Unboxing

Unboxing
41. Belum terlambat



Malam dimana Leon dan Sandra kembali bersama Frans dan Jesika malah sebaliknya. Jesika memutuskan hubungannya dengan Frans yang baru saja tiba didepan apartemen wanita itu setelah kembali mengantar Sandra.


"Jes,buka pintunya!" Teriak Frans sambil mengedor pintu apartemen Jesika setibanya disana. Ia tidak terima Jesika begitu saja mengatakan untuk tidak saling bertemu lagi melalui telpon yang membuat Frans berbalik mempercepat mobilnya kearah apartemen Jesika.


"Jes,gue butuh penjelasan!" Teriaknya ditengah malam yang sunyi. "Lo gak bisa seenaknya begini terhadap gue!" Ucap Frans penuh amarah. sementara Jesika terduduk dibalik pintu sambil mendengar perkataan Frans yang tidak menerima keputusannya untuk mengakhiri perselingkuhan diantara keduanya.


Leon mengetahuinya. Batin Jesika dengan tubuh gemetar meringkuk dibalik pintu. Sikap Leon diperjamuan malam ini menunjukkan bahwa ia sudah mengetahui hubungan diantara dirinya dengan Frans yang mengkhianatinya.


"Kalau Lo gak buka!" Teriak Frans yang masih berdiri diluar. "Gue bakal hancurin pintunya malam ini!" Teriaknya lagi membuat Jesika bangkit berdir dan membukakan pintu itu Frans.


"Mari berhenti Frans." Pinta Jesika yang dibalas dengan Frans yang masuk dan memeluknya dan menggunakan kakinya menutup pintu itu kembali.


Malam itu Jesika terus-terusan mengatakan bahwa Leon telah mengetahuinya. Ia terus meminta Frans untuk mengakhiri hubungan dan pergi meninggalkannya. Namun Frans menolak permintaan Jesika.


"Gue gak peduli meskipun dia tahu." Ucap Frans.


"Tapi gue cinta sama Leon." Ucap Jesika membuat Frans terdiam. "Hanya dia yang gue mau." Ucap Jesika lagi.


Maafin gue Frans. Gue gak mau Leon semakin membenci Lo. Hanya dengan mengatakan ini Lo bakal menganggap gue wanita jahat dan meninggalkan gue. Batin Jesika.


"Cinta?" Tanya Frans dengan nada sinis melihat ke Jesika.


"Hm!" Jesika mengiyakan. "Gue salah. Maka dari itu gue ingin memperbaiki hubungan diantara kami." Memalingkan wajah dari tatapan Frans yang penuh amarah mendengar Jesika masih ingin mengejar cinta Leon.


"Sudah terlambat." Ucap Frans sinis. "Gak ada yang bisa diperbaiki diantara Lo dan dia." Tambahnya lagi membuat air mata Jesika jatuh.


Gue tahu. Batin Jesika mengusap air matanya sebelum terlihat oleh Frans Ucapannya sekarang terdengar terus menghinanya.


"Gue kenal Leon melebih Lo!" Ucap Frans yang kini nadanya terdengar kasar. "Leon gak akan mentolerir sebuah penghianatan. Terlebih jika wanitanya bermain dengan pria lain." Jelas Frans membuat Jesika tertembak dengan kenyataan bahwa ucapan Frans ditujukan terang-terangan kepadanya yang kotor.


"Makasih udah ngingatin gue." Balas Jesika yang kini menoleh melihat Frans dengan air mata yang berlinang di matanya.


Sial! Umpat Frans yang telah dikuasai amarah. Ia baru sadar telah berkata kasar sejak tadi pada wanita dihadapannya.


"Jes gue ga---"


"---Waktu Lo sedikit lagi." Potong Jesika.


Gue gak ada maksud nyakitin Lo. Batin Frans melanjutkan ucapannya yang terpotong dengan perasaan bersalah. Ia tidak bermaksud menyakiti Jesika namun entah mengapa ia merasa kesal.


"Tiga bulan lagi Sandra lulus SMA." Ucap Jesika bangkit berdiri. "Sudah waktunya Lo pergi." Pintanya membuat Frans bangkit berdiri berjalan kearah pintu.


"Jes yang tadi---"


"---Semua yang Lo katakan benar adanya." Potong Jesika mengiringi Frans berjalan keluar dari apartemennya. "Gak ada yang bisa diperbaiki diantara kami." Ucapnya sesampai keduanya dipintu.


"Jes."


"Jangan buang waktu Lo untuk meraih hati Stela dengan bermain sama gue lagi." Ucap Jesika pada Frans yang kini sudah berdiri diluar pintu.


