Unboxing

Unboxing
86. Frans?



Di tempat lain Gio yang memapah Stela masuk ke dalam mobilnya. Pria lesung pipi itu kemudian membantu Stela memberikan obat untuk luka yang ia dapat dari Frans.


"Lo belum jawab pertanyaan gue." Ucap Stela melipat tangannya didada sambil bersandar dikursi mobil. "Gio!" Teriak Stela pada Gio yang menyentil luka dilututnya. "Lo mau ngobatin atau mau---"


"---Makanya diam!" Potong Gio melanjutkan mengolesi obat merah dilutut Stela dengan lembut. "Btw,Kenapa ya asal gue ketemu Lo selalu dalam keadaan lecet begini?" Tanya Gio yang kini berpindah mengoles obat disikunya.


"Oh ya!" Jawab Stela.


"Ini kempat kalinya." Ucap Gio. "Gue harap gak ada yang kelima,keenam atau seterusnya." Tambah Gio mengakhiri pengobatannya.


"Bukannya ini pertemuan kita yang ketiga." Ucap Stela mengingat ulang serta menggunakan jarinya untuk menghitung membuat Gio tertawa kecil memperlihatkan kedua lesung pipinya.


"Ah mungkin gue yang salah hitung." Sahut Gio mengunci mobilnya. "Apa Frans ada bilang mau kemana?" Tanya Gio menoleh ke Stela yang masih memikirkan pertemuan dia dengan Gio.


"Apa kita pernah ketemu jauh sebelumnya?" Tanya Stela yang tidak menggubris pertanyaan Gio padanya. Sampai detik ini ia juga masih penasaran akan Gio namun mengejar Leon dan memisahkan pria itu dari Sandra adalah prioritasnya.


"Gak pernah." Jawab Gio. "Sekarang giliran gue yang nanya Lo." Pinta Gio. "Apa memar yang sebelumnya ulah Frans juga?" Tanya Gio yang mendapati Stela sebelumnya begitu marah akan kepergian Frans. "Apa kalian bertengkar?" Tanya lagi. "Apa pertengkaran kalian yang buat dia per---"


"----Apa Lo mau dicium?" Potong Stela dengan pertanyaan yang membuat Gio membatu. "Lupakan!" Sanggah Stela kemudian memalingkan wajahnya dari Gio yang masih menatapnya.


"Lo belum jawab pertanyaan gue." Ucap Gio dengan senyum tipis dibibirnya.


"Enggak." Jawab Stela berbohong agar Gio tidak meremehkan dirinya yang dicampakkan Frans begitu saja. Apalagi mengingat Gio mengetahui perasaan Frans padanya sebelumnya.


"Sekarang Lo mau gue antar kerumah atau---"


"---Ke Puncak!" Potong Stela menoleh ke Gio. "Antar gue ke Villa Leon yang ada dipuncak." Ucap Stela.


"Ngapain?" Tanya Gio bingung akan permintaan Stela yang mendadak.


"Lo temannya." Jawab Stela. "Lo pasti tau itu ada dimana." Tambahnya.


"Iya gue tahu." Ucap Gio. "Tapi untuk apa kesa---"


"---Dia bawa Sandra kesana bersamanya." Potong Stela membuat Gio shock mendengarnya begitu juga dengan Frans yang berada ditempat lain bersama Jesika.


"Sandra minta Lo jemput dia di Villa Leon?" Tanya Frans mengulangi apa yang sebelumnya ia dengar dari Jesika.


"Lo jangan mikir yang aneh-aneh dulu." Ucap Jesika. "Ini cuma kecurigaan gue aja." Berjalan bersama keluar cafe. "Dan gue ajak Lo kesini untuk minta nemanin gue jemput Sandra." Menghentikan langkahnya. "Tapi kalau Lo mau pergi bareng Stela." Melihat Frans. "Itu akan jauh lebih baik."


"Sandra minta Lo yang kesana." Berbalik badan melihat ke Jesika. "itu tandanya dia lebih membutuhkan Lo dibanding Stela bukan?" ucap Frans.


Tring! Suara pesan baru masuk ke hape Jesika.


"Kak Jesika maaf sebelumnya ngerepotin. Permintaan Sandra dicancel ya kak." Ucap Jesika membaca pesan dari Sandra.


****


Leon mendekap punggung Sandra dari belakang dengan kaki yang menggantung dipermukaan kolam. Keduanya menikmati langit senja yang begitu menawan.


"Kak." Desis Sandra.


"Hm." Sahut Leon.


"Kak Jesika belum balas pesan Sandra." Ucap Sandra cemas.


"Mungkin dia lagi sibuk." Balas Leon. "Tunggu aja sebentar lagi." Tambahnya menenangkan kekhwatiran Sandra.


"Kak Leon kok gak cemas." Ucap Sandra mendongak dengan badan sedikit berbalik melihat ke Leon yang tampak tenang.


