
Setelah makan malam Sandra masih berdiam diri didepan wastafel. Ia masih memikirkan permintaannya pagi tadi pada Leon yang tidak ada jawaban dari Pria itu dengan jelas.
Tak lama setelah itu Leon keluar dari kamar mengenakan atasan denim dengan kaos dalam putih dan celana jeans hitam serta sepatu sport menutupi kakinya yang melangkah menuruni tangga.
"Lo mau ikut atau gue tinggal?" Tanya Leon melingkarkan tangannya di pinggang Sandra.
Kak Leon benar-benar mau mengantarku pulang gumam Sandra dalam hati. Ia berbalik badan membuat aroma maskulin dari tubuh Leon menyeruak masuk ke indera penciumannya.
"Apa Sandra begitu mengganggu Kak?" Tanya Sandra mendongak menatap Leon.
"Lo ngomong apa sih?" Tanya Leon melepas celemek dari tubuh Sandra. "Ganti baju sana!" Perintah Leon.
"Kita mau kemana kak?" Tanya Sandra.
"Bukannya Lo mau main kembang api."
Eh?!jadi Kak Leon benaran mau ngajak aku main kembang api bukan mau ngusir aku dari rumah gumam Sandra dalam hati sambil melihat ke jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh malam.
"Kak kita beli kembang api sparkles aja. nanti main kembang apinya dibalkon aja." Ucap Sandra yang memutar tubuhnya menghadap Leon.
"Gak usah. Kita mainnya diluar aja Lo pakai baju yg agak tebal." Mengangkat sedikit tubuh Sandra.
"Aku siap-siap dulu ya kak." Ucap Sandra melepas tubuhnya dari gendongan Leon. Ia kemudia pergi berlari kecil menapaki anak tangga menuju kamar Leon.
Sementara Sandra masih bersiap-siap di kamar Leon duduk menyandarkan punggungnya disofa sambil memainkan kunci mobil dijarinya. Ketika memutar-mutar kunci mobil dijarinya ia dikejutkan dengan suara bel.
Siapa yang bertamu dijam segini?tanya Leon dalam hati beranjak dari sofa. Ia melihat tidak ada orang yang berdiri didepan pintunya dari monitor lcd.
Gak ada siapa-siapa gumam Leon membuka pintu untuk mengecek keluar alih-alih menangkap orang yang mengisenginya.
"Leon." Bisik Jesika dengan kaki yang menjinjit menggapai telinga Leon.
"Jesika." Sahut Leon terkejut melihat wanita itu berdiri disampingnya.
Kenapa dia ada disini?Bukannya pergi sama Frans. Batin Leon yang tak menyangka wanita ini masih punya keberanian meskipun Leon sudah mempertebal tembok es diantara mereka.
"Kok Lo terkejut begitu?" Tanya Jesika melihat raut wajah Leon.
"Ia gue terkejut ke---."
"----Lo lupa ya!kan gue chat Lo tadi pagi." Ujar Jesika tersenyum melihat penampilan Leon yang sepertinya sudah siap berangkat sejak tadi.
Ternyata dia sudah nunggu gue dari tadi gumam Jesika dalam hati melihat kunci mobil dijari Leon yang membuatnya sumringah.
"Oh itu." Sahut Leon seolah ia sudah membaca yang dimaksud Jesika. Padahal ia sama sekali tidak tahu mengenai apapun yang dibicarakan wanita penghianat itu padanya. Terakhir Leon membuka pesan dihapenya ketika dirinya selesai mengecek satu persatu pesan dari beberapa grup proyek. Setelah itu ia memilih meninggalkan hapenya di ruang kerja dan pergi tidur-tiduran dengan Sandra diranjang.
"Kita berangkat sekarang deh kalau begitu." Ujar Jesika menarik lengan Leon keluar dari Apartemennya.
"Leon kita hanya punya waktu dua jam untuk sampai disana." Ucap Jesika terus menarik lengan Leon ke arah lift tanpa peduli dengan apa yang hendak Leon katakan. "Kalau kita gak gerak sekarang." Memencet tombol lift. "Yang ada kita kelewatan momennya." tambah Jesika penuh semangat dan melupakan kesalahan yang telah ia lakukan dibelakang pacarnya itu.
