
Sebulan berlalu bunga ditaman bermekaran begitu juga dengan perasaan Leon ke Sandra. Namun dibalik kesenangan itu tersimpan rasa was-was dalam diri Leon. Ia sadar bahwa Sandra adalah sebuah ancaman jika suatu hari hubungannya diketahui publik ataupun David yang menentang keberadaan Sandra disekitarnya.
Namun Leon tak menyangka bahwa Sandra bertindak lebih cepat dari yang ia khawatirkan. Ia tidak ingin menyinggung perasaan Sandra untuk kesekian kali.
"Kak Leon pinjam jaketnya lagi ya." Ucap Sandra mengambil jaket Leon dari jok belakang dan memakainya. Sandra berusaha menyamarkan dirinya setiap keluar dan masuk ke dalam mobil Leon.
"Bentar." Ucapnya ketika Sandra akan keluar. "Gue belum asupan nutrisi buat hari ini." Sambungnya menarik Sandra dan meraup bibir gadis itu.
"Hmm." Desis Sandra meremas bahu Leon menahan serangan dadakan Leon setiap kali menyerangnya. Padahal sudah sering setelah keduanya memutuskan bersama tapi tetap aja Sandra kewalahan.
"Uhm..muah!" Suara Leon melepas bibir Sandra membuat gadis itu tersipu.
"Udah." Ucap Leon memakaikan kupluk jaketnya pada Sandra. "Entar sore gue jemput ditempat biasa ya." Ucapnya lagi menangkup wajah Sandra dan memberikan satu kecupan dibibir sebelum akhirnya Sandra keluar dari mobil.
Rutinitas berlanjut dijam pulang sekolah Sandra mengganti rutenya dengan meminta Danu selalu mengantarnya kesebuah persimpangan jalan yang mengarah ke lokasi Apartemen Leon. Sandra meminta Danu menurunkannya di sebuah jalan lintas satu arah tepat didepan sebuah cafe.
"Non hari ini tidur ditempat temannya lagikah?" Tanya Danu yang ditipu Sandra dengan alasan pulang les akan lanjut belajar dirumah temannya.
"Iya mang." Jawab Sandra keluar dari mobil dengan baju biasa. Ia telah mengganti seragamnya dari sepulang sekolah untuk berjaga-jaga terhadap orang yang mengenalinya. "Mang hati-hati." Ucap Sandra melambaikan tangan pada Danu yang pergi meninggalkannya.
Setelah keadaan aman Sandra berjalan menelusuri gang yang ada disebelah cafe yang sebelahnya terdapat gedung tempat bimbel. Tempat bimbel adalah kebohongan terbesar yang Sandra buat pada Rosa dan Adit.
"Maafin Sandra pah mah." Ucap Sandra melewati gedung itu. Gedung yang bahkan belum pernah ia masuki. Sandra memanfaatkan ketidakpedulian Rosa dan Adit terhadap apapun yang ia lakukan.
Sandra menelusuri gang yang dimana adalah lokasi tempat penjualan berbagai tanaman hias dan juga berbagai toko-toko kerajinan tangan.
"Selamat datang di ruang baca penuh imajinasi." Sapa penjaga toko tempat peminjaman segala jenis novel hingga komik lama saat Sandra membuka pintu. "Ada diskon untuk peminjaman bagi mem---." Sambungnya terputus ketika Sandra meletakkan satu es kopi susu dengan Boba didalamnya.
"Makasih Sandra." Ucap pria pemilik sekaligus penjaga ruang baca itu pada Sandra yang berjalan ke tempat favoritnya sambil membawa green teanya.
Toko buku lama ini adalah tempat Leon membawa Sandra kembali ke apartemen bersamanya. Leon selalu datang dengan penyamaran mengenakan style casual yang membuat Sandra terpesona denganya.
"Lihat apa?" Tanya Leon menghampiri Sandra yang duduk disudut sofa dengan komik ditangannya.
"Cup!" Suara Leon mengecup bibir Sandra.
"Kak nanti ada yang lihat." Ucap Sandra melirik sipemilik toko yang menggoyang-goyangkan kepalanya dengan hs dikupingnya.
"Dia gak lihat kok." Ucap Leon menarik diri dan berdiri tegak sambil mengulurkan tangannya pada Sandra.
"Pulang?" Tanya Sandra menerima tangan dan bangkit berdiri.
