Unboxing

Unboxing
96. Hai!



"Ya." Balas David kepada Leon dan juga Nadin yang berusaha menyembunyikan sesuatu darinya. "Kalau itu memang Sandra." Sambungnya sembari bangkit berdiri dari sofa. "Tapi seperti yang mama bilang." Melirik Nadin yang terlihat merahasiakan sesuatu darinya. "Bukan Sandra. So, Papa mau istirahat duluan." Melangkah pergi sambil merogoh saku meraih hapenya.


Keesokan paginya Leon pergi begitu saja meninggalkan kediaman Sanjaya. Persis dengan laporan yang dikirim oleh orang suruhan David tadi malam. Siswi yang ada di foto itu adalah Alexandra Winata putri dari Aditya Winata.


"Pah lihat apa?" Tanya Nadin menghampiri David yang berdiri diatas balkon melihat kepergian Leon.


"Putraku." Jawab David melempar senyum yang berjalan pergi meninggalkan Nadin melihat mobil Leon menghilang dari pandangannya.


"Mah." Panggil David ketika keduanya berada dimeja makan.


"Ya pah." Sahut Nadin meraih gelasnya untuk minum.


"Apa ada yang mau mamah katakan ke Papah?" Tanya David yang ingin mengetahui seberapa banyak Nadin menyembunyikan hubungan putri Adit yang bertaut 10 tahun lebih muda dari putranya.


"Gak ada." Jawab Nadin meletakkan gelasnya.


"Okeh." Balas David kecewa bangkit dari kursinya.


"Papah udah mau pergi?" Tanya Nadin menyusul suaminya itu yang terlihat buru-buru meninggalkannya.


"Ya." Jawab David memakaikan jasnya sambil diikuti oleh asistennya yang berjalan mengiringinya dari belakang. "Ada begitu banyak masalah di perusahaan." Menghentikan langkahnya seketika. "Papa harus membereskan siswi inisial S itu." Berbalik badan dengan senyum dipaksa melihat ke Nadin.


"Papa mau melakukan apa?" Tanya Nadin dengan wajah panik.


"Menyingkirkannya." Jawab David membuat bibir Nadin bergetar tak sanggup berkata. "CK!Orang seperti itu kalau dibiarkan akan mencemari dan merusak nama baik putra kita." Meletakkan tangannya di pipi Nadin. "Kamu gak maukan putra kita ditolak oleh putri-putri dari rekan kita dimasa depan?" Ancam David dengan nada halus sambil mengelus lembut pipi Nadin.


"Pah dia cuma gadis kecil." Tolak Nadin akan rencana David. Ia tahu bagaimana kejamnya David terhadap siapapun yang memercikkan kotoran padanya.


"Sayang." Ucap David.


"Ya."


"Apa kamu mengkhawatirkannya?" Tanya David. "Kamu bahkan tidak mengenalnya sama sekali." Cibir David dengan sinis. "Bagaimana mungkin mengkhawatirkannya sampai membuatmu gemetar begini sayang?" Tanyanya meraih kedua tangan Nadin. "Papah jadi cemburu." ucapnya yang kemudian memberikan kecupan dikening Nadin. "Mamah tahu kan apa yang terjadi jika papa cemburu?" Tanyanya sebelum akhirnya ia pergi dengan asisten dan supirnya meninggalkan Nadin.


"Leon angkat panggilannya sayang." Ucap Nadin yang bolak-balik berjalan di dalam kamar menghubungi Leon yang tak sengaja meninggalkan hapenya di meja kantornya. Ia sedang menghadiri rapat di ruangan lain dengan para pemegang saham akibat berita sebelumnya. Sementara itu Simon berada jauh terpisah dengan Leon yang masih mencari dalang pembuat masalah. Satu persatu rekaman cctv berhasil dieksekusi oleh Simon. Namun belum ada tanda-tanda gelagat mencurigakan ia temukan.


Di waktu bersamaan Adit menerima panggilan masuk dari David yang baru saja tiba di depan kediaman Winata.


"Apa kabar dit?" Tanya David keluar dari mobilnya.


"Ada apa?" Balas Adit balik bertanya pada David yang berdiri memberikan senyum pada Sandra yang berdiri dibalkon kamarnya di lantai dua.


"Apa kamu ada waktu luang?" Tanya David. "Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu." Ucapnya melambaikan tangan pada Sandra yang diam membisu.


****


"Ketemu!" Seru Simon membuat Mona mengelus dadanya terkejut. "Mona ketemu." Ucapnya mengulangi kembali dengan menzoom seorang yang mencurigakan mengintai di depan apartemen Leon dengan camera mini ditangannya.


"Dari poster tubuhnya dia terlihat seperti wanita." Ucap Mona yang sudah berdiri disamping Simon memperhatikan dengan seksama. "Stop!" Pinta Mona saat melihat datang dari arah berlawanan sambil menggendong wanita.


