
Sandra memukul-mukul punggung Leon yang menggendongnya diatas bahu. Ia merengek pada Leon untuk mengembalikan botol wine yang direbut darinya.
Plak! Suara tangan Leon mendarat dibokong Sandra saat menapaki anak tangga menuju kamar.
"Kak Leon jahat." Rengek Sandra yang memgangtung dibahu Leon. "Balikin botol Sandra." Pinta Sandra kembali dengan menggocang tubuhnya sembari memukul-mukuk punggung Leon.
Krekk! Suara pintu kamar yang ditutup Leon ketika membawa masuk Sandra ke dalam kamarnya.
Brakk! Suara Leon yang kemudian menjatuhkan Sandra diatas ranjang.
"Botol Sandra mana." Rengek Sandra dengan tubuh telentang sambil menggerakkan kaki dan tangannya dengan pipi merona yang membangkitkan gairah Leon untuk menerkamnya.
Sial! Umpat Leon melepas kaos putih yang ia kenakan dari tubuhnya. Ia melempar pakaiannya dilantai begitu saja. Tangan nya kemudian merongoh hape yang mengganjal dikantong jeansnya dan melemparkan benda itu tak jauh dari samping Sandra berbaring.
"San." Desisnya mengelus wajah Sandra dengan tubuh yang kini berada diatas tubuh Sandra. Ia menurunkan wajahnya mendekati bibir Sandra yang menganga dan meraupnya.
Uhmmm! Suara Leon yang memainkan lidahnya didalam mulut Sandra. Ia membekap mulut yang sebelumnya mengeluarkan rengekan. Leon mengulum dan mengecap lidah Sandra dengan tangan yang menjulur kebawah mengusap kulit mulus Sandra.
Ahhhh! Suara Sandra yang terdengar ketika bibir Leon turun menelusuri leher hingga tulang selangkanya dengan kedua tangan yang meremas dua gundukan dalam kaosnya.
"Aaah!" Desah Sandra merasakan jari Leon mencubit halus ujung gundukan yang membuat tubuhnya menggeliat ke atas meraih rambut Leon. "Ahhh!" Teriak Sandra kembali dengan tubuh yang kini menggelinjang membuat Leon menarik wajahnya dari leher Sandra. Ia duduk menurunkan resletingnya sambil menatap Sandra yang menggeliat.
Fyuh! Keluh Leon menjauhkan tangannya yang hendak mengeluarkan adiknya dari dalam celananya. Ia menarik paha Sandra merapat ke pahanya lalu menyibak bawahan kaos yang dikenakan Sandra keatas memperlihatkan dua gundukan putih mulus dengan put**g yang berwarna pink menegang.
Cup! Suara kecupan Leon dibibir Sandra dengan tubuh naik turun menggesek dadanya pada tubuh Sandra sembari tangan tangan yang meremas dan memainkan dua gundukan sintal.
"Sandra,Gue benar-benar ingin melakukannya sekarang." Desis Leon yang perlahan menurunkan bibirnya ke gundukan sintal dan meraup ujung yang telah menegang.
Uhmm! Suara Leon mengulum ujung gundukan membuat tubuh Sandra menggeliat dengan bibir yang mengeluarkan *******. Bibir Leon menghujani Sandra dengan ciuman. Pikiran Leon berhasil dikuasai oleh ***** yang menggebu-gebu. Tanpa sadar tangan Leon bergerak mengeluarkan adiknya.
Brakk! Suara hape yang tak sengaja Sandra tepis dengan tangannya terjatuh ke lantai di teruskan oleh suara panggilan masuk yang berbunyi dari hape.
CK! Decak Leon menghentikan tangannya lalu bangkit dari atas tubuh Sandra. Ia menilik kebawah lantai dan mendapati layar hapenya menyala dengan sebuah panggilan masuk. Kemudian ia kembali melihat ke Sandra sembari menaikkan resletingnya kesemula lalu meraih hape dan melihat panggilan tak terjawab itu berasal dari Stela.
Stela! Akhirnya Lo terlihat seperti saudara perempuannya. Batin Leon melihat ke Sandra yang masih belum sadarkan diri.
****
Suara dering panggilan terus berbunyi disaku celana Leon sembari membawa Sandra kedalam kamar mandi. Ia menyalakan shower mengisi bathub yang dikelilingi lilin terapi yang menyala.
Byur!! Suara Leon memasukkan Sandra didalam bathub yang sudah terisi. Sekujur tubuh Sandra pun basah hingga memperlihatkan isi dibalik kaosnya yang kini transparan. Leon merongoh sakunya dan mendapati panggilan dari Gio,Simon,dan Stela.
