
Frans meneguk wine digelasnya dengan pandangan melihat ke Stela yang duduk bersebrangan didepannya. Fandi dan Feny mengajak Frans menikmati malam natal bersama keluarga Adit mengingat perjodohan diantara Frans dan Sandra sudah setengah tahun berjalan. Namun, sejak mereka datang hingga makan malam hampir selesai Frans tidak melihat keberadaan Sandra disana.
"Sandra kemana Om?" Tanya Frans meletakkan gelasnya.
"Oh Sandra pergi berlibur ke rumah teman sekelasnya didesa." Jawab Adit.
Temannya yang mana? Batin Frans yang mengetahui kalau Sandra tak memiliki teman dekat. Ia tak pernah melihat Sandra disekolah ketika sesekali dirinya menjemput Sandra.
Kenapa gue ngerasa tuh anak ngehindarin gue ya? Tapi gara-gara apa. Batin Frans lagi. Ia merasa ada yang aneh dengan sikap Sandra terakhir kali padannya. Tidak biasannya gadis yang sudah ia anggap seperti adik itu meminta supirnya menjemput dari kediaman mereka sebelumnya. Bagaimanapun sibuknya Frans tidak pernah sekalipun Sandra menelpon supirnya untuk menjemput. Sandra akan menunggu untuk diantar pulang dimanapun itu dan dengan wanita manapun yang sedang bersama mereka.
"Frans." Panggil Feny mengusap bahu Frans. Sejak tadi yang melihat putranya itu melamun."Kamu lagi mikirin apa?" Tanya Feny membuat Frans menoleh.
"Gak ada mah."
"Stela tadi nanyain hubungan kamu sama Sandra. Kamunya malah melamun." Ujar Fandi.
"Jadi gimana?" Tanya Stela melihat Frans.
"Kita baik-baik aja kok." Jawab Frans. "Mengenai perasaan kita masih punya waktu enam bulan lagi." Ujar Frans melihat ke Stela dengan menaikkan salah satu alisnya.
"Berarti gak ada yang perlu dikhawatirkan dong ya mengenai perjodohan ini." Ujar Adit. Ia senang setidaknya Sandra akan mendapatkan kasih sayang yang penuh dari Frans kelak menggantikan dirinya dan Rosa.
Setelah makan kedua keluarga mengobrol panjang lebar diruang tamu. Sementara itu Frans meninggalkan ruangan dan pergi berjalan kearah pohon natal yang ada dipinggir kolam renang sambil berbicara dihape.
"Jadi Lo lagi gak bareng Leon." Ucap Frans pada Jesika yang berbicara dengannya lewat sambungan hape.
"Iya. Gue yang minta sih. Soalnya suster dipanti ngajak gue ngerayain natal disana sama adik-adik yang lain." Jawab Jesika.
"Tau gitu gue mending nemanin Lo disana. Bosan banget gue disini." Ujar Frans melangkahkan kakinya pelan-pelan disekitar kolam.
"Emang Lo lagi dimana?"
"Dirumah calon mertua gue." Jawab Frans.
"Kenapa bisa bosan 'kan ada Sandra disana." Celetuk Jesika.
"Sandra gak ada dirumah makanya gue bosan banget. Gak ada yang bisa diajak bercanda." Ucap Frans membuat Jesika mengernyit.
Aneh banget dihari natal begini malah dia gak ada dirumahnya Batin Jesika. Ia duduk dipekarangan Panti disamping pohon Cemara yang gemerlap dengan cahaya lampu menerima panggilan Frans.
"Jes, masih hidupkan Lo?" Tanya Frans dari sambungan telepon yang masih terhubung memecah lamunannya.
"Masih."
"Gimana disana?" Tanya Frans.
"Ehmm Anak-anak baru pada mau main kembang api di halaman." Jawab Jesika melihat adik-adiknya berhamburan keluar pekarangan.
"Lo gak ikutan?" Tanya Frans yang sekarang merebahkan tubuhnya dikursi kayu minimalis landai yang ada ditepian kolam renang.
"Gue nonton aja." Jawab Jesika melihat anak-anak tertawa riang dengan kembang api ditangannya.
"Pulang jam berapa?" Tanya Frans. "Gue jemput ya?" Tawarnya pada Jesika yang tertegun mendengar suara pria itu yang terburu-buru.
"Bu---"
"----Kirim alamatnya biar gue kesana." Potong Frans yang tak memberi peluang wanita itu menolaknya.
"Tapi--." Ucap Jesika.