"Dia gadis yang ada di Foto." Sahut Simon santai. Ia sudah mendengar penjelasan Leon sesaat sebelum file rekaman cctv sampai ditangannya. Ia bahkan sudah menemukan beberapa kali adegan mesra yang dilakoni Leon dan Sandra dalam rekaman cctv.


"Bos benaran berhubungan dengan anak SMA?" Tanya Mona.


"Iya." Jawab Simon. "Mereka bahkan lebih intim dari Foto yang tersebar." Lanjutnya menjelaskan.


"Apa Lo menikmatinya?" Tanya Mona menatap aneh pada Simon.


"Apa??" Tanya Mona tercengang. Ia tak menyangka seorang Jesika,Stela dan Wanita lainnya dikalahkan oleh gadis delapan belas tahun.


"Gue belum pernah lihat wanita ini?" Tanya Simon berhasil mendapat tampak samping wanita yang mencurigakan dalam rekaman cctv. "Apa Lo pernah lihat wanita ini berada disekitar Bos?" Tanya Simon menampilkan tampak depan wajah wanita X itu pada Mona.


"Enggak." Jawab Mona menarik print out wanita yang keluar dari mesin printer. "Menurut Lo apa dia yang nyebar foto ke media?" Tanya Mona memperhatikan wajah wanita yang tak mereka ketahui identitas dan tujuannya.


"Ya." Jawab Simon yang sebelumnya menemukan dua orang penguntit dalam satu rekaman dihari dimana Leon pertama kali membawa Sandra ke apartemennya.


"Yang satu gadis delapan belas tahun." Ucap Mona. "Satunya lagi mungkin sumuran dengan Bos." Tambahnya menebak usia wanita yang ada di kertas.


Semetara itu Gio yang mendapat kabar dari bahwa mereka kedatangan dokter baru yang memiliki bidang yang sama dengannya. Beberapa dari mereka juga mengatakan ia akan ditempatkan diruang yang sama dengan Gio untuk sementara waktu.


"Kenapa dokter itu harus seruangan sama dokter Gio sih?" Gerutu perawat disertai keluhan perawat lainnya.


"Dok." Panggil perawat yang menemani Gio diruang operasi sebelumnya.


"Ya." Jawab Gio melepas sarung tangannya.


"Dengar-dengar dokter baru itu satu almamater sama dokter." Ucap perawat itu sambil membersihkan beberapa alat.


"Oh ya!" Sahut Gio yang tak tau apapun kecuali informasi adanya dokter baru. "Gue kurang tau." Ucapnya lagi.


"Mantan kekasihnya ya dok?" Tanya perawat kepo.


"Bukan." Jawab Gio. "Gue gak punya ma---" ucapnya terjeda melihat perawat itu yang sudah berdiri didekatnya menunggu jawab Gio yang masih terputus. "---Lo ngapain!" Sambung Gio kembali.


"Dokter gak punya apa?" Tanya perawat itu kembali membereskan pekerjaannya.


"Gak ada." Jawab Gio melap tangannya dan melepaskan jubahnya.


"Pasti pacarnya kan dok." Tebak perawat. "Makanya pertama kerja langsung jadi partnernya." Cibir perawat. "Pakai dikasi satu ruang lagi,Hm!" Cibir perawat itu lagi dengan kesal.


"Terserah lu deh." Balas Gio pergi keluar meninggalkan perawat yang kini dikerumuni oleh perawat-perawat yang sejak tadi menguping pembicaraan keduanya.


"Dok." Panggil perawat lain yang lewat dari depan ruangannya.


"Ya." Sahut Gio polos.


"Ciee pacarnya udah didalam tuh." Ejek perawat itu yang kemudian berlari menyusul perawat lain yang menanti reaksi Gio akan kedatangan dokter baru diruangannya.


"Ciee yang dapat Dokter cantik." Ledek Perawat yang lain menggoda Gio.


"Apa-apaan sih kalian ini?" Keluh Gio kesal membuka pintu melangkah masuk kedalam melihat seorang wanita dengan rambut tergerai berdiri membelakanginya.


"Bos kenal wanita ini?" Tanya Simon yang datang menemui Leon dikantornya dengan menyerahkan print out wanita yang ia temukan dalam rekaman cctv.


"Siapa ya?" Tanya Gio membuat wanita itu berbalik melihatnya begitu juga dengan Leon yang melihat sosok wanita dalam kertas.


"Rahel?" Ucap Gio dan Leon bersamaan di tempat yang berbeda.


"Hai!" Sapa Rahel.


🍁🍁🍁


Maaf ya updatenya suka macet 🀭. Jangan lupa like dan Coment ❀️❀️❀️