Unboxing

Unboxing
13. Ancaman



Dengan hati-hati Sandra membuka gerbang. Ia berlari kecil melewati jalan setapak disekitaran taman yang mengarah ke belakang. Ia kemudian menyusup lewat pintu belakang sebelah kamar Bi Ema.


Sandra mendapati Bi Ema yang sibuk mencuci sayur-sayur dengan membelakanginya yang melangkah pelan melewati dapur.


Huft!keluh Sandra menutup pintu kamar setibanya didalam. Ia membaringkan tubuhnya diranjang sambil merongoh sandwich dari dalam Sling bagnya.


Sandwich itu adalah buatan Leon untuknya sebelum pria itu pergi meninggalkannya sendiri diri apartemen.


Sebelum Leon pergi ia membuatkan Sandwish untuknya dan juga untuk Sandra yang masih berberes dikamar.


"Kak Leon!" Panggil Sandra keluar dari kamar. Sandra terus memanggil hingga ia mendapati dua potong Sandwish dan segelas susu cokelat yang pada gelas terdapat secarik post it menempel disana.


Gue ada meeting. Sandwishnya di makan dan susunya jangan lupa dihabiskan. Hati-hati kalau keluar apartemen jangan sampai kepergok suami masa depan. Oh iya Lain kali jangan bolos sekolah lagi. Entar gue dipanggil sama kepala sekolah Lo. Tulis Leon dipost it membuat Sandra tersenyum membaca pesan kertas dari Leon untuknya.


Ia memakan satu sandwishnya kemudian menyimpan yang satunya kedalam Sling bag untuk ia bawa pulang. Demikian juga dengan post it yang Leon tinggalkan untuknya.


Sudah dua kali Sandra bolos sekolah dan kejadian itu selalu terjadi ketika dirinya menghabiskan malam dengan Leon. Namun bolos kali ini tidak akan berpengaruh mengingat ujian akhir semester telah usai. Hanya ada jam kosong disetiap harinya menunggu jadwal penerimaan rapor.


Sandra memakan sandwish terakhirnya sambil duduk didepan meja riasnya. Ia menatap pantulan dirinya dicermin yang masih mengenakan dress pemberian Leon. Ia kemudian berdiri sambil memperhatikan dress yang membalut ditubuhnya dengan senyum penuh bahagia.


Lalu ia melemparkan dirinya berbaring diranjang memikirkan perlakuan Leon padanya sampai membuatnya ingin tinggal menetap disisi Leon.


"Papa salah." Menatap langit-langit kamarnya . "Kak Leon gak seperti yang Papa katakan." Memiringkan tubuhnya menghadap meja riasnya.


****


Stela melempar tasnya begitu saja di sofa saat dirinya baru saja tiba dirumah. Pikirannya tiba-tiba terlintas pada Sandra yang sejak Minggu Pagi tidak melihatnya.


Minggu pagi sebelumnya Stela yang baru saja pulang dari lari pagi melabrak masuk ke kamar Sandra. Ia selalu melakukan kebiasaan itu untuk menindas Sandra diam-diam dibelakang Adit dan Rosa. Namun pagi itu ia tidak menemukan Sandra disana. Stela berbalik pergi meninggalkan kamar itu dengan perasaan kecewa.


Tek Tek Tek! Suara jarum jam bergerak menunjukkan pukul 10.00 pagi. Stela beranjak menuruni tangga mencari keberadaan Sandra ditempat Bi Ema.


"Sandra kemana Bi?" Tanya Stela dengan melemparkan buah-buah yang baru saja dicuci dan diletakkan dipantry. Ema yang menyaksikan kelakuan Stela hanya bisa mengelus dada.


"Pergi Non." Jawab Bi Ema memungut buah-buah yang kita bergelinding dilantai.


"Pergi kemana?" Tanya Stela menginjak buah yang hendak dipungut Bi Ema. Ia sengaja melakukan itu karna Bi Ema selalu melindungi Sandra darinya. "Pergi sama papa kah?" Tanyanya lagi yang sekarang menendang buah yang sudah ia injak.


"Bukan Non." Jawab Ema yang hanya bisa mengelus dadanya melihat sikap Stela.


Sabar-sabar.Batin Ema.


"Bukan apa?" Tanya Stela melangkah sambil menginjak buah lainnya menuju lemari es.


"Non Sandra pergi misa dianter sama Danu." Jawab Ema berdiri membelakangi Stela.


Malamnya Stela berjalan dengan tubuh sempoyongan menerobos masuk kekamar Sandra. Ia merebahkan dirinya dengan aroma alkohol dari pakaian dan juga nafasnya.


