Unboxing

Unboxing
11. Menginginkan Kamu



Leon menggendongnya masuk dan mendudukkannya disofa. Isakan tangis Sandra masih berlanjut tanpa henti membuat Leon mendekapnya hingga air mata itu membasahi bajunya.


Dalam pelukan Leon gadis 18 tahun itu menangis tersedu-sedu seperti anak kecil. Sandra meluapkan semua kesedihan yang ia alami dalam pelukan Leon. Kasih sayang dari kedua orangtuanya dirampas oleh Stela. Entah kapan terakhir kali ada orang yang mendekapnya seperti yang dilakukan Leon saat ini.


Pria dingin yang sama sekali tidak ada hubungan apapun dengannya bisa memberikan pelukan yang ia rindukan. Sandra bisa merasakan kepedulian Pria yang dinilai Adit tidak baik itu untuk Stela.


"San,udah dong nangisnya." Masih memeluk Sandra. "Gue minta maaf udah kasar sama Lo." mengusap punggung Sandra agar tidak menangis lagi.


"Jangan nangis lagi." Pinta Leon mengusap air mata yang terus jatuh kepipi Sandra. "Mata Lo udah bengkak nih." Menangkap sisi wajah Sandra melihat hidung dan mata yang memerah.


Bujukan Leon yang sederahan itupun membuat Sandra semakin tersentuh hingga air mata itu terus mengalir meski tanpa suara isakan lagi.


"Gue antar pulang ya?" Tanya Leon yang dibalas gelengan kepala dari Sandra. Ia memikirkan tidak ada gunanya pulang kerumah yang tak seorang pun mengkhawatirkannya seperti yang ia dapatkan dari Leon saat ini.


"Lo mau disini." Menarik tissue. "Atau gue antar ke apartemen Frans?" Tanya Leon melap air mata Sandra.


"Disini." Jawab Sandra dengan nada bergetar bersamaan dengan Air matanya yang jatuh lagi. Meskipun Leon bukanlah siapa-siapa baginya begitu juga dengan sebaliknya. Namun ia bisa mendapatkan apa yang ia rindukan selama ini.


"Ya udah tapi jangan nangis." Sahut Leon memeluk Sandra kembali. "Kalau nangis gue antar Lo ke apartemen Frans." melepas pelukannya lalu pelan-pelan Leon melepaskan sepatu Sandra satu persatu.


"Sekarang Lo mandi dan ganti baju." Bangkit berdiri menggendong Sandra ke kamar yang sering ditempati Jesika. Ia gak tega harus membiarkan Sandra berjalan sambil nyeret-nyeret kakinya.


Sampai didalam Leon mendudukan Sandra ditepian ranjang. Ia kemudian beranjak diri dan berjalan ke walk in wardrobe dan memilah-milah baju tidur yang tergantung disana. Tak berapa lama kemudia Pria itu mengambil sepasang piyama.


"Lo pakai yang ini." Ucapnya meletakkan piyama disamping Sandra. "Kalau untuk hm." Mendekatkan wajahnya ke Sandra dan melirik sebentar kedada gadis itu kemudian berbalik meliha padanya.


"Aku ambil sendiri." Jawab Sandra menangkap lirikan nakal yang membuat Leon melipat bibirnya.


Leon sengaja menggoda Sandra agar gadis itu meresponnya dengan suara bukan anggukan ataupun gelengan kepala.


"Lo takut gue tahu ukurannya ya."Goda Leon pada Sandra dengan wajah memerah menahan malu.


"Apaan sih kak." Decak Sandra.


"Gitu dong." Mencubit lembut pipi Sandra. Kalau gue ngomong disahutin. Batin Leon.


"Jangan keramas ya." Mengusap rambut Sandra lembut membuat gadis kecil itu tersanjung dengan cara Leon mengingatkannya. "Kalau gue dengar Lo nangis dikamar mandi." Masih mengusap kepala Sandra. "Gue langsung terobos masuk." Menarik hidung Sandra. "Dan gue tuh gak bisa nganggurin cewek telanjang." Ucap Leon memperingatinya sekaligus menggodanya. Ia tak ingin gadis lemah dihadapannya ini kehilangan kewaspadaannya.


"Lo tahu kan maksud gue." Bangkit berdiri sambil mengacak rambut Sandra. "Gue tinggal ya." Ucap Leon melangkah kepintu . "Mandinya jangan kelamaan entar masuk angin." pergi menutup pintu.


Sandra yang menyadari maksud Leon langsung berlari mengunci pintu. Ia tak boleh kehilangan kewaspadaan dari sanjungan yang Leon berikan padanya.


