
Stela menghalangi pemukul baseball yang terhenti tepat diatas kepalanya. Adit dan Gio menoleh ke asal suara yang datang dari Silvia. Wanita paruh bayah itu menjatuhkan pot bunga yang ia bawa bersama dengan Rosa.
"Apa itu benar Auristela?" Tanya Silvia yang tidak mempedulikan keberadaan Adit dan Rosa. "Apa benar kamu bermalam dengan Gio?" Tanya Silvia mengulangi kembali.
"Iya." Jawab Stela masih melindungi Gio dari Adit. "Tapi Tante ini siapa ya?" Tanyanya melihat ke Adit dan Rosa bergantian. "Datang-datang langsung introgasi Stela." Ucapnya.
"Saya mamanya Gio." Balas Silvia dengan mata yang melotot pada Gio yang bersembunyi dibalik Stela.
"Oh,maaf Tante." Sahut Stela. "Gio gak ada ngapai-ngapain Stela kok." Berbohong. "Lagian Stela gak sekamar kok sama Gio." Menurunkan kedua tangannya yang sejak tadi menghalangi pemukul baseball yang telah diturunkan Adit. "Jadi Papa gak perlu pukul Gio segala." Tegurnys pada Adit yang kepergok membuang pemukul baseball dari balik punggungnya.
"Papa bukan mau pukul Gio kok." Ucap Adit mengelak sambil melirik Rosa yang mengomelinya tanpa bersuara.
"Kalau gitu kami pulang dulu ya Dit." Menarik Gio dari belakang Stela. "Ros lain kali kita ngobrolnya." Berpamitan. "Tiba-tiba saya ada panggilan dari rumah sakit." Menarik Gio dan membawanya pergi.
"Mama apa-apaan sih nyeret Gio begitu." Keluh Gio yang menyetir disamping Silvia.
"Sejak kapan kamu dekat-dekat dengan Auristela?" Tanya Silvia mengabaikan keluhan Gio padanya. "Kamu lupa ya sama omongan mama." Ucapnya mengingatkan Gio akan apa yang dulu pernah ia lakukan hingga membuat Silvia melarang untuk menemuinya.
"Ingat mah." Jawab Gio fokus ke jalan.
"Gak ada lain kali mengerti?" Pinta Silvia tegas menghalangi Gio dan Stela saling bertemu satu sama lain.
"Gio gak bakal ngomong sembarangan lagi." Jawab Gio menolak permintaan Silvia padanya.
"Gak ada!" Tolak Silvia. "Kalau mama bilang gak boleh ya gak boleh!" Tegasnya lagi sambil memeriksa pesan yang masuk dihapenya.
"Tapi mah---"
"---Gak ada tapi-tapian!" Potong Silvia mengangkat panggilan yang masuk ke nomornya.
"Stela!" Seru Adit pada Stela yang menapaki tangga menuju kamarnya. "Papa belum selesai bicara sama kamu." Serunya lagi dari bawah berdiri dengan kedua tangan dibelakang.
Sejak Silvia dan Gio pergi Adit terus mengintrogasI Stela dengan berbagai pertanyaan. Tidak seperti biasanya Adit meributkan masalah ia keluar rumah mengingat bukan sekali dua kali Stela pergi keluar rumah dihari weekend tanpa sepengetahuan Adit dan Rosa.
"Papa ada masalah apa sih?" Tanya Stela melihat kebawah. "Stela tuh capek." Keluhnya. "Mau istirahat ngerti gak sih!" Tambahnya menjelaskan yang dipotong oleh suara dering telepon rumah yang tergeletak di meja ruang keluarga.
"Halo." Suara Rosa mengangkat telpon membuat Stela mengurungkan niatnya kembali ke kamar. Demikian juga dengan Adit yang penasaran dengan sipenelpon.
"San ini gue Tristan." Jawab Tristan yang mengira Rosa adalah Sandra.
"Ini bukan Sandra." Balas Rosa melihat Adit yang mendekat kearahnya. "Ini mamanya." Sambungnya lagi.
"Ah maaf Tante kirain tadi Sandra." Sahut Tristan.
"Gak pa-pa." Balas Rosa. "Kalau boleh tahu Tristan ini siapa ya?" Tanya Rosa membuat Stela perlahan menuruni tangga sambil menyimak pembicaraan Rosa dengan Tristan.
"Saya teman satu sekolahnya Sandra Tante." Jawab Tristan.
"Oh temannya Sandra." Balas Rosa.
"Iya Tan!" Sahut Tristan mengiyakan sambil melihat berita di televisi. "Telponnya bisa dikasih ke Sandra gak Tan?" Tanya Tristan melihat Foto Leonardo Sanjaya dengan siswi yang mengenakan seragam sekolahnya berdiri bersama di depan apartemen mewah.