****


Demi menahan Sandra untuk bersamanya seharian Leon kembali merepotkan Gio yang baru saja resmi bekerja dirumah sakit milik kakeknya itu.


"Sudah dok." Jawab perawat itu berdiri didepan pintu ruangan Gio sambil menyandang tasnya sambil melihat jam dipergelangan tangannya menunjukkan pukul 18.00. "Dokter gak lupakan?" Tanya perawat itu membuat Gio yang melepas jas putihnya menoleh ke asal suara.


"Apa masih ada pa---" ucap Gio terputus melihat senyum paksaan diwajah perawat itu . Ia baru ingat bahwa berjanji akan menemani perawat itu melewati malam Minggu bersama sebagai bayaran telah membantunya mengirim surat Sandra.


"---pasien? Kalau gak ada biar kita perginya sekarang." Sambung Gio lagi yang hampir saja melupakan kencan manisnya dengan perawat itu.


Leonnnn!Lo harus membayar ini brengsek! Umpat Gio mengambil kunci mobilnya dan pergi membayar utangnya.


"Hatchim!" Suara Leon bersin membuat Sandra yang baru selesai mencuci piring bekas makan malam mereka di wastafel menoleh kearah Leon.


"Kak Leon sakit?" Tanya Sandra menyusul Leon yang bangkit dari kursinya.


"Enggak!" Jawab Leon merangkul Sandra dan mengecup keningnya. "Malam ini mau keluar gak?" Tanya Leon meraih tangan gadis itu dan berjalan beriringan.


"Kemana?" Balas Sandra balik bertanya.


"Hmmm,belanja ke mall mungkin." Jawab Leon sambil menggaruk pelipisnya. Ia tidak tahu bagaimana cara menyenangkan seorang wanita. Selama pacaran Leon hanya mengikuti kemana wanita-wanita itu menyarankan mereka pergi.


"Belanja apa?" Tanya Sandra yang tidak pernah dibawa kemana-mana oleh keluarganya. Bahkan diusianya sekarang ia gak pernah pergi ke mall. Ia hanya tahu pasar tradisional tempat bi Ema membawanya belanja beraneka bahan masakan. Terakhir Sandra ke mall saat Leon mendandani dirinya untuk perjamuan kemarin malam.


"Apa aja." Jawab Leon membungkukkan badannya. "Buat Lo." Menyentil kening Sandra dengan wajah terlihat bingung.


"Kak Leon aja yang beli." Balas Sandra. "Sandra terima aja." Ucapnya lagi melepas tangan Leon dan berjalan kearah cabinet tempat kembang api berada.


"Gue mana tahu ukuran yang pas dibadan Lo." Ucap Leon. "Kecuali Lo tunjukin ke gue dulu." Goda Leon membuat Sandra menoleh dan mengejek Leon dengan menjulurkan lidahnya pada pria itu.


"Mau gak?! Tanya Leon menyusul Sandra tersenyum nakal.


"Dibanding itu gimana kalau Kak Leon bayar utang dulu." Ucap Sandra yang tiba-tiba menghadang Leon dengan kembang api ditangannya.


"Tapi ini udah---"


"---gak papa." Potong Sandra meraih tangan Leon. "Yuk Kita bakarnya di balkon." Ajak Sandra menarik pria itu ikut dengannya menaiki anak tangga menuju kamar Leon.


"Sandra pelan-pelan." Ucap Leon yang melihat Sandra berlari kesana kemari membuat balkon menjadi tempat mereka untuk menyalakan kembang api.


"Kak cepat si---" panggilan Sandra terputus oleh suara dering panggilan masuk dihape yang sedang Leon pegang saat menghampirinya.


"Halo Jes." Suara Leon mengangkat panggilan yang datang dari Jesika membuat Sandra teringat dimalam dimana hari itu Leon juga pergi karna wanita yang menelponnya sekarang.


Sandra berbalik badan membelakangi Leon yang sedang berbicara dengan pacarnya itu. Ia duduk beralaskan karpet yang tadi ia pasang untuk menjadi tempatnya dan Leon membakar kembang api.


Malam ini aku bakal sendiri lagi. Batin Sandra yang tidak lagi mendengar suara Leon.


Ctak!suara pematik yang mengeluarkan sijago merah yang kebiruan pada ujung kembang api yang dipegang Sandra.


"Kak Leon." Ucap Sandra menoleh pada Leon yang kini duduk merangkulnya dari belakang.


"Belum terlambat kan?" Tanya Leon pada Sandra yang menoleh dengan kembang api ditangannya yang mulai terbakar.


"Belum." Jawab Sandra yang diteruskan dengan bibir Leon yang meraup bibir Sandra ditemani oleh kembang api yang kini memercikkan cahayanya.