Unboxing

Unboxing
78. Hadiah



Dengan tatapan kosong Stela duduk dengan roti ditangannya. Sejak pulang dari tempat gym ia selalu memikirkan sikap Gio padanya.


Kenapa dia begitu baik padaku. Batin Stela dengan roti yang hanya berdiam diri dikedua tangannya.


"Stela!" Panggil Adit yang hampir menyelesaikan sarapannya begitu juga dengan Rosa.


"Iya pah." Sahut Stela melihat pada Adit.


"Itu nasi gorengnya udah dingin." Ucap Adit pada Stela yang lupa bahwa dirinya tadi meminta Ema membuatkan nasi goreng untuknya. Dan dibawah alam sadarnya ia malah meraih roti dan melumurinya dengan selai. "Rotinya juga belum kamu makan." Tunjuk Adit pada roti yang ada ditangannya.


"Stela gak jadi makan pah." Ucapnya meletakkan roti dan meneguk susu didepannya.


"Kamu lagi mikirin apa?" Tanya Rosa.


"Papah kan udah bilang jangan terlalu banyak pikiran dulu." Ucap Adit meraih tissu . "Kamu masih belum sehat sepenuhnya sayang." Memberikan tissue pada Stela untuk membersihkan mulutnya.


"Iya pah." Bangkit dari kursinya sambil membersihkan mulutnya.


"Ini kamu mau kemana?" Tanya Adit.


"Ke kamar." Jawab Stela. "Nasi gorengnya Stela bawa kekamar aja." Meraih piring dari meja.


"Kamu gak masuk kantor?" Tanya Adit.


"Stela ijin gak masuk pah." Jawabnya pergi begitu saja tanpa menjelaskan perihal alasan ia tak masuk hari ini.


Kemarin malam sebelum ia berpisah dengan Gio yang akan kembali ke rumah sakit mengajaknya makan malam. Pria itu memintanya untuk istirahat karna memar di atas pinggangnya. Dan Stela menuruti permintaan Gio yang meninggalkannya dengan jejak tangan yang mengacak atas kepalanya.


Ingatan itu membuat Stela tersenyum sambil menyentuh ujung kepalanya menapaki anak tangga.


Brakk!Brukk! Suara dari kamar Sandra mengusik senyum diwajah Stela yang hilang seketika. Ia memutar langkahnya mendekat ke kamar Sandra dengan pintu yang sedikit terbuka.


Apa dia mau kabur?. Tanya Stela dalam hati menilik ke dalam kamar.


Sudah sebulan Sandra terkurung didalam rumah. Ia tidak diperbolehkan kemana-mana selain terkait dengan sekolahnya. Stela berhasil memprovokasi Adit membuat Leon da Sandra tak memiliki kesempatan untuk bertemu.


"Apalagi ya?" Tanya Sandra memperhatikan isi kopernya. Sejak tadi ia sibuk packing perlengkapan yang ia perlukan selama tiga hari dipuncak.


Stela bergegas kembali turun kebawah membawa nasi gorengnya. Ia melangkah kearah meja makan tapi tidak menemukan Adit dan Rosa disana.


Sial! Umpat Stela meletakkan piring ditangannya begitu saja hingga menimbulkan suara yang membuat Ema terkejut.


"Papa dimana Bi?" Tanya Stela pada Ema yang baru saja datang dari belakang.


"Bukannya ke kantor Non." Jawab Ema membereskan tumpahan nasi goreng dari piring yang Stela letakkan.


"Pah!" Teriak Stela berlari menyusul Adit dan Rosa yang Sudan masuk ke dalam mobil. "Mah!" Panggil Stela membuka pintu dan melihat mobil yang dimasuki Adit dan Rosa sudah melaju keluar gerbang.


"Argghhhh!" Geram Stela kesal dengan kakinya memilih menedang pot bunga didekatnya.


****


Keesokan paginya Frans mendatangi Jesika ke apartemenya. Setelah satu hari lebih akhirnya ia memberanikan diri menemui Jesiks. Ia terus memikirkan apa yang dikatakan Stela padanya mengenai Leon dan Sandra.


Jika itu sampai benar. Kemungkinan besar Leon sudah lama mengetahui hubungan gue dan Jesika. Bagaimana jika pria dingin itu membalaskan dendamnya melalui Sandra. Batin Frans bersandar dimobil yang terparkir di depan gedung Apartemen Jesika.


Tap tap tap! Suara high heels Jesika berjalan keluar gedung.


"Jes!" Panggil Frans membuat langkah wanita itu terhenti. "Gue mau ngomong sesuatu sama lo." Ucapnya. "Ini tentang Leon dan Sandra." Membuka pintu mobilnya meminta Jesika masuk.


"Stela bilang Leon memiliki hubungan dengan Sandra." Ucapnya sambil fokus membawa mobil.


