
Leon berlari mengejar Sandra yang pergi meninggalkan Apartemennya sambil menyeka air mata yang terus jatuh membasahi pipinya.
"Sandra tunggu!" Teriak Leon yang membuat Jesika yang baru keluar dari lift segera bersembunyi di balik pintu tangga darurat yang ada disebelah lift.
"Sandra!Gue bilang berhenti!" Teriak Leon yang membuat Jesika menutup mulutnya dari balik pintu. Sementara Sandra mempercepat langkahnya dan menekan tombol lift dengan cepat serta panik akan kedatangan Leon yang menyusulnya.
"Sandra." Panggil Leon menarik Sandra keluar dari lift. "Dengarin gue!" Bentak Leon yang kini menggenggam kedua bahunya.
"Apa yang harus Sandra dengar Kak!" Balas Sandra membentak Leon bersamaan dengan air mata yang mengalir membuat Jesika shock.
Leon apa sebenarnya yang terjadi. Batin Jesika.
"Apa Sandra harus dengar kalau Peri kecil Kak Leon itu Stela!" Ucap Sandra. "Begitukah?!" Tekan Sandra.
Peri kecil?Stela?Apa maksud Sandra?. Batin Jesika yang dibuat bingung akan apa yang diketahui Sandra tapi tidak dengannya.
"Darimana Lo tahu tentang Stela?" Tanya Leon.
Leon sepertinya gak tahu hubungan Stela dan Sandra. batin Jesika yang kembali menyimak pertengkaran Leon dan Sandra.
"Sandra lihat didasboard mobil Kak Leon." Jawab Sandra. "Sandra lihat semua tentang Stela disana." Tambahnya lagi. "Sandra juga dengar kalau di hati Kak Leon cuma ada peri kecil itu kan." Ucapnya disertai isakan.
"Itu belum sepenuhnya benar." Ucap Leon. "Stela bisa saja bukan di---"
"----Siapapun dia! Kak Leon akan tetap milih dia kan." Potong Sandra. "Benarkan?" Tanya Sandra yang hanya dibalas diam oleh Leon. "Kak Leon gak bisa jawab berarti itu benar." Ucapnya menyeka air matanya. "Mungkin Sandra lebih spesial dari Wanita Kak Leon sebelumnya." Ucap Sandra dengan isakan mengingat kata-kata Gio yang baru pagi tadi ia dengar. "Dan mungkin juga lebih spesial dari Kak Jesika." Sambungnya lagi mengingat betapa senangnya dia saat Gio memberitahu itu. "Tapi di banding Peri kecil itu Sandra bukanlah siapa-siapa." Melepas cengkraman tangan Leon dari pundaknya. Ia berbalik badan menekan tombol lift kembali.
Sejak kapan Sandra memiliki hubungan dengan Leon. Bagaimana bisa aku berada diantara Kakak adik yang memiliki hubungan dengan Leon. batin Jesika.
"Mamah Kak Leon benar." Ucap Sandra menatap kepintu lift yang kini terbuka.
"Sandra." Desis Leon memanggil Sandra yang masuk kedalam lift melihat kearahnya. "Dengerin penjelasan gue dulu." Pinta Leon memegang pintu lift menghalanginya tertutup.
"Penjelasan?" Tanya Sandra dingin. "Penjelasan kalau Kak Leon hanya memikirkan perasaan peri kecil itu ketimbang kami---" Ucap Sandra terjeda. "---Wanita yang hanya mendapatkan sakit hati karna keegoisan Kak Leon." Sambung Sandra dengan mata sembab menatap dingin Leon. "Sekarang Sandra ngerti kenapa Kak Jesika menghianati Kak Leon." Ucap Sandra.
****
Leon terduduk dilantai depan Lift. Ia bersandar sambil mengacak-acak rambutnya. Sementara Jesika masih duduk ditangga balik pintu meresapi tiap kata yang dilontarkan Sandra pada Leon. Ia tidak menyangka gadis belasan tahun dengan terang-terangan menyadarkan ia dan Leon akan apa yang sebenarnya terjadi.
"Gue belum bicara sama Leon." Ucap Jesika ditelpon pada Frans. Ia duduk menunggu busway dihalte depan gedung apartemen.
"Kenapa?" Tanya Frans yang sambil menyetir sepulang kantor menuju Apartemennya.
"Mungkin lusa." Jawab Jesika yang tak ingin menambah beban pikiran bagi Leon. Hingga tadi sampai ia pergi meninggalkan tempat Leon terus-terusan memaki dirinya. Pertama kali Jesika mendengar kekasihnya itu frustasi seperti itu.
