Unboxing

Unboxing
17. Kebohongan



Leon memakaikan seatbelt pada Sandra yang duduk disebelahnya. Ia melihat gadis itu menatap kosong kedepan. Dirinya juga tidak tahu berbuat apapun selain mengantar Sandra pulang. Ia tidak memikirkan sebelumnya ****** itu akan membuat Sandra terkena masalah dan mungkin akan membuatnya malu untuk ke sekolah.


Sepanjang perjalanan Sandra hanya diam. Ia belum menjawab penawaran Leon untuk tinggal dengannya untuk sementara. Ia juga belum tahu kenapa Leon memintanya tinggal. Sandra menggelengkan kepalanya memikirkan yang aneh-aneh membuat Leon yang menyetir disampingnya menoleh. Pria itu meminggirkan mobilnya untuk berhenti.


"Kenapa?" Tanya Leon melepas seatbeltnya. "Ada yang sakit?" Menangkup wajah Sandra. Ia khawatir pada gadis itu karna sejak tadi Sandra hanya mendiaminya.


Memang hanya ****** bukan hamil tetapi itu berhasil membuat Leon cemas. Karna perempuan didepannya itu masih seorang siswi. Apa yang akan dipikirkan orang lain tentangnya jika bekas itu terlihat.


"Aku gak pa-pa kok kak." Jawab Sandra membuat Leon menghela nafas lega.


"Baguslah." Menyentuh ****** di leher Sandra. Ia masih memikirkan cara agar Sandra tidak terkena masalah.


"Kak." Meraih lengan Leon."kenapa minta aku tinggal sama kakak?" Tanya Sandra.


"Butuh satu minggu bahkan lebih untuk ini ****** ini menghilang." Mengusap pipi Sandra.


"Oh begitu rupanya." Ucap Sandra tersenyum malu.


"Emang Lo pikir apa?" Tanya Leon yang tak mendapat jawaban dari Sandra. "Jangan bilang Lo mikir gue mau macem-macem ya!" Tuduh Leon pada Sandra yang curiga akan maksud ajakannya untuk tinggal bersama.


"Habis Kak Leon ngajaknya dadakan gitu." Sahut Sandra. "Sandra kan jadi mikir kemana-mana." Menekuk wajahnya.


Doain aja gue masih bisa nahan. Batin Leon.


"Baju lo kayaknya perlu diganti deh terlalu deh." Memakaikan kembali seatbelt sambil melihat atasan yang dikenakan Sandra terlalu terbuka hingga memperlihatkan bahunya. "Kita cari baju yang bisa nutupin bekasnya dulu."


Di perjalanan menuju rumah Sandra, Leon menghentikan mobilnya disalah satu toko baju pinggir jalan. Toko itu memajangkan manekin mengenakan kaos turtleneck.


"Lo ganti dengan ini." Menyerahkan paper bag pada Sandra. "Dua menit." Perintah Leon menutup pintu membiarkan Sandra berganti pakaian didalam.


Dua menit berlalu Leon menginjak puntung rokoknya dan kembali masuk kemobil. Ia melihat Sandra sudah menggantikan atasan off shoulder dengan kaos turtleneck yang membuat wajah Leon memerah.


Sial!umpat Leon dalam hati melihat baju yang dikenakan Sandra kini malah memperjelas lekuk tubuhnya. Cepat-cepat ia mengalihkan matanya pada dua gundukan yang menantang bulat padat memancing adiknya yang tidur.


"Besok sekolah?" Tanya Leon mencari topik menggagalkan otaknya yang traveling.


"Enggak Kak."


"Apa gara-gara bekasnya?" Tanya Leon yang kini merasa bersalah.


"Enggak."


"Lalu?"


"Sekolah libur mulai besok Kak." Jawab Sandra menoleh ke Leon.


"Libur?" Tanya Leon melirik ke Sandra sebentar yang membalasnya dengan anggukan. "Kalau gitu Lo bisa tinggal bareng gue dong." Ucap Leon dibalas gelengan kepala oleh Sandra. "Kenapa?"tanya Leon kembali melihat ke jalan.


"Kak Leon nanti bakal tidurin Sandrakan." Jawab Sandra mengingat kejadian semalam. Ia takut Leon akan melakukan lebih dari itu padanya.


"Gak akan." Mengusap rambut Sandra. "Gue cuma khawatir aja lo bakal dapat masalah kalau tinggal dirumah." Meliriknya sebentar. "Gara-gara bekas ciuman gue."


"Kak Leon benaran khawatir sama hal itu?" Tanya Sandra dengan raut penuh curiga.


"Iya."


