Unboxing

Unboxing
103. Hoek!



Tak ingin melewatkan momen dimana Jesika berinisiatif mencium lebih dulu, Frans dengan sigap membalas kecupan itu. Ia meraupnya dengan penuh perasaan yang meluap dari dalam hatinya.


"Adit dan Rosa ada disini." Ucap Fandy mengalihkan pandangannya dari Frans melihat ke istrinya.


"Ayo." Sahut Feny dengan tangan yang mengepal didada. "Aku harap Rosa dan Adit tidak melihatnya." Tambahnya melangkah menyusul Rosa dan Adit.


"Lihat apa?" Tanya Tristan yang datang meletakkan pesanan makan mereka di meja tempat Rahel melihat Frans mencium Jesika.


"Bukan apa-apa." Jawabnya mendekatkan gelasnya. "Kenapa cuma pesan sedikit?" Tanya Rahel masih melihat Frans yang kini melepas ciumannya dari bibir Jesika. "Lo harus makan yang lebih banyak untuk ujian." Ucapnya memperhatikan Frans menarik tangan Jesika masuk ke cafe tempat ia dan Tristan berada.


Tringg! Suara lonceng kecil yang tergantung dipintu masuk Cafe mengenai ujung kepala Jesika.


"Apa ada pria yang lebih tampan dariku?" Tanya Tristan berbalik menoleh kebelakang mencari apa yang membuat Rahel tak bisa mengalihkan pandangannya.


"Dasar Narsis!" Cibir Rahel mengacak ujung kepala Tristan dengan gemas. "Apa udah ketemu?" Tanya Rahel membuat Tristan berbalik kembali melihat Rahel yang duduk didepannya.


"Udah." Jawab Tristan. "Dia udah punya kekasih." Ucapnya meraup burger chesse di depannya.


"Gue bukan nanya itu." Meraih tissue dan membersihkan sudut bibir Tristan yang terkena saus.


"Lalu apa?" Tanya Tristan.


"Lo bakal ngambil jurusan apa?" Tanya Rahel kembali memperhatikan Frans yang kini membawa pesanan mereka dari meja bar.


"Bagaimana dengan dokter?" Tanya Tristan melihat jas putih Rahel yang diletakkan dikepala kursi kosong disebelahnya.


"Oke." Jawab Rahel yang dari dulu menolak Tristan untuk mengambil jurusan yang sama dengannya. Namun kini ia mengiyakan lantaran teralihkan dengan Frans yang menyuapi Jesika dengan sangat manis.


"Benar-benar jelek." Ucap Tristan pada Frans yang membuat Rahel mengabaikannya.


"CK!" Decak Rahel. "Apa Lo cemburu?" Goda Rahel pada adiknya itu yang melihat Jesika beranjak dari kursinya.


"Ckckck." Decak Tristan sambil menggelengkan kepalanya. "Berhenti mengejar pria yang tidak memiliki perasaan denganmu." Ucap Tristan menyodorkankan French fries ke mulut Rahel.


"Kalau gitu kasih tau gue gimana lihat pria itu punya perasaan sama kita." Ucap Rahel bangkit dari kursinya meninggalkan Tristan menyusul Jesika yang baru saja berjalan masuk ke arah toilet.


Hoek! Suara mual terdengar dari dalam toilet tertutup disamping Rahel yang hendak membasuh tangannya di atas wastafel.


"Apa itu Jesi---"


"Sial!" Umpat wanita yang keluar dari bilik lain. "Siapa yang buang air disana?" Keluh Wanita itu yang kemudian mual di atas wastafel lainnya.


Fyuh!Gue pikir dia. Batin Rahel melihat Jesika keluar setelah wanita cerewet itu pergi meninggalkan mereka berdua.


"Sepertinya hubungan Lo dan Frans berjalan sangat baik." Ucap Rahel yang merapikan rambutnya disamping Jesika yang tengah membasuh tangannya sambil memandang pantulan dirinya dalam cermin. "Gue Rahel." Ucapnya memperkenalkan diri dengan melihat pantulan diri Jesika dicermin. "Lo pasti pernah dengar nama itu." Memutar tubuhnya menghadap Jesika yang kini berdiri tegap menghadap padanya.


"Gue Jesika." Balas Jesika mengulurkan tangannya pada Rahel yang benar-benar cantik sesuai dengan cerita Frans padanya.


"Frans punya tunangan." Ucap Rahel menjabat tangan Jesika. "Apa Lo tahu?" Tanya Rahel yang dibalas anggukan kepala dari Jesika.


"Dalam bulan ini pernikahan akan segera diadakan." Ucap Jesika yang mendengar sebelumnya dari dua pihak keluarga.


****


"Rahel menghabiskan makan malam bersama Tristan Bos." Ucap Simon dari telpon sambil memperhatikan Rahel yang duduk termenung menatap keluar cafe. Rahel tak habis pikir dengan apa yang barusan ia dengar dari Jesika.


"Hanya makan?" Tanya Leon yang menyetir disamping Sandra.


"Iya Bos." Jawab Simon.


"Okeh." Balas Leon mengakhiri panggilannya pada Simon kembali melirik Sandra yang terus memikirkan Stela. "Dia gak bakal pulang malam ini." Ucap Leon membuat Sandra terbangun dari lamunannya.


Tak ada yang bisa Leon lakukan pada Sandra sejak kejadian siang tadi. Leon menghabiskan waktunya hanya melihat gadisnya itu mondar-mandir didepannya dengan wajah panik. Sebelumnya Gio juga memberitahu bahwa Stela memiliki rasa sakit mendalam di kepalanya yang sewaktu-waktu mengakibatkan dirinya tak sadarkan diri.


"Kemana?" Tanya Leon yang mendadak menghentikan mobilnya mendengar permintaan Sandra.


"Sandra khawatir Kak Stela pingsan dijalan." Ucap Sandra yang sulit buat Leon untuk menolaknya.


Sementara Itu Stela baru saja tiba di rumah pribadi Gio.


"Lo yakin disini gak ada siapa pun?" Tanya Stela memperhatikan kondisi dalam rumah.


"Ya." Jawabnya melempar jasnya dan pergi beranjak menaiki tangga menuju kamarnya dilantai atas. "Lo bisa tempatin kamar yang dibawah. " Ucapnya pada Stela yang membuatnya lelah sejak tadi membujuk agar mau tinggal dirumahnya untuk sementara sampai ia kembali tenang.


"Lo mau kemana?" Teriak Stela pada Gio yang kini berdecak kesal berdiri didepan kamarnya.


"Tidur." Jawabnya singkat membuka pintu kamarnya.


"Gio." Panggil Stela mendongak. "Maaf." Ucapnya yang telah mendengar cerita bagaimana dirinya memperlakukan Gio di masa lalu dan melupakannya begitu saja. "Terima kasih juga bu---" lanjutnya terjeda oleh rasa mual. "---Hoek!" Menutup mulutnya mencari toilet.


"Lo hamil ya?" Tanya Gio yang menyambut Stela keluar dari toilet sambil memegang perutnya.


"Ha-hamil katamu!" Balasnya sedikit gugup. "Ma-Mana mungkin." Melewati Gio sambil mengingat dirinya yang belum datang bulan dari dua Minggu yang lalu.


"Sejak kapan Lo mual-mual begini?" Tanya Gio memutar tubuh Stela menghadap padanya. "Apa Tante Rosa tahu?" Tanya Gio menangkup pundak Stela.


"Gu-Gue gak mungkin hamil." Jawab Stela gugup.


"Gue juga berharap begitu." Ucap Gio yang kini mengacak rambutnya melampiaskan kekesalan dalam dirinya.


"Lo tenang aja." Sahut Stela dengan nada lemas. "Ini cuma masuk angin aja kok." Tambahnya yang


"Kita hanya melakukannya sekali." Jawab Stela. "Gimana mungkin langsung hamil." Jelasnya.


"Gue tahu." Sahut Gio. "Tapi ada banyak pasangan yang baru sekali lang---" ucap Gio terpotong oleh suara nada dering panggilan masuk dari hape Gio.


"Iya hel." Suara Gio menjawab panggilan. "Oke gue kesana." Tutupnya mengakhiri panggilan.


"Apa itu Rahel?" Tanya Stela yang masih berdiri di dekat Gio.


"Iya." Jawabnya meraih jas yang ia lempar sebelumnya disofa. "Lo kenal Rahel?" Tanya Gio yang berbalik badan melihat ke Stela.


"Gue pernah ketemu dia dulu." Jawab Stela berbalik badan membelakangi Gio.


"Kapan?" Tanya Gio.


"Waktu masih pacaran dengan Leon." Jawabnya melangkah ke kamar.


"Kalau gitu Lo tau hubungan Frans dan Rahel." Ucap Gio berdiri menghalangi Stela dipintu kamar.


"Ya." Ucap Stela. "Belum pergi?" Tanya Stela mendongak.


"Kenapa?" Balas Gio. "Lo gak suka gue disini?" Menatap Stela penuh perasaan.


"Mana mungkin." Jawab Stela. "Ini kan Rumah Lo." Meraih gagang pintu. "Pergilah." Pinta Stela. "Rahel udah nunggu Lo disana." Melihat ke Gio.


"Gue dan Rahel hanya rekan kerja." Ucap Gio membelai rambut Stela. "Jangan berpikir yang aneh-aneh." Pintanya.


"Ngapain Lo jelasin itu ke----" ucap Stela terpotong kembali oleh rasa mual.


Hoekkk!


🍁🍁🍁🍁


Jangan lupa likenya cintaaa😘