
Leon menghabiskan hari-harinya dikantor selama Sandra tinggal dirumah untuk mengikuti ujian nasional. Ia memanfaatkan waktu dengan mencari tahu keberadaan Peri kecilnya.
Tok!tok!tok! Suara ketukan pintu dari luar kantor Leon.
"Masuk!" Panggil Leon membelakangi Simon yang masuk bersama Stela.
"Bos Leon." Panggil Simon mendekat kemeja Leon.
"Iya." Sahut Leon memutar kursinya dan mendapati Stela berdiri dengan rok diatas lutut dan atas yang memperlihatkan belahan dadanya. Ia menyelipkan helaian rambutnya yang terurai kebalik daun telinganya memperlihatkan anting yang panjangnya hampir mengenai bahunya.
"Auristela Winata." Ucap Leon menyilangkan kakinya dengan meletakan kedua tangan dengan jari yang saling bertaut diatas lutut. "Benar?" Tanya Leon menyandarkan punggungnya pada kursi.
"Benar Pak." Jawab Stela yang ingin melompat sesegera mungkin kepangkuan Leon.
Dia tahu nama lengkap gue. Batin Stela kesenangan. Gue yakin ia telah menyingkirkan Jesika dan sekarang waktunya untuk gue meraihnya. Batin Stela yang sejak kemarin sepulang kerja melakukan perawatan khusus.
Simon satu-satunya orang kepercayaan Leon tiba-tiba memanggilnya kekantor. Ia meminta Stela agara membawa seluruh laporan proyek yang handle ke pada Leon.
"Maksudnya Leon manggil gue?" Tanya Stela melupakan posisinya sesaat. "Maaf Pak Simon." Ucapnya meralat kembali.
"Jangan lupa membawa apa yang sudah saya sebutkan besok pagi." Perintah Simon menjentikkan jarinya menyuruh Stela keluar.
Aihhh dia bukan seperti selera Bos. Batin Simon melihat Stela yang masih tenggelam dengan imajinasi liarnya bersama Leon yang dari tadi memanggilnya.
"Nona Stela apa anda kurang sehat?" Tanya Simon sambil menepuk bahu Stela yang sejak tadi melamun dengan tatapan kosong melihat kearah Leon yang sedikitpun tak merasakan ketertarikan pada Auristela.
"Saya sehat kok." Jawab Stela.
"Ah,Saya pikir pendengaran nona bermasalah." Cibir Simon yang mendapat pelototan dari Leon.
"Saya siap melayani Leon,Eh bukan maksud saya Pak Leon." Ucapnya melihat Leon dengan tatapan menggoda.
"Untuk Proyek yang kamu tangani apa sudah beres?" Tanya Leon. "Apa ada yang over budget atau yang lainnya?" Tanya Leon meraih iPadnya.
"Untuk saat ini proyek yang saya handle tinggal menunggu data beberapa spk yang belum dicleansing dari divisi Projek control." Ucap Stela menjelaskan.
Setengah jam Leon hanya membahas terkait proyek yang ditangani oleh Stela. Ia tak membahas apapun selain mengenai pekerjaan. Leon memperhatikan cara kinerjanya Stela yang amat baik. Namun, Stela tidak seperti peri kecil yang ada dalam ingatan Leon.
"Ahh ini data yang lain Pak." Ucap Stela berdiri disebelah Leon.
Simon yang meninggalkan keduanya membuat Stela mencari kesempatan menarik perhatian Leon menggunakan tubuhnya.
Brakk! Suara dokumen di meja Leon yang sengaja Stela jatuhkan disebelah kursi Leon tempat dia berdiri sejak tadi.
"Maaf Pak!" Ucap Stela yang menunduk memungut dokumen itu dengan memperlihatkan belahan dadanya kearah Leon yang kini dengan sangat terlihat jelas.
Bukan hanya itu Stela juga membuatnya pura-pura tersandung hingga membuat tubuhnya jatuh pada Leon.
"Maaf Leon. Eh, maksud saya Pak Leon." Ucap Stela yang belum menarik dirinya dari tubuh Leon. Sebaliknya ia malah menggesek kan dua gundukannya itu pada Leon.
Stela tahu bahwa Leon suka bermain dengan wanita yang menggodanya di ruangan ini. Ia bertidak bukan dengan tanpa informasi yang sudah dikumpulkannya.
"Leonn." Desis Stela ditelinga Leon saat dirinya bangkit dari tubuh Leon. "Apa mau melakukannya disini?" Tanya Stela yang duduk diantara satu paha Leon. Ia menjepit Paha Leon dengan kedua pahanya dan menggesekan pusat tubuhnya pada Pria itu.
Tak perlu diperiksa lebih lanjut lagi. Sudah jelas dia peri kecil yang palsu. Batin Leon tetap membiarkan Stela menggeseknya.
