
Setelah mandi Sandra menjinjit keluar menuju walk in closet dengan handuk yang panjangnya hanya setengah paha melilit di tubuhnya yang putih. Ia mencari-cari yang bisa dikenakan didalam sana tanpa menyadari kedatangan Leon dengan paper bag ditangannya.
"Lo butuh inikan." Ucap Leon menyerahkan paper bag pada Sandra yang berbalik badan dengan tubuh setengah telanjang itu.
Gleg! Leon menelan ludahnya melihat Sandra berdiri hanya dengan balutan handuk yang memperlihatkan belahan dadanya. Cepat-cepat ia berbalik badan menjatuhkan paper bag begitu saja meninggalkan Sandra masuk kekamar mandi.
Leon langsung menyalakan shower membasahi kepalanya yang dipenuhi dengan bahu telanjang dan belahan dada Sandra yang menaikkan gairahnya.
Ah! Ah!. Deru nafas Leon dibawah shower.
Di saat bersamaan Sandra meraih paper bag yang berisikan dalaman dan bra baru yang serta gaun tidur didalamnya. Ia mengernyit melihat gaun tidur dari bahan satin sutra ditangannya. Tidak seperti gaun tidur yang biasa ia kenakan dirumah.
"Oh my God!" Melihat pantulan dirinya dicermin mengenakan gaun tidur itu. Gaun dengan tali minim dan renda membuat dirinya terlihat seperti wanita penggoda.
"Gak boleh begini." Gumam melepas cepolan rambut dan membiarkan rambut itu terurai menutupi bahu telanjangnya. Lalu Ia bergegas naik keranjang dan menarik selimut hingga menutupi keseluruhan tubuhnya kecuali wajahnya.
Tak lama kemudian Leon datang hanya dengan mengenakan celana tidurnya tanpa mengenakan sehelai kain menutupi dadanya yang bidang dan perutnya yang sixpack. Ia melangkah mendekati ranjang tempat dimana Sandra berada.
Leon naik keranjang dengan tangan yang menyibak selimut dari tubuh Sandra membuat gadis itu terkejut.
"Kak Dingin." Keluh Sandra yang kemudian terduduk menarik selimut sambil membelakangi Leon.
"Sini gue hangatin." Sahut Leon melingkarkan tangannya di pinggang Sandra menarik tubuh itu menempel pada dada bidangnya.
Sandra merasakan kulit Leon yang hangat menyentuh punggungnya yang terlindung gaun tidur. Sementara Leon mengalihkan tangannya menggulung rambut Sandra yang menutupi bahu dan lehernya.
"San." Desis Leon yang sekarang melingkarkan tangan kanannys dipundak gadis itu dengan lengan yang kini menempel pada tulang selangkanya. "Leher Lo menggoda banget." Bisik Leon dengan jari tangan kiri mengusap lembut lekukan leher Sandra naik turun.
"Kak.." ucap Sandra lirih meremas ujung selimut yang ia pegang sejak tadi. Ia merasakan sesuatu yang aneh dari sentuhan jari Leon pada dirinya. Perasaan itu merambat masuk membuat jantungnya berdetak lebih kencang.
"Hm?" Bisik Leon dengan nada sensual dengan wajah terus menunduk hingga bibirnya menyentuh kulit leher Sandra.
"Ah!" suara Sandra menanggapi sentuhan bibir Leon disertai tubuhnya yang sedikit bergetar.
"San gue mau Lo." Bisik Leon sebelum akhirnya ia mengecup tengkuk Sandra membuatnya kini sedikit menggeliat berusaha menghindar dari perasaan aneh yang malah membuat Leon kini membaringkannya.
Tatapan Leon pada Sandra membuat gadis itu menggelengkan kepalanya diatas bantal dengan wajah merengut.
Jangan lakukan itu kak Leon. batin Sandra berteriak memohon dengan ekspresi menolak. Tapi Leon malah terlihat tidak peduli.
Leon meraup bibir Sandra dan m*lu**tnya tanpa jeda. Pria itu dikuasai oleh gairah yang sudah dari tadi menggerogoti otaknya sejak dibawah. Gairah itu semakin bertambah ketika tanpa sengaja dua matanya disuguhi pemandangan yang luar biasa lainya.
