Unboxing

Unboxing
95. Tunangan



Jesika menatap Leon yang pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun mengenai keberadaan Sandra. Ia bangkit berdiri hendak menyusul Leon. Namun Frans segera menahan kepergiannya dengan menangkup salah satu pergelangan kakinya.


"Bukannya kalian udah berakhir?" Tanya Frans melepas tangannya dari pergelangan kaki Jesika. "Kenapa masih pergi menyusulnya?" Tanya Frans bangkit duduk dilantai dengan sudut bibir yang berdarah dan lebam di wajahnya.


"Apa Lo cemburu?" Tanya Jesika menilik ke Frans yang menekuk wajahnya.


"Menurut Lo gimana." Jawab Frans mendongak pada Jesika yang tersenyum padanya. "Apa sesenang itu lihat gue kalah dari Leon?" Tanyanya menarik tangan Jesika membuat wanita itu jatuh kepelukannya.


"Kalau bukan karna terlalu menghabiskan tenaga pagi tadi." Ledek Jesika menyentuh dengan lembut luka di sudut bibir Frans. "Wajah ini gak bakal sampai begini." Menarik diri membuka beberapa laci.


"Nyari apa?" Tanya Frans bangkit berdiri duduk disofa.


"Ketemu." Jawabnya membawa kotak merah kehadapan Frans. "Menurutlah!" Perintahnya menangkup wajah Frans untuk diobati. "Gue gak tertarik dengan pria jelek!" Cibirnya pada Frans melingkarkan tangannya dipinggang Jesika. Ia membiarkan wanita itu mengobati bekas pukulan Leon diwajahnya.


Sementara itu Leon duduk bersandar dipunggung sofa dengan tv yang menyala dihadapannya. Dalam sekejap permasalahan terkait dirinya yang melibatkan perusahaan kembali normal dalam sekejap. Namun sebaliknya muncul berbagai komentar negatif yang mengarah ke siswi inisial S yang sekaligus membersihkan nama Leon dari tuduhan sebelumnya.


"Diduga Siswi inisial S bukan korban melainkan pelaku. S mengancam pihak korban dengan menyebarkan potret kebersamaan dirinya dengan pewaris tunggal Nusantara Grup yang sudah disetting sebelumnya oleh pihak S." Suara penyiar berita yang membuat Leon meraih hape dan menghubungi nomor Simon.


"Iya Bos." Sahut Simon mengangkat panggilan Leon sambil tercengang melihat perkembangan berita mengenai atasannya itu.


"Gue gak ada suruh Lo melempar semua permasalah ke siswi itu." Keluh Leon bangkit berdiri sambil bertolak pinggang. "Kenapa beritanya jadi---"


"---Bos saya belum melakukan apapun." Potong Simon melihat pemberitaan Nusantara Grup kembali membaik. "Saya masih baru periksa cctv yang ada diapartemen bos dan sekitarnya." Tambahnya.


"Apa?" Tanya Leon berbalik melihat ke tv dan menggantinya kebeberapa channel dan menemukan pemberitaan kini menyudutkan Sandra.


"Bos mungkinkah Bos Besar yang melakukannya?" Jawab Simon balik bertanya menduga bahwa David yang membuat keadaan berbalik.


"Mustahil." Sangkal Leon. "Kabari segera kalau ada pergerakan yang aneh di apartemen gue." Perintah Leon mengakhiri panggilan dan meraih kunci mobil meninggalkan aparteman.


Jam menunjukkan pukul 22.00 satu persatu lampu dipadamkan. Sandra menilik Ema yang telah tertidur pules disampingnya. Sejak tadi dirinya menghindar dari kecurigaan Ema akan sosok siswi berinisial S yang merujuk padanya. Ia menjulurkan kedua kakinya ke lantai dan diam-diam menyelinap keluar kamar.


Fyuh! Hela nafas Sandra yang berhasil menutup kembali pintu kamar tanpa suara. Ia melangkah perlahan melewati ruangan mencapai tangga yang mengarah ke lantai dua keberadaan kamarnya.


Ctakk! Suara saklar yang terdengar dikuti oleh lampu yang menyala secara beruntun menghentikan langkah kaki Sandra.


"Darimana kamu belajar menjadi liar seperti ini?" Tanya Adit berdiri dengan tangan berlipat didada dan Stela yang berdiri menatapnya dari atas.


