Unboxing

Unboxing
114. Aku Mohon



Aroma kopi dipagi hari menyeruak masuk kehidung Rahel yang keluar dari ruangan. Ia berjalan menelusuri asal aroma sambil merenggangkan badannya dengan merentangkan kedua tangannya keatas.


Hoam! Suara Rahel menguap sambil melihat Gio duduk dengan segelas kopi ditangannya.


"Aiihhh!" Serunya meraih kopi lain yang ada dimeja untuknya. "Lo kok gak bilang-bilang mau mesan beginian." Ucapnya.


"Itu bukan punya Lo." Sahut Gio yang tetapkan membiarkan kopi milik Vaya diseduh olehnya.


"Palingan punya Vaya kan. perawat centil!" Balas Rahel. "Gimana?Dah dapat kabar belum dari Leon?" Tanya yang membuat Gio lupa menanyakan itu karna sibuknya.


"Gue lupa." Jawab Gio yang merongoh hapenya dari dalam kantong. "Dia gak ada nelpon,hel." Lanjutnya mengecek panggilan di hapennya.


Di waktu bersamaan Stela yang turun ke meja makan mendengar pembicaraan Adit dengan seorang ditelpon.


"Saya minta dimajukan ke Sabtu. Iya benar. Oke terimakasih." Ucap Adit mengakhiri telpon.


"Mereka setuju Sabtu ini pah?" Tanya Rosa yang datang dari arah dapur bersama Ema meletakkan makannya dimeja.


"Bisa mah." Jawab Adit. "Tapi jatuhnya agak siangan. Yah,kira-kira acaranya jadi sampai malam." Jelas Adit sambil melihat ke Stela yang mengolesi rotinya diatas piring. "Stela." Panggilnya.


"Iya pah." Sahut Stela santai.


"Kamu dari mana saja dua hari terakhir ini?" Tanya Adit menarik kursi untuk duduk.


"Dari rumah teman pah." Jawabnya melirik keatas mendapati Sandra berdiri memberikan senyum padannya. "Oh iya! Lusa ada acara apa pah?" Tanyanya yang mendengar sedikit bahwa akan ada suatu acara yang akan diselenggarakan hingga malam.


"Kami memajukan jadwal pernikahan Sandra dan Frans." Jawab Rosa menjatuhkan sendok ditangan Stela. Ia mendongak pada Sandra yang melihat kearahnya.


"Lusa?" Tanya Stela memastikan apa yang baru saja ia dengar.


"Ya." Jawab Adit. "Papa harap kamu segera mempersiapkan gaun terbaik untuk kamu kenakan dihari spesial adikmu. Bukan begitu mah?" Jelas Adit.


"Benar pah. Hari kalau kamu ada waktu kita bisa pergi bersama---"


"----Menemui Tante Feny untuk membatalkan pernikahan ini!" Potong Stela bangkit berdiri dari kursinya membuat Sandra tercengang.


"Tidak Stela!" Balas Rosa.


"Kenapa mah?" Tanya Stela. "Stela punya hak menghentikan dan membatalkan semua ini. Dari awal Stela yang memulai omong kosong mengenai pernikahan ini." Jelasnya.


"Gak bisa be---"


"---Stela sudah tahu semuanya." Potong Stela. "Papa dan mama bukan orangtua kandung Stela,bukan." Lanjutnya. "Jadi Aku mohon, batalkan pernikahan ini untuk kebahagiaan putri kandung kalian." Ucap Stela yang kemudian pergi meninggalkan semuanya.


Setengah jam kemudian.


"Halo Jes!" Ucap Stela ditelpon sambil menyetir mobilnya ke arah rumah sakit tempat Gio berada.


"Lo dimana?" Tanya Jesika yang menyeruduk kan kepalanya dibalik monitor. "Ini udah jam 10 pagi Lo gak kabur keluar negerikan?" Tanya Jesika sambil memperhatikan atasannya yang sejak tadi mencari keberadaan Stela.


"Gue gak kekantor hari ini." Jawab Stela memutar setirnya berbelok dipersimpangan mencari jalur rawan macet.


"Kandungan Lo gak kenapa-napa kan?" Tanya Jesika. "Lo jangan coba-coba gugurin itu kandungan!" Ancam Jesika dengan nada pelan.


"Gak bakallah. Ini aset buat meras keluarga Saputra dimasa depan. Mana tahu keluarga gue bangkrut." Balasnya membuat Jesika terkekeh.


"Yaudah deh. Entar gue bilangin ke Mona." Ucapnya.


"Jes pernikahan Frans dimajuin bokap gue. Lo udah kasih tahu Frans kan' mengenai ke---"


"---Eh?! gue tutup dulu ya. Ibu GM manggil gue." Potong Jesika mengakhiri panggilan dan meletakkan hapenya dan memasukkan amplop berwarna coklat kedalam dokumen.