"Hmmm,Kita makan dulu." Jawab Leon. "Buat isi tenaga." Menunduk mendekatkan wajahnya ke Sandra. "Ngelahap Lo dikamar." Bisik Leon menggoda Sandra yang berakhir mendapatkan cubitan dipipi yang diberikan Sandra.
"AW!" Desis Leon.
"Sssttt!" Desis pemilik Toko yang mengejutkan Leon dan Sandra. "Tolong hargain yang jomblo bang!" Ucapnya meneruskan langkahnya menaik tangga.
****
Sandra mengusap perutnya sepanjang perjalanan pulang dari resto bersama Leon. Ia menyandarkan tubuhnya dipunggung jok dengan mata yang terkantuk-kantuk. Sementara Leon masih berbicara ditelpon dengan asisten yang ia tinggalkan dikantor.
"San." Panggil Leon ketika mobil tiba dibasement. "Sandra!" Panggil Leon lagi melepas seatbelnya. "Dah nyam--" ucap Leon terputus mendapati Sandra tertidur pules dengan wajah yang mengarah padanya.
Suara panggilan masuk dari Asisten Leon membuat Leon berdecak mengangkatnya.
"Apalagi?" Tanya Leon sedikit kesal pada Asistennya yang sejak tadi tak berhenti mengganggunya.
"Bos orang yang dicari udah ditemukan." Ucap Simon dari telpon.
"Siapa?" Tanya Leon.
"Dia putri dari keluarga Winata Bos." Ucap Simon menjelaskan.
"Maksud kamu---"
"---Anak perempuan yang bos suruh selidiki dari tiga tahun lalu Bos." Potong Simon yang membuat Leon hampir marah. Namun ucapan Simon malah membuat Leon terdiam membatu.
Sudah tiga tahun setelah akhirnya ia menggunakan kekuasaan mencari keberadaan Peri kecilnya. Namun ia belum dapat meluangkan waktunya untuk fokus mencarinya. Banyak hal-hal yang terjadi di perusahaan membuatnya teralihkan.
Pertemuan awal dulu seolah seperti pertemuan terakhir baginya. Sejak hari itu melamar peri kecil Leon mulai mencari keberadaannya disetiap acara perjamuan. Sebelumnya Leon selalu menolak jika Nadin memintanya ikut keacara seperti itu. Namun semenjak bertemu peri kecil diacara yang diadakan keluarganya ia antusias ikut untuk menemui pengantin kecilnya.
"Kamu--" ucap Leon (14) terputus saat menggapai bahu gadis kecil didepannya. "---Maaf aku salah orang." Sambungnya lagi pergi menerobos keramaian mencari peri kecilnya.
Bulan ke bulan disetiap perjamuan hingga tahun ke tahun Leon tidak menemukannya.
Ia tidak tahu keberadaan Peri kecilnya entah dimana. Ia datang kehidupnya dan menghilang begitu saja seperti peri.
Peri kecilku putri dari keluarga Winata. Batin Leon yang sudah sering mendengar nama itu ditengah relasinya.
"Bos!" Panggil Simon yang sudah kesekian kali memanggilnya.
"Hm!" Leon berdehem. "Apalagi?" Tanya Leon.
"Bos apa masih mau melanjutkan pencariannya?" Tanya Simon.
"Ya." Jawab Leon.
"Sepertinya orang yang Bos cari ada diperusahaan." Ucap Simon menerima data putri dari keluarga Winata yang baru ia terima.
"Kamu yakin dia ada diperusahaan kita?" Tanya Leon.
"Kalau begitu besok kamu cek sekali lagi dan bawa semua data terkait dia kemejaku." Perintah Leon menutup telpon begitu saja. Sementara Simon masih bingung mengenai perempuan yang dicari bosnya itu.
"Kenapa gue ngerasa dia bukan tipe yang disukai bos ya?" Tanya Simon menutup laptopnya.
Tak lama setelah itu Leon akhirnya menggendong Sandra dari mobil ke apartemennya. Ia membawa Sandra masuk kedalam kamar dan meletakkannya diranjang.
"Apa yang harus gue lakukan sekarang?" Tanya Leon menatap Sandra. "Sekali gue ninggalin dia untuk Jesika." Ucapnya mengelus kening Sandra.
"Cup!" Suara kecupan mendarat dikening Sandra. Leon memandangnya terus-menerus barang sedetik pun ia tidak bisa melepas pandangannya pada Sandra yang tertidur. didepannya.
"Kali ini Gue Benar-benar terjebak dalam dua pilihan." Ucap Leon memeluk Sandra.