"Sandra lagi gak ada dirumah." Jawab Rosa . "Dia lagi ada acara perpisahan dipuncak." Sambungnya.
"Puncak?" Tanya Tristan memperhatikan ransel yang dikenakan siswi disebelah Leon persis dengan milik Sandra. "Tan, Sandra dalam masalah." Ucap Tristan melihat wajah siswi yang disensor. "Acara perpisahan dicancel saat hari keberangkatan."
Suara panggilan masuk berdering untuk kesekian kalinya. Panggilan itu datang dari Simon,Mona,David,Nadin hingga Gio yang baru saja tiba di rumah sakit. Ia mendapat kiriman link dari Simon mengenai pewaris tunggal Nusantara Grup memiliki hubungan gelap dengan gadis dibawah umur.
"Leon ayo angkat." Ucap Gio melangkah cepat masuk keruangannya sambil menghubungi Leon.
Prankkk! Suara pemukul golf yang terlempar menghantam porselen yang berdiri sejajar dengan tv yang menyala di ruang tengah.
"Kenapa dia masih belum angkat?" Tanya David pada Nadin yang masih terus berusaha menghubungi Leon.
"Tuan ada Non Mona di depan." Ucap pelayan rumah yang masuk dengan wajah ketakutan melihat pecahan porselen dimana-mana akibat kemarahan David.
"Suruh dia pergi mencari Bosnya!" Teriak David membuat Mona mundur perlahan sebelum pelayannya datang membawa pesan.
"Non Mona itu Tuan besar bilan---"
"---Oke oke gue ngerti." Potong Mona meraih hapenya menghubungi Simon.
"Nomor yang ada hubungi sedang berada diluar jangkauan! Cobalah sesaat lagi." Suara operator yang menjawab panggilan Mona, Nadin,Simon, dan Gio.
Air menetes satu persatu dari langit membasahi rumput ditaman. Rosa masih menggenggam tali telepon dan mendengarkan perkataan Tristan yang membuatnya membisu.
"Oh iya Tan! Sandra kenal dengan Leonardo Sanjaya ya?" Tanya Tristan pada Rosa.
"Kenapa?" Tanya Rosa balik.
"Di tv ada berita mengenai pewaris Nusantara Grup Tan." Ucapnya lagi. "Tante coba lihat deh beritanya lagi trend dimana-mana." Tambahnya.
"Stela coba nyalakan Tv." Pinta Rosa pada Stela yang berdiri didekatnya.
"Oke mah." Sahut Stela meraih remote lalu menyalakan tv tepat didepan Adit dan Rosa.
"Berita terkini putra tunggal pewaris Nusantara Grup tertangkap kamera bersama seorang siswi menengah atas di depan sebuah apartemen mewah." Suara penyiar disertai tampilan foto-foto Leon yang berdiri disamping Sandra dengan wajah yang telah disensor.
Bukankah itu Sandra. Batin Stela terkejut yang langsung mengenali siswi disisi Leon.
"Berdasarkan informasi yang diterima dari hasil penelusuran apartemen tersebut merupakan apartemen milik Leonardo Sanjaya yang merupakan wakil Presdir dari Nusantara Grup." Suara pembawa berita menyiarkan disertai dengan foto-foto Leon yang tertangkap kamera keluar masuk gedung. "Belum diketahui pasti apa hubungan diantara keduanya namun hal ini telah memberikan dampak buruk pada saham Nusantara Grup." Suara penyiar menampilkan grafik saham di monitor.
Gila! Umpat Stela.
"Foto yang belum diketahui asal usulnya masih diperiksa kejelasannya. Demikian info seputar hotline. Kita lanjut keberita berikutnya yang datang dari----"
"---Bukannya itu Leon?" Tanya Adit pada Rosa yang masih mendengarkan Tristan yang menebak siswi itu kemungkinan adalah Sandra. "Benar-benar kelewatan bisa-bisanya dia berhubungan dengan anak sekolah." Ucapnya membuat Rosa mengakhiri panggilan dengan menutup telpon.
"Tristan bilang acara perpisahan dicancel sejak hari Jumat." Menatap tv yang masih menyiarkan berita mengenai Leon dan Sandra putrinya.
"Apa??" Tanya Adit dan Stela kompak terkejut melihat ke Rosa.
"Lalu kemana perginya Sandra tiga hari ini?" Tanya Adit mengepal tangannya melihat kembali ke tv.
Kemana lagi kalau bukan bersama pewaris tunggal yang sedang menjadi trending nomor satu di media sosial. Batin Stela menyandarkan tubuhnya dipunggung sofa menggertak giginya melihat berita tentang Leon.
πππ
Berikan Vote, Like,dan Coment β€οΈβ€οΈβ€οΈβ€οΈ