
Dengan rasa sakit yang mengalir dari bawah, Leon meminta Sandra turun dari tubuhnya. Ia menjulurkan kakinya kelantai dan bangkit berdiri melangkah ke lemari lainnya.
"Jangan lupa kunci kamarnya dari dalam." Ucap Leon meraih selimut dari lemari.
"Kak Leon mau kemana?" Tanya Sandra yang terduduk diatas ranjang.
"Gue tidur dibawah." Jawabnya melangkah kearah pintu. "Kalau ada sesuatu telpon aja." Pinta Leon keluar meninggalkan kamar.
Leon berbaring di sofa dengan selimut yang menutupi tangannya. Tangan itu sedang berusaha berdamai dengan adiknya yang terbangun lagi dan lagi oleh Sandra. Diwaktu bersamaan Sandra keluar dari kamar dan melihat kebawah. Ia mendapati Leon sedang berusaha keras untuk tidak menyakitinya yang selalu menolak melakukan itu dengannya.
Andai bukan aku yang ada disini. Kak Leon gak bakal tersiksa seperti itu kan. Batin Sandra kembali ke kamarnya. Ia menutup pintu kamar dan duduk bersandar membelakangi pintu.
Kak Jesika mungkin bisa membantu. Batin Sandra beranjak dari lantai meraih hapenya yang berada didalam Sling bag.
Keesokan paginya Sandra bangun barang miliknya kedalam tas. Semalam ia berhasil menghubungi Jesika dan meminta mantan kekasih Leon itu untuk datang ke alamat yang ia kirimkan pagi ini.
Tring! Suara pesan terkirim pada Jesika.
Setengah jam kemudian suara dering panggilan masuk berbunyi dikantong celemek yang Sandra kenakan.
"Bentar." Desis Sandra meletakkan nasi goreng dimeja sambil merongoh kantongnya.
Kak Jesika. Batinnya melihat panggilan masuk dari Jesika. Ia kemudian melepas celemeknya dan pergi menjauh dari keberadaan Leon yang masih tidur.
"Halo Kak." Ucap Sandra mengangkat panggilan.
"San." Sahut Jesika. "Ini bukannya Villa Leon?" Tanya Jesika menuangkan sereal dimangkuknya. Ia terkejut membaca pesan Sandra yang mengatakan dirinya berada di Villa pribadi Leon. Villa tempat Leon mencurahkan nafsunya yang menggebu-gebu pada dirinya juga wanita lainnya.
"Ah,Leon." Sahut Sandra berpura-pura tidak tahu siapa yang dimaksud Jesika. "Sandra kurang tau kak." Sambungnya lagi melirik Leon yang terlihat menjatuhkan selimut dari tubuhnya.
"Kamu ngapain disana?" Tanya Jesika yang khawatir Leon melakukan sesuatu padanya.
"Acara perpisahan sekolah kak." Jawab Sandra berbohong melirik Leon yang merentangkan tangannya keatas. "Sandra ketinggalan bus jadi---"
"---Kenapa kamu gak minta Frans buat jemput kesana?" Potong Jesika yang sejak tadi malam memikirkan permintaan Sandra padanya.
Perpisahan sekolah!Tapi kenapa dia minta gue datang kesana. Batin Jesika menunggu jawaban Sandra akan pertanyaannya.
"Kak Frans gak bisa dihubungin." Jawab Sandra asal. "Pokoknya Kak Jesika harus kesini ya." Pinta Sandra. "Sandra gak tahu daerah ini kak." Ucapnya. "Ah Kak Jesika datangnya sendiri aja ya." Melihat Leon. "Sandra tunggu ya kak." Menutup panggilan buru-buru sebelum Leon yang terbangun menyadarinya.
"Kapan Frans gak bisa dihubungi oleh Sandra?" Tanya Jesika yang menuang susu cair ke mangkuknya. Ia mengaduk serealnya sambil memikirkan Sandra.
Haruskah aku telpon Frans. Batin Jesika menatap hapenya yang tergeletak dimeja.
CK! Decaknya meraih hape dan mencari kontak nomor Frans untuk dihubungi. Tak menunggu beberapa detik Frans langsung mengangkat panggilannya.
"Jes." Suara Frans membuat Jesika terdiam sejenak. "Gue kangen sama Lo." Sambung suara itu.
"Lo ada waktu hari ini?" Tanya Jesika melihat Jarum pendek jam di dinding menujukkan angka sembilan.
Janjiku dengan Sandra tiba disana pukul 19.00. Aku masih punya waktu untuk membujuk Frans menggantikannya. Batin Jesika.
"Jam 12.00 ditempat biasa." Jawab Frans bangkit dari ranjang dengan penampilan urak-urakan.