"Apa yang perlu dicemasin?" Tanya Leon menyelipkan helaian rambut Sandra ke belakang telinganya.


"Gimana kalau Kak Jesika datang kesini terus lihat Sandra bareng kak Leon." Jawab Sandra.


"Dia udah tahu hubungan kita." Ucap Leon santai.


"Gue gak tahu." Jawab Leon yang tak peduli sejak kapan Jesika mengetahui kedekatannya dengan Sandra.


"Kak Frans?" Tanya Sandra.


"Lo takut tunangan Lo tau?" Jawab Leon balik bertanya akan kecemasan Sandra pada keberadaan Frans.


"Sandra takut Kak Frans marah karna telah menipunya selama ini." Jawab Sandra. "Sama kayak Kak Leon sebelumnya." Tambahnya.


"Kapan gue marah sama Lo?" Tanya Leon.


"Kak Leon lupa pernah dorong Sandra karna---"


"---lo tahu Jesika pacar gue sekamar dengan Frans." Potong Leon yang sudah mengubur memori menyedihkan itu.


"Kak Leon gak marah kan Sandra singgung mengenai itu." Ucap Sandra yang kini memutar tubuhnya menghadap Leon.


"Sedikit." Balas Leon.


"Tuh kan." Ucap Sandra. "Gimana dong kak?" Tanya Sandra yang bangkit berdiri bertumpu dengan lututnya. "Kak Frans pasti bakal marah sama Sandra." Ucapnya.


"Dia bukan marah." Balas Leon melingkarkan tangannya dipinggang Sandra. " Yang ada dia khawatir Lo gue apa-apain." Sambungnya.


"Ah!" Keluh Sandra memeluk Leon dengan meletakkan wajahnya diatas bahu Leon. "Tetap aja Sandra kepikiran." Desisnya bersamaan Senja yang kini tergantikan oleh malam yang berdampingan dengan bulan dan lampu-lampu yang menciptakan suasana romantis dimalam Minggu.


"Lo pernah kesini bareng Leon?" Tanya Frans sesaat mobil mereka melintas memasuki puncak.


"Pernah." Jawab Jesika mengingat Leon pernah membawanya saat satu tahun hubungan mereka.


"Lo gak cemburu?" Tanya Frans.


"Cemburu." Sahut Jesika melihat ke Frans begitu juga dengan sebaliknya.


Gue cemburu akan perasaan Leon yang gak pernah luntur untuk menemukan Sandra yang sudah mengisi ruang hatinya jauh sebelum pertemuan kami. Batin Jesika yang melihat Frans meminggirkan mobilnya dengan mendadak.


"Lo mau gue bantu dapetin Leon lagi?" Tanya Frans yang salah paham akan maksud Jesika.


"Lo ngomong apasih?" Menurunkan kaca mobil. "Bukannya---"


"---Gue bisa langsung nikahin Sandra." Potong Frans dengan wajah yang ditekuk kebawah. "Itu akan memudahkan Lo kembali ke Leon." Lanjutnya. "Gue bakal bantu jelasin ke dia tentang ki---"


"----Gue udah gak punya perasaan lagi untuk Leon." Potong Jesika.


"Gimana dengan gue?" Tanya Frans mengangkat wajahnya. "Apa gue gak punya kesempatan lagi?" Tanya Frans melihat Jesika.


"Ini bukan saatnya memikirkan itu." Jawab Jesika mengakhiri pembicaraan mereka dan meneruskan perjalanan. Begitu juga dengan Gio dan Stela yang berada dimobil lain menuju tujuan yang sama.


Sementara itu Leon dan Sandra sedang menikmati waktu berdua di depan kolam yang ada di depan kamar. Keduanya baru saja selesai menikmati ikan panggang yang dilumuri saos buatan Sandra. Kini Leon duduk bersandar dikursi panjang yang ada disisi kolam dengan posisi Sandra yang duduk diatas kedua pahanya.


Kecupan demi kecupan menyerang bibi,pipi dan terus turun keleher Sandra secara bergantian dari Leon.


Uhmmmm! Ciuman panjang membekam bibir Sandra yang memainkan lidahnya didalam rongga mulut Leon dengan tangannya yang meraba lembut dada telanjang Leon. Suara klakson mobil yang tiba-tiba terdengar dari bawah melepas bibir yang sejak tadi saling memagut satu sama lain.


"Permisi!" Teriak Jesika dari luar gerbang yang baru saja turun dari mobil Frans.


"Jesika." Ucap Leon yang mengenali suara mantan kekasihnya itu.


"Eh den Frans." Sapa pakde penjaga Villa Leon yang muncul dari belakang mereka yang berdiri didekat gerbang. "Masuk aja den." Sambut Pakde mendorong gerbang mempersilahkan Frans dan Jesika masuk.


"Frans?" Ucap Leon menepok jidatnya melihat dari atas.


🍁🍁🍁


Berikan Vote,Like,dan Coment untuk dukung Author ❀️ ❀️❀️