Unboxing

Unboxing
66. Wah!



Kurang lebih 18 tahun lalu Gio duduk dikursi melihat Stela terbangun dari komanya. Gio berteriak memanggil Silvia dari luar ruangan membuat dirinya kena setrap oleh kakeknya.


"Kakek udah dong Gio malu." Rengek Gio yang disetrap depan Stela yang terduduk masih dengan selang dihidungnya.


"Mamah." Panggil Stela pada Rosa yabg duduk dengan perut membesar disamping ranjang.


"Tante itu bu---" ucap Gio terputus karna mulutnya langsung dibekap Silvia dengan mengelengkan kepalannya memberi isyarat pada putranya untuk tidak memberitahu Stela.


"Mah bukannya itu bakal buat Auristela sedih." Ucap Gio yang kini makan di cafetaria rumah sakit bersama Silvia.


"Dia bakal jauh lebih sedih kalau sampai tahu mama dan papanya sudah gak ada sayang." Sahut Silvia menyuapi Gio makan. "Lagian gak ada yang tahu kapan dia bakal bisa mengingat kembali." Ucap Silvia melihat Rosa yang mengelus perutnya sambil makan diseberang meja mereka.


Beberapa hari setelah itu Gio pergi mengunjungi Stela yang masih dalam tahap pemulihan. Gio mendapati Stela yang berteriak memegang kepalanya ditemani orang dewasa yang tidak ia kenal.


"Sakittt!" Teriaknya. "Kepala aku sakit mama." Keluhnya lagi dengan isakan. "Papah, kepalanya sakit." Memeluk Adit.


"Cukup!" Ucap Adit meminta kerabat Sandy yang tidak lain adalah mama Stela. Mereka memaksa anak berusia 6 tahun mengingat kejadian yang membuat maut merenggut kedua orang tuanya. "Saya akan bertanggung jawab untuknya." Lanjut Adit memeluk putri kakaknya itu. "Kalian tidak perlu khawatir mengenai perusahaan." Menyeka air mata dipipi Stela. "Setelah dia dewasa saya akan mengalihkan semua atas namanya." Memeluk kembali Stela yang dibalas dengan Stela yang bersembunyi dipelukan Adit.


"Hai." Sapa Gio melambaikan tangannya pada Stela dengan wajah yang menyempit dibawah ketiak Adit. Gio memberikan senyuman terbaiknya dengan dua lesung pipi.


"Papa." Panggil Stela menunjuk Gio yang berdiri didepan pintu.


"Gio sini." Ajak Adit meminta Gio masuk setelah kerabat Sandy pergi meninggalkan ruangan.


Sepulang sekolah Gio sering mengunjungi Stela hingga menemaninya bermain sambil menunggu Silvia bertugas dan Adit kembali menemaninya. Namun Stela yang lupa ingatan itu anak nakal yang tiada hari mengerjai Gio yang polos. Alhasil Gio selalu ditegor oleh dokter dan perawat disana karna ulah Stela.


"Kak Gio bohong!" Teriak Stela yang diberitahu oleh Gio bahwa Adit dan Rosa bukanlah mama papanya. Gio kesal dengan anak nakal dihadapannya yang selalu membuatnya malu.


"Aku gak bohong." Sahut Gio membuat Stela menjerit mengeluhkan kepalanya yang sakit dan membuatnya pingsan. Sejak hari itu Stela berusaha memaksa diri mengingat apa yang dikatakan Gio padanya dengan rasa sakit yang berakhir jatuh pingsan.


"Aduh sakit!" Keluh Stela mengerjai Gio ketika keduanya duduk dipinggir kolam renang.


"Dimananya sakit?" Tanya Gio panik yang takut Stela pingsan lagi dan lagi. "Aku panggil nama dulu!"ucapnya. "kamu tunggu di---"


"---Bohong." Potong Stela menahan tangan Gio untuk tidak pergi.


"Kamu gak benaran kesakitan!" Ucap Gio kesal. Lagi-lagi dia dikerjakan anak nakal didepannya. Kini ia malah menggunakan kepalanya itu mengisenginya.


"Tadinya Aku mau pingsan dulu." Sahut Stela. "Biar Kak Gio dihukum." Sambungnya menjulurkan lidah meledek Gio.


****


Gio dengan wajah semburan bubur itu mendekat dan menarik baju pasien yang dikenakan Stela untuk membersihkan wajahnya.


"Impas!" Bisik Gio pada Stela dengan wajah memerah yang mengeluarkan api dari kedua telinganya.


"Dokter!" Seru perawat yang masuk kedalam ruangan mendapati posisi keduanya yang seperti habis berciuman.


