
Entah sudah berapa kali Leon menghubungi Sandra namun tak kunjung diangkat. Begitu juga dengan Frans yang menghubungi Jesika sambil menikmati Vodka dengan suara dentuman musik dan lighting yang membuat kepala pusing. Sementara Gio berjalan menerobos orang-orang meliuk-likukan tubuhnya dengan musik yang membuat detak jantung berdetak cepat.
"Leon!" Teriak Gio melihat sahabatnya itu berdiri atas dengan tatapan dingin. Frans yang duduk dibar ditemani barista cantik mendengar teriakan dan menoleh.
"Gio." Ucapnya melihat Gio melambaikan tangan diantara kerumunan manusia. Ia melambaikan tangan kearah Leon yang berdiri melihat padanya.
"Dia disini juga." Gumam Frans yang saling melihat satu sama lain.
"Woi!" Seru Gio menepuk pundak Leon. "Lihat apaan Lo?!" Tanya Gio mencari apa yang Leon lihat. "Woi Frans." Teriak Gio yang mendapati ternyata Frans lah yang Leon lihat.
Setengah jam kemudian ketiganya berkumpul diruang VVIP yang ditemani oleh minuman tanpa bunny.
"Oh iya!" Tepuk Gio pada Leon yang dari tadi hanya menggoyang-goyangkan gelasnya tanpa meminum sedikit pun. "Gue tanya nyokap mengenai data pasien yang masuk malam itu." Ucap Gio membuat Leon da Frans kompak melirik Gio.
"Nyokap Lo?" Tanya Leon mengernyit. "Bukannya itu rumah sakit Kakak Lo." Ucapnya lagi membuat Frans menyandarkan punggungnya menyimak apa yang sedang kedua sahabatnya bicarakan.
"Iya. Emang itu Rumah sakit kakek." Jawab Gio meletakkan gelasnya. "Tapi saat itu Mama yang ada disana." Tambah Gio. "Dan dihari itu gue juga ada disana." Ucap Gio yang kembali mengingat malam dimana dirinya melihat Nyokapnya buru-buru meninggalkannya diruangan karna ada korban kecelakaan yang baru saja tiba.
"Berarti Nyokap Lo tahu tentang keluarga Ansel Winata." Ucap Leon menatap tajam Gio.
"Ansel Winata?" Tanya Frans yang merasa familiar dengan nama belakang Winata.
"Lo tahu sesuatu?" Tanya Leon dan Gio kompak membuat Leon yang tanpa sadar melupakan perang dingin diantara dia dengan Frans.
"Bukan." Jawab Frans. "Gue cuma ngerasa nama belakangnya mirip dengan nama orang yang gue kenal." Jelas Frans mengingat nama belakang Stela dan Sandra adalah Winata.
"Siapa?" Tanya Gio yang melihat wajah penasaran Leon tapi gengsi untuk menanyakannya.
"Mereka----" ucapan Frans terputus ketika suara panggilan masuk dari hape Gio berbunyi.
"Iya halo." Ucap Gio berdiri dari kursinya melangkah agak kesudut ruangan untuk berbicara privasi dengan sipenelpon yang berasal dari pasiennya.
"Lo masih nyari peri kecil Lo itu kah?" Tanya Frans yang juga mengetahui antusias Leon dari dulu mencari keberadaan Peri kecilnya.
"Bukan urusan Lo." Jawab Leon meneguk minuman alkohol yang membuatnya seperti tercekik.
"Kalau gak suka ngapain diminum." Cibir Frans yang mengejek Leon yang dari dulu tidak bisa minum-minuman berbaur alkohol sekaligus memikirkan nama yang disebut Leon sebelumnya.
****
Tak ada informasi yang didapat Leon selain harus ikut memapah Frans yang mabuk. Gio meminta Leon untuk mengantar Frans yang mabuk berat keapartemennya.
"Lo kan searah sama dia." Ucap Gio yang buru-buru pergi karna panggilan dari rumah sakit.
"Halo pak." Ucap Leon pada layanan jasa driver. "Iya pak gue tunggu di pintu kedua club." Ucap Leon mengakhiri panggilan lalu merongoh jas Frans meraih kