Unboxing

Unboxing
97. Jesika



"Rahel siapa Bos?" Tanya Simon menilik Leon yang meremuk foto yang ada di genggamannya.


"Bukan siapa-siapa." Jawab Leon bangkit dari kursi melempar temukan kertas itu kedalam tong sampah.


Beraninya dia muncul dengan menyudutkan Sandra. Batin Leon memakai kembali jasnya.


"Cari tahu posisi wanita itu dan apa yang sedang ia kerjakan sekarang." Pinta Leon yang meraih hape dimejanya. "Namanya Rahel Aprilia Vander." Melangkah kepintu sambil mengecek hapenya yang memiliki sepuluh panggilan tak terjawab dari Nyonya Besar. "Kabari ke Gue segera dan----." Ucap Leon terputus. Ia berbalik badan melihat ke Simon yang sudah duduk dikursi Leon menggunakan komputer yang ada disana. "----Apa yang lo lakuin disana?" Tanya Leon pada Simon yang langsung mendapatkan informasi Rahel dengan bibir tersenyum tanpa mempedulikan pertanyaan Leon. "Simon!" Panggil Leon.


"Iya Bos." Mengklik halaman intragram yang Rahel Aprilia Vander.


"Apa itu meja kerja Lo?" Tanya Leon menaikan salah satu alisnya.


"Wah!" Mengklik salah satu foto Rahel yang mengenakan jas putih. "Bos, Apa dia seorang dokter cantik?" Tanya Simon menscrol postingan Rahel kebawah. Ia menemukan postingan jadul Rahel menggandeng lengan Leon yang menjadi postingan pertama halaman intragramnya. "Hahaha." Tawa Simon mengejutkan Leon. "Apa dia masa lalu nya Bos?" Ledek Simon membuat Leon mengusap keningnya.


"Dasar!" Keluh Leon berbalik badan. "Awasi gerak-geriknya." Perintah Leon membuka pintu hendak melangkah meninggalkan ruangan.


"Dia ada dirumah sakit teman Bos." Ucap Simon mengehentikan langkah Leon. "Rahel baru saja post foto dirinya yang berpose di loby rumah sakit." Tambahnya melihat ke Leon yang kini melanjutkan langkahnya keluar sambil menghubungkan panggilan ke Gio.


"Kenapa Lo ada diruangan gue?" Tanya Gio pada Rahel yang mengikat rambutnya keatas.


"Mereka nyuruh gue kesini." Jawab Rahel menarik kursi milik Gio.


"Itu meja gue." Ucap Gio menolak kehadiran Rahel diruangannya.


"Apa Lo masih benci sama gue?" Tanya Rahel berjalan kearah Gio. "Ck!Gue bahkan gak punya masalah dengan Lo." Cibirnya memajukan wajahnya ke wajah Gio.


"Bukannya Lo di Sidney?" Tanya Gio menghindar. "Kenapa sekarang tiba-tiba ada dirumah sakit kakek Gue?" Tanyanya melangkah menuju kursinya.


"Gue Resign." Jawab Rahel berbalik. "Dan kebetulan rumah sakit ini buka lowongan." Menopang kedua tangannya dimeja sambil melihat ke Gio yang tampak kesal.


"Apa kali ini Lo mau goda gue?" Tanya Gio dengan senyum sinis.


"Gue gak tertarik dengan pria yang seprofesi dengan gue." Balas Rahel menarik tangannya dari meja sambil menatap hape Gio yang bergetar di meja. "Lo gak mau angkat?" Tanyanya melihat panggilan masuk dari Leon terpancar dilayar.


"Dia sudah punya seseorang dihatinya." Jawab Gio meraih hapenya.


"Oh ya?!" Sahut Rahel melipat kedua tangannya dan menaruhnya didada.


"Yaa." Sahut Gio melihat panggilan Leon. "Dengan pesona yang dia punya." Mengangkat panggilan Leon. "Tak butuh hitungan detik untuknya mendapatkan pengganti, bukan?" Meletakkan hapenya di telinga.


"Apa Rahel disana?" Tanya Leon yang kini berada didalam mobil.


"Hm." Jawab Gio melihat ke Rahel.


"Dari mimik wajah Lo sepertinya Leon menanyakan keberadaan gue, bukan?" Cibir Rahel disertai senyuman yang kini merekah diwajahnya. "Leon!" Panggilnya kembali menopang tangannya dimeja Gio. "Lo dengar gue?" Tanyanya menatap Gio. "Apa Lo merindukanku Leon?" Tanya Rahel masih dengan wajah berseri-seri. "Ah! haruskah kita bertemu." Ucapnya.


"Hah!Sial!" Umpat Leon mematikan panggilan.


****


Stela berjalan keluar dari lift disusul oleh Jesika yang diam-diam mengikutinya. Ia curiga Stela melakukan sesuatu dengan memanfaatkan kejadian yang dialami Leon.


"Itu bukannya Leon." Ucap Stela memperhatikan Leon dengan raut kesal perlahan menutup kaca mobilnya. "Hah!Bukannya dia merasa happy!" Cibir Stela melipat kedua tangannya didada. "Bisa-bisanya dia melemparkan kotoran ke Sandra." Geram Stela menggertak giginya membuat Jesika melangkah maju tepat berdiri disampingnya.


