
Leon duduk ditepian ranjang sambil menyimak berita mengenai dirinya yang mengakibatkan saham Nusantara Grup mengalami gangguan. Matanya kemudian melirik kembali panggilan dari David yang tak kunjung ia angkat.
"Kak Leon." Panggil Sandra yang masih menatap potret dirinya di media sosial.
"Itu diambil saat pertama kali Lo datang ke apartemen gue." Ucap Leon menjelaskan pada Sandra yang sejak tadi memperbesar potret dirinya. Ia sendiri juga tidak menyangka Foto itu masih memiliki copyan dari memori card yang sudah mereka ambil dari pelaku sebelumnya.
"Oh." Balasnya menutup layar hapenya. "Kak Leon." Panggilnya lagi melihat ke tv yang menyiarkan tentang Leon yang disebut-sebut tak bermoral karna memiliki hubungan gelap dengan seorang siswi.
"Ya." Melihat ke jari Sandra yang gemetar.
"Harusnya Sandra tidur disekolah hari itu." Melihat ke Leon dengan mata berlinang.
"Bodoh." Ucap Leon merangkul Sandra yang kini menangis didekapannya. "Ini hanya masalah kecil." Menenangkan Sandra yang merasa bersalah akan keberadaan fotonya menjadi celah buat orang-orang diluar sana menjatuhkan Leon.
"Telfonnya gak mau diangkat kak?" Tanya Sandra melihat panggilan masuk dari "Papa" tertulis dilayar hape Leon.
"Nanti aja." Jawab Leon bangkit berdiri meraih tangan Sandra untuk segera pergi meninggalkan kamar.
"Papa Kak Leon pasti----"
"----Ssstt." Potong Leon sambil menyeka air mata dipipi Sandra. "Jangan mikir yang aneh-aneh." Pintanya yang kemudian mengambil hapenya.
"Masuk." Perintah Leon sambil mengeluarkan rokok yang kini ia selipkan disela bibirnya.
Ctakk! Suara pemantik yang mengeluarkan sibiru membakar ujung rokok. Ia melirik Sandra yang belum masuk ke mobil sambil menghisap rokoknya.
Wuhh! Suara Leon menghembuskan asap yang menggumpal dari bibirnya yang seksi dengan salah satu alisnya yang naik keatas.
"Kenapa belum masuk?" Tanya Leon.
"Kita Gak pamitan dulu sama---"
"----Pakde!" Potong Leon memanggil Pakde yang berjalan kearahnya sambil kembali mengisap batang rokoknya. Ia melihat Bude yang juga ikut datang menghampirinya.
"Hati-hati ya nak." Sahut Pakde yang disertai oleh Bude yang meraih tangan Sandra. Ia mengusap punggung tangannya yang dingin.
"Kabarin kalau udah sampai di kota." Ucap Bude mengelus pundak Sandra.
"Makasih Bu! Pak!." Balas Sandra masuk kedalam mobil dikuti oleh Leon yang berpamitan pada keduanya.
Sementara di tempat lain Frans dan Jesika tercengang saat keduanya sedang menyeduh mie kuah setiba di kota. Keduannya semakin membisu melihat reaksi pengunjung yang geram pada Leon yang disebut bermain-main dengan anak dibawah umur. Namun sebaliknya beberapa dari pengunjung itu malah balik membela Leon membungkam mulut-mulut yang termakan oleh berita.
"Frans." Panggil Jesika ketika keduanya kembali ke dalam mobil dengan beberapa makanan yang mereka pesan sebelumnya. "Lo lagi mikirin Leon kah?" Tanya Jesika sambil menyuguhkan makanan kemulut pria itu. "Kalau Lo khawatir telpon aja." Sarannya membuat Frans membuka mulutnya sambil melihat pada Jesika.
"Gue bukan lagi mikirin Leon." Jawab Frans.
"Lalu?" Tanya Jesika melanjutakan menyuapi makanan kemulutnya.
"Siswi yang disamping Leon." Jawab Frans yang terganggu sejak tadi. "Mengingatkan Gue dengan Sandra." Sambungnya membuat Jesika menyemburkan makanan dimulutnya membuat Frans meraih air mineral dan memberikannya pada Jesika.
"Pelan-pelan makanya." Ucap Frans mengusap-usap punggung Jesika.
****
Gio keluar dari ruangan lengak dengan jas putihnya. Ia melihat setiap tempat yang difasilitasi tv masih menayangkan mengenai Leon.
"Sus, data pasien tadi tolong dibawa keruangan saya ya?" Pinta Gio yang merongoh sakunya mengambil hapenya menghubungi Leon sambil melihat monitor di setiap sudut tempat pengunjung rumah sakit dipenuhi berita Leon.
"Kenapa masih belum reda?" Tanya Gio meraih hapenya dan kembali menghubungi Leon.
"Ya, Kenapa?" Tanya Leon mengangkat panggilan Gio sesaat mobil yang dibawa Leon tiba di kota.
Tiga jam telah berlalu sejak menangani pasiennya hingga selesai akhirnya bisa terhubung dengan Leon. "Aihh Foto Lo dan----."ucap Gio terjeda. Ia menahan diri menyebutkan siswi disebelahnya itu tidak lain adalah Sandra yang ia kenal. "---hah!terekspos di semua media." Sambungnya lagi dengan hela nafas yang cukup panjang. "Nama lo bahkan masih ada dipencarian teratas." Melihat ke tv yang masih menyiarkan terkait Leon.
"Gue masih dijalan." Jawab Leon.
"Bisa-bisanya Lo masih sesantai ini." Keluh Gio yang mengkhawatirkan Leon mengingat seperti apa seorang David Sanjaya. David tak akan mentolerir apapun itu yang menganggu miliknya. "Simon udah nelpon lo?" Tanya Gio mematikan tv yang ada di lobby rumah sakit dan kembali ke ruangannya.
"Udah." Jawabnya.
"Terus gimana?"
"IP penyebar foto untuk pertama kali sudah diakuisisi oleh Simon." Jawab Leon yang sebelumnya sudah menerima informasi dari Simon. "Dia juga meretas beberapa media yang terkait untuk menarik foto-foto yang beredar." Jelas Leon fokus kejalan.
"Apa Lo pikir itu cukup?" Tanya Gio yang terganggu dengan media yang menyebutkan Leon tak bermoral. "Lo masih perlu karifikasi hubungan Lo dengan---"
"----Gue tahu apa yang harus gue lakukan." Potong Leon melirik Sandra yang terus menatapnya sejak tadi.
"Kalau Lo butuh bantuan Gue---"
"---Thanks." Potong Leon.
"Ahh Maksud Gue kalau David Sanjaya keluarin Lo dari KK Man!" Celetuk Gio membuat Leon tertipu. "Yaah, bisalah dengan pendapatan sekarang ngadopsi seorang Leon." Tambahnya menghibur Leon dengan guyonan recehnya sekaligus mengakhiri pembicaraan keduanya.
"Kita ambil koper Lo dulu ya." Ucap Leon mengacak ujung kepala Sandra sambil tersenyum. "Habis itu gue antar Lo balik.ke rumah." Mengelus-elus pipi Sandra sambil menyetir.
Satu jam lebih perjalanan menuju toko hingga mereka tiba didepan kediaman Winata. Sandra melihat berita tentang Leon kini masih berada di pencarian nomor satu. Sementara dirinya dikejutkan oleh urutan kedua bertuliskan siswi inisial S kemudian di posisi ketiga terdapat nama sekolahnya.
Tring! Pesan baru dari Simon masuk.
"Bos sepertinya pelaku bukan dari pesaing bisnis Nusantara Grup." Pesan dari Simon. "Berita yang ada lebih mengarah ke Bos dan siswi yang disamping Bos. Pelakunya seolah mengenal siswi itu Bos." Pesannya yang lain.
"Sandra." Panggil Leon yang memperhatikan peri kecilnya itu membaca artikel tentang siswi inisial S.
"Hm." Sahutnya masih membaca berita yang kini merujuk ke dirinya dengan bergitu transparan. "Kak Leon sepertinya ada yang tahu tentang ak---"
"---Jangan diterusin." Ucap Leon menarik hape dari tangan Sandra.
"Kak dari mana mereka tahu namaku?" Tanya Sandra panik.
"Itu hanya inisial." Jawab Leon menenangkan Sandra.
"Tapi kenapa mereka bisa kepikiran pakai S?" Tanya Sandra.
"Jangan khawatir itu mungkin hanya kebetulan." Jawab Leon yang menemukan kejanggalan dengan berita dimedia. "Hah!" Cibir Leon memikirkan seorang dibenaknya
"Kenapa Kak?" Tanya Sandra.
"Gak ada." Jawab Leon. "Sampai dirumah Lo gak boleh baca berita apapun." Menangkup wajah Sandra. "Dan jangan keluar rumah untuk saat ini! Mengerti?" Pintanya pada Sandra.
"Kak Leon juga harus hati-hati." Balas Sandra bangkit memeluk Leon. "Sandra khawatir Kak Leon kenapa-napa." Keluhnya.
"Bdw,apa Lo udah memikirkan penjelasan untuk orang dirumah?" Tanya Leon membuat Sandra menarik dirinya melihat ke Leon yang melirik kediaman Winata.
Fyuh!Semoga berhasil sayang. Batin Leon melihat peri kecilnya memberi lambaian tangan padanya.
πππ
Berikan Vote,Gift,Like dan Coment β€οΈβ€οΈβ€οΈ