Unboxing

Unboxing
37. Bangun



Baik Leon maupun Sandra sama-sama berkuat diri untuk saling melupakan satu sama lain. Setelah apa yang telah mereka lalui dari waktu ke waktu yang sebelumnya mereka lalu bersama tanpa sengaja maupun paksaan dari pihak mana pun sebelumnya.


Namun takdir berkata lain. Semakin mereka berusaha melupakan semakin keduanya saling dipertemukan satu sama lain.


Pertemuan yang tanpa sengaja itu selalu melibatkan keduanya diantara keberadaan Frans.


"San kalau Lo grogi pegang tangan gue ya." Pinta Frans ketika keduanya pergi bersama memenuhi undangan rekan kerjanya.


Leon yang sebelumnya mengatakan bahwa dirinya tidak mengenal Sandra hingga membuat Sandra salah paham. Kesalah pahaman itupun membuat Sandra menjadi gadis dingin setiap bertemu dengan Leon. Ia selalu mamalingkan pandangannya dari Leon ketika mata keduanya bertemu. Ia membuat dirinya seolah tidak mengenal Leon yang berdiri dihadapannya itu.


Selain itu Sandra kerap bertingkah konyol dengan menarik dirinya kebelakang Frans untuk bersembunyi dari tatapan mematikan Leon padanya ketika keduanya berpapasan diloby hotel maupun diloby apartemen.


"Sandra,Lo kenapa?" Tanya Frans yang merasa kelakuan Sandra itu seperti anak kecil yang bersembunyi dari seorang monster yang mengintainya.


"Gak pa-pa Kak." Jawab Sandra disertai tawa kecil dari bibirnya. "Iseng aja becandain kakak." Ucapnya membuat Frans gemes untuk mencubit pipinya didepan Leon.


Bahkan ketika keduanya berada dimeja yang sama saat menghadiri perjamuan yang melibatkan kerjasama Frans dengan Leon, Gadis itu menganggap Leon seperti orang asing.


"Wah Gadis cantik darimana ini Pak Frans." Tanya seorang rekan saat Frans kembali mengajak Sandra menemaninya disebuah perjamuan dihall hotel bintang lima.


"Oh iya! kenalin gadis cantik ini tunangan saya." Ucap Frans pada rekan bisnisnya itu yang mempertanyakan sosok Sandra yang selalu ia bawa di setiap perjamuan. Yaa,semenjak Leon mengatakan bahwa ia tidak mengenal Sandra. Sandra kini kembali pada aktivitas barunya menemani Frans dengan status baru juga.


Status calon tunangan itu kini telah berubah menjadi tunangan. Waktu berlalu begitu cepat Sandra resmi menjadi tunangan yang diakui Frans didepan publik yang membuat Leon gerah ketika mendengarnya keluar dari mulut Frans yang dibalas dengan senyuman oleh Sandra.


Sial! Umpat Leon dalam hati bangkit dari kursinya meninggalkan tempat.


"Pak ada apa?" Tanya Asistennya yang respek melihat bosnya itu pergi secara mendadak. Leon hanya memberi kode pada asistennya untuk tidak perlu mengikutinya. Ia melonggarkan kerahnya dan menarik dasi itu dari lehernya sambil memandang pantulan wajah penuh marah dicermin.


"Perasaan apa ini?" Tanya Leon pada pantulan dirinya dicermin.


Bukankah sebelumnya gue dah gak merasa marah lagi meskipun Frans dan Jesika bermain gila dibelakang gue. Batin Leon yang mencoba menganalisa perasaan amarahnya yang semakin menjadi-jadi.


"Kenapa gue selalu merasa kesal setiap kali melihatnya?" Tanyanya lagi mengusap wajahnya.


Mungkinkah karna dia. Batin Leon menumpu kedua tangannya pada wastafel mengingat senyum Sandra yang merekah tapi bukan untuknya.


****


Leon memejamkan matanya sejenak sambil bersandar dipunggung kursi yang ada diruang kerja sebelah kamar. Ia baru saja menerima informasi pria yang mengambil potret punggung Sandra sebelumnya. Asisten yang ia tugaskan sebelumnya berhasil mengeksekusi pria itu dan mengambil semua memori card yang berisi potret diri sandra tanpa tersisa.


