Unboxing

Unboxing
77. OK!



Frans menepis tangan Stela yang merangkul lengannya saat keduanya berada dalam lift. Ia memikirkan perasaan Jesika yang mendengar omongan Stela sebelumnya.


"Kenapa Lo?" Tanya Stela yang membersihkan tangannya.


"Lo sengajakan?" Tanya Frans melihat ke Stela.


"Enggak." Jawab Stela sinis. "Emang kenyataannya semalam kita makan berdua kan." Cibirnya pada Frans.


"Iya." Ucap Frans. "Tapi itu semua terjadi karna Lo yang atur." Tegas Frans penuh amarah.


Prokk!prokk!prokkk! Suara tepuk tangan Stela didepan wajah Frans.


"Sengaja atau tidak. Kenyataannya Lo tetap milih gue kan." Sindir Stela pada Frans yang semakin merasa bersalah pada Jesika. "Lagian apa sih yang Lo perjuangin dari seorang bekas Leon."


Brakkk! Suara tubuh Stela yang didorong Frans menempel pada dinding lift dengan wajah memerah penuh amarah.


"AW!" Desis Stela merasakan pinggangnya terbentur pada ralling lift dibelakangnya.


"Jaga omongan lo!" Bentak Frans. "Gimana bisa Lo ngomong begitu tentang Jesika." Mendorong Stela yang semakin terperanjat.


"Gue bukan asal ngomong." Sahut Stela. "Itu Fakta bahwa Jesika adalah bekas Leon." Jelasnya dengan senyum sinis merekah diwajahnya merendahkan Jesika. "Dan Lo makai bekas Leon." Cibir Stela menatap mata Frans.


"Diam Lo!" Teriak Frans yang mencengkram bahu Stela menekannya ke dinding.


"Kenapa?" Tanya Stela pada Frans yang kini diam membatu. "Apa Lo berpikir yang sama?" Ejek Stela menebak bahwa Frans mengatakan hal yang lebih menyakitkan dari dia pada Jesika.


"Stela gue bilang diam!"


"Frans,Frans!" Ejek Stela. "Gue tahu kok Lo sama Jesika itu cuma main-main kan?" Melepas diri dari cengkraman Frans. "Ya kali Lo serius sama wanita model begitu." Sambungnya meraba pinggangnya yang terasa nyut-nyutan. "Di mata Lo Jesika gak ada bedanya kan dengan wanita-wanita yang Lo ajak tidur." Mengelus pelan pinggang atasnya.


"Gue bakal robek mulut Lo! Kalau Lo masih ngomong!" Bentak Frans.


"Leon dan Sandra berhubungan!" Ucap Stela membuat raut wajah Frans berubah. "Lo masih mau ngerobek mulut gue?" Ejek Stela pada Frans yang terkejut mendengar yang terjadi pada Leon dan Sandra.


"Apa Lo bilang barusan?" Tanya Frans memastikan apa yang barusan ia dengar tentang Leon.


"Leon dan Sandra berhubungan dibelakang Lo dan Jesika!" Ucap Stela penuh penekanan. "Gue bahkan gak tahu apa aja yang udah dilakuin Leon ke adik gue." Ucap Stela geram setiap kali mengingat Leon memeluk Sandra dari belakang.


"Hah!Lo ngaco!" Balas Frans menyeringai lalu terlintas diingatan sebelumnya ia pernah melihat Sandra keluar dari mobil Leon.


"Dulu gue mikir Leon tuh bego!" Ucap Stela. "Bisa-bisanya ceweknya ditidurin sama sahabatnya sendiri." Sambungnya berbalik badan menghadap pintu lift. "Tapi ternyata pikiran gue salah." Melirik Frans sebentar. "Fyuh! Miris banget lihat Lo sibuk sama mantannya sementara dia---" ucap Stela terjeda.


Ah,Sial! Pinggang gue keknya memar. batin Stela menyentuh sesuatu yang membuatnya menggigit bibir menahan sakit sambil melihat lift yang mereka naiki sampai dilantai Gf.


Ting! Suara lift terbuka.


****


Sepulang kantor Stela pergi melepaskan kekesalannya sambil nge-gym. Ia kesal pada Frans yang terlihat sangat peduli pada Jesika. Frans bahkan tidak terlihat peduli akan informasi Leon yang bersama dengan Sandra.


Brakk! Suara tangan Stela tiba-tiba melepas Lat pulldown machine membuat orang disekitarnya terkejut dan melihat kearahnya termasuk Gio yang sedang melakukan peregangan otot.


"Frans sialan!" Umpat Stela yang mengenakan sport bra dan legging hitam. Ia bangkit berdiri meninggalkan tempat dan berjalan menuju loker diikuti oleh Gio dari belakang.