****


Beberapa menit setelah itu Sandra keluar kamar dengan piyama pilihan Leon. Ia melangkah ke dapur dan mendapati pria itu sudah menunggunya di meja makan.


"Duduk disini." Ucap Leon meraih pinggang Sandra. "Gue cuma tau masak ini doang." Menujuk nasi goreng dengan telor ceplok diatasnya.


Leon mengangkat Sandra duduk di pangkuannya membuat pipi gadis itu merona. Bagaimanapun Leon adalah pria dewasa dan Sandra menyadari dirinya bukan lah anak balita. Duduk dipaha pria dewasa yang usianya 10 tahun lebih tua darinya itu membuat jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.


"Gue gak tau ini cocokdi lidah lo atau enggak." Menyuap nasi goreng itu kemulut Sandra.


Leon sendiri juga bingung dengan dirinya yang sekarang. Namun daripada bingung memikirkan kelakuannya sekarang ia lebih memilih bagaimana agar gadis dipangkuannya itu merasa nyaman dan tidak menangis lagi.


Melihat Sandra menangis tanpa henti membuatnya frustasi dilanda rasa bersalah.


"Enak gak?" Tanya Leon yang dari tadi memperhatikan bibir Sandra menikmati setiap suapannya. "Enak." Balas Sandra menikmati perlakuan manis Leon padanya.


"Yang enak itu nasi gorengnya atau duduk dipangkuan gue?" Tanya Leon membuat bibir Sandra berhenti mengunyah. Ia terlalu menikmati perlakuan Leon sampai lupa pria itu memperhatikannya.


"Dua-duannya."balas Sandra mengambil gelas mengalihkan perhatian Leon padanya.


"Lain kali Lo yang lakuin ini ke gue ya." Membantu Sandra memegangi gelas meneguk air putih kemulutnya.


"Kakak mau aku suap sambil dipangku juga." Ucap Sandra seusai minum sembari meletakkan gelasnya kembali.


"Gimana kalau diganti sama yang lain?" Tanya Leon melap bibir Sandra dengan tissue.


"Diganti apa?" Tanya Sandra.


"Tidur bareng gue." Bisik Leon beranjak berdiri sambil menggendong Sandra.


"Kita mau kemana kak?" Tanya Sandra melingkarkan tangannya dipundak Leon.


"Kamar guelah." Melangkah berjalan. "Ini udah jam sepuluh." Melihat ke jam.


Sampai dikamar Leon membaringkan Sandra diranjang. Lalu membuka kemejanya sambil berjalan ke walk in closet. Selang kemudian Leon datang dengan piyamanya dan juga kotak P3K ditangannya. Ia naik ke ranjang duduk bersila sejajar dengan lutut Sandra.


"Kalau sakit kenapa maksa datang." mengolesi obat ke lutut Sandra yang lecet. Akhirnya Leon mengatakan yang sebenarnya ingin ia katakan sejak dirinya membawa masuk Sandra ke apartemennya. Namun, membuatnya enggan untuk mengatakannya dan hanya memikirkan cara untuk menghentikan air mata Sandra.


Sandra bangkit untuk duduk sementara Leon mengolesi luka dilututnya. Ia memperhatikan Leon mengolesi obat di lututnya dengan air mata yang kembali membendung.


Bukan karna lututnya yang sakit melainkan dirinya terharu akan perlakuan Leon padanya.


"Kak.."panggil Sandra. "Hmm?" Sahut Leon menyudahi mengoles obat dan menjauhkan Kotak P3K dibawah ranjang.


"Kenapa?" Tanya Leon melihat ke Sandra yang wajahnya kini berhamburan air mata tanpa suara isakan. "Sakit ya?" Tanya Leon menghembus lutut yang sudah diolesi obat olehnya. Leon mengira air mata itu jatuh karna menahan sakit.


"Gak sakit lagi kok kak." Ucap Sandra membuat Leon menarik tubuhnya dan duduk tegap menatap Sandra.


"Kalau gak sakit kenapa kamu nangis?"Mengusap air mata Sandra. "Jangan nangis lagi San nanti kepalanya pusing." Menarik Sandra dalam pelukannya. Sandra membalas pelukan itu dengan melingkarkan tangannya pada Leon.


Sandra tersanjung dengan apa yang dilakukan Leon padanya. Ia tak menyangka akan mendapat perhatian dan kepedulian dari Pria yang baru ia kenal.


"Kak Leon." mendongak.


"Ya?!"


Aku menginginkanmu. Batin Sandra. ia mendunduk mendekap wajahnya pada dada bidang itu.