Unboxing

Unboxing
102. Aku Goyah!



"Biarin." Ucap Leon menghalangi Sandra yang hendak ikut menyusul Gio yang mengejar Stela.


"Kak Stela pasti terpukul banget." Ucap Sandra.


"Dia bakal semakin terpukul banget kalau Lo nyamperin dia sekarang." Balas Leon menarik tangan Sandra membawanya masuk kembali ke Toko sekaligus memberikan kode pada Simon agar segera pergi meninggalkan mereka.


Sementara Gio menangkap tangan Stela untuk menghentikan langkahnya. Ia menarik wanita itu masuk kepelukannya. Stela pun meluapkan tangisannya dalam dekapan Gio. Ia menangis sejadi-jadinnya sambil menyembunyikan matanya yang berurai air mata tanpa henti.


Satu jam berlalu Gio menatap Stela yang berdiam diri bersandar didalam mobil. Kedua mata sembabnya menatap kosong keluar.


"Apa ada yang lain?" Tanya Stela tanpa menoleh ke Gio yang kini menyandarkan dirinya dipunggung jok mobil.


"Untuk hari cukup itu aja dulu." Jawab Gio menyalakan mobilnya.


"Gue mau dengar sekarang." Sahut Stela melihat ke Gio yang kini memutar setirnya membawa Stela pergi dengannya.


"Kita cari makan dulu." Ucap Gio tak mempedulikan perkataan Stela yang memintanya menceritakan yang ia ketahui.


"Gue gak lapar." Sahut Stela.


"Gue tahu." Balas Gio fokus melihat kejalan. "Tapi Gue lapar." Sambungnya melirik sebentar ke Stela yang menatapnya. "Gue butuh tenaga untuk menceritakannya bukan?" Ucap Gio kembali melihat kejalan disertai senyum dikedua sudut bibirnya.


Di waktu bersamaan Adit dan Rosa di salah satu restoran yang terletak dipusat kota.


"Rosa disini." Panggil Feny yang tiba-tiba berdiri dari meja yang berhadapan dengan air mancur.


"Pah, mereka disana." Tarik Rosa pada lengan Adit yang ia rangkul sejak tiba disana.


"Fandy gak ikut?" Tanya Adit yang duduk di meja yang telah dipesan oleh keluarga Wardana itu untuk mereka.


"Ada." Sahut Feny sambil menjentikkan jarinya memanggil pelayan restoran. "Kalian pesan aja dulu." Ucap Feny sembari dibantu pelayan yang datang menunggu catatan pemesanan dari Adit.


Sepuluh puluh menit kemudian pesanan datang bersamaan dengan Fandy. Keempatnya menikmati hidangan disertai senda gurau. Demikian juga dengan Jesika dan teman kuliahnya yang berselang satu meja dengan dua keluarga itu. Jesika dan temannya saling melempar candaan sambil menunggu pesanan datang.


"Eh,Bukannya itu papa mama Fransroso." Celetuk salah satu teman Jesika yang berpangku tangan menoleh ke Adit,Ros,Feny dan Fandy yang sedang bersulang di depannya.


"Mana?" Tanya yang lain membuat Jesika ikut menoleh kebelakang.


"Tau dari mana Lo itu bokap nyokapnya?" Tanya yang lain.


"Lo lupa kalau gue pernah kerja di hotel milik Wardana." Balasnya sambil menyomot pesanan mereka yang sudah diletakkan pelayan di meja. "Lo tahu putra mereka yang bernama Fransroso?" Tanyanya pada yang lain sambil menikmati makanan dihadapan mereka. Sementara Jesika masih terpaku melihat ke meja dibelakangnya. Meja dimana kedua keluarga itu sedang membahas tanggal pernikahan Frans dan Sandra.


"Rosa bukankah ini terlalu mendesak jika kita mengadakan pernikahan Minggu depan." Ucap Fandy yang merasa ada sesuatu yang membuat Rosa mempercepat pernikahan.


"Mendesak apanya sih fan?" Balas Feny yang begitu menantikan pernikahan putranya dengan Sandra. Ia tak ingin melihat putranya itu menghabiskan waktu untuk bergonta-ganti wanita.


"Aku juga sependapat dengan Fandy." Ucap Adit melihat ke Rosa dan dari bawah ia meraih tangan istrinya itu. "Kita bahkan belum menanyakan hal ini pada anak-anak." Tambahnya menggengam tangan Rosa. Ia merasakan ada sesuatu yang disembunyikan Rosa darinya.


****


Dengan wajah yang ditekuk kebawah Jesika berjalan menyusuri pedestrian seorang diri sambil menikmati lampu-lampu yang mulai menyala. Pikirannya dipenuhi oleh pernikahan Frans dan Sandra sejak ia dan teman-temannya meninggalkan restoran.


