
Sandra terkejut mendapat pelukan yang tiba-tiba dari Leon. Satu sisi Sandra merasa senang namun di sisi yang lain ia merasa sedih setiap mengingat wanita yang diinginkan Leon bukan dirinya melainkan Stela.
"Kak Leon lepasin pelukannya." Desis Sandra dengan wajah tertunduk. "Sandra gak mau yang lain salah paham dengan kita." Tambahnya yang membuat Leon semakin mempererat pelukannya. "Kalau Kak Leon begini terus peri kecilnya bakal salah paham." Jelasnya lagi.
Maaf gue udah buat Lo salah paham. Batin Leon meletakkan dagunya dibahu Sandra dengan perasaan bersalah. Ia sadar akan keegeoisan yang dimilikinya. Andai saja dari awal ia tidak egois dengan hanya memikirkan dirinya saja mungkin tidak akan membuat peri kecilnya salah paham.
Sejak Nadin menyapanya Sandra dengan nama Auristela membuktikan bahwa putri Aditya yang sebenarnya adalah Sandra. Kebenaran itu semakin terasa oleh Leon mengingat bahwa Sandra memiliki kenangan ciuman pertama dengan anak laki-laki yang melamarnya.
Di waktu bersamaan Stela yang merasa Leon sudah pergi terlalu lama. Ia pun beranjak untuk menyusul Leon. Namun sesampai disana Stela tak menemukan keberadaan Leon.
"Bi Ema!" Panggil Stela yang kemudian berbelok ke dapur.
"Iya Non." Sahut Ema yang sedang menyiapkan minuman untuk Rosa dan Nadin.
"Tadi ada lihat Leon gak?" Tanya Stela.
"Gak tau Non." Jawab Ema. "Dari tadi Bibi sibuk buatin minum." Tambahnya lagi.
"Oh begitu." Ucap Stela memeriksa taman belakang. "Ini buat gue aja ya." Ucap Stela kembali kedekat Bi Ema mengangkat dua gelas jus.
"Itu buat Nyonya non." Ucap Ema.
"Yaudah buat lagi kan bisa!" Bentak Stela pergi begitu saja meninggalkan Ema yang kembali membuat yang baru.
Stela tersenyum membawa dua minuman melangkah di koridor dan melirik sebentar ke kolam renang. Ia membatu mendapati Leon memeluk Sandra begitu erat dari belakang.
"Dasar cewek sialan!" Desis Stela meletakkan minuman di sela pot bunga yang berada dikoridor. Dengan geram Stela berbalik badan hendak menyusul dan melabrak Sandra yang sedang dipeluk Leon. Namun kaki Stela tiba-tiba terhenti ketika melangkah masuk ke dekat kolam renang. Tangannya juga ikut gemetar disertai dengan wajah yang berubah menjadi pucat melihat permukaan kolam yang gelap. Rasa takut menggerogotinya dengan penglihatan yang mulai kabur disertai sempoyongan.
"Bruk!!" Tubuh Stela terjatuh membuat Sandra melepaskan diri dari pelukan Leon dan bangkit berdiri mencari arah datangnya suara.
"Kak Stela!!" Teriaknya melihat Stela jatuh tergeletak tidak jauh dari tepian kolam. Teriakan Sandra spontan membuat Rosa dan Nadin menoleh dan melihat Sandra berlari dengan kaki telanjang kearah Stela.
"Stela!!" Teriak Rosa menyusul Sandra diikuti Nadin dan juga Adit dan David yang datang dari ruang tamu.
"Sandra apa yang terjadi?" Tanya Rosa pada Sandra yang mengangkat kepala Stela dipangkuannya. "Kenapa dia bisa mendekat ke kolam?" Tanyanya lagi membuat Sandra dan Leon saling melihat satu sama lain.
****
Gio mengernyitkan kening mendapati Nadin dan Rosa duduk didepan ruangan tempat Stela diperiksa. Stela yang pingsan sebelumnya langsung dibawa ke rumah sakit oleh Rosa dan Adit yang kemudian disusul oleh Nadin dan David.
"Tante Nadin!" Panggil Gio menghampiri keduanya. "Kok ada disini?" Tanya Gio yang baru selesai melakukan pemeriksaan pada pasien lain. "Leon gak kenapa-napa kan?" Tanya Gio.
"Bukan Leon tapi Stela." Jawab Nadin.
"Stela itu---"
"---Auristela." Potong Adit yang datang dari belakang bersamaan dengan David yang membuat Gio terkejut.
Tunggu! Jadi peri kecil yang dimaksud Leon itu Auristela. Batin Gio melihat kedua keluarga yang ada didepannya kini sedang mengiringi Stela yang dipindahkan keruang perawatan.
"Gio." Panggil Nadin yang berbalik badan membiarkan Rosa dan Adit masuk lebih awal.
"Iya Tante." Sahut Gio yang tadinya hendak pergi meninggalkan mereka.