****


"Hai!" Sapa Stela yang duduk dengan beragam camilan dan makanan berat disampingnya. "Lo mau?" Tawar Stela yang baru saja kembali mengeluarkan isi perutnya dan kembali memasoknya ulang.


"Ckckck." Decak Vaya menggelengkan kepalanya. "Gue baru makan. Lagian gak takut gemuk lu?" Tegurnya yang dibalas dengan senyum oleh Stela.


"Gio masih sibuk gak? Lo tahu jadwal dia kan?" Tanya Stela sambil terus mengunyah membuat pasien yang dibawa Vaya ngiler.


"Lima belas menit lagi istirahat." Jawab Vaya melihat jam dipergelangan tangannya. "Lo tunggu disini aja." Pintanya mendorong kursi roda. "Entar gue kasih tahu dokter Gio datang kemari." Ucapnya sambil pergi membawa pasiennya.


Sementara itu dari kejauhan tampak Rahel berdiri di koridor atas yang ada dilantai dua bersama Gio dan dua orang dokter lainnya. Mereka terlihat baru saja keluar dari salah satu kamar sambil dalam berbicara serius terkait kondisi pasien.


"Gio." Panggil Rahel melihat Stela dari atas.


"Hm." Sahut Gio yang berbalik menoleh ke Rahel yang sejak tadi hanya menikmati pemandangan dari atas.


"Ada Stela tuh." Tunjuknya pada wanita yang duduk sambil meregangkan kaki dan punggungnya.


"Eh gue duluan ya." Pamit Gio menepuk bahu rekannya sambil melirik keberadaan Stela. Ia buru-buru meninggalkan semuanya termasuk Rahel hanya untuk menyusul Stela.


Tap tap tap! Suara langkah kaki Gio menuruni tangga.


"Dok ditungguin Nona Stela di---" Tegur Vaya terputus melihat Gio yang mengabaikannya dan berlari kearah keberadaan Stela. "---Dia udah tahu,cih!" Sambung Vaya kesal meneruskan langkahnya kearah berlawanan.


Fyuh! Hela nafas Gio setibanya dikursi yang sama dengan Stela.


"Gio, Lo...kenapa?" Tanya Stela yang melihat Gio terengah-engah duduk disebelahnya.


"Gak pa-pa." Sahut Gio melihat begitu banyak sisa makanan di kursi yang diduduki Stela dan dirinya. "Ini semua...Lo yang makan?" Tanya Gio menaikkan salah satu alisnya.


"Iya." Jawab Stela. "Vaya yang kasih tahu ya?" Tanya Stela.


"Kasih tahu apa?" Tanya Gio yang mengabaikan Vaya sebelumnya.


"Tadi Gue minta tolong Vaya nyuruh Lo kesini nemuin gue." Jawab Stela sambil membuang satu persatu bekas makannya ke tong sampah yang ada disebelahnya.


Dia kesini untuk gue? Aiihhh,mimpi apa gue semalam. Batin Gio senang.


"Gio,gue mau minta tolong." Ucap Stela. "Pernikahan Frans dan Sandra di adakan lusa." Lanjutnya.


"Apa?" Tanya Gio terkejut. "Bukannya Leon udah---"


"---Frans bego!" Potong Stela. "Dia pasti gak mau ngecewain keluarga." Jelasnya. "Lo tahu kan Frans gimana?"


"Gue enggak tahu!" Jawab Gio ketus mendengar Stela yang tampak tahu segalanya mengenai Frans.


"Mama dan Papa desak pernikahan ini karna tahu Sandra punya hubungan sama Leon." Ucap Stela melihat lurus kedepan. "Gue gak tahu kenapa papa sangat tidak menyukai Leon. Padahal malam itu ia kelihatan tampak baik-baik saja saat Tante Nadin dan Om David bertamu ke rumah." Jelasnya mengingat malam-malam sebelumnya saat keluarga Sanjaya itu datang bersama putranya.


"Apa Lo udah melepaskan Leon?" Tanya Gio yang tahu Stela sangat menyukai sahabatnya itu. Dari perkataannya ia bisa melihat bahwa Stela akan menyerah dan membiarkan Leon memiliki Sandra.


"Melepaskan?" Tanya Stela menoleh ke Gio. "Gue bahkan gak pernah mendapatkannya." Ucapnya. "Leon sangat membenciku." Menundukkan pandangannya kebawah. "Frans tidak mempercayaiku lagi." Masih dengan wajah ditekuk. "Lo satu-satunya yang bisa menyakinkan mereka." Melihat ke Gio.


"Gimana kalau gue menolak." Sahut Gio.


"Aku mohon." Pinta Stela dengan kedua telapak tangannya yang saling bertemu dengan mata sendu melihat ke Gio.


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Jangan lupa untuk berikan cinta kalian ke Author rebahan ini melalui vote,like dan Coment terbaik kalian๐Ÿค—


thankyou๐Ÿ˜˜