
Sandra duduk dengan punggung yang bersandar pada dada bidang Leon. Leon sendiri duduk melingkarkan kedua tangannya di pinggang Sandra dengan meletakkan dagunya di puncak kepala Sandra. Setelah sarapan dan menikmati makanan penutup cake buatan Sandra keduanya sama-sama memandang pohon natal yang ada didepan mereka.
"Kak Leon gak pergi?"
"Pergi kemana?"
"Gereja bareng Mama Papanya Kak Leon."
"Enggak."
"Kenapa?" Tanya Sandra mendongak ke Leon.
"Karna lo gak pergi juga sama Mama Papanya." Jawab Leon melihat ke Sandra. "Jadi kita Sama."
"Kak Leon kenapa pagi ini baik dan juga peduli sama Aku?" Tanya Sandra kembali menunduk.
"Gue lagi nabur kebaikan aja di hari natal kali ini." Jawab Leon. Ia juga tidak mengerti kenapa ia bersikap baik pada gadis itu. Padahal sangat jelas ia sama sekali gak dapat apapun dari membuat Sandra tinggal dengannya.
"Emangnya di natal-natal sebelumnya Kak Leon nabur kejahatan?" Tanya Sandra membuat Leon mengernyit.
"Iya." terlintas dipikirannya natal tahun lalu ia berada diatas tubuh Jesika.
"Pasti gituan ya kak." mendongak kembali.
"Kok Lo bisa tahu!" Jawab Leon. "Lo lebih suka ya kalau gue nabur kejahatan begituan ." Ucap Leon menggelitik perut Sandra.
"Kak..geli." sahut Sandra berusaha melepas jari-jari Leon dari perutnya. "Ah..geli kak." desah Sandra yang sekarang telentang dipangkuan Leon. Tubuhnya menggeliat dalam pelukan Leon. Ia meronta menahan gelitikan jari nakal Leon.
Masih di gelitikan aja udah sesensitif begini. Gumam Leon dalam hati menikmati suara desahan dan tubuh Sandra yang menggeliat dipangkuannya. Ia membayangkan betapa menggelinjangnya tubuh yang telentang dipangkuannya sekarang ini jika jarinya langsung menyentuh kulit yang masih tertutup baju itu.
Sandra kenapa telat banget sih Lo lahirnya. Batin Leon. Ia menghentikan jarinya.
"Lo gelian banget ya orangnya." Ucap Leon menutupi kenakalannya membantu Sandra memperbaiki posisi tubuhnya yang telentang duduk dipangkuannya. "Itu ide Lo sendiri?" Tanya Leon melingkarkan tangannya di pinggang Sandra.
"Yang mana Kak?" Tanya Sandra balik.
"Pohon natalnya." Jawab Leon meletakkan dagunya dipundak Sandra.
"Aku lihat di yutub Kak."
"Sudah gue duga." Ucap Leon. "Gimana mungkin gadis dengan nilai lima puluh punya ide begituan." Ledek Leon yang masih mengingat nilai Sandra.
Sandra merengut mendengar Leon mengejek nilai ujiannya yang jelek. Ia mencari hal lain yang menujukkan dirinya tidak sebodoh yang dipikirkan Leon padanya.
"Tapi yang Itu ideku Kak." Ucap Sandra menunjuk bantal dengan pita yang ada dibawah pohon natal dan cakenya. "Mereka mirip kado-kado yang dibawah pohon natal 'kan Kak?" Tanya Sandra menoleh ke Leon membuat hidung keduanya hampir saling bersentuhan.
Sandra menurunkan pandangan matanya kebawah. Ia tak kuasa menatap Leon yang juga melihatnya. Tatapan itu membuat detak jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Iya mirip." Jawab Leon tersenyum melihat Sandra yang tersipu dan mengalihkan matanya darinya. "Tapi sayang kadonya bohongan." Tambahnya.
"Namanya juga properti kak." Sahut Sandra melepas tangan Leon dan merangkak mengambil bantal lalu kembali duduk dipangkuan Leon.
"Kado natal buat gue ada gak?" Tanya Leon meletakkan dagunya kembali ke pundak Sandra.
"Aku belum kepikiran kak." Sahut Sandra mengusap bantal yang ia letakkan diatas pangkuannya. "Kak Leon mau kado natal apa?" Tanya Sandra tanpa menoleh ia tidak mau terjebak pada kondisi sebelumnya.
"Wanita yang bisa ditidurin ada nggak?" Tanya Leon memutar wajahnya mengarah pada pipi Sandra. Leon menantikan saat-saat Sandra menoleh lagi padannya.
Kali ini gue bakal cium lo. Gumam Leon dalam hati menunggu Sandra kehilangan kewaspadaannya lagi. Sementara itu Sandra malah menjawab permintaan Leon dengan menggelengkan kepala sambil memeluk batalnya.
"Hm,gimana kalau ditukar sama yang lain?"
"Ditukar dengan apa?" Tanya Sandra.
"Dengan Lo." Jawab Leon menarik bantal dari pangkuan Sandra.