****
Sandra memberikan sendok ditangan Leon dengan memakaikannya di jemari pria 28 tahun itu sambil melemparkan senyum. Leon hanya bisa mengikuti perlakuan Sandra padanya.
Tak ada satu kata yang keluar dari mulut keduanya. Leon sesekali melirik Sandra yang menikmati sarapannya seolah tak ada yang terjadi pada keduanya tadi malam.
"San!" Panggil Leon pada Sandra yang mencuci piring sarapan diatas wastafel.
"Gue ke atas ya." Ucapnya menunjuk kamar dilantai atas dengan telunjuknya yang dibalas anggukan kecil dan senyuman dari Sandra. "Kalau ada sesuatu teriak aja manggilnya." Pinta Leon menaikkan salah satu alisnya.
"Hm." Jawab Sandra mengiyakan lalu kembali melihat piring didepannya.
Leon melepas sweaternya setiba didalam kamar dan melemparkan diatas ranjang. Ia terpaku sebentar melihat ranjang dan sekitar kamar terlihat seperti sediakala saat mereka tiba di Villa.
"Kenapa rasanya ada yang aneh?" Tanya Leon melihat ke lemari dan tak menemukan barang Sandra. "Hapenya dimana?" Tanyanya menyibak selimut diranjang menjatuhkannya dilantai.
Jangan bilang dia. Batin Leon melihat ke pintu kamar. Ia berbalik badan melangkah keluar kamar.
"Sandra!" Teriaknya menuruni anak tangga. "Sandra!" Panggilnya lagi melihat ke tempat semula ia meninggalkan Sandra sebelumnya. Namun ia tak melihat keberadaan Sandra disana. "SANDRA!!" Teriak Leon berdiri dibalkon Villa pada Sandra yang membuka pintu gerbang dengan pakaian yang ia kenakan saat datang.
"Kak Leon." Desis Sandra mendongak ke atas melihat Leon dengan raut wajah marah.
"Berhenti disana!" Teriak Leon mengepal tangannya dengan nafas yang terengah-egah. Ia kemudian berbalik badan menyusul Sandra kebawah.
"Lo mau kemana?" Tanya Leon meraih tangan Sandra.
"Pergi." Jawab Sandra dengan wajah ditekuk kebawah.
"Lo mau ninggalin gue sendiri disini." Ucap Leon mengangkat wajah Sandra yang ditekuk melihat padanya.
"Kak Leon gak bakal sendiri kok."
"Eh?!"
"Iya." Jawab Sandra. " Kak Jesika bakal kesini buat nemanin Kak Leon." Ucap Sandra.
"Apa??" Tanya Leon terkejut.
"Sandra disini cuma bisa nyiksa Kak Leon sementara kalau Kak Jesika bisa---"
"---bisa apa?" Potong Leon yang tak menyangka Sandra akan mempertimbangkan hal tersebut dengan memberikan wanita lain untuk menemaninya.
"Sandra gak pa-pa kok Kak." Jawabnya berbalik meraih tangan Leon dan menggenggamnya."Sandra juga gak marah meskipun Kak Leon ngelakuin itu sama wanita lain." Sambung Sandra. "Sandra bisa terima kok." Bujuknya agar Leon tidak salah paham akan tujuannya memanggil Jesika. "Kak Leon gak perlu merasa bersa---"
"----Gue maunya Lo yang nemanin Gue!" Potong Leon menarik Sandra masuk kedalam pelukannya.
"Tapi Sandra gak bisa---"
"---Emang gue paksa Lo untuk itu!" Potong Leon mendorong tubuh Sandra untuk melihat wajah peri kecilnya itu.
"Enggak." Jawab Sandra.
"Terus kenapa Lo seenaknya ngasih wanita lain untuk gue tidurin." Ucap Leon.
"Sandra gak tega lihat kak Leon kesakitan begitu." Ucapnya diteruskan oleh isakan kecil. "Makanya Sandra minta Kak Jesika kesini buat bantu Kak Leon." Tambahnya membuat Leon menyeka air matanya yang jatuh membasahi pipinya.
"Jesika sudah bukan pacar gue lagi." Memberitahu kebenaran yang harusnya ia katakan pada Peri kecilnya. "Sekarang ini wanita gue cuma Lo seorang." Menangkup wajah Sandra. "Jadi Lo masih yakin mau kasih pria Lo ini ke wanita lain?" Tanya Leon pada Sandra yang tercengang mengetahui bahwa Leon tak memiliki hubungan lagi dengan Jesika.
"Sungguhan?" Tanya Sandra meraih lengan Leon. "Kak Leon gak ada hub---"
"---Iya." Potong Leon mendekapnya masuk kembali kedalam pelukannya. Lo satu-satunya wanita yang ada dihati gue. Batin Leon mengeratkan pelukannya.
πππ
Berikan Vote,Like,dan Coment β€οΈβ€οΈβ€οΈ