Tanya Leon. "Lo dapat cerita itu dari Mama." Ucapnya gak percaya.
"I-Iya Bos." Jawab Simon melangkah mundur lagi.
"Jadi mama cerita apa lagi?" Tanya Leon yang tak terlihat akan melempar Simon.
"Nyonya juga bilang kalau putrinya itu cantik banget Bos." Ucap Simon membuat Leon meraih sebuah foto yang ada dibawah potret semasa kuliah Nadin dan Rosa. Ia menemukan potret gadis remaja berpakaian SMA yang terlihat mirip dengan Sandra. "Ini siapa?" Tanya Leon.
"Ini foto Rosa masa SMA Bos." Jawab Simon.
"Lo dapat ini dari mama juga?" Tanya Leon.
"Bukan Bos." Jawab Simon. "Ini Saya dapat dari album sekolah Rosa."
"Lalu bagaimana dengan Aditya?" Tanya Leon.
"Aditya dan Rosa sebelumnya tinggal dikota ini dan bekerja diperusahaan Ayah mereka. Namun perusahaan milik ayahnya tiba-tiba saja berpindah tangan kepada Ansel yang saat itu berada diposisi lebih rendah dari Aditya." Jelas Simon.
Ayahanda Ansel dan Aditya pun meninggal karena serangan jantung. Setelah pemakaman Ayahanda, Aditya dan Rosa pergi kekampung halaman Rosa dengan alasan berobat perihal keduanya yang tak kunjung dikarunia anak. Namun yang terjadi Aditya dan Rosa tak pernah kembali lagi. Keduanya memilih tinggal dikampung mengelolah kebun stroberi dan kebun bunga Krisan milik mertua Aditya.
****
Sandra menikmati milk shake rasa stroberinya sambil bersandar dikursi mobil memandangi Leon yang menyetir dengan earphone ditelinganya.
"Gue gak bisa!" Tolak Gio pada Leon yang meminta sahabatnya itu untuk mencari data putri Ansel yang koma. "Itu pasti data pasien zaman kakek gue masih muda man." Ucap Gio yang melepas sarung tangan dan mencuci tangannya masuk keruangannya.
Simon memberitahu bahwa data asli putri tunggal Ansel kemungkinan besar ada dirumah sakit milik kakek Gio. Berdasarkan informasi yang diperoleh Ansel,istri dan putri tunggalnya dibawa kerumah sakit. Namun dalam perjalanan menuju rumah sakit Ansel menghembuskan nafas terakhirnya. Sementara Sandy istri Ansel yang masih bisa bertahan dengan putrinya meminta petugas ambulan menghubungi Aditya.
"Gue cuma perlu nama dan usia anak itu man." Pinta Leon yang belum menemukan putri Ansel yang sebenarnya. Meskipun ia tidak mengetahui nama peri kecilnya tapi ia tahu berapa usia peri kecilnya saat mereka bertemu.
"Emang Lo senang banget nambahin kerjaan gue." Keluh Gio yang baru saja selesai operasi.
"Yaudah entar malam Lo suruh dia temuin gue." Ucap Gio menyetujui permintaan Leon. "Tapi gue gak janji itu data orang bakal Nemu hari itu juga." Tambahnya lagi.
"Iya. Kalau ketemu Lo minta apa gue kasih." Ucap Leon.
"Serius Lo."
"Iya."
"Kalau gitu gue minta Sandra gimana?" Tanya Gio menguji Leon. "Gak apa-apakan?" Goda Gio. "Lagian Lo kan udah punya peri kecil." Ucap Gio membuat Leon terdiam.
"Emang Lo mau bekas gue?" Tanya Leon melihat pada Sandra yang kini bersandar dengan mata yang terpejam.
"Lo dah pake dia?" Tanya Gio.
"Iya." Jawab Leon berbohong. "Lo kan tahu dia siapa." Ucapnya lagi mengingatkan Gio bahwa Sandra adalah tunangan Frans.
"Demi apa Lo! Bisa-bisanya begitu sama Sandra." Ucap Gio yang mempercayai kebohongan Leon.
"Lo kan tahu di hati gue cuma ada peri kecil." Ucap Leon yang mengira Sandra benar-benar tertidur.
Siapa Peri kecil. Batin Sandra yang terus berpura-pura tidur mendengarkan apapun yang keluar dari mulut Leon tentang peri kecilnya.
"Jadi data yang Lo minta ke gue ada hubungannya dengan peri kecil Lo itu?" Tanya Gio yang merasa sahabatnya itu masih berusaha mencari anak kecil yang pernah ia temui.
"Iya." Jawab Leon yang sekaligus mengakhiri pembicaraan mereka dan masuk ke basemant apartemennya.
"Sandra tunggu bentar dimobil ya." Pinta Leon yang keluar mobil meninggalkan Sandra yang pura-pura baru bangun.
Setelah Leon pergi Sandra membuka dashboard didepan kursi Leon. Ia menemukan sebuah map kecil dan menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut.
"Kenapa ada data Kak Stela disini?" Tanya Sandra melihat kertas berisikan semua infomasi mengenai Stela. Di perjalanan tadi Sandra banyak mendengar Leon yang sedang mencari seseorang.
jadi peri kecil yang selama ini dicari Kak Leon itu Kak Stela. Batin Sandra keluar dari mobil Leon dengan tatapan kosong dan hati yang hampa.
"Sandra." Desis Frans yang melihat tunanganya keluar dari mobil Leon. "Kenapa dia bisa bareng Leon?" Tanya Frans dengan segera memarkirkan mobilnya. "Jangan bilang anak nakal ini membocorkan hubungan gue dan Jesika." Ucap Frans berhasil memarkirkan mobilnya. Sementara Sandra meneruskan langkahnya keluar dari gedung.
"Kemana itu anak?" Tanya Frans yang kini telah berada dilobby apartemen mencari keberadaan Sandra. Ia berlari keluar dan mendapati Sandra berdiri menghadap jalan besar dengan tatapan kosong.
"Sandra!" Teriak Frans diantara suara bising mobil yang melintas lalu lalang. Ia menarik tangan Sandra dan membawanya menjauh dari suara yang membuat kepalanya pusing.
"Lo ngapain di dalam mobil Leon?" Tanya Frans mengguncang bahu Sandra yang pikirannya masih dipenuhi tentang peri kecil yang satu-satunya ada di hati Leon.
"Sandra bukannya Lo dah janji gak bakal ngasih tau ke Leon." Ucap Frans lagi yang sama sekali tidak diubris Sandra.
Kenapa hatiku sakit banget. Bukankah udah sering apapun yang kumiliki diambil olehnya. Batin Sandra yang tanpa ia sadari air matanya jatuh membasahi pipinya.
"Sandra gue gak maksud bentak Lo." Ucap Frans yang mengira Sandra menangis karna dirinya. "San!" Menangkup wajah Sandra yang kini menangis disertai isakan.
Lah!?Kok jadi begini. Batin Frans semakin bingung melihat Sandra yang menangis tanpa henti.
"Leon ngasarin lo?" Tanya Frans yang dibalas gelengan kepala Darin Sandra. "Terus kenapa?" Tanya Frans. "Dia nyakitin Lo?" Tanya Frans yang membuat Sandra semakin mengencangkan tangisannya hingga membuat orang disekitar mencibirnya dengan tatapan marah.
Sial! Umpat Frans dalam hati memaki dirinya sendiri.