Fyuh! Hela nafasnya sambil menegakkan pandangannya ke depan. Ia mendongak ke langit yang telah berubah menjadi gelap. Lalu menurunkan pandangan itu pada pedestrian yang kini di isi oleh lalu lalang sepasang kekasih.


"Gue gak mau pulang." Ucap Stela menahan Gio dengan menggapai tangan pria itu saat keduanya keluar dari salah satu cafe yang ada di depan pedestrian tempat Jesika berdiri.


"Siapa pria yang bersamanya?" Tanya Jesika mundur kebelakang tonggak lampu sambil menilik Gio yang kini berbalik badan melihat ke Stela.


Gio. Batin Jesika melihat Gio yang kini berbalik menggenggam tangan Stela dan membawanya pergi kearah yang berlawanan dengannya.


"Iya." Sahut Gio membuka pintu mobil untuk Stela. "Masuk." Perintah Gio menarik Stela masuk kedalam mobil dilanjut dengan Gio yang mempercepat langkahnya ikut masuk.


"Mereka mau kemana?" Tanya Jesika yang diam-diam mengikuti keduannya dari belakang. Ia melihat Gio pergi membawa Stela dengan wajah yang ditekuk.


"Siapa?" Tanya suara yang menyahut pertanyaan Jesika dari belakang.


"Eh?!" Balas Jesika menoleh kebelakang dan mendapati Frans berdiri disana mencari sesuatu yang ia lihat sebelumnya. "Elo." Ucap Jesika.


"Kenapa?" Tanyanya menangkup wajah Jesika. "Lo terkejut." Menatap mata Jesika.


"Sedikit." Jawabnya melepas tangan Frans dari wajahnya.


"Teman-teman Lo dimana?" Tanya Frans yang sebelumnya telah mengetahui bahwa kekasihnya itu akan menghabiskan weekend bersama teman kuliahnya.


"Udah pulang." Jawab Jesika berjalan diikuti oleh Frans yang juga berjalan disampingnya.


"Bukannya Lo bilang bakal sampai malam." Ucap Frans melihat raut wajah Jesika yang seperti terganggu terhadap sesuatu.


"Ya." Sahut Jesika yang menolak untuk ikut karokean dengan teman-temannya. Sejak mendengar pembicaraan Rosa yang mendesak keluarga Frans untuk segera mengadakan pernikahan membuat moodnya buruk.


"Lalu kenapa Lo disini sendirian?" Tanya Frans menangkup kedua pundak Jesika yang kemudia memutar tubuh itu berbalik menghadap padanya.


Kenapa dia tiba-tiba ada disini? Apa dia ditelpon keluarganya untuk datang menetapkan tanggal?. Tanya Jesika dalam hati tanpa menghiraukan suara Frans yang memanggilnya dalam lamunan.


"Jesika!" Panggil Frans untuk kesekian kalinya sambil mengguncang tubuh Jesika.


"Ya?" Sahut Jesika terbangun dari lamunannya.


"Apa Lo masih mikirin Leon?" Tanya Frans.


"Lo masih cem---"


"---Iya." Potong Frans menarik Jesika masuk kedalam pelukannya dibawah terangnya lampu pedestrian dan lalu lalang orang. "Gue dengan banyak wanita yang senang melihat pacarnya cemburu." Ucapnya mengeratkan pelukannya sambil menyeruak masuk mengendus leher Jesika.


"Fen kenapa bengong?" Tanya Fandy yang melihat istrinya yang tertinggal jauh dari ia, Adit dan Rosa. "Lihat apa sih?" Tanya Fandy yang kini ikut terbengong melihat Frans memeluk Jesika di depan orang yang berlalu lalang.


"Gue yakin Lo juga suka itu." Lanjut Frans yang masih memeluk Jesika.


Benar! Aku menyukainya. Perasaan yang Aku dambakan dari Leon dulunya. Kini Aku dapatkan dari pria ini. Satu persatu yang aku impikan saat menjalin hubungan kuperoleh darinya. Namun Aku sudah berjanji pada diriku untuk tidak goyah. Batin Jesika menarik tubuhnya dari pelukan untuk melihat wajah pria dihadapannya.


"Disini ramai." Ucap Jesika. "Lo gak malu apa!" Cibirnya.


"Enggak." Sahut Frans yang kini hanya melingkarkan tangannya dipinggang Jesika.


Aku takut hati ini akan patah lagi. Batin Jesika menatap dalam Frans.


"Gue malah bangga." Lanjut Frans membalas tatapan Jesika.


"Bangga?" Tanya Jesika.


"Hm,Gue bangga milikin Lo!"


Hati maafkan Aku!. Batin Jesika berjinjit menangkup wajah Frans. Aku goyah! Batin Jesika menempelkan bibirnya pada bibir Frans.


🍁🍁🍁


Berikan Vote,Like dan Coment untuk dukung Author update yaaa cintahhh❤️❤️❤️❤️❤️