Stela lagi! Apa dia akan menggunakan Frans lagi untuk memisahkan adiknya dengan Leon. Batin Jesika.


"Gue gak tahu pasti itu benar atau bukan." Melihat kejalan. "Yang jelas gue juga pernah memergoki Sandra turun dari mobil Leon." Jelasnya mengingat kejadian sebelumnya. "Dan hubungan diantara mereka mungkin terjadi karna Leon mengetahui tentang kita." Melihat ke Jesika. "Gue gak mau Sandra jadi sasaran kemarahan Leon karna ki---."


"---Gue Udah gak ada hubungan lagi dengan Leon." Ucap Jesika melihat ke Frans.


Bohong! Batin Frans.


"Apapun yang terjadi sekarang atau kedepannya." Kembali melihat ke depan. "Itu gak ada kaitannya lagi dengan gue." Ucap Jesika membuat Frans mengehentikan mobilnya dengan mendadak.


"Kalau Lo gak ada hubungan lagi dengannya." Melihat ke Jesika. "Kenapa malam itu dia ada diapartemen Lo?" Tanya Frans.


"Gue masih ada urusan yang lebih penting." Jawab Jesika Melepas seatbeltnya. "Gue harap ini yang terakhir kalinya,Frans." Membuka pintu mobil meninggalkan Frans yang terdiam membisu.


Sementara ditempat lain Stela mengendarai mobilnya mengejar mobil Danu yang mengantar Sandra ke sekolah. Mobil itu hanya berselang satu mobil dengannya didepan. Mobil Danu berbelok kearah gedung les tipuan Sandra sebelumnya. Ia kemudian menurunkan Sandra bersamaan dengan kopernya didepan gedung.


Mendadak panggilan suara dari Frans berdering membuat Stela teralihkan dari keberadaan Sandra yang spontan menghilang sekejab dari pandangannya.


"CK!" Decak Stela meminggirkan mobilnya tepat ditempat Danu sebelumnya menurunkan Sandra.


"Apa?" Tanya Stela kesal sambil melihat diantara gedung dan cafe terdapat sebuah gang.


"Lo dimana?" Tanya Frans yang mengendari pelan mobilnya mengikuti Jesika yang berjalan didepannya.


"Gue lagi ngikutin Sandra! Kenapa?"Jawab Stela kesal yang kehilangan jejak Sandra.


"Emang dia kemana?" Tanya Frans.


"Ke puncak." Jawab Stela keluar dari mobilnya memeriksa kemana perginya Sandra. "Papa bilang acara perpisahan sekolah gitu." Menelusuri gang. "Tapi Mang Danu malah menurunkannya tempat lain bukannya di bis sekolah." Memperhatikan toko-toko bergaya klasik berjejer di sepanjang gang. "Gue curiga ini akal-akalan Sandra buat ketemuan dengan Leon." Menunduk sambil melempar senyum pada penjaga toko disepanjang gang.


"Leon?" Tanya Frans mendadak mengehentikan mobilnya.


"Ya." Jawab Stela berbalik badan menghentikan pencariannya. "Gue tutup dulu! Gue mau cek keberadaan Leon dikantor." Ucap Stela menutup panggilan Frans.


Diwaktu bersamaan Sandra malah mengintai keberadaan Stela yang sudah pergi dari dalam gang. Sejak tadi ia bersembunyi ditoko tempat biasanya ia dan Leon bertemu.


"Kak Leonn." Desis Sandra pada Leon yang memperhatikan kepanikan Sandra sejak tadi. "Kak Stelanya udah pergi." melihat jam keberangkatan bis sekolah mereka sebentar lagi. "Kak Sandra udah telat nih." Rengeknya pada Leon yang dengan santai bangkit dari tempat duduknya.


"Ke dalam yuk!" Ajak Leon mengunci toko tempat keduanya saling bertemu sebelumnya. Toko dan isinya itu kini sudah menjadi milik Leon. Ia membeli toko itu untuk tempat keduanya bersama selain di apartemen Leon.


"Acara perpisahannya gimana?" Tanya Sandra yang digendong Leon kelantai dua toko.


"Wow!" puji Sandra melihat Lantai dua itu telah berubah menjadi sebuah kamar dengan pencahayaan dari light string led di setiap dinding.


Brakk! Suara Leon menjatuhkan Sandra diranjang yang memperlihatkan langit biru diatasnya yang terhalang kaca.


"Kak Leon ini keren." Puji Sandra pada Leon yang menimpa tubuhnya. "Cup!" Suara bibir Leon mengecup wajah Sandra.


"Ini hadiah buat Lo!"


Hadiah untuk pertemuan kita kembali setelah belasan tahun terpisah sayang. Batin Leon meraup bibir Sandra dibawah langit biru.


🍁🍁🍁