Unboxing

Unboxing
112. Kami hanya berteman



"Hai!" Sapa Rahel berbalik badan menghadap Sandra. "Kita ketemu lagi." Ucapnya membuat Leon ,Frans dan Gio kompak melihat ke Rahel.


"Sandra." Panggil Frans. "Lo kenal Rahel?" Tanya Frans yang tak percaya bahwa Rahel dan Sandra saling kenal.


"Pernah ketemu di sekolah Kak." Jawab Sandra yang memperhatikan keempat orang dewasa didepannya.


"Ngapain Lo ke sekolah Sandra?" Tanya Gio yang sebelumnya mendengar dari Leon bahwa Rahel yang memposting Foto Sandra dan Leon di media.


"Adik Kak Rahel satu sekolah sama Sandra Kak." Jawab Sandra yang tidak tahu bahwa selama ini dirinya telah di awasi oleh Rahel.


"Tristan?" Tanya Frans dan Gio kompak membuat Leon mengernyitkan alisnya. Ia tak menduga kedua sahabatnya itu mengetahui tentang Tristan.


"Iya." Jawab Sandra mendahului Rahel yang hendak menjawab. "Kak Frans dan Kak Gio kenal sama Tristan juga?" Tanya Sandra sambil memperhatikan posisi Rahel yang berdiri diantara Leon dan Frans.


Jangan bilang Rahel yang aku temui sebelumnya dengan yang ada didepan mataku saat ini adalah mantannya Kak Leon. Batin Sandra sambil memperjelas penglihatannya melihat ke Rahel.


"Bukannya Tristan pergi ke Sidney bareng Lo, hel?" Tanya Gio membuat Sandra melihat ke Gio.


Sidney? Aku baru tahu kalau Tristan pernah tinggal disana. Batin Sandra sambil menunggu jawaban Rahel akan pertanyaan Gio. Sementara Leon malah fokus memandangi Sandra yang terlihat gemas dengan wajah penasarannya.


"Dia pindah kesini tiga tahun yang lalu." Jawab Rahel. "Bokap dia yang bawa kesini." Jelas Rahel membuat Gio dan Sandra mengerutkan kening.


"Bokap dia papa Lo kan?" Tanya Gio.


"Kita beda bokap." Jawab Rahel yang membuat keadaan menjadi hening dan membuat semua terasa canggung.


Krik krik krik!


Sial! Umpat Gio dalam hati. Sementara Frans dan Leon yang sudah mengetahui itu fokus melihat ke Sandra yang masih tercengang mendengarnya.


"Oh iya! Sandra ada perlu apa kesini?" Tanya Gio mencari topik memecahkan rasa canggung diantara mereka.


"Ah itu." Jawab Sandra. "Aku ada sesuatu yang mau dibicarkan dengan Kak Frans---." Ucapnya terjeda merasakan atmosfer canggung yang begitu kuat di ruangan sejak kedatangannya. "---Tapi nampaknya Kak Frans lagi ada tamu." Sambungnya melihat ke Leon membuat mata keduanya saling bertemu. "Ka-kalau gitu Sandra pamit duluan." Mengalihkan pandangannya dari Leon.


"Ah, Gue juga." Sahut Leon melangkah kearah Sandra. "Ayo!" Ajak Leon meraih tangan Sandra didepan semua.


"Lepasin tangan Lo!" Seru Frans yang kemudian menyusul ke arah Sandra yang berdiri disamping Leon.


"Kenapa?" Tanya Leon yang balik menggenggam erat pergelangan tangan Sandra.


"Dia tunangan Gue." Jawab Frans menepis tangan Leon dari pergelangan Sandra. "Semua orang yang ada digedung ini tahu." Ucap Frans melihat ke Leon. "Termasuk Lo!" Tegasnya penuh penekanan.


"Lalu." Sahut Leon menaikan salah satu alisnya. "Kenapa kalau dia tunangan lo?" Tanya Leon dengan senyum sinis membuat Gio segera mendekat pada keduanya.


"Biar gue yang antar." Jawab Frans meraih tangan Sandra. "Lagian ada hal yang mau kita bicarakan berdua,bukan!" Cibir Frans pada Leon sambil menarik Sandra berdiri disampingnya. "Lo harusnya dengar ba---"


"---Apa Lo menyukainya?" Potong Leon yang disusul oleh Gio yang menarik tangan Rahel untuk keluar bersamanya. Gio tak mau Rahel menggagalkan tujuan awal keduanya menemui Frans pagi ini.


"Ya." Jawab Frans setiba Gio dan Rahel berada diluar.


"Apa Lo cinta?" Tanya Leon memastikan perasaan Frans pada Sandra.


"Enggak." Jawab Frans perlahan melepas genggaman tangannya dipergelangan Sandra.


