
Frans duduk sambil mengupas buah dan memotong-motongnya untuk Stela yang melamun memikirkan Gio.
"Giorgino Saputra." Ucapnya membuat Frans terajaga dari keisengannya membentuk potongan apel berbentuk love.
"Lo ketemu Gio?" Tanya Frans menyuap apel kreasinya ke mulut Stela yang menganga karna pertanyaannya.
"Gio? Dokter nyebelin itu!" Jawab Stela memakan apel dimulutnya.
"Dia Sahabat gue!" Sahut Frans meletakkan buah-buah dipiring dihadapan Stela.
Jadi dia Gio yang sahabatan dengan Leon dan Frans. Batin Stela yang selama ini hanya mengetahui nama tidak dengan orangnya.
"Apa dia dokter yang bertugas menangani Lo?" Tanya Frans merongoh hapenya mengecek balasan pesan dari Jesika yang tak kunjung datang.
"Iya." Jawab Stela melihat raut wajah Frans berubah. Ia terlihat kesal melihat Jesika yang hanya membaca pesan tanpa balasan apapun. "Apa ada masalah diperusahaan?" Tanya Stela.
"Gak ada." Jawab Frans mengetik pesan lagi dan lagi pada Jesika dengan raut kesal.
Apa yang Leon lakukan sampe dia gak bisa membalas pesan satu pun yang gue kirim. Batin Frans bangkit berdiri dari kursinya.
"Mau kemana?" Tanya Stela melihat Frans berbalik badan dengan melakukan panggilan pada nomor Jesika.
"Ada telpon mendesak." Jawab Frans. "Lo tunggu sebentar okay!" Pinta Frans membuka pintu. Ia keluar berjalan kearah ujung koridor menunggu jawaban Jesika akan panggilannya.
Suara dering hape berbunyi membuat Jesika berhenti membilas piring-piring bekas anak panti.
"Frans." Gumamnya mematikan panggilan itu dan mengembalikan hape kedalam kantung depan celemek yang ia kenakan.
"Jes!" Panggil biarawati yang mendengarkan nada dering hape Jesika yang terdengar kembali. "Biar suster yang lanjutin." Ucapnya. "Kamu angkat dulu siapa tahu penting." Membantu melap piring yang sudah bilas.
"Gak pa-pa Sus." Balas Jesika yang kembali mematikan panggilan Frans. "Hanya telpon iseng." Tambahnya membereskan yang tersisa hingga selesai.
Lagi-lagi panggilan Frans masuk ketika Jesika sibuk menemai anak panti sambil membagikan beberapa hadiah yang ia belikan tadi di mall.
"CK!" Decak Jesika meraih hapenya dan kembali menolak panggilan Frans.
Dia kenapa sih?Jelas-jelas lagi sama Stela. Masih aja ganggui gue. Batin Jesika yang kini menonaktifkan hapenya.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif mohon periksa kembali nomor tujuan anda." Suara operator menjawab panggilan Frans pada Jesika.
Sial! Umpat Frans geram berbalik kebelakang melihat Gio berdiri didepan ruang Stela melihat kearahnya. Frans berjalan kearah Gio sambil melonggarkan dasi yang menggantung dilehernya.
"Kenapa gak masuk?" Tanya Frans pada Gio yang kini berdiri dihadapannya.
"Wanita mana yang berani nolak panggilan lo." Jawab Gio yang sejak tadi memperhatikan Frans yang mondar-mandir di koridor dengan panggilan telpon yang selalu ditolak.
"Bukan siapa-siapa." Sahut Frans yang sudah berjanji pada Jesika untuk memberitahu pada siapapun hubungan mereka yang sekarang.
"Oh begitu." Ucap Gio. "Jesika apa kabar?" Tanya Gio membuat wajah Frans semakin ketat. "Lo masih berhubungan kan sama dia?" Tanyanya lagi menggeser pintu dan mendapati Stela yang sejak tadi berdiri menguping pembicaraan mereka.
"Stela?!" Tanya keduanya kompak.
****
Percikan air yang berasal dari keran sebelumnya masih terlihat jelas di permukaan lantai. Kemeja putih yang Sandra kenakan sebelumnya kini tergantung di atas meja pantry. Sementara kaos yang Leon tergeletak dilantai dekat lemari es.
Jejak kaki yang belum mengering membekas di lantai dan juga setiap anak tangga menuju kamar Leon dengan pintu terbuka.
"Kak Leon." Desis Sandra merasakan tangan Leon menyentuh dalaman yang masih belum terlepas dari tubuhnya. "Jangan." Pintanya dengan sensual menahan gejolak dari jari Leon yang menggesek pelan dipusat tubuhnya yang masih berpenutup. "Ahh." Desah Sandra meraih jari Leon. Ia menarik tangan itu dan meletakkannya didadanya. "Ahhhh." Desah Sandra kembali ketika tangan yang lain mengulangi hal yang sama.