****
Sudah setengah jam Jesika bimbang dengan keinginannya untuk menemui Leon. Terlagi-lagi ia melihat Simon pergi bersama Stela. Tidak perlu dicari tahu Simon pasti pergi mengantar Stela kekantor Leon.
"Untuk apa?" Tanya Jesika yang melihat layar monitornya. "Selama ini kinerja Stela sangat baik." Ucap Jesika mengklik mousenya mempertimbangkan kecurigaannya terhadap hubungan Leon dan Stela.
Gue harus pastiin sendiri. Batin Jesik bangkit dar kursinya keluar dari ruangan.
"Jes!" Panggil salah satu rekannya ketika menemui Jesika berdiri membuka sedikit pintu ruangan Simon. "Hayo!ngapain lu?" Tepuk Mona sicewek kepo plus asisten kedua Leon.
"Mona." Desis Jesika menempelkan telunjuknya pada mulut Mona yang membuat Simon menyadari keberadaan mereka.
"Lu suka Simon yaa?" Ejek Mona menyenggol bahu Jesika menggodanya.
"Apaansih?!" Sangkal Jesika melihat Simon ada didalam.
"Yeee!!kalo gak suka ngapain Lo ngintelin Simon." Ejek Mona.
"Gue bukan ngintelin Simon." Ucap Jesika menarik kembali pintu.
"Terus ngintelin siapa?" Tanya Mona. "Diruangan cuma ada die doang." Ucap Mona memberitahu.
Jadi mereka udah kembali dari ruangan Leon. Batin Jesika yang melamun.
"Mikirin apa sih Lo?" Tanya Mona.
"Gue lagi nyari Stela." Jawab Jesika.
"Stela si cewek bermuka dua itu." Cibir Mona.
"Muka dua gimana?" Tanya Jesika yang tidak tahu apa-apa. Ia hanya tahu Stela karyawan terbaik sedivisinya.
"Hei cintahhhku!" Panggil Mona merangkul Jesika dan menariknya menjauh dari depan ruangan Simon. Mona tahu Simon pasti sudah berdiri dibalik pintu menguping pembicaraan keduanya. "Jangan terlalu dekat dengan Stela." Mona memperingati Jesika yang selama ini berteman baik dengan Stela.
"Lo irikan sama Stela." Ucap Jesika. "Gak boleh begitu."
"Dasar elo gak bisa dibilangin." Cebik Mona. "Entar kalo dah berasa jangan lupa kabari gue ya." Ucap Mona meninggalkan Jesika masuk ke lift.
Cantika,Priska,Galuh,Lona,Kenza,Sofia, Laura,Jesika,Jesika,Jesika hmmm.Batin Mona menyebutkan wanita-wanita yang keluar dari kantor Leon diatas pukul 23.00.
"Apa malam ini gue bakal melihat Stela keluar dari sarang itu dengan sempoyongan." Ucap Mona Asisten yang juga sebenarnya terpesona dengan Leon. Namun apa daya ia tidak ingin Bosnya merasa jijik dan menendangnya dari posisinya sekarang.
Aih!setidaknya Gue tetap bisa memandang Bos Leon. Batin Mona keluar dari lift menemui klien Leon yang sudah menunggunya di lobby.
"Stela!" Panggil Jesika masuk keruang loker karyawati. "Stel!!" Panggilnya lagi membuka ruang istirahat bersamaan dengan suara dering hapenya berbunyi.
"Frans?" Ucap Jesika melihat panggilan masuk dari Frans dan langsung menerima panggilannya.
"Halo Frans." Ucap Jesika. "Lo lagi sama Stela gak?" Tanya Jesika begitu saja.
"Stela?!" Sahut Frans senang dan bercampur bingung. Ia senang karna akhirnya Jesika menerima panggilannya. Bingung karna Jesika malah menanyakan keberadaan Stela yang jelas-jelas ini masih jam kantor.
"Iya." Jawab Jesika keluar dari ruang istirahat dan pergi menuju lift. "Gue nanya Stela." Sambungnya masuk kedalam lift dan memencet tombol 32.
"Ini masih pagi Jes." Ucap Frans. "Gimana ceritanya Stela lagi sama gue." Tambah Frans melihat jarum jam ditangannya menunjukkan pukul 10.00.
"Benarkah." Ucap Jesika melihat pintu lift terbuka. "Kalau begitu gue lanjut kerja dulu." Berjalan kearah ruangan dengan melewati meja resepsionis Wakil Direktur. "Bye." Tutup Jesika mendorong pintu ruang wakil Direktur.
"Le---." Ucapan Jesika terputus menyaksikan Stela membelakanginya duduk dipaha Leon sambil melingkarkan kedua tangannya dipundak Leon. "---Maaf Pak!" Sambungnya membuat Stela menoleh kearah Jesika yang berdiri dengan menurunkan tangannya dari telinganya.
Jadi wanita yang bersamanya itu Stela. Batin Jesika dengan mata keduanya saling bertemu satu sama lain.
Oh No! Umpat Stela dalam hati.