****


Brakkk! Suara Leon mendorong pintu membuat David dan Nadin kompak berdiri dari kursi melihat keasal suara yang datang dari Leon dengan raut tegang.


"Tak bisakah membukanya dengan pelan?" Tanya David yang melangkah ke arah Leon begitu juga sebaliknya.


"Apa papah yang melakukannya?" Balas Leon balik bertanya melihat para pelayan yang hampir selesai mengembalikan keadaan kacau yang dilakukan David sebelumnya.


"---Pah udah dong." Potong Nadin menghampiri Leon. "Lagian anak kamu udah berhasil membalikkan keadaan." Menangkup tangan Leon yang mengepal.


"Balikin keadaaan apanya?" Tanya Leon melepas genggaman tangan Nadin padanya. "Leon belum melakukan apapun mah." Melihat ke Nadin. "Simon bahkan mengira ini ulah papah." Melihat ke David.


"Papah dari tadi disini mecahin porselen." Balas Nadin. "Gak ada pergi kemana-mana." Tambahnya.


"Mungkinkah orang yang sama." ucap Leon melihat ke tv.


"Maksud kamu---" Ucap David terjeda melihat ke Leon yang mengangkat satu alisnya melihat ke David.


"---Orang yang menyudutkan Leon dengan Foto." Sambung Leon menangkap pemikiran David.


"Hah!Apa dia kurang kerjaan?" Cibir David pada dalang dari kehebohan yang hampir membuat perusahaan miliknya dalam bahaya. "Tapi baguslah dia masih punya otak untuk mengalihkannya ke yang lain." Ucap David kembali melihat berita yang disiarkan. "Kalau tidak Aku yang akan memberi pelajaran padanya." Melihat ke Leon. "Oh ya Leon!Apa ada orang yang kamu singggung?" Tanya David.


"Gak ada pah." Jawab Leon sambil mengingat-ngingat lagi.


"Kamu yakin?" Tanya David kembali melihat berita yang disiarkan kini jauh lebih memanas ke siswi inisial S yang diduga sebagai penyebar foto Leon. Ahli-ahli mengatakan Siswi inisial S adalah penggemar fanatik Leon yang menguntit Pewaris tunggal Nusantara Grup itu sampe ke apartemennya.


"Yah." Jawab Leon yakin.


"Gimana dengan Frans?" Tanya Nadin mengingatkan perang dingin yang membuat keduanya pernah masuk dalam pencarian teratas dengan judul Cool Vs Warm.


"Ck!Dia mana ada waktu ngelakui hal kekanak-kanakan kayak gitu mah." Jawab Leon melemparkan dirinya duduk di sofa menyimak berita yang menyudutkan Sandra. Sementara David dan Nadin saling melihat satu sama lain mendengar jawaban putranya itu.


"Bukannya selama ini kalian bertindak seperti kanak-kanak." Cibir Nadin membuat David menahan tawa menarik istri tercintanya itu duduk disampingnya.


"Oh ya?!" Balas Leon santai dengan kedua mata yang fokus melihat apa lagi yang akan dilakukan dalang dari kehebohan hari ini.


"Sepertinya bukan gadis itu pelakunya." Ucap David yang ternyata masih mengikuti berita yang disiarkan.


"Papah tau dari mana?" Tanya Leon pura-pura tidak tahu.


"Aih,Sandra pasti kesulitan dengan berita ini." Ucap Nadin yang membuat Leon bergeming begitu juga dengan David.


"Sa-Sandra." Sahut David melihat ke Nadin baru menyadari dirinya keceplosan. "Putrinya Adit maksud mamah?" Kembali melihat ke tv dengan wajah terkejut.


"Bu-Bukan pah." Sangkal Nadin yang kini memberi kode pada Leon untuk membantunya mengalihkan prasangka David. "Mamah cuma tiba-tiba kepikiran aja sama Sandra." Meraih remote tv. "Soalnya Sandra kan juga masih SMA pah." Masih memberi kode ke Leon untuk membantunya namun Leon malah menikmati Nadin yang berusaha melindungi Sandra.


"Kalau benar itu putrinya Adit." Ucap David merebut remote. "Umumkan aja ke publik kalau siswi itu tunangan Leon." mengembalikan ke channel sebelumnya.


"TUNANGAN." Sahut Leon dan Nadin kompak melihat ke David.


🍁🍁🍁