"Ini kenapa?" Tanya Gio menyentuh memar diatas pinggang Stela.


"AW! Desis Stela merasakan memar dipinggangnya.


"Elo?!" Balas Stela yang mendapati Gio tanpa kemeja formal dan jas putihnya. Tapi kali ini Gio hanya mengenakan celana sports pendek tanpa baju menutupi roti sobek yang membuat Stela menelan ludah.


Oh my God! Surga. Batin Stela dengan bibir menganga.


"Jangan berbalik dulu." Ucap Gio memutar kembali tubuh Stela. Ia kembali mengecek memar di bawah sport bra yang melekat ketat ditubuh Stela. "Memarnya udah lama." Menekannya membuat Stela meringis menangkup tangan Gio. "Kenapa bisa sampai gini?" Tanya Gio memperhatikan tubuh Stela yang mengencang menahan sentuhannya. Gio tersenyum sambil memainkan lidah diruang pipi sebelah kanan lalu diteruskan dengan menggigit tipis bibirnya.


"Siang tadi gak sengaja terdorong." Jawab Stela yang selalu menciut dihadapan Gio. Apalagi sore ini penampilan Gio membuat dirinya tidak bisa berbohong kalau ia terpesona. Namun mengingat kesan pertama dimana ia yang terang-terangan menunjukkan sikap dia sebenarnya membuat ia malu. Terakhir ia bahkan belum sempat minta maaf setelah membuat pria itu tak istirahat satu hari satu malam hanya untuk merawatnya.


"Lo udah selesai?" Tanya Gio menanyakan perihal dirinya nge-gym yang dibalas dengan anggukan kepala. "Ikut gue!" meraih tangan Stela dengan membawanya pergi ke ruang privat yang hanya dimiliki oleh member VIP.


"Kita mau kemana?" Tanya Stela yang pasrah ditarik oleh Gio yang sampai saat ini belum ia ingat sama sekali. "Pakaian gue masih ada diloker." Ucap Stela.


"Ambil nanti aja." Jawab Gio membuka pintu ruangan yang lengkap dengan ranjang,sofa plus kamar mandi. Gio memberi kode pada Stela dengan menggerakan wajahnya meminta Stela naik keranjang yang ada diruangan.


"Lo mau ngelakuin itu disini sama Gu---"


"----Gue mau olesin minyak wangi di badan Lo yang memar." Potong Gio mendekatkan wajahnya pada Stela.


"Bilang dong!" Ucap Stela dengan wajah memerah menahan malu. Ia kemudian bangkit keranjang dengan posisi badan telungkup diteruskan oleh Gio yang meraih minyak. Gio duduk ditepian ranjang sambil mengolesi memar di atas pinggang Stela.


"Ah-Ahh!" Desis Stela setiap kali Gio menekan memarnya.


"Suara Lo bisa biasa aja gak?" Tanya Gio mengurut memar Stela.


"Gimana mau biasa." Jawab Stela menahan sakit. "Lo nekannya keras gitu." Rengeknya memukul-mukul ranjang dengan kedua tangannya sambil menyembunyikan wajahnya pada bantal menahan rasa sakit.


"Kalau gak digituin." Masih mengurut memar. "Yang ada pinggang Lo bisa diamputasi." Sambung Gio menakut-nakuti Stela yang meringis kesakitan.


"Ahh!" Desah Stela membuat Gio menekanya berulang-ulang dengan lembut.


"Kalau tadi cepat ditanganin gak bakal senyut-nyutan ini rasanya." Ucap Gio mengusap yang memar dengan lembut lalu membantu Stela bangkit duduk dengan hati-hati.


"Lo gak kerja?" Tanya Stela duduk bersila didepan Gio yang melap tangannya dengan handuknya.


"Kerja." Menyimpan kembali minyak wangi dalam tasnya. "Shift malam." Sambungnya lagi melihat Stela yang tiba-tiba mengalihkan pandangannya ke yang lain.


"Kalau mau lihat!" Tegur Gio menangkup dagu Stela. "Lihat aja kali." Mengarahkan wajah Stela padanya.


"Siapa juga yang lihat!" Ucap Stela. "GR!" Cibir Stela melirik roti sobek Gio.


"Yaudah kalau gak mau lihat." Balas Gio melepas tangannya dari dagu Stela berbalik meraih kaosnya dari dalam tas.


"Lo udah mau pergi?" Tanya Stela melihat Gio mengenakan kaosnya.


"Kenapa?" Tanya Gio melihat Stela membuat mata keduanya saling bertemu satu sama lain.


"Makasih." Jawab Stela.


"Untuk?" Tanya Gio.


"Hari ini sama waktu di rumah sakit." Jawab Stela melihat Gio. "Maaf juga buat makian sebelu---"


"---Oke." potong Gio.


🍁🍁🍁