"Bukannya itu yang Lo mau." Cibir Jesika pada Stela yang tak pernah peduli dengan Sandra.


"Iya sih." Sahut Stela dengan angkuhnya. "Tapi bukan berarti Leon seenaknya menyudutkan semuanya ke Sandra di media." Keluhnya. "Gue gak bisa bayangin kalau identitas Sandra sampe ketahuan." Ucapnya. "Perusahaan dan Papa bakal terkena masalah." Menggigit kuku ibu jarinya sambil berpikir.


"Tumben Lo kelihatan waras." Balas Jesika.


"Maksud Lo selama ini gue sinting?" Tanya Stela yang dibalas anggukan kecil oleh Jesika.


"Menurut Lo apa itu ulah Leon?" Tanya Jesika yang juga terkejut melihat berita yang berbalik menyudutkan Sandra.


"Iyalah." Jawab Stela. "Emang menurut Lo siapa lagi yang diuntungkan disini." Tambahnya kesal.


"Kalau iya kenapa?" Tanya Stela mengangkat dagunya keatas.


"Bodoh!" Cibir Jesika. "Jelas-jelas Frans bucin banget sama Lo." Ucapnya. "Malah milih ngejar Leon yang dingin begitu." Melangkah keluar lobby menuju entrance.


Bucin?cuih! Dia bahkan lebih peduli sama Lo dari pada ke gue. Cibir Stela dalam hati.


"Lo juga bego!" Balas Stela mengikuti Jesika dari belakang. "Bisa-bisanya masuk dalam jebakan yang gue buat." Melihat ke Jesika.


"Stell!" Panggil Jesika. "Lo gak takut Apa sewaktu-waktu Frans jatuh cinta ke Gue?" Melihat ke Stela.


Bodoh! Dia emang udah jatuh cinta kali ke Lo!. Umpat Stela dalam hati mengingat kembali sikap Frans yang sudah berapa kali melukainya saat dia menghina Jesika.


"GR!"Jawab Stela mengalihkan wajahnya kedepan. "Lo pikir Frans bakal jatuh cinta ke elo?!" Ledek Stela melirik kecil ekspresi Jesika.


"Enggak." Sahut Jesika melihat mobil Frans dari jauh yang datang ke arah mereka.


What? Dia belum tahu perasaan Frans padanya!Kok bisa!. Teriak Stela dalam hatinya.


"Gimana dengan Lo?" Tanya Stela penasaran.


"Kenapa dengan Gue?" Tanya Jesika balik melihat ke Frans yang kini mengentikan mobilnya.


"Apa Lo jatuh cinta sama Frans?" Tanya Stela membuat keduanya saling melihat satu sama lain sesaat Frans turun dari mobilnya.


Stela. Desis Frans dalam hati sambil menutup pintu mobilnya. Kesalahpahaman apa lagi yang mau dia buatnya. Tanyanya dalam hati berjalan menghampiri keduanya.


"Enggak." Jawab Jesika.


"Enggak apanya?" Tanya Frans yang tiba-tiba muncul membuat Stela terkejut.


"Stela mencurigai Leon." Sahut Jesika mengalihkan apa yang ditanyakan Stela sebelumnya.


"Apa Lo tahu sesuatu?" Tanya Frans yang membuat Stela takjub dengan pengalihan Jesika yang brilian ini.


"Cih!Akhirnya Lo percaya setelah apa yang terjadi saat ini." Cibir Stela pada Frans yang selama ini tidak percaya dengan hubungan Leon dan Sandra.


"Apa Om dan Tante tahu?" Tanya Frans yang membuat Stela menceritakan apa yang terjadi saat ini di kediaman Winata. Ia juga menjelaskan gerak-gerik Leon dikantor pagi tadi hingga kini. Tanpa Frans sadari Jesika pergi meninggalkannya berdua dengan Stela.


"Jes." Panggil Frans melihat ke tempat Jesika berdiri sebelumnya. "Dia kemana?" Tanya Frans melihat kesana kemari.


"Frans!" Panggil Stela.


"Ya?"


"Apa Jesika pernah mengatakan alasan dia selingkuh sama Lo?" Tanya Stela.


"Karna Leon." Jawab Frans. "Dia ingin Leon cemburu." Tambah Frans.


"Hanya itu." Ucap Stela yang tak menyangka bahwa Jesika menyimpan sendiri apa telah ia lakukan padanya.


Cih!dia bahkan gak memberitahunya pada Frans. Batin Stela ikut mencari keberadaan Jesika dengan kedua matanya yang sinis.


"Emang ada yang lain?" Tanya Frans yang masih mencari keberadaan Jesika disekitar mereka.


"Bodoh." Jawab Stela melihat Jesika bersembunyi di balik bunga.


"Siapa?" Tanya Frans masih celingak-celinguk.


"Jesika!" Menunjukannya pada Frans.


🍁🍁🍁


Berikan Vote,like dan Coment heheheh😜😜