"Kamu kenal Rosa?" Tanya Nadin yang dibalas anggukan kecil dari Gio mengiyakan. "Kalau Stela gimana?" Tanya Nadin lagi.
"Apa ada yang salah dengan Stela Tante?" Jawab Gio yang malah balik bertanya dengan raut wajah khawatir.
"Tante juga kurang tahu." Jawab Nadin yang melihat reaksi Gio yang tidak biasa saat dirinya menanyakan Stela. "Kamu belum jawab Tante." Ucap Nadin mengingatkan Gio yang diteruskan dengan Gio menceritakan apa yang ia ketahui tentang Stela.
"Apa dia pingsan lagi karna ingatan dikepalanya tante?" Tanya Gio dengan wajah tertunduk.
"Tante juga kurang tahu." Jawab Nadin sambil melihat Gio yang terlihat ingin masuk menemui Stela. "Apa sebelumnya sesering itu?" Tanya Nadin.
"Iya Tan, tapi kejadiannya udah lama." Jawab Gio menilik dari pintu yang sedikit terbuka. "Mama bilang udah gak pernah lagi." Ucapnya. "Dia juga udah berhenti ngonsumsi obat penenang." Lanjutnya membuat Nadin dan David saling melihat satu sama lain. "Tapi Minggu lalu dia juga masuk rumah sakit karna pingsan." Jelas Gio.
"Gio." Panggil David.
"Iya Om." Sahutnya masih mengintip keadaan Stela.
"Kamu suka sama Stela ya!" Ucap David membuat Nadin melipat bibirnya menahan senyum. Ia yang sudah sejak tadi menangkap sinyal rasa suka Gio terhadap Stela berusaha untuk tidak mengatakannya. Namun David malah sebaliknya. Ia malah terang-terangan mengutarakannya dengan wajah polos membuat Gio malu.
"Om apaan sih?!" Sangkal Gio dengan wajahn memerah. "Mana ada!" Sangkalnya lagi tersipu didepan Nadin dan David yang menggodanya.
"Kamu khawatir gitu sih soalnya." Celetuk David.
"Ini cuma kekhawatiran dokter terhadap pasien aja om." Balas Gio masih menyangkal yang justru semakin di ledekin David dan Nadin.
"Emangnya Stela pasien kamu?" Tanya David.
"Yah bukan juga." Jawab Gio membuat Nadin senyum-senyum melihat Gio yang tidak bisa menyembunyikan wajah meronanya. "Tapi Gio ada maksud apapun." Ucap Gio.
"Kalau ada maksud juga Om ACC kok." Sahut Adit yang membuka pintu keluar dari ruangan disusul Rosa dari belakang.
"Nah tuh!" Goda David.
"Gio,Tante titip Stela ya?!" Pinta Rosa pada Gio yang ikutan menggoda Gio dengan yang lain.
Diwaktu bersamaan Leon dan Sandra yang ikut menyusul yang lain malah berbelok ke arah lain membawa Sandra pergi.
"Kak Leon mobil papa kemana?" Tanya Sandra yang tak melihat mobil Adit didepannya. Ia sama sekali gak menyadari bahwa Leon sejak awal hanya ingin membawanya pergi.
"Oh iya." Jawab Leon melipat bibirnya menahan rasa bahagia yang meluap-luap dari dalam hatinya.
"Kak Leon tahu rumah sakitnya kan?" Tanya Sandra melihat ke Leon yang mengangguk kecil dengan kecepatan tinggi melaju dijalan yang sepi.
"Ini dimana kak." Ucap Sandra ketika mobil itu berhenti ditempat sunyi. Ia tak menemukan satupun gedung kecuali pohon peneduh yang mendapat sedikit pencahayaan dari lampu jalan seadanya.
"Di mobil." Ucap Leon menaikkan kembali kaca yang diturunkan Sandra.
"Iya Sandra tahu. Tapi bukannya kita harus ke rumah sakit?" Tanya Sandra masih melihat keluar dari kaca mobil.
"Lo gak kangen sama gue!" Jawab Leon meraih wajah Sandra untuk melihat padanya.
"Kak Leon lupa ya!"ucap Sandra. "Kalau kita udah gak ada hubungan apa-apa lagi." Tambahnya menghentikan bibir Leon yang hendak meraup bibirnya seperti biasa. "Kak Leon punya Kak Stela." Sambungnya.
"Bodoh!" Umpat Leon menariknya dalam pekukan. "Siapa bilang gue milik Stela."
"Bukannya Peri kecil itu---"
"Cup!" Suara kecupan Leon dibibir Sandra."Stela bukan Peri kecil gue!" Ucap Leon.
Peri kecil gue itu elo Sandra!Jadi mulai detik ini dan seterusnya Lo gak diizinkan menghilang lagi dari pandangan gue. Batin Leon.
๐๐๐
Daripada Vote Seninnya hangus mending kasih ke Leon dan Sandra yaaa gaessโค๏ธโค๏ธ