Unboxing

Unboxing
88. Sepuluh Menit



Pakde dan Bude kembali kekediaman mereka meninggalkan Leon dan Sandra yang saling melihat satu sama lain di balik pintu. Jesika yang berdiri didepan jendela dengan menggigit kukunya menatap kearah pintu kamar yang tertutup. Frans yang melangkah keluar kamar memeriksa wastafel dan keran air yang masih meneteskan air. Ia mendongak keatas menunggu pintu kamar Leon terbuka.


Tin!Tinnn!! Suara klakson mobil terdengar kembali didepan gerbang Villa. Sontak membuat semuanya kaget. Mobil putih dengan cahaya lampu depan yang jatuh di halaman Villa berhenti.


Krekk! Suara pintu kamar terbuka membuat mata Frans yang sebelumnya mendongak keatas berbalik melihat kearah Jesika yang keluar dari kamarnya.


"Lo belum tidur?" Tanya Frans pada Jesika yang masih utuh dengan pakaian sebelumnya.


"Belum." Jawab Jesika menuruni tiga anak tangga disusul oleh Frans yang melangkah maju bersamaan dengan Jesika. Di waktu bersamaan Leon melangkah keluar kamar melewati tepian kolam. Ia meneruskan langkahnya ke balkon disusul oleh Sandra yang berjalan dibelakangnya.


Dibawah cahaya lampu gantung di tiang pagar samar-samar Leon mendapati seorang wanita turun dari mobil putih yang kini terparkir didepan gerbang. Wanita itu membuka pintu gerbang dengan lancang disusul oleh pria yang menarik tangannya menghalangi wanita itu untuk masuk.


"Stela!!" Teriak Gio membuat Leon mengernyitkan alisnya.


"Kak Ste---"


"---Ssstt." Desi Leon menutup mulut Sandra dengan tangannya. "Kenapa suaranya familiar ya?" Tanya Leon pada dirinya yang menilik pria yang kini menahan Stela untuk masuk. Namun karna sudah cukup larut dan Pakde hanya menyalakan beberapa lampu membuat dirinya tak bisa mengenalinya.


"Lepasin." Keluh Stela memberontak dari genggaman Gio yang menarik lengannya.


"Lo gak bisa seenaknya begini." Ucap Gio yang menahan Stela. "Gak baik datang-datang langsung menerobos Villa orang." Jelasnya.


"Lo pikir gue peduli dengan itu." Sahut Stela yang melepas genggaman Gio ditangannya. "Lagian gerbangnya gak dikunci." Ucap Stela meneruskan langkahnya disusul oleh Gio yang berlari kecil mengejarnya.


"Hah!itu suara Gio." Ucap Leon melepas tangannya dari mulut Sandra. "Kenapa dia bisa sama Kakak Lo?" Tanya Leon pada Sandra yang mengangkat bahunya.


"Sandra!" Panggil Stela mendorong pintu masuk kedalam Villa. "Keluar Lo!" Teriaknya membuat Jesika dan Frans kompak melihat kearah datangnya suara.


"STELA!" Ucap keduanya kompak berdiri ditengah ruang pertemuan antara ketiga kamar yang ada disana.


"Kalian--- "


"---Stela Tunggu dulu." Potong Gio yang tak menyadari keberadaan Frans dan Jesika.


"Gio." Ucap Frans membuat Gio berhenti dan melihat Frans dan Jesika mengernyitkan alis padanya. "Kenapa Lo bi---"


"---Tunggu!" Potong Stela pada Frans. "Bukankah ini Villa Leon?" Tanya Stela menoleh ke Gio yang berdiri disebelahnya.


"Iya." Jawab Gio. "Ini Villa Leon." Jelasnya lagi melihat ke Stela.


"Kalau ini Villa Leon." Geram Stela. "Kenapa yang ada disini malah mereka?" Tanya Stela. "Atau mungkin Lo mencoba untuk menipu gue." Melihat ke Jesika dan Frans.


"Ini benar Villa Leon." Ucap Jesika. "Gio gak ada ni---"


"---Gue gak nanya sama Lo." Potong Stela melihat tiga kamar yang mengitari keberadaan mereka berdiri. "Dari ketiganya mana kamar yang Leon tempati?" Tanya Stela pada Gio.


"Leon lagi istirahat." Jawab Jesika. "Kalau Lo ada sesuatu yang perlu." Melihat Stela menilik kamar lantai atas. "Lo bisa bicarakan itu esok pagi." Sambungnya.


"Gue gak butuh ijin dari Lo untuk bertemu dengan Leon." Ucap Stela yang melangkah kearah tangga ke lantai atas.


"Stela berhenti disana." Pinta Gio pada Stela yang meneruskan langkahnya menapaki anak tangga. "Leon gak mungkin bawa Sandra ketempat seperti ini." Ucap Gio.


"Apa Sandra benar-benar ada disini?" Tanya Frans.


"ENGGAK!" Jawab Gio dan Jesika kompak.


****


Diwaktu bersamaan Sandra mengkemasi barang miliknya kedalam box membuat Leon bingung akan apa yang dilakukan gadisnya itu.


"Lo ngapain?" Tanya Leon berdiri bersandar dikusen pintu yang mengarah ke kolam. "Sandra ranjangnya kenapa diberantakin." Tegur Leon pada Sandra yang kini menjatuhkan bed cover ke lantai dan menyibak sprei ranjang dengan menelanjaginya.


"Bantu ngehancurin isi kamar ini." Jawab Leon yang menggaruk keningnya melihat Sandra yang mengeluarkan pakain wanita yang ada di lemari. Ia meletakkan semua itu diatas ranjang.


"Kak bantuin." Pinta Sandra. "Kita gak punya banyak waktu lagi." Ucapnya yang kini memasang kembali sprei ranjang dengan membiarkan pakaian-pakaian itu didalamnya.


"Ah, Lo nyembuyiin itu semua dari---"


"---Sandra kenal Kak Stela." Potong Sandra yang kini menarik tangan Leon untuk membantunya memasang sprei hingga dua lapis menutupi keberadaan pakaian wanita dibawahnya. "Dia bakal periksa semua." Menyusun kembali bantal-bantal seperti keadaan semula dan bed covernya.


"Boxnya taruh disini aja." Ucap Leon menggantikan meja lampu duduk dengan box.


"Hape aku." Ucap Sandra menonaktifkannya lalu memasukkannya didalam saku celana Leon yang tergantung.


"Kenapa disana?" Tanya Leon.


"Mereka gak akan periksa saku celana Kak Leon." Jawab Sandra. "Kecuali mereka itu istrinya Kak Leon." Tambahnya melipat bibirnya menahan senyum yang dibalas oleh ciuman Leon yang mendarat dibibirnya.


Di saat keduanya saling memagut bibir satu sama lain Stela menghentikan langkah kakinya menapaki tanggs. Ia berbalik melihat kebawah.


"Wah!" Puji Stela pada Gio dan Jesika yang kompak menjawab pertanyaan Frans. Ia memiliki firasat bahwa Jesika dan Gio menyembunyikan sesuatu darinya dan Frand. "Frans!" Panggil Stela. "Apa Lo percaya dengan mereka?" Tanya Stela sinis.


"Gio." Panggil Frans pada Gio yang melihat ke Stela. "Apa ada yang Lo sembunyiin dari gue?" Tanya Frans.


"CK!" Decak Stela geram. "Frans mending bantuin gue dobrak pintu kamar Leon." Ucap Stela berbalik badan meneruskan langkah menuju pintu kamar.


"Leon itu atasan kita!" Seru Jesika menyusul Stela keatas.


"Lantas." Cibir Stela yang kini tiba diatas.


"Apa Lo sudah memikirkan konsekuensinya?" Tanya Jesika yang diikuti oleh Frans dan Gio dari belakang.


"Jes." Panggil Stela menoleh pada Jesika yang baru saja menapakkan kakinya dilantai atas. "Gue bukan orang susah kayak Lo." Cibirnya pada Jesika membuat ketiganya terdiam.


Dor!Dorrr! Suara tangan Stela menggedor pintu kamar membuat Leon yang sedang ******* bibir Sandra spontan melepasnya.


"Itu pasti Kak Stela." Desis Sandra.


"Sandra! Keluar Lo!" Teriak Stela sambil menggedor pintu. "Gue tahu Lo ada didalam." Serunya yang tak berhenti menggedor pintu membuat Jesika panik.


"Tunggu Kak!" Pinta Sandra mengahalangi Leon yang melangkah ke pintu. "Sandra sembunyi dulu." Ucapnya melangkah keluar kamar menuju kolam.


"Lo mau kemana?" Tanya Leon mengikuti Sandra mengabaikan Stela dan lainnya yang menunggu dirinya membukakan pintu.


"Sandra gak tahu kalau ini bakal berguna sekarang." Jawabnya melepas kaos yang menutupi tubuhnya didepan Leon. "Kak Leon pakai kaosnya buat nutupin roti sobeknya." Goda Sandra melempar kaos ke Leon yang tercengang melihat Sandra yang berdiri hanya dengan bra dan daleman berwarna maroon.


"Gue gak izinin lo---"


"---Sandra bakal sembunyi disini." Potong Sandra masuk perlahan kedalam kolam.


"Gak!" Tolak Leon meraih lengan Sandra yang setengah tubuhnya kini sudah masuk kedalam kolam.


"Sandra bisa nahan nafas kok kak dalam air." Ucap Sandra.


"Berapa lama?" Tanya Leon. "Satu detik?dua detik?" Ejeknya. "Keluar dari sana Lo bisa mati tenggelam disana sebelum gue buka pintu." Ucap Leon cemas.


"Sepuluh menit." Jawab Sandra. "Kak Leon butuh sepuluh menit meyakinkan mereka kalau Sandra gak ada disini." Jelasnya.


🍁🍁🍁


Berikan Vote,Like,dan Coment untuk mendukung author ❀️❀️❀️❀️