"Sekarang Lo ada dimana?" Tanya Frans.
"Di Halte depan Apartemen Lo." Jawab Jesika.
"Mau keluar gak?" Ajak Frans. "Bareng gue." Ucap Frans memutar mobilnya ke jalur lain melewati gedung apartemen.
"Eh?!"
"Gue ada disebrang." Jawab Frans turun dari mobil melambaikan tangannya pada Jesika yang duduk.
Dia mau kemana?. Tanya Jesika dalam hati berjalan kearah jembatan penyeberangan menyusul Frans yang menunggunya.
"Lo lagi mikirin apa?" Tanya Frans setelah didalam mobil yang sejak tadi melihat Jesika sedang memikirkan sesuatu.
"Hah,Gak ada." Jawab Jesika menghela nafas.
Gue harap dia gak melakukan hal gila yang akan mencelakainya. Batin Jesika.
Leon menaikan kecepatan mobilnya diatas rata-rata. Pikirannya tidak bisa lepas dari Sandra yang mengakhiri semua yang telah terjadi diantara mereka. Ia merenung sepanjang jalan mengingat kembali sikapnya terhadap Rahel dan Jesika.
"Mereka yang hianatin gue!" Ucap Leon "Tapi kenapa Sandra nyalahin gue!" Teriak Leon menaikkan kecepatan mobilnya menyelip diantara mobil didepannya lalu melewati mobil yang lain dengan kecepatan tinggi. Mobil lain yang ada di lintasan berhenti menghindar kebrutalan Leon dijalan. Ia bahkan hampir membuat mobil saling tabrakan yang memicu kegaduhan akan mobil lain yang mengerem tiba-tiba dan klacson yang saling bersahutan.
"Cari mati Lo ya!" Umpat yang lain dari mobilnya menyuarakan Leon yang tidak peduli.
"Dasar Gila!" Umpat yang lain.
Namun Leon pergi dengan kecepatan tinggi mengabaikan orang-orang dibelakang yang memaki dan memperingatinya.
"Argh!!" Geram Leon membanting setirnya melampiaskan kekesalannya. Ia menaikan kembali kecepatannya yang kini telah diikuti oleh mobil polisi yang patroli. Polisi itu meneriaki plat mobil Leon untuk memintanya berhenti karna telah mengakibatkan kemacetan.
Cekhikk! Suara mobil polisi yang berusaha mencegah mobil yang dikendarai Leon. Bukannya berhenti Leon malah menabrak traffic cone yang membatasi area lintas tanpa peduli dengan suara mobil polisi.
Karena kecepatan melebihi kapasitas tiba-tiba saja rem mobil Leon blong membuatnya kewalahan menghentikan.
"Brakk!" Suara mobil Leon menabrak tiang listrik menghindari mobil yang ada didepannya. Kepala Leon terbentur ke setir dan kap mobil depan terbuka hingga mengeluarkan asap menggumpal.
Jalanan macet dengan deretan mobil yang berentet menghentikan mobilnya menghindari kecelakaan disatu jalur. Suara sirene mobil polisi yang patroli pun bergeming mendekati mobil Leon.
Sejam kemudian Simon tiba di kantor polisi. Ia celingak-celinguk mencari Leon yang ditahan polisi karna melakukan kegaduhan di jalan. Leon duduk didepan polisi dengan kepala yang kini diperban akibat ulahnya sendiri.
"Aw!" Desis Leon ketika selesai membereskan masalahnya dikantor polisi. Ia melangkah dengan mata yang mulai terasa kabur.
"Bos saya udah----"
"----Brukk!" Suara Leon jatuh pingsan dilantai.
"Bos Leon!" Panggil Simon memapahnya dibantu oleh petugas kepolisian ke dalam mobil.
"Halo Nyonya Besar!" Telpon Simon sambil menyetir. "Bos Leon mengalami kecelakaan kecil." Ucapnya.
"Apa?" Tanya Nadin shock.
"Iya Nyonya." Jawab Simon. "Bos bahkan melakukan kegaduhan di jalan." Ucapnya lagi. "Saya gak tahu jelas Bos lukanya gimana." Tambanya lagi.
"Terus anak saya lagi dimana?" Tanya Nadin panik mengambil tasnya.
"Bos tiba-tiba pingsang setelah urusan dengan polisi selesai Nya." Jawab Simon. "Ini saya lagi dijalan bawa Bos kerumah Sakit Kakek tuan Gio."
"Saat kecelakaan apa Leon sendirian?" Tanya Nadin masuk ke mobil.
"Iya Nya." Jawab Simon. "Gak ada yang lain."