Unboxing

Unboxing
108. Kita di masa lalu



Tap tap tap! Suara langkah sepatu dua orang dipagi hari memasuki ruangan yang dipenuhi aroma alkohol menyengat.


"Ckckck." Decak Gio melihat satu tangan menjuntai dari kursi yang membelakangi Leon menutup hidungnya.


"Dia jauh lebih frustasi saat Lo tinggalin." Ledek Gio memutar kursi memperlihatkan tampang Frans yang tersungkur dalam keadaan mabuk berat.


Dua belas jam sebelumnya Leon yang berbaring disamping Sandra sambil mengusap-usap punggung perinya itu mendapat panggilan telpon dari Gio. Ia pun turun dari ranjang sambil menerima panggilan. Selang beberapa menit setelah menutup panggilan Leon memberi kecupan dikening Sandra dan pergi meninggalkan kamar.


"Lo dimana?" Tanya Leon setelah berhasil melompat keluar dari kediaman Winata.


"Baru mau check-in Bos." Sahut Simon dari telpon berdiri didepan resepsionis hotel.


"Cancel!" Perintah Leon.


"Baik bos." Balas Simon yang kemudian mengantar Leon ke Rumah sakit tempat Gio berada.


Dengan balutan kemeja hitam yang dua kancing atas terbuka Leon menebarkan pesonanya pada pasien dan perawat di loby rumah sakit.


"Lo tau darimana?" Tanya Leon yang duduk dengan kaki disilang melihat ke Gio.


"Gue." Jawab Rahel berdiri didepan Leon dengan dua tangan masuk ke saku jas putihnya itu. "Hai!" Sapa Rahel sesaat Leon yang duduk mendongak padanya.


"Apa Lo masih berhubungan dengan dia?" Tanya Leon dengan salah satu alis matanya terangkat keatas.


"Kenapa Lo cemburu?" Tanya Rahel mengambil duduk di samping Leon.


"Rahel." Tegur Gio untuk tidak memperkeruh keadaan setelah kurang lebih lima tahun berlalu.


"Baiklah." Sahut Rahel menepuk bahu Leon yang dibalas dengan tepisan sinis dari Leon untuknya. "Hah!" Umpat Rahel kemudian menyandarkan dirinya pada punggung kursi dan mempersilahkan keduannya melanjutakan pembicaraan.


"Rahel tahu dari Jesika." Ucap Gio yang kini diantara Rahel dan Leon.


"Apa Lo ngintelin kita semua?" Tanya Leon berbalik badan melihat ke Rahel yang mengangkat bahunya meledek Leon.


"Dia ngintelin Lo?" Tanya Gio yang tidak tahu apa-apa.


"Dia bahkan hampir hancurin perusahaan bokap gue." Jawab Leon yang masih mentolerir perbuatan Rahel sebelumnya yang menggempar netizen akan keisengannya yang bahkan hampir merusak nama baik Sandra karna dirinya.


"Itu Lo?" Tanya Gio yang kini melihat ke Rahel. "Kurang kerjaan banget sih Lo." Tegur Gio pada Rahel yang menjulurkan lidahnya mengejek Gio.


"Udah-udah." Ucap Leon. "Sekarang Frans dimana?" Tanya Leon.


"Tau! Lo kan sahabatnya." Jawab Rahel dan Gio kompak mengingatkan Leon saat-saat mereka kuliah dulu. "Malah nanya kita,Huh!" Lanjut Rahel dan Gio lagi dengan kompak membuat Leon terdiam. Ia kemudian menyandarkan kepalanya dikursi dengan wajah mendongak ke atas sambil terkekeh membuat ketiganya ditegur oleh beberapa keluarga pasien yang berlalu-lalang disana.


"Dua Minggu dari mana? Jelas-jelas Minggu ini." Bantah Leon pada Rahel yang mendengar langsung dari Jesika bahwasanya pernikahan Leon akan diadakan dalam dua Minggu kedepan.


"Lo tahu dimana tanya Gio?" Tanya Gio menaikkan salah satu alisnya menaruh curiga.


"Tante Rosa." Jawa Leon melihat beberapa perawat yang sejak tadi bolak-balik melintasi keberadaan mereka sambil berbisik-bisik. "Mereka kenapa?" Tanya Leon pada Gio dan Rahel.


"Siapa?" Tanya Gio.


"Perawat-perawat Lo lah." Jawab Leon.


"Oh, abaikan aja." Ucap Rahel. "Gue juga kemarin digituin sama mereka." Tambah Rahel mengetik pesan dihapenya sambil senyam-senyum.


"Apa Lo habis kirim pesan buat Frans?" Tanya Leon yang mengembalikan topik keawal.


"Gue gak doyan barang lama." Jawab Rahel membuat Gio menyemburkan air yang baru saja ia teguk dari botol.