Stela baru saja pulang dari klub malam. Ia minum lumayan banyak koktail untuk menumpahkan kekesalannya pada Leon.


Sudah sejak lama Stela mengincar Leon. Ia pertama kali bertemu dengan Leon dipesta ulang tahun Frans. Waktu itu Frans mengundang Stela dan memperkenalkannya pada Leon yang saat itu berpacaran dengan Rahel.


Pertemuan itu membuat Stela langsung terpikat pada sosok Leon. Ia pun mulai mencari tahu segalanya tentang Leon hingga wanita-wanita yang dekat dengannya.


Stela juga tak pernah menyangka bahwa Frans melakukan kesalahan pada Leon yang membuat dirinya tidak perlu repot-repot menyingkirkan Rahel. Setelah mengetahui kabar itu Stela meminta pada Adit untuk merekomendasikan dirinya bekerja di perusahaan yang dipimpin oleh Leon.


Segala upaya dilakukan Stela untuk menarik perhatian Leon selama bekerja. Namun obsesinya terhadap Leon tak kunjung mendapatkan hasil. Pernah dikecewakan membuat Leon mendirikan tembok es antara dirinya dan wanita yang menginginkannya.


Hingga suatu ketika Stela kecolongan pada sikap dingin Leon pada sekaumnya.berhasil karna Leon mendirikan tembok es pada wanita. Ia mengetahui rekan kerjanya Jesika memiliki berada dimobil Leon.


"Apa sih kelebihan Jesika dari gue!" Ucap Stela yang mendapati keduanya pulang bersama. Ia memergoki Jesika yang selalu pulang larut dari kantor menunggu Leon.


"Kualifikasi apa yang dimiliki wanita rendahan itu sampe bisa naik keranjang Leon." Ucap Stela geram ketika pada akhirnya ia menemukan bahwa keduanya menjalin hubungan diam-diam di tempat kerja tanpa sepengetahuan siapapun.


"Malam ini harus berhasil." Gumam Stela yang berencana membawa Leon naik keranjangnya. Ia sudah menyiapkan perangkapnya dengan menggunakan obat peransang yang sudah ia siapkan untuk dibubuhkan ke dalam minuman Leon. Namun malam semakin larut info yang ia dapat mengenai Leon yang akan datang ternyata salah.


"Sialan!" Teriak Stela dalam hatinya terduduk di ranjang membuatnya terjaga dan menyadari tak ada Sandra disana.


"Menarik!" Ucap Stela tersenyum sinis mengetahui Sandra tidak pulang malam itu.


Dan akan lebih menarik lagi jika mama dan papa tahu seperti apa putri kesayangannya itu. Batin Stela. Ia membuka kamar dan menemukan Sandra tidur tengkurap mengenakan dress pendek lengan panjang dengan pola stensil berwarna maroon terlihat seksi dikulit putihnya. Dress itu terlihat mirip dengan yang pernah ia lihat dibwakan oleh sekertaris Leon.


Kenapa dress itu ada ditubuh Sandra?Mungkinkah ada begitu banyak dress seperti itu terjual diluar sana. Batin Stela mendekati Sandra dan membangunkanya.


"Darimana aja sehari semalam gak pulang?" Tanya Stela melipat kedua tangannya didada.


"Dari rumah teman kak." Jawab Sandra menjulurkan kakinya kelantai.


"Lo pikir gue percaya!" Menarik Sandra yang hendak berdiri hingga membuatnya terjatuh keranjangnya. "Mentang-mentang mama papa gak peduli." Menarik rambut Sandra membuat gadis itu meringis menahan sakit. "Lo jadi seenaknya ya tidur diluar!" Semakin memperkuat cengkraman pada rambut Sandra membuatnya meringis.Namun ia tidak melakukan perlawanan sedikitpun pada Stela. Ia pasrah dengan apa yang dilakukan Stela padanya.


"Hebat banget lo! Mau jadi pelacur Lo diluar hah!." Ucap Stela melepas tangannya dari rambut Sandra."Lain kali kalau Lo pergi." Meraih dagu Sandra. "Sekalian aja gak usah balik lagi kerumah." Mengangkat keatas.


"Stela!!" Panggil Rosa melangkah menaiki tangga.


"Awas Lo!" Menjauhkan wajahnya dari Sandra. "Kalau berani ngadu ke mama." Ancam Stela. "Apalagi ke papa." Berbalik badan berjalan kearah pintu. "Gue bakal buat mama dan papa bukan hanya gak peduli sama lo." Melihat ke Sandra. "Tapi juga buat mereka ngusir Lo dari rumah ini!" Ucap Stela mengancam Sandra.


Ancaman yang sudah sering ia dengar berulang kali dari mulut Stela.