"---Gue gak semobil sama bokap-nyokap." Ucap Frans melihat Stela berjalan kearahnya. "Ada Stela. Gue tutup ya." Menutup telpon dengan cepat.
"Habis telponan sama siapa?" Tanya Stela duduk di kursi sebelah Frans.
****
Sejauh ini Frans menjadi tidak mengerti jalan pemikiran Stela. Stela berubah menjadi orang yang tidak ia kenal dan merasa ada sesuatu yang Stela sembunyikan hingga membuat wanita yang ia inginkan itu berubah.
Stela tahu ia menyukainya tapi apa yang wanita itu lakukan padanya. Stela malah mengubah perjodohan yang mereka sepakati bersama. Wanita itu menukarkan dirinya dengan adiknya Sandra untuk dirinya.
Namun,hal itu tidak membuat Frans menyerah. Ia tetap berusaha memenangkan hati Stela kembali dengan menemuinya diluar. Tapi apa yang wanita itu kembali lakukan. Stela malah mendorong Jesika kekasih sahabatnya itu untuknya.
"Gue pikir Lo gak bakalan jadi datang." Ujar Jesika melihat Frans yang menyetir disebelahnya.
"Kenapa Lo mikirnya begitu?" Tanya Frans fokus melihat kedepan.
"Wanita yang Lo cintai bukannya ada disana." Jawab Jesika menyandarkan punggungnya."Memenangkan hati Stela adalah prioritas utama Frans." Ledeknya pada Frans.
"Kelihatan banget ya?" Tanya Frans melirik sebentar ke Jesika lalu kembali fokus ke jalanan.
"Ya... Sanking kelihatannya Lo buat banyak wanita pada iri." Jawab Jesika tersenyum.
Sebelum Stela memperkenalkan Frans pada Jesika secara pribadi. Jesika sering melihat Frans menemui Stela dijam-jam istirahat dikantor. Frans kerap menemani Stela berpergian dan juga mengirimkan bunga setiap pagi dimeja kerja Stela. Sikap Frans kerap membuat wanita-wanita ditempat kerja mereka cemburu pada Stela. Mereka ingin ada pria seperti Frans yang melakukan itu pada mereka.
"Gimana dengan Lo?" Tanya Frans melihat ke Jesika yang mengarahkan pandangannya ke jendela mobil.
"Eh?!" Sahut wanita itu tersadar dari lamunannya.
"Apa Lo iri juga?" Tanya Frans kembali. Fokus ke jalanan.
"Iya gue iri." Jawab Jesika mengingat Leon yang dingin tak pernah sekalipun melakukan itu padanya. "Tapi gue gak nyangka loh kalau Lo sebucin itu sama Stela hehe.. ." Sambungnya lagi melihat ke Frans.
"Ngejek Lo!" Ucap Frans.
"Bukan ngejek. Kenyataannya emang begitukan." Ucap Jesika. "Kadang gue ngerasa lucu juga."
"Tuhkan ngejek lagi lu!" Celetuk Frans melipat bibirnya menahan senyum membuat Jesika tak bisa melepas pandangannya pada Frans yang sangat begitu menyukai Stela.
"Lucu aja lihat cowok yang suka tidur dengan banyak cewek ternyata bisa sebucin itu sama satu cewek." Ucap Jesika meledek masih melihat wajah penuh cinta diwajah Frans.
"Ejek aja terus." Sahut Frans membelok ke gedung apartemen. Frans melipat bibirnya menahan diri ikut tertawa melihat Jesika yang sekarang menertawainya.
"Selamat Natal." Ucap Jesika sebelum keluar dari mobil.
"Selamat Natal juga,Jes." Sahut Frans menarik tangan wanita itu dan meninggalkan kecupan dikening Jesika.
"Lo apa-apaan sih!" Melipat bibirnya.
"Lo gak suka!Hm?"
"Dahlah!" Sahut Jesika keluar dari mobil.
"Kalo gak mau biar gue ambil balik." Goda Frans pada Jesika yang berjalan kebalik mobil dan berdiri di depan Frans yang menurunkan kaca mobilnya.
"Dasar bucin!" Ledek Jesika menundukkan sedikit tubuhnya mendekat ke wajah Frans.
"Apa ada yang ketinggalan?" Tanya Frans.
"Bucin makasih."
"Apaan?" Tanya Frans.
"Kado natalnya." Menunjuk kening yang tadi Frans kecup sembari menarik tubuhnya menjauh. "Bye!" Melambaikan tangannya pergi meninggalkan Frans.