"Udah sadar?" Tanya Leon meletakkan hapenya diatas closed. Ia menunduk tubuhnya meraih wajah Sandra yang memerah.
"Dingin." Jawab Sandra mengulurkan kedua tangannya memeluk Leon yang berada diluar bathub.
"Masih belum Sadar ya." Ucap Leon mendorong tubuh Sandra melepas pelukannya. Ia bangkit berdiri meraih shower yang masih menyala.
Syurr!! Suara tembakan air dari shower ke wajah Sandra yang setengah sadar. Lalu mematikan shower dan menarik handuk mengerikan wajah Sandra.
"Ya." Ucapnya melihat dirinya basah kuyup dalam bathub. "Ahh!" Teriaknya menyilangkan tangannya pada dadanya yang menonjol transparan.
"Keringin badan Lo." Ucap Leon bangkit berdiri meraih hapenya. "Gue angkat telpon dulu." Menunjukkan hapenya yang kembali berdering dari Simon. "Jangan kelamaan entar masuk angin." Tambahnya berbalik badan keluar meninggalkan Sandra.
"Ada apa?" Tanya Leon yang berdiri didepan kolam renang samping kamarnya.
"Proyek hotel yang di Bangka Belitung ada masalah bos." Ucap Simon yang masih menyetir dijalan bersamaan dengan Mona yang menyimak pembahasaan digrup wa Bangka.
"Masalah apa?" Tanya Leon menaikan satu alisnya melihat Sandra yang berjalan menjinjit dengan balutan handuk ditubuhnya.
"Vendor yang join kabur bos." Jawab Mona sambil mengirim pesan kepada pihak penanggung jawab. "Sepertinya ada kendala pembayaran dari finance." Tambahnya. "Ini saya lagi coba kirim email ke kepala finance kita."
"Mona tolong kamu minta departemen resource untuk mencari pengganti melanjutkan kinerja di Bangka." Ucap Leon. "Untuk SPK sebelumnya segera dibicarakan dengan PM agar bisa segera diclosing dan membuka SPK yang baru dengan Vendor baru."
"Baik Bos." Ucap Mona.
"Besok pagi saya sudah harus lihat hasilnya." Ucap Leon menutup telpon Simon. Ia kembali melihat Sandra yang masih dengan handuk ditubuhnya berdiri didepan lemari.
Fyuh! Suara Leon menghela nafasnya berjalan kearah pintu kaca. Ia mendorong pintu geser membuat Sandra terjaga. Sandra berbalik badan melihat akan kedatangan Leon padanya.
"Kenapa lama banget milih bajunya?" Tanya Leon membuka daun pintu lemari yang lain. "Ini kan---" ucapnya terputus melihat yang tergantung didalam lemari hanya ada lingerie. "---Dibawah apa gak ada yang lain?" Sambungnya menundukkan tubuhnya memeriksa susunan pakaian yang terlipat didasar lemari.
"Gak ada Kak." Jawab Sandra memegang erat ujung handuk yang mengait tepat dibelahan dadanya.
"Koper tadi." Ucap Leon membuka lemari yang lain.
"Kan Leon bilang ditinggal aja." Berbalik badan melangkah kearah laci disebelah ranjang tempat ia menyimpan pakaian dalamnya.
"Yaudah pakai punya gue aja." Ucap Leon berdiri dengan mengambil kaos miliknya. "Nih!" Melempar kaos pada Sandra yang memengang perkakas dalamnya. "Gak pa-pa kan?" Tanya Leon yang dibalas anggukan kecil dari Sandra. "Yaudah,kenapa masih bengong." Ucap Leon yang tanpa sadar meminta Sandra mengenakan pakaian didepannya.
"Sekarang." Sahut Sandra yang sebelumnya telah menemukan bekas memerah didadanya. Bekas itu amat mirip dengan bekas yang pernah ditinggalkan Leon dilehernya jauh sebelum-sebelumnya.
"Ya sekaranglah." Balas Leon.
"Yaudah Kak Leon kenapa masih disini?" Tanya Sandra.
"Lah emang kenapa?"
"Kak Leon masih belum cukup ya lihat tubuh Sandra." Jawab Sandra membuat Leon menggaruk lehernya. "Atau Kak Leon masih mau tambahin bekasnya." Ucap Sandra membuat Leon spontan berbalik badan.
"Ngomong apasih lo." Desis Leon menggeser pintu yang mengarah ke kolam menghindar dari tuduhan Sandra. Ia melangkah keluar disusul oleh Sandra yang terus membicarakan bekas ciuman di dadanya membuat Leon bergegas melepas jeans-nya dan melompat kedalam kolam.
Byurr!
πππ