Unboxing

Unboxing
26. Pura-pura



Frans mengunyah makanan dimulutnya sambil memikirkan apa yang sedang disembunyikan Feny darinya. Ia tidak mendengar apapun yang dibicarakan Stela yang makan bersamanya. Pikirannya masih dibayangi oleh sikap Feny yang seperti menyembunyikan sesuatu darinya. Sesuatu yang berkaitan dengan Sandra. Dan sudah setengah hari ia belum bisa menghubungi gadis itu.


"Lo tahu gak Sandra liburannya kemana?" Tanya Frans membuat Stela melepas sendok ditangannya dan melipat tangannya didada.


"Gue gak tahu." Jawab Stela mencebik. Kali ini Ia benar-benar kesal pada Frans. Sejak pagi Frans menelpon dan mengirimkan pesan hanya untuk menanyakan keberadaan Sandra padanya. Hingga saat Frans datang menemuinya seperti biasa untuk menemani dirinya makan siang yang membuat kaum hawa disekitarnya iri Frans selalu membahas Sandra.


"Sandra lagi!Sandra lagi!" Ucap Stela kesal. "Bisa gak sih Lo gak bahas dia mulu." Bangkit berdiri.


Menyebalkan!gumam Stela dalam hati meninggalkan meja.


"Udah seminggu ini nomornya gak bisa dihubungi." Ujar Frans menghela nafas mengaduk makanannya membuat Stela berhenti membelakangi Frans.


Heh!Akhirnya dia tahu cara menghilang tanpa harus merepotkan orang lain batin Stela dalam hati.


"Apa Lo ingin gue nyari tahu keberadaan dia?" Tanya Stela berbalik menoleh pada Frans yang melanjutkan makanannya dengan santai tanpa peduli pada dirinya yang hendak meninggalkan Frans.


"Itu sudah seharusnya bukan?" Tanya Frans. "Lo 'kan kakaknya." Ucap Frans melihat Stela.


"Lupakan!" Ujar Stela Berbalik kembali mengabaikan Frans.


"Bisakah untuk mengkhawatirkannya meski hanya sekali?" Tanya Frans berdiri sigap menarik lengan untuk mencegah Stela pergi. Selama ini Frans tahu bagaimana sikap Stela ke Sandra. Namun ia memilih untuk menutup mata untuk tidak mencampuri urusan kakak adik itu. Sampai akhirnya Stela melemparkan Sandra padanya yang membuat Frans mengikuti jalan pemikiran Stela sekaligus membuat Sandra sedikit bernafas dengan lega.


"Sandra ada salah apa sih sama lo?" Tanya Frans menahan Stela dengan pertanyaan yang dari dulu ia tahan.


Gue yakin sikap mama hari ini pasti ada kaitannya dengan kebencian Stela yang gak berdasar pada Sandra. Batin Frans yang menggengam erat lengan Stela yang terdiam.


"Pagi tadi Tante Rosa kerumah. Wajahnya pucat dan tangannya tak berhenti gemetar." Ucap Frans memberitahu sesuatu yang Feny minta rahasiakan dari Stela.


Jadi mama secemas dan sekhawatir itu sama Sandra Batin Stela mengepal tangannya.


"Lepasin tangan Lo Frans." Pinta Stela. "Gue gak peduli bahkan jika Sandra gak kembali." Ucap Stela membuat Frans melepaskan genggamannya.


"Stela." Panggil Frans membuat Stela memandang pria itu. "Mungkin kah ada kesalahan?" Tanya Frans pada Stela yang meninggalkannya pergi begitu saja.


Kesalahan telah menyukai orang yang salah. batin Frans menatap punggung Stela yang kian menghilang dari pandangannya.


****


Stela menghentak-hentakan kakinya dalam toilet. Ia kesal pada Frans yang hanya peduli pada Sandra. Pria itu bahkan tidak mengejarnya saat Stela meninggalkannya begitu saja. Frans tidak seperti Frans yang ia kenal.


"Mungkin kah dia benar-benar memberi hatinya pada Stela." Ucap Stela keluar dan melangkah masuk kembali ke ruangannya.


Sampai dikursinya Stela mengambil cermin dan mulai memperbaiki make-upnya. Semenit kemudian matanya menangkap Jesika yang keluar dari ruang GM dengan wajah sumringah.


Minggu ini Jesika menghabiskan waktu untuk lembur dikantor demi mengejar deadline. Ia bahkan belum sempat bertemu atau memberi kabar pada Leon setelah melewati natal terpisah dengannya. Pengajuan yang disetujui atasan membuat ia senang.


Stela merasa terusik dengan kebahagiaan yang terpancar jelas diwajah Jesika. Ia pun bangkit berdiri menghampiri meja Jesika sambil memperhatikan rekan kerjanya itu berberes.


"Kemana Jes?" Tanya Stela memilah-milah map dokumen yang ada dimeja.


Hari ini Jesika hanya masuk setengah hari sesuai dengan pengajuan cuti yang ia ajukan. Jam makan siang sudah habis ia buru-buru membereskan mejanya untuk segera pergi meninggalkan kantor.


"Pulang." Jawab Jesika dengan wajah yang masih sumringah membuat Stela geram.


Stela yang awalnya bekerja di perusahaan milik Adit dan demi misinya mendapatkan Leon ia memutuskan Adit untuk memasukkannya bekerja di tempat Leon. Stela pun bertemu dengan Jesika dan berteman dengannya yang ternyata adalah rivalnya sendiri.


Stela yang sudah lama ingin menjadi wanita Leon dibuat geram oleh kenyataan dihadapannya. Ia pun mulai mencari tahu tentang Jesika hingga ke akar-akarnya.


Semakin Stela menggali tentang Jesika semakin membuat dirinya geram.


"Bagaimana bisa gue kalah dari seorang Jesika yang berasal dari panti asuhan." Mengepal tangannya ketika menerima informasi tentang Jesika.


Stela pun memulai aksinya mendekati Jesika dengan bergabung di Divisi yang sama dengan Jesika diperusahaan milik Leon. Tidak menunggu berapa lama Stela akhirnya bergabung bekerja disana.


Setelah bekerja disana Stela melakukan pendekatan pada Jesika. Stela dan Jesika sering terlihat makan bersama dicafetarian. Segala gerak-gerik Jesika pun dapat di pantau oleh Stela. Namun,Jesika tidak terlalu banyak bicara bahkan ia tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah kekasih Leon. Jesika sendiri tidak pernah memperlihatkan rasa mengagumi Leon seperti wanita-wanita yang ada di kantor. Alhasil tidak ada satupun orang dikantor yang tahu mengenai hubungan Leon dan Jesika kecuali Stela.


"Ada kabar baik apa?senang banget kayaknya." Celetuk Stela.


"Gak ada apa-apa cuma cuti doang." Jawab Jesika.


"Malam ini Lo ada acara ya?" Tanya Stela dibalas anggukan kepala dan senyum lebar diwajahnya.


"Sama Frans bukan?" Tanya Stela.


Kenapa dia nyebut Frans? Apa dia tahu hubungan gue dengan Frans? Tanya Jesika dalam hati.


"Enggaklah." Jawab Jesika yang tidak bisa menepis kenyataan bahwa Stela adalah orang yang mengenalkan dirinya langsung pada Frans. Dari Stela juga ia mengetahui permasalahan diantara Leon dan Frans. Ia sendiri juga tidak tahu atas dasar apa Stela menceritakan itu semua padanya. Yang terakhir adalah saat ini ia sedang bermain api dengan Frans dibelakang Leon.


"Kalau gitu siapa pria yang buat Lo sebahagia ini?" Tanya Stela yang pura-pura tidak tahu mengenai hubungan Frans dan Jesika. Padahal Stela sendirilah yang sengaja membuat keduanya saling menggoda. Ia menggunakan Frans untuk membuat Leon meninggalkan Jesika dan memilih dirinya.


"Bukan siapa-siapa kok. Hanya seorang yang baik." Jawab Jesika berdiri dari kursinya. "Gue duluan ya." Ujarnya pergi meninggalkan Stela yang menggertakkan giginya.


Lihat aja setelah Leon jadi milik gue Lo akan lupa caranya tersenyum. Batin Stela kembali ke kursinya.


Sial!umpatnya membanting mouse dalam genggamannya.


Kenapa bukan gue yang bersama dengan Leon? Terus kenapa bukan gue juga satu-satunya wanita yang dikhawatirkan Frans? Tanya Stela dalam hati menatap foto dirinya bersama Rosa dan Adit tanpa ada Sandra disana.


Mama juga hanya pura-pura tak peduli pada Sandra didepanku. Sebenarnya didalam hatinya hanya ada Sandra. Batin Stela meraih bingkai foto itu dan melemparkannya kedalam lacinya.