Pikirannya kembali terlintas dengan perasaannya akhir-akhir ini yang membuat ia marah.


Sementara itu ditempat lain Frans buru-buru bangkit dari ranjang meninggalkan Jesika yang masih tertidur pules dibalik selimut. Beberapa hari terakhir ini Frans menghabiskan banyak waktunya bermalam diapartemen Jesika.


Suara dering hape berbunyi ketika Frans masih didalam kamar mandi. Jesika berusaha meraba-raba mencari keberadaan hape yang berdering dengan mata yang masih terpejam.


"Halo." Sapa Jesika mengangkat panggilan yang berasal dari hape Frans.


"Lo siapa?" Tanya suara wanita itu membentak Jesika yang langsung membuat matanya terbuka. Jesika menarik hape dari telinganya dan mendapati hape Frans dalam genggamannya.


Mampus gue. Batin Jesika bangkit terduduk diranjang menurunkan kakinya kelantai.


"Halo!halo!" Teriak suara wanita itu masih memanggilnya.


Krek! Suara Frans membuka pintu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit dipinggangnya. Ia mendapati Jesika yang memberikan isyarat mulut bahwa dirinya tak sengaja mengangkat panggilan salah satu wanitanya.


Frans meraih hape itu lalu mematikannya begitu saja membuat Jesika memasang wajah bingung.


"Kok dimatiin." Ucap Jesika pada Frans yang berdiri didepannya dengan dada dan perut kotak-kotak yang menggoda.


"Biarin aja." Ucap Frans mengangkat salah satu lututnya dan menumpunya diantara kedua paha Jesika. Lalu ia meraup bibir Jesika dan memainkan lidahnya hingga belahan yang membuat wanita itu terjatuh terkulai diranjang tanpa penutup dipusat tubuhnya. Frans pun kembali mengeksekusi Jesika yang mengerang sebelum akhirnya ia pergi menemui Sandra di apartemennya.


Ting! Suara lift terbuka tepat dilantai apartemen Frans. Pintu lift itu kemudian terbuka dan tanpa diduga Leon harus berpapasan lagi dan lagi dengan Sandra namun kali ini berbeda. Gadis itu tidak bersama dengan tunangannya. Sandra berdiri dengan tangan yang digenggam paper bag dipelukannya masuk dengan wajah tertunduk persis saat pertama kali ia bertemu dengan Leon.


Seperti biasa Sandra yang mendapati Leon disana hanya bisa mengabaikannya begitu saja namun kali ini ia merasa canggung. Tak ada Frans yang bisa ia ajak berbicara.


Sandra menggeser sedikit demi sedikit tubuh untuk membuat jarak jauh dari Leon yang berdiri disampingnya. Sementara Leon tak bisa melepas pandangannya sejak gadis itu masuk dan berdiri disampingnya.


Kenapa Lo jadi sedingin ini sama gue. Batin Leon yang tiba-tiba ingin memukul dinding lift dengan lengannya yang hendak ia sandarkan namun.


Brak! Suara getaran lift yang tiba-tiba mengalami goncangan hingga membuat pencahayaan didalam lift kini berkedip-kedip.


Melihat itu spontan tangan Leon meraih tangan Sandra yang terlihat kehilangan keseimbangannya saat berdiri.


Bruk! Suara keduanya terjatuh dalam kegelapan. Listrik dalam lift padam setelah goncangan itu berhenti. Sandra merasakan tangannya dalam genggaman Leon yang tidak bisa ia lihat dalam kegelapan. Ia bahkan menimpa dada Leon dengan dadanya saat terjatuh.


Sandra perlahan menarik tubuhnya memberi spasi antara dadanya dengan dada pria itu. Namun saat ia mengeser lututnya tak sengaja menggesek sesuatu yang terasa lembek membuatnya terkejut panik dan jatuh kembali menimpa Leon.


Kali ini iya bahkan terjatuh pada posisi yang membuatnya tidak bisa bergerak mengangkat dadanya. Sesuatu yang lembek tadi kini mengeras dan tertimpa oleh dadanya.


"Sandra!" Panggil Leon yang menyalakan lampu hapenya melihat gadis itu terperangkap pada adiknya yang telah bangun.