"Hai Nisa!" Sapa Gio memalingkan wajahnya melihat perawat yang bernama Nisa itu. "Kamu lihat pasien ini menarikku dan menggodaku." Ucap Gio menjauhkan dirinya dari Stela yang menaikan alisnya mendengar tuduhan Gio padanya.


"Saya pikir Nona kaya ini berbeda dengan pasien-pasien ganjen lainnya." Cibir Nisa yang merupakan salah satu perawat yang mengidolakan Gio.


"Gue gak ada go---"


"---Nona gak usah menyangkal lagi." Potong Nisa melipat kedua tangan didadanya melihat baju Stela terkena tumpahan bubur. "Kalau mau dekatin Dokter Gio." Mendekat pada Stela. "Antri Non jangan main nyerobot." Bisiknya membuat Stela berapi-api bangkit dari ranjangnya turun melompat kearah Gio.


"Dokter!" Teriak Nisa melihat Stela menarik kerah jas Gio dengan geram.


"Kamu keluar aja." Perintah Gio pada perawat itu yang meminta maaf dan pergi meninggalkan keduannya.


"Aduh!" Keluh Stela yang tiba-tiba merasa pusing. "Kepalaku sakit." Keluhnya lagi yang belum melepaskan cengkramannya dari kerah jas Gio.


"Kamu sih pake acara nyerang gue!" Gerutu Gio menggendong Stela dan membawanya kembali keranjang.


"Darah!" Ucap Stela melihat darah diselang yang terhubung ke tangannya yang segera dilepas Gio setelah meletakkannya diranjang.


"AW!" Desis Stela melihat Gio yang membereskan kekacauan yang ia buat sebelumnya.


"Sini tangannya!" Pinta Gio memberikan plester menutup bekas tusukan jarum infus dan melihat padanya. "Masih sakit?" Tanya menyentuh kepala Stela.


"Masih." Jawab Stela.


Ctak!! Suara Gio menyentil kening Stela dengan jarinya.


"AW!" Desis Stela mengusap keningnya.


"Makanya jangan emosian jadi orang." Ucapnya menangkup wajah Stela dan memperhatikannya perlahan wajah anak nakal yang sudah lama ia tidak lihat.


Demi kebaikan Stela, Adit menjauhkan orang-orang yang mengetahui tentang Stela. Adit dan Rosa membawanya keluar dari lingkaran yang memicu Stela memaksa dirinya mengingat kembali. Silvia juga ikut menjauhkan Gio dari Stela. Silvia tidak ingin putranya melakukan kesalahan lagi yang berakibat buruk untuk kesehatan Stela.


"Lihat gara-gara kamu Stela kesakitan." Ucap Silvia pada Gio yang tak sengaja memberi tahu Stela tentang apa yang telah dilupakan.


"Tapi mah---"


"---Gak ada tapi-tapian mulai besok kamu gak boleh bertemu Stela lagi." Potong Silvia yang membuat Gio tak pernah lagi melihat Stela hingga keduanya beranjak dewasa.


"Lo gak bohong kan?" Tanya Gio yang dalam ingatannya Stela adalah anak nakal yang selalu menipunya.


"Kalau dokter gak percaya yaudah!" Jawab Stela menepis tangan Gio yang menangkup wajahnya. "Suruh dokter yang lain kesini." Perintahnya mengusap perutnya yang mulai terasa lapar.


"Apa sekarang perut Lo yang sakit?" Tanya Gio yang tak bisa mempercayai anak nakal didepannya ini.


"Gue lapar!" Teriak Stela diwajah Gio yang membuat pria itu tercengang. "Lihat buburnya juga udah dingin!" Teriaknya lagi menunjuk bubur diatas cabinet. "Kenapa Papa malah kasih dokter nyebelin kayak Lo?" Tanya Stela melihat Gio.


"Lo mau makan apa?" Tanya Gio bangkit berdiri dari ranjang.


"Gue gak mau makanan rumah sakit." Jawab Stela. "Bisakah dokter membelikan makanan diluar?" Pintanya pada Gio yang menolak dengan gelengan kepala.


"Sialan!" Umpat Stela keras pada Gio.


"Apa Lo bilang barusan?" Tanya Gio yang tak menyangka Stela memakinya.


"Sialan!" Jawabnya. "Lo sialan!" Teriaknya sambil melempar selimutnya pada Gio. "Kalau gak mau bawain kenapa nawarin brengsek!" Tambah Stela.


"Wah!" Sahut Gio dengan wajah geram.


"Kenapa?" Tanya Stela. "Lo gak suka?" Tanyanya lagi menantang Gio yang kini menggigit bibirnya menahan amarahnya pada Stela yang memakinya dengan wajah menantang.


🍁🍁🍁