"basah sayang." Desis Leon ditelinga Sandra yang berlanjut dengan mengecup bibir menjalar keleher terus turun kebawah.
"Uhmm." Suara Leon mengulum gumpalan kecil yang mengeras sambil memainkan jarinya dipusat tubuh Sandra membuat gadis itu menggelinjang menahan kenikmatan yang sulit untuk dijelaskan.
Leon menarik tubuh yang melemas itu duduk mengangkang dipangkuannya. Sandra hanya bisa pasrah dengan melingkarkan kedua tangannya dileher Leon dan mendekap dadanya pada dada pria itu menerima setiap rangsangan yang menggoncang tubuhnya sejak tadi.
"Dilepas aja ya?" Tanya Leon sambil meremas kedua bokong Sandra.
"Ahh." Sahut Sandra dengan tubuh menggeliat dalam dekapan Leon.
"Mau ya?" Tanyanya lagi yang kini memasukan kedua tangannya kedalam daleman sandra dan meremas bokong montok milik peri kecilnya.
"Kak Leon jangan." Jawab Sandra yang merasakan tangan Leon yang kini mengelus-elus bokongnya dengan leluasa.
"Gue gak lihat kok." Ucap Leon yang penuh kemenangan meskipun ia belum bisa menenggelamkan jagoannya pada Sandra hingga malam ini. "Mau ya?" Pintanya lagi dengan tangan yang meremas kencang bokong Sandra.
"Kak Leon!" Panggilnya menarik wajahnya melihat ke Leon yang masih bisa ia lihat dengan pencahayaan minim.
"Apa sayang?" Tanya Leon dengan tangan yang kini berpindah mengelus punggung Sandra.
"Kak Leon kenapa nyiksa Sandra sampai mau nelanjangin segala?" Tanya Sandra.
"Nyiksa?" Tanya Leon. "Siapa yang nyiksa Lo?" Tanyanya lagi.
Yang ada Lo kali yang nyiksa gue. Batin Leon.
"Terus ini namanya apa?" Tanya Sandra. "Kalau bukan nyiksa Sandra." Ucapnya yang mendapat balasan dari tangan Leon yang memelintir put**gnya yang masih mengeras.
"Ah." Desah Sandra membuat Leon meraup bibir yang mengeluarkan suara yang membuatnya kembali bersemangat.
Tak ada jawaban dari pertanyaan Sandra selain dirinya yang kini kembali terjatuh diatas ranjang Leon dengan ciuman dan sentuhan yang membuat tubuhnya kembali bergetar.
"Sayang, Lo terlalu banyak bicara." Ucap Leon bangkit berdiri melepas jeans yang masih melekat ditubuhnya.
"Kak Leon mau apa?" Tanya Sandra melihat samar-samar Leon yang kini juga melepas dalemannya.
"Kenapa?" Tanya Leon melempar dua benda itu dari atas ranjang. "Lo gak mau lepas." Ucapnya bertumpu dengan kedua tangannya diatas Sandra yang ketakutan. "Jadi biar punya gue yang dilepas." Sambungnya lagi. "Lagian Lo udah pernah lihat juga!" Celetuk Leon yang kini berbaring disamping Sandra sambil menarik bed cover menutupi tubuh keduanya. "Udah pegang juga kan." Ucapnya santai memiringkan tubuhnya kearah Sandra.
"Kak Leon." Desis Sandra.
"Kenapa lagi?" Tanya Leon menggapai remote lampu untuk menyalakan lampu LED yang terdapat disisi atas kepala ranjang dan tepian bawah ranjangnya. "Kenapa sayang?" Tanya Leon lembut yang kini bisa melihat jelas wajah Sandra disampingnya. "Lo mau pegang lagi,hm!" Leon menawarkan adiknya untuk disentuh Sandra.
"Bu-bukan." Jawab Sandra gugup menaikkan selimutnya hingga ke dagu.
"Terus apa?" Tanya Leon mengusap pipi Sandra.
"Kak Leon yakin bisa nahan." Ucap Sandra melirik sebentar kearah tubuh mereka yang minim dengan pakaian hanya bermodalkan bed cover.
"Enggak." Menarik Sandra dalam pelukannya. "Ini aja lagi tegangan tinggi sayang." Meraih tangan Sandra menggapai sesuatu dibawah sana.
πππ
Vote Seninnya sayang jangan lupa dikasih buat Leon dan kawan-kawanπ€π€