Unboxing

Unboxing
119. I Love You



Satu jam sebelumnya.


"Leon, apa ada tempat yang berkaitan dengan Jesika yang Lo tahu?" Tanya Frans melipat surat keterangan hamil milik Jesika. "Selain panti asuhan." Lanjutnya yang kemudian menyimpan surat itu kedalam saku jasnya.


"Gak ada." Jawab Leon.


"Yaudah kalau gitu gue boleh pinjam kunci mobil Lo!" Pinta Frans.


"Ini." Ucap Leon melemparkan kunci mobilnya. "TUNGGU!" Seru Leon menangkap tangan Frans. "Lo mau kemana?" Tanyanya menarik Frans berbalik kearahnya. "Sandra udah nunggu---"


"---Jesika yang lagi nunggu Gue." Potong Frans melihat ke Leon. "Mengenai Sandra---"


---Bukk! Pukulan Frans mendarat di wajah Leon.


"AW!" Desis Leon menyentuh sudut bibirnya yang kini juga berdarah.


"Kita impas!" Celetuk Frans. "Mana mungkin elo gak ngapa-ngapain tunangan gue selama ini." Cibir Frans yang sudah mengetahui sejauh apa hubungan Leon dan Sandra sebelumnya dari Jesika. Namun ia cukup terkejut setelah mengetahui keduannya sudah berhubungan sejak tujuh bulan yang lalu.


"Sial!" Umpat Frans. Dalam benaknya entah udah hal-hal apa saja yang dilakukan Leon pada Sandra. Bagaimanapun ia sudah menganggap Sandra seperti adik kandung sendiri sejak dulu.


"Mikirin apa Lo?" Tanya Leon melihat raut wajah Frans yang mulai berpikir macem-macem mengenai dirinya dan Sandra. "Gue gak sebrengsek itu." Jelasnya membuat Gio dan Frans melakukan toz disertai senyum yang meledek Leon.


"Oke. Kita percaya." Sahut Frans. "Kalau gitu Lo harus udah siap-siap untuk ke depan altar bukan?" Tanya Frans membuat Leon terpaku. "Kenapa? Apa ada masalah?" Tanya Frans bergantian melihat ke Gio dan Leon.


"Ya. Tapi tidak untuk sekarang ini." Jawab Leon.


"Jangan bilang Lo mau nyakitin Sandra kayak yang lainnya." Tuduh Frans.


"Bukan." Sangkal Leon.


"Lalu?" Tanya Frans melihat ke Gio.


"Om Adit gak---"


"---Aditya Winata serahkan padaku." Potong David yang melirik Feny dan Fandy kemudian melihat ke Leon yang terkejut melihat kehadiran papanya disana.


"Papa ngapain disini?" Tanya Leon yang tidak pernah meminta bantuan apapun dari David. Harga dirinya terlalu tinggi untuk meminta bantuan pada David sejak dulu.


"Leon bisa urus semuanya sendiri pah!" Tolak Leon. "Papa gak usah ikut turun tangan sega---"


"----Kali ini kamu gak bisa!" Potong David. "Tanpa papamu ini sayang." Bujuknya. David tahu sekali bahwasanya dialah alasan terbesar kenapa Adit tidak menyukai Leon. Dan membuat putra semata wayangnya itu kesulitan. "Papa gak mau usaha kamu selama ini sia-sia hanya karna seorang ayah yang begitu mencintai putrinya." Jelas David menangkup bahu Leon.


"Jadi,Apa rencana papa?" Tanya Leon. "Om Adit bukanlah orang yang gampang untuk ditipu." Ucap Leon. "Apa lagi yang nipu itu,orang kayak papa." Lanjutnya. "Leon,gak mau karna ide papa, Om Adit membenci Leon seumur hidupnya." Jelasnya membuat Feny tidak tahan untuk muncul dari persembunyiannya.


"Leon, apa kamu begitu mencintai Sandra?" Tanya Feny disusul oleh Fandy dari belakang membuat ketiga pria tampan itu tercengang.


"Mama!" Ucap Frans.


"Ini." Ucap David melempar kunci pada Frans yang langsung sigap menangkapnya.


"Apa ini om?" Tanya Frans.


"Kalau gak ada kendala." Jawab David melihat jam dipergelangan tangannya menunjukkan 10.15 WIB. "Orangnya sudah sampai di depan ruangan dengan kunci yang sama." Jelas David yang membuat Frans berlari keluar meninggalkan semuanya.


Tap tap tap! Suara langkah sepatu kets menelusuri koridor dengan memengang erat kunci ditangannya.


"Ada yang bisa saya bantu Nona." Sapa pelayan hotel yang mendorong troli dari arah yang akan dituju oleh pemilik sepatu kets itu.


"Saya lagi nyari kamar dengan kunci ini." Ucapnya yang kemudian dibantu oleh pelayan untuk menemukan kamar yang dia maksud.


"Ini kamarnya nona." Tunjuk Pelayan dengan merentangkan kedua tangan dengan telapak tangan yang mengarah keatas.


"Terimakasih." Sahutnya yang kemudian memasukan kunci kelobang pintu.


Klekk! Suara pintu terbuka bersaman dengan langkah kaki masuk kedalam ruangan yang dipenuhi oleh bunga dan foto-foto dirinya bersama Frans.


"Jes!" Seru Frans membuat pemilik sepatu kets itu berbalik badan mendengar namanya disebut.


"Frans." Sahutnya melihat pria itu berdiri dipintudengan satu tangan menopang pada kusen dan nafas yang terengah-engah. "Kenapa Lo ada disini?"


****


"Gue jadi MC?" Tanya Gio menunjuk dirinya sambil melihat ke semua termasuk Feny dan Fandy yang masih disana. "Gak bisa!Gue gak bisa." Tolak Gio membuat semua orang disana melotot kearahnya. Kemudian David mendekatkan wajahnya ke Gio dan membisikkan sesuatu yang membuat pria lesung pipi itu membatu.


"Gimana?" Tanya David yang memegang kartu Gio.


"O-Oke Om." Jawab Gio pasrah. Ia benar-benar tak menyangka suatu hari akan diancam oleh David yang sudah ia anggap seperti papanya selama ini.


Sial! Umpat Gio dalam hati dengan senyum terpaksa keluar dari dalam ruangan disusul oleh Feny dan Fandy yang juga pergi meninggalkan David dan Leon. Kemudian David meminta Leon untuk segera menuju ruangan yang berada tepat disebelah ballroom.


"Buat apa pah?" Tanya Leon.


"Apa kamu mau membiarkan gadis itu berdiri sendiri disana?" Jawab David yang balik bertanya.


"Gimana dengan Om Adit?" Tanyanya balik.


"Serahkan semua sama papa,Okey!" Tegasnya meraih hape disakunya sambil melihat Leon yang kini melangkah menuju lift dengan sesekali menoleh ke David yang memberikan semangat untuknya.


Tak berapa lama setelah itu David langsung menghubungi Adit yang sedang berada diruang mempelai wanita bersama Sandra dan lainnya.


"Berhenti mengancamku!" Seru Adit yang kini datang menemui David di ruang lain yang diawasi oleh pengawal Fandy sebelumnya. "Dulu Aku gak bisa menghalangi Nadin bersama pria yang hanya tahu mematahkan hati wanita. Tapi sekarang aku punya hak atas putriku untuk menikahkannya dengan siapapun." Jelasnya penuh emosi melihat David yang mengancamnya ditelpon sejak tadi.


"Hahaha." David terbahak-bahak melihat seorang ayah yang begitu mencintai putrinya. "Aku menemukan orang yang telah menyebar wajah putrimu. Foto gadis SMA yang sering keluar masuk apartemen pria 28 tahun,Adit." Menunjukkan foto-foto Leon dan Sandra yang kini terpampang dilayar proyektor. "Menurutmu apa yang terjadi jika pelakunya mengekspose ulang terkait siswa inisial S di media?" Tanya David memainkan kartu As yang dia miliki untuk menekan Adit.


"Apa orang itu suruhanmu?" Tanya Adit yang dibalas gelengan kepala oleh David.


"Kamu tak perlu memikirkan itu,Adit. Pikirkan saja bagaimana nasib putrimu jika ini sampai kemedia." Jawab David. "Tidak ada yang tahu apa yang terjadi setelah dia menikah dengan putra Feny. Aku rasa mereka tidak akan mentolerir hal ini, bukan!" Jelas David yang mengetahui Feny adalah putri dari seorang mafia.


"Sialan Kamu,David!" Umpat Adit menarik dasi pergi meninggalkan David penuh kemenangan.


Tap tap tap! Suara langkah kaki melewati tamu undangan menuju wanita paruh baya yang masih terlihat begitu cantik dibandingkan wanita-wanita yang hadir di mata Pria yang menangkap wajah paniknya.


"Pah gimana?" Tanya Wanita itu pada Pria paruh baya yang menyambungkan panggilan pada putra semata wayangnya itu.


"Sayang bersiaplah!" Ucapnya ditelpon membuat wajah panik Wanita cantik didepannya itu kembali berseri.


"Kepada Ayah mempelai wanita dipersilahkan memberikan putri tercintanya pada mempelai pria." Ucap pendeta yang berdiri diantara mereka.


"Aku akan menghajarmu bersama dengan ayahmu yang brengsek itu." Menoleh ke Pria paruh baya yang melambaikan tangannya berdiri diantara Rahel dan Stela. "Kalau kamu berani membuat putriku menangis." Kembali melihat ke mempelai pria yang hanya menatap Sandra yang terhalang veil slayer menutupi wajahnya.


"Saya terima Om." Desis pria itu yang kemudian melihat ke Adit sekaligus meraih tangan Sandra dan berdiri tepat dihadapan gadis yang masih menundukkan wajahnya.


"Leonardo Sanjaya---"


"---Kak Leon." Seru Sandra memotong ucapan pendeta sambil membuka penutup wajahnya . Demikian juga dengan semua hadirin ikut tercengang,tanpa terkecuali Rosa,Stela dan Rahel yang baru mengetahui bahwa pria yang sejak tadi menyembunyikan wajah itu adalah Leon.


Para hadirin pun berbisik-bisik sambil melihat nama dikartu undangan berbeda dengan yang disebutkan Pendeta di altar. Sementara Leon hanya melemparkan senyuman pada Sandra yang tak menyangka bahwa pria yang akan mengikat janji suci dengannya hari ini adalah pria yang ia cintai.


Ctak! Jentikan tangan David otomatis menghadirkan slot foto-foto kebersamaan Leon dan Sandra di proyektor meredakan bisikan menjadi bentuk kekagumanan akan karya Rahel yang begitu manis.


"Apakah bisa kita lanjut?" Tanya Pendeta membuat Sandra dan Leon mengangguk sambil melihat satu sama lain.


"Leonardo Sanjaya, apakah kamu bersedia menikahi Alexandra Winata sebagai istri. Mengikuti sumpah dikitab suci bersamanya, bersatu bersama dengannya dihadapan Tuhan. Mencintainya,Menghiburnya,


Menghormatinya,Melindunginya, walau dalam kondisi suka atau duka,kaya atau miskin,sehat atau sakit,bahagia atau sedih,selamanya setia padanya sampai maut memisahkan?"


"Saya bersedia." Jawab Leon menatap dalam mata Sandra yang penuh binar. "Saya akan mencintai dia,menghargai dia." Mengambil cincin. "Setia padanya." Memasangkan cincin dijari manis Sandra. "Sampai mati." Mengecup punggung tangan Sandra membuat gadis itu terharu.


"Sekarang,pengantin pria boleh mencium pengantin wanita."


Cup! Kecupan manis dari Leon mendarat di bibir Sandra diikuti oleh semburan party popper dari atas dan tepukan tangan meriah dari para hadirin yang berdiri dari kursinya.


"I love you." Bisik Leon ditelinga Sandra setelah melepas kecupannya membuat pipi Sandra merona dengan senyum dikedua sudut bibirnya.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


love you too,Leon!๐Ÿ˜˜


Jangan lupa untuk vote,like dan Coment terbaik kalian ya๐Ÿค—


makasih๐Ÿคฉ๐Ÿคฉ๐Ÿคฉ