"Itu terlalu dini buatku Kak. Lagian gituan sama anak sekolah bisa buat kakak kena masalah loh." Ucap Sandra melirik kecil pada Leon yang menatapnya sangat dekat.
"Kalau lo gak bilang-bilang itu gak akan jadi masalah." Ucap Leon meladeni penolakan Sandra.
"Kak ini 'kan natal----"
"----Gue tahu makanya gue mau kado natal." Potong Leon.
"Gimana kalau diganti sama yang lain?" Tanya Sandra menoleh membuat mata mereka saling betemu kembali.
"Kiss." Jawab Leon cepat sebelum Sandra kembali menurunkan pandangannya dan perlahan merubah posisi bibir mereka yang kini sudah sejajar.
Baiklah!Aku hanya perlu menempelkan bibirku pada bibir Kak Leon ajak kan. Gumam Sandra dalam hati.
Sandra memutar tubuhnya berbalik menghadap Leon yang melonggarkan tangan yang melingkar diantara pinggangnya. Ia memegang kedua pundak Leon.
Ini pertama bagi Sandra mencium terlebih dulu. Meskipun terbilang sudah entah berapa kali dirinya berciuman dengan Leon namun, Pria itu yang selalu melakukannya lebih dulu. Ia bahkan tidak pernah membalas tiap kali Leon menciumnya.
Leon melihat kulit wajah dibawah mata Sandra memerah karna malu. Ia merebahkan tubuh Sandra membuat kepalanya diatas bantal . Ia menarik diri melepas bibirnya dari Sandra dengan bertumpu pada lututnya.
"Buka mata lo!" Perintah Leon pada Sandra yang masih memejamkan matanya.
"Sandra malu Kak." Ucap Sandra yang kini menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya membuat Leon tersenyum.
"Gue bakal lepasin bajunya nih kalau masih belum buka." Ucap Leon berbaring disamping Sandra. "Buka gak!" Perintah Leon memiringkan tubuhnya ke arah Sandra.
Pelan-pelan Sandra melepas telapak tangan dari wajahnya. Lalu membuka matanya namun tak melihat keberadaan Leon diatasnya. Ia mendengar suara cekikikan Leon disampingnya.
"Gemesin banget sih Lo." Ucap Leon mencubit halus hidung Sandra.
"Kak Leon ngerjain Aku ya?"
"Enggak. Lonya aja yang langsung cium gue."
"Bukannya kakak yang minta."
"Oh gitu ya..tahu gitu gue minta lo telanjang aja ya tadi." Goda Leon.
"Mesum." Lirih Sandra.
"Apa Lo bilang barusan?" Tanya Leon mencubit kedua pipi Sandra dengan ibu jari dan telunjuk bersamaan.
"Mesyum." Jawab Sandra dengan mulut yang kejepit oleh kedua pipinya karna jari Leon memcubit pipinya.
"Baru pertama kali ya cium cowok?" Tanya Leon melepaskan jarinya dari pipi Sandra.
"I..Iya." Jawab Sandra dengan wajah memerah.
"Kalau gitu yang dimobil itu ciuman pertama bukan?" Tanya Leon.
"Bukan."
Eh!bukan gue. Batin Leon mengerutkan keningnya.
"Apa itu Frans?"
"Bukan."
Eh!bukan Frans juga. Maju juga nih cewek. Batin Leon kesal.
"dia siapa?" Tanya Leon menaikan salah satu alisnya.
"Hm...Sandra gak tahu kakak itu siapa . Sandra cuma ingat sekilas wajahnya."
Anak ini!sembarangan biarin bibirnya dicium laki-laki yang gak dikenal. Batin Leon gak terima.
"Waktu itu Sandra masih kecil. Terus Kakak tampan itu bilang aku cantik."
"Terus?!"
"Kakaknha cium Sandra dan ngomong bakal nikahin aku kalau udah gede." Jawab Sandra tersenyum polos pada Leon.
"Lo percaya?" Tanya Leon kesal yang dibalas anggukan kecil dari Sandra.
Tunggu!kenapa gue kesal?Batin Leon.
"Emang ketemu itu cowok pas umur berapa?" Tanya Leon masih dengan nada kesal.
"4 tahun."
"Masih kecil banget dong." Ucap Leon memeluk Sandra dengan senang. Perasaan kesalnya meluap berganti dengan perasaan senang. "Setelah itu udah pernah ketemuan lagi?"
"Enggak."
Gue bisa tebak itu cuma bibir yang sekedar nempel. Batin Leon membayangkan ciuman pertama Sandra.
"Oh.. setelah dia, Lo dicium sama siapa lagi?"
"Kak Leon."
Jadi,gue yang pertama. Bahkan dari Frans gue lebih dulu. Gumam Leon dalam hati disertai senyum diwajahnya. Ia tidak mengerti dengan dirinya sekarang. Mengapa ia merasa senang setelah mengetahui pria yang pertama kali mencium Sandra tidak ada apa-apanya ketimbang ciuman yang ia lakukan pada Sandra.
Kedua juga gak begitu telat. Batin Leon.