"Ah!" Desah Leon mengalihkan ******* menjadi kecupan bibir yang kian turun kebawah.
Kecupan yang kini menyeruak dileher seolah memberi peluang Sandra untuk mendorong dada bidang diatas tubuhnya. Namun tangan dengan sekuat tenaga itu tiba-tiba melemas ketika hisapan menyengat lehernya.
"Ahhh!" Desah Sandra membuat Leon mengigit bahu telanjang dan mengisap balik sekujur area tulang selangka Sandra. Sandra merasakan getaran aneh yang membuat tubuhnya lemah. Tak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah dengan Leon dan perasaan aneh itu menguasainya.
Leon lalu mengangkat kepalanya dari leher Sandra. Ia melihat gadis itu memejamkan matanya. Tidak ada perlawanan lagi dari tangan kecil yang menolak dirinya.
"Cantik banget." Bisik Leon yang diakhiri dengan mengecup kening Sandra.
Leon membaringkan tubuhnya di samping Sandra.
Hampir saja. Batin Leon memiringkan tubuhnya menghadap Sandra yang telentang dihadapannya dengan gaun tidur yang minim. Ia mendekatkan dirinya mendekap Sandra masuk dalam pelukannya.
"Jahat." Ucap Sandra membuka matanya mendongak ke Leon.
"Lo pura-pura tidur ya." Mencubit halus pipi gadis itu.
"Kak Leon jahat." Memayunkan mulutnya.
"Maaf." Mengusap lembut pipi Sandra. "Gue kebablasan." Membelai Sandra. "Lo sih mancing gue dari tadi." Menyelimuti Sandra dan dirinya. "Kan gue jadi nafsu."
Lo gak tau aja sakitnya nahan itu San. Batin Leon mendekapnya.
****
Sandra memandang langit-langit kamar. Ia tidak bisa bergerak dari himpitan tubuh Leon yang menjepit setengah tubuhnya yang terbaring diranjang. Deru nafas Leon begitu terasa menyentuh lekukan lehernya.
Setelah mencium bibir, lekukan leher hingga kebahu sampai puas, Leon tertidur dengan wajah yang menyeruak di leher Sandra. Ia meninggalkan banyak stempel merah disekujur leher hingga kulit diarea tulang selangka Sandra. Ia pikir pria 28 itu tak akan tergoda lagi setelah ia berhenti beberapa saat.
"Kak Leon gak boleh sentuh ini." Pinta Sandra menunjuk kedua dadanya secara terang-terangan.
"Itu doang?" Tanya Leon memastikan dengan sumringah.
"Yang dibawah juga gak boleh." Perintah Sandra melirik kebawah bagian pusat tubuhnya. Entah berapa lama Sandra meladeni nafsu Leon dengan catatan.
Dibalik itu semua Sandra berusaha tetap terjaga dengan mata terpejam setiap kali bibir Leon membuatnya merasakan perasaan ingin menolak namun begitu kuat menguasai dirinya. Ia berusaha untuk tidak terlelap dalam sentuhan kenikmatan yang tidak ingin ia akui. Sandra takut jika dirinya terlelap Leon akan melewati batasnya.
Leon menepati janjinya.
Ia tertidur disamping Sandra setelah puas melakukan aksinya. Sandra menurunkan sedikit tubuhnya membuat wajah keduanya sejajar saling menghadap.
Ini ketiga kalinya Sandra tidur diranjang yang sama dengan Leon. Ia memperhatikan wajah tampan Leon dengan bulu mata yang panjang. Hidungnya yang mancung dan satu hal yang baru ia sadari setelah memperhatikannya cukup dekat bibir bagian bawah yang mengesekusi dirinya itu selama ini berbelah. Sandra menyentuh bibir itu dengan telunjuknya membuat mata Leon mengerjap.
"Lo udah bangun." Ucap Leon membuka mata mengejutkan Sandra. "Suka?" Tanya Leon meraih pinggang Sandra menariknya masuk kepelukanya.
"Hm?"Sahut Sandra.
"Lo suka bibir gue gak?" Tanya Leon memperjelas lalu mengecup ujung kepala Sandra.
"Gak tahu!" Mendorong Leon berusaha melepas pelukannya. "Kak lepasin Aku." Memberontak dalam pelukan Leon.
"Lo mau kemana?" Tanya Leon menjepit kaki Sandra dengan kakinya. "Ini hari Minggu sayang." Mempererat pelukannya.
"Aku lapar kak."
"Lo gak lagi bohongkan." Melonggarkan pelukannya meraih dagu Sandra. "Biar gue lepas."
"Ini udah mau siang kak." Menunjuk jam dinding didepan mereka yang jarum jam terpendek berhenti diangka sepuluh.
"Ayo turun." Ajak Leon menjulurkan kakinya ke permukaan lantai. Ia berdiri sambil meregangkan tubuhnya. Memutar bahunya membuat ototnya terlihat jelas membuat jantung Sandra berderak gak karuan.
Sandra menyikap selimut sambil menggeleng-gelengkan kepanya lalu turun dari ranjang menyusul Leon yang berjalan didepannya.
Sampai dibawah Leon menuangkan air putih digelas dan memberikannya pada Sandra yang duduk disampingnya.
"Masih ada." Ucap Leon melihat nasi dalam mejikom. Ia lalu beralih membuka kulkas dan mengeluarkan beberapa butir telur,daun seledri,cabe dan bumbu lainnya.
"Kakak mau masak apa?" Tanya Sandra berdiri menghampiri Leon yang memecahkan telor kedalam mangkuk.
"Telor dadar." Mengaduk telor dengan garpu.
"Aku aja kak." Merebut mangkuk dari tangan Leon. "Kakak belum minum apapun dari tadi." Mengambil garpu dari tangan pria itu sambil melempar senyum. "Kakak duduk disana." Menunjuk kursi didepan mereka. "Tunggu aku yang nyiapin semua." Melihat ke Leon.
Leon kemudian menuruti perintah Sandra dengan duduk meneguk botol minumannya. Sandra memakaikan celemek ditubuhnya lalu mencepol rambutnya keatas membuat lekukan leher dan kulit diarea tulang selangka kembali menggoda hasrat Leon.
Sandra yang sibuk menyiapkan masakan tanpa sadar sepasang mata Leon sedang berusaha menelanjanginya.
Kurang lebih setengah jam Sandra menyanikan telor dada dan pakcoy saus tiram untuk mereka nikmati bersama.
"Kak Leon kalau mau keatas duluan gak pa-pa loh." Ucap Sandra yang mencuci bekas piring mereka diwastafel. Sejak kemarin malam Leon memperhatikan gerak-gerik Sandra tidak seperti anak perempuan dari keluarga kaya pada umumnya. Ia sangat lihai melakukan pekerjaan dapur diusia yang terbilang kebanyakan dari mereka menghabiskan waktu nongkrong.
"Kak belum keatas." Ucap Sandra berbalik melepas celemeknya mendapati Leon dan berjalan menghampirinya.
"Bau." Ledek Leon saat Sandra berdiri dekatnya dan melihat bekas ciuman di leher dan area tulang selangka Sandra.
"Bau keringat ya kak." Melangkah mundur menjauh dari Leon.
"Enggak kok." Menarik tangan Sandra. "Sakit gak?" Tanya Leon menyentuh bekas ciuman yang ia tinggalkan dileher Sandra. Leon khawatir bekas itu akan menyakiti Sandra.
"Sedikit." Jawab Sandra yang belum menyadari stampel itu. Ia hanya bisa merasakan ketika Leon menyentuhnya.
"Lo mau gak tinggal disini." Tawar Leon yang tiba-tiba membuat Sandra terkejut. Leon tak memiliki maksud lain. Butuh waktu satu hingga dua Minggu untuk bekas ciuman Leon hilang. Ia khawatir Sandra akan kewalahan menutupi bekas itu dari keluarganya belum lagi kalau dirinya kesekolah.
"Untuk sementara San." Pinta Leon.
Sampai bekasnya hilang. Gue khawatir sama lo yang gak bisa nutupin itu dari orang lain. Batin Leon sambil menyentuh stempel kepemilikan darinya.