"Apa Lo bakal tetap nikahin dia meski lo gak cinta?" Tanya Leon yang kini meraih tangan Sandra lalu menarik gadis itu ke sisinya.


"Mereka sudah mengatur segalanya." Jawab Frans tertunduk duduk di sofa.


"Lantas kenapa kalau mereka sudah mengatur semuanya." Ucap Leon.


"Gue gak mungkin mempermalukan papa dan mama." Sahut Frans menggelengkan kepalanya. "Dengan membatalkan rencana yang sudah disepakati sejak awal." Melihat ke Leon.


****


Dengan berat Leon melepas genggaman tangannya dari Sandra. Ia melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Sandra dengan wajah yang ditekuk.


"Kita tunggu kabar baiknya aja dari Leon." Jawab Gio.


Dua jam kemudian ditempat lain Nadin tanpa sengaja melihat Rosa sedang melihat-lihat gaun pengantin yang terpajang.


"Ros---." Panggil Nadin terputus melihat kedatangan Frans yang disusul oleh Feny dan Sandra dari belakang menghampiri Rosa.


"Kalian sudah datang." Ucap Rosa dengan wajah sumringah menyambut ketiganya yang terlihat senyum terpaksa. "Sandra sini sayang." Tarik Rosa pada Sandra dengan meminta pelayan membawakan deretan gaun yang sudah dipilihkan Rosa untuk dicoba Sandra.


"Frans lihat-lihat dulu mah." Pinta Frans melangkah diikuti oleh Feny yang menghela nafas menemani putranya memilih tuxedo yang berjejer disana.


"Permisi." Tegur Nadin pada salah satu pelayan yang berdiri menyambut para pengunjung.


"Ada yang bisa saya bantu Bu?" Tanya pelayan.


"Saya mau cari tuxedo buat putra saya." Jawab Nadin berdiri memperhatikan tuxedo yang terpajang.


"Lo lihat gak tadi." Bisik pelayan. "Mempelai wanitanya masih muda banget." Tambahnya membuat Nadin mendekat ke pelayan yang sedang gibah.


"Iya. Gue dengar pernikahannya hari Minggu ini loh." Ucap Pelayan yang lain.


"Masa sih." Balas mereka. "Mendadak banget ya?"


Frans dan Sandra menikah hari Minggu ini. Terus bagaimana dengan Leon. Batin Nadin yang meminta pelayan lain mencarikan tuxedo dengan ukuran tubuh Leon.


"Sepertinya kecelakaan sih." Ledek pelayan itu yang mengasumsikan bahwa pernikahan diadakan karna mempelai wanitanya kemungkinan sudah mengandung.


Sandra hamil? Mana mungkin. Kalau pun benar itu pasti anak Leon. Batin Nadin yang malah terkekeh membuat pelayan yang melayaninya mengernyitkan alis.


"Hush!" Tegur pelayan yang baru saja kembali membantu Sandra dan Rosa dari ruangan lain. "Kamu jangan sembarangan ngomong." Ucap pelayan itu. "Gue baru dengar dari maminya si mempelai cewek kalau keduanya sudah tunangan." Jelasnya.


Leon gak pernah cerita mengenai tunangan. Batin Nadin sambil meminta membungkuskan tuxedo dalam kotak untuknya. Lalu ia meminta pelayan untuk mengirimkannya ke alamat yang ia tinggalkan setelah usai membayar.


Di perjalanan pulang melakukan fitting baju Frans hanya diam memandang keluar mobil. Sementara Feny yang duduk dibelakang bersamanya masih menunggu kabar penyelidikan tentang Jesika dari orang suruhannya. Dan untuk dua hari kedepan hingga hari pernikahan Fandy yang akan stay menangani perusahaan.


"Jes." Panggil Leon saat wanita itu masuk dengan dokumen ditangannya.


"Ya." Sahut Jesika yang kini melihat Leon duduk berpangku tangan menatap langit senja.


"Pernikahan akan diadakan hari Minggu." Ucap Leon menurunkan tangannya kemudian menoleh ke Jesika.


"Pernikahan siapa?" Tanya Jesika.


"Frans dan Sandra."


Brakkk! Dokumen ditangan Jesika terjatuh dari tangannya.


"Ah! Sorry." Ucap Jesika memungut dokumen yang terjatuh. "Tangan gue kesemutan." Sangkal yang sebenarnya terkejut mengetahui pernikahan dipercepat dari apa yang terakhir ia dengar.


"Lo gak pa-pa?" Tanya Leon.


"Hanya kesemutan." Jawab Jesika meletakkan dokumen yang ia bawa.


"Maksud gue bukan tangan Lo." Ucap Leon.


"Kami hanya berteman." Sahut Jesika berbalik badan membelakangi Leon menyembunyikan segalanya.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Maaf kemarin gak update๐Ÿ™


Jangan lupa like dan Coment terbaik kalian ya


love youโค๏ธโค๏ธ