"Jorok banget sih Lo!" Bentak Rahel melihat ke Leon yang menatapnya dengan dingin. "Kalau itu Lo bakal gue pertimbangkan." Ucapnya pada Leon yang menundukkan pandangannnya kebawah sambil menyunggingkan senyum sinis lalu menggigit bibir bawahnya. "I love you,Leon." Ucap Rahel yang terus memandangi Leon yang kini menaikkan pandangannya pada nya dengan salah satu alis yang terangkat keatas. Demikian juga dengan Gio yang duduk diantara keduannya.


Tepat jam delapan pagi Leon dan Gio tiba depan perusahaan milik Fandy. Kemunculan keduannya di pintu utama menarik perhatian seluruh karyawati disana.


"Lewat sini,Pak." Ucap Asisten Frans yang menghubungi Gio sebelumnya untuk meminta bantuan menolong Bosnya. Asisten itu mengarahkan keduannya untuk menggunakan lift VIP.


"Hati amankan?" Tanya Gio pada Leon yang hanya diam sejak Rahel mengungkapkan perasaannya setelah lima tahun berlalu wanita itu menghianatinya. "Rahel cantik dan pintar." Memencet tombol lift.


"Maksud Lo?" Tanya Leon.


"Andai Rahel perempuan pertama yang elo temu sejak awal ." Ucap Gio melihat Leon. "Apa Lo bakal memaafkannya dan menerima dia kembali?" Tanya Gio yang penasaran dengan siapa wanita yang ada di hati Leon. Meskipun ia tahu bahwa sahabatnya itu begitu terobsesi dengan peri kecilnya sejak dulu. Dan tak ada yang menduga peri kecilnya adalah Sandra tunangan dari sahabat yang telah berselingkuh dengan kekasihnya.


"Apa itu penting?" Jawab Leon yang balik bertanya dengan nada sinis.


"Ya." Sahut Gio membuat Leon mengerutkan keningnya melihat pada Gio. "Kalau itu terjadi Lo bakal meninggalkan Sandra untuknya bukan?" Tebak Gio.


"Entah." Jawab Leon membayangkan Sandra berdiri dihadapannya. "Tapi kalau itu terjadi apa urusannya sama Lo?" Tanya Leon.


"Gue bakal minta Frans menghajar Lo." Jawab Gio keluar dari Lift yang terbuka.


"Sial!" Umpat Leon mengikuti Gio keluar dari lift melangkah menuju ruangan Frans. "Gue bakal belum menghajarnya karna udah hianatin gue." Ucap Leon.


"Bacot!" Balas Gio membuka pintu. "Gue dengar Lo dah hajar dia didepan Jesika." Ucap Gio yang mendengar sebelumnya dari Frans.


"Itu pukulan untuk Rahel." Balas Leon.


"Sial!" Umpat Gio yang kini menjejerkan botol kosong diatas meja Frans.


"Apa perlu menelpon Tante Feny?" Tanya Leon melihat tampang lusuh Frans.


"Gimana kalau telpon Jesika aja?" Tawar Frans menepuk-nepuk wajah Frans agar bangun.


"Bego!" Umpat Rahel yang tiba-tiba menyahut dari pintu dengan kedua tangan terlipat didada. "Kalian mau niat bantu atau buat dia malu." Cibir Rahel melangkah masuk. Kemudian ia mengangkat sedikit salah satu kakinya dengan mengaitkannya di pintu lalu menendangnya dengan kuat.


Brakk! Suara pintu tertutup dengan kencang berhasil membangunkan Frans dari mimpi buruknya.


"Akhirnya bangun juga." Ucap Rahel mengangkat bahunya melihat ke Gio dan Leon secara bergantian.


"Aakh." Desis Frans mengerjap-erjapkan matanya sambil memperbaiki posisi tubuhnya di kursi.


"Hai! Frans." Sapa Rahel berdiri masih dengan tangan dilipat dibawah dada.


"Ah,ini dimana?" Tanyanya samar-samar melihat Rahel yang menyapanya.


"Di ruang kerja Lo." Jawab Rahel. Sementara Gio dan Leon masih menunggu jiwa Frans kembali seutuhnya.


"Di ruangan gue?" Tanya Frans mengucek matanya melihat dengan jelas siapa wanita yang baru saja menyapanya. "E-Elo." Ucapnya terbata-bata sambil mengingat wajah yang tak asing didepannya. "Rahel." Ucapnya.


"Gue pikir Lo udah lupa." Sahut Rahel melangkah mendekati di sertai Hela nafas panjang dari Leon.


"Ngapain Lo disini?" Tanya Leon.


"Leon!" Ucap Frans terkejut. "Gio?" Ucap ya lagi melihat Gio yang berdiri disebelahnya sambil mengangguk-angguk dengan senyum terpaksa. "Kalian ngapain disini?" Tanya Frans bangkit berdiri menghadap kaca merapikan pakaiannya.


"Bantu Lo." Jawab Rahel membuat ketiganya melihat padanya. "Bantu Lo ngejelasin ke Leon hubungan kita dimasa lalu." Jelas Rahel.


🍁🍁🍁


Author sangat berterima kepada pembaca. Author berharap kalian terus dukung novel ini dengan memberikan Vote,like,dan coment ❀️


love you, reader πŸ₯°πŸ₯°