"Kalau khawatir kenapa kakak---."


"---Gue lupa kalau lo masih sekolah." Potong Leon.


"Jadi kakak benaran mengkhawatirkanku?"


"Iyalah." Kembali menyetir dengan dua tangan. "Emang gue gak boleh ngawatirin Lo." Ucapnya membuat Sandra menghaburkan dirinya melingkarkan tangannya pada tubuh Leon.


"Kalau gitu Aku mau tinggal sama kakak." Ucap Sandra mendongak.


Aih!Gue harap Adik gue gak kebangun. Batin Leon mengusap punggung Sandra yang memeluknya.


****


Sandra menurunkan tubuhnya ketika mobil Honda jazz merah berpapasan dengan mobil Leon. Ia bersembunyi menghindar dari Stela yang menyetir didalam mobil merah itu.


"Itu siapa?" Tanya Leon mendapati Sandra yang bertingkah aneh dan membuat Sandra kembali memperbaiki duduknya. "Sampai buat lo ketakutan gitu." Meraih jari-jari yang saling bertautan itu gementaran.


"Bukan siapa-siapa kak." Jawab Sandra berbohong pada Leon.


Kak Stela sudah pergi. Bagus deh aku bisa masuk kerumah dengan aman. Batin Sandra menghela nafas.


"Kak mengenai aku tinggal di apartemen---."


"----Kenapa?"


"Kayaknya Mama dan Papa gak bakal kasih deh." Jawab Sandra melihat keluar jendela. Ia tahu tidak mudah untuknya berbicara pada Rosa dan Adit.


"Ya Iyalah kalau Lo bilangnya tinggal bareng gue!."


"Terus apa yang Sandra harus bilang." Masih memandang keluar memikirkan cara.


"Berbohong." Jawab Leon memutar wajah Sandra menghadap padanya.


Benar! Aku hanya perlu berbohong. Batin Sandra membalas pandangan Leon padanya. Sejak bertemu Leon dirinya entah sudah berapa kali berbohong. Kali ini ia juga akan berbohong untuk tinggal lebih lama lagi bersama Leon.


Sandra berlari kecil memasuki kekediaman Winata. Ia menapaki anak tangga menuju kamarnya dengan sangat hati-hati. Didalam kamar ia mulai memasukkan segala keperluannya kedalam koper mini.


Sebelum beranjak keluar dari rumah Sandra meninggalkan secarik kertas di meja yang ada di dalam kamar Bi Ema. Pesan itu akan lebih aman ia ditinggalkan disana ketimbang dikamranya.


Sandra menutup pelan kembali pintu kamar agar tidak membangunkan Bi Ema yang sedang istirahat diranjangnya. Ia kemudian mengangkat kopernya agar tidak menimbulkan suara saat melewati posko security dirumah mereka.


Pelan-pelan Sandra membuka gerbang. Ia membungkukkan sedikit tubuhnya keluar dari gerbang membuat Leon menahan tawa memperhatikannya dari dalam mobil.


"Masih ada yang tinggal gak?" Tanya Leon memindahkan koper Sandra kekursi belakang.


"Gak ada kak." Jawab Sandra duduk dan tangannya menarik pintu untuk menutup. Setelah memakaikan seatbelt pada Sandra keduanya pun pergi meninggalkan kediaman Winata.


"Gue gak nyangka nyokap bokap lo ngasih ijin secepat itu." Ucap Leon mengernyit.


Bagaimana mungkin kedua orangtua itu memberi ijin padanya segampang ini. Batil Leon.


"Mama Papa gak ada dirumah Kak." Sahut Sandra mengambil hape dari ranselnya. "Hanya ada Bi Ema dan security yang ada dirumah." Menonaktifkan hapenya.


Leon melirik Sandra sebentar yang sedang menyimpan kembali hapenya dan menyandarkan tubuhnya. lagi-lagi Leon berpikir ada yang aneh dengan perlakuan Keluarga itu pada Sandra.


"Lo kabur?" Tanya Leon memastikan yang sebenarnya terjadi.


"Bukan." Jawab Sandra menyangkal pertanyaan Leon.


"Kalau gak pamit itu namanya kabur Sandra." Memutar arah mobilnya. "Kalau begini yang ada mereka mikir gue bawa Lo kabur."


"Sandra sudah tinggalin pesan kok." Ucap Sandra melihat keluar.


Pesan yang mungkin tidak akan dibaca dan perasaan kehilangan yang tak pernah ada. Batin Sandra.


"Lo bilang apa?" Tanya Leon penasaran.


"Kebohongan." Jawab Sandra memalingkan wajahnya pada Leon yang sedang menyetir.