"Jes.." Panggil Leon lirih ketika mereka masuk lift.
"Kita udah pacaran hampir dua tahun lebih. Sekalipun gue belum pernah lewatin malam pergantian tahun bareng Lo karna gue gak dapat cuti dan Lo memakluminya." Ucap Jesika menunduk memotong Leon yang ingin menolak ajakannya. "Gue Juga sama kayak wanita lain pengen melewati momen itu bersama orang yang gue sayang." Tambahnya lagi membuat Leon hanya bisa terdiam.
Ting! Lift terbuka.
Sandra tunggu gue gumam Leon dalam hati menggenggam tangan Jesika keluar dari lift berjalan ke mobilnya.
****
Beberapa menit kemudian Sandra keluar dari dalam kamar. Ia menuruni anak tangga satu persatu sambil memanggil Leon. Namun,tidak ada suara yang menyahut panggilannya.
Sampai dibawah Sandra tidak melihat ada Leon duduk menunggunya disofa. Ia terus memanggilnya sambil menyusuri setiap ruangan yang ada. Air matanya yang sudah membendung kini jatuh mengalir membasahi pipinya melangkah berulang-ulang disekitar ruangan. Suaranya semakin mengecil memanggil Leon yang disertai dengan isakan tangis.
"Apa Kak Leon sengaja ninggalin aku?"tanya
Sandra tersungkur duduk didepan pintu sambil mengusap matanya yang terus mengeluarkan air mata. Persis pemandangan seperti anak kecil yang menangis karna ditinggalkan ibunya.
"Gak mungkin! Kak Leon jelas-jelas ngajak aku keluar." Jawab Sandra sendiri pada pertanyaan yang berasal darinya. Ia kemudian pelan-pelan bangkit berdiri dari lantai.
"Kak Leon pasti pergi untuk beli kembang apinya." Ucap Sandra menyakinkan dirinya bahwa Leon bukan pergi untuk meninggalkannya seorang diri. Ia melangkah menapaki satu persatu anak tangga sambil mengucek matanya yang mulai memerah.
Sampai dikamar Sandra menarik bed cover dan bantalnya dari atas ranjang dan membawanya pergi kearah balkon. Ia membuka pintu ke balkon lalu duduk dikursi dengan membalut bed cover ketubuhnya. Lalu ia menyandarkan punggungnya kekursi sambil memandang langit malam dan cahaya dari gedung-gedung tinggi.
"Mungkin karna diluar terlalu dingin dan malam semakin larut makanya Kak Leon pergi sendiri." Ucap Sandra masih menyakinkan dirinya bahwa Leon akan kembali.
"Sandra bakal tunggu Kak Leon." Ucapnya lagi meneguhkan hatinya duduk memeluk kedua lututnya menatap langit malam.
Letusan kembang api mulai terdengar dan menampakkan keindahan percikan cahaya warna-warninya dilangit. Sandra bangkit berdiri melepas bed cover dari tubuhnya. Tak terasa jam begitu cepat membuatnya telah dihadapkan pada detik-detik pergantian tahun yang dinantikan semua orang bersama keluarga maupun kekasih diluar sana.
Sandra berdiri dipinggir balkon dengan tangan yang menggenggam raling balkon menatap kembang api bagaikan bunga yang bermekaran dilangit.
"Whuss!" Suara kembang api yang meluncur kelangit.
"Duarr!" Suara ledakan kembang api diatas langit bergantian membunuh kesunyian malam siapapun yang memandang dari luar jendela ataupun balkon gedung.
"Kak Leon cepat pulang." Ucap Sandra memandang langit yang penuh dengan kembang api. Ia kemudian menoleh kearah pintu kamar yang masih tertutup.
Dua jam berlalu kembang api yang menjulang diatas perlahan sepi dan mulai menghilang. Jam dipergelangan tangan menunjukan pukul dua dinihari. Sandra melilit dirinya kembali dengan bed cover dan duduk bersandar di pinggir pintu kamar menunggu kepulangan Leon.
Menunggu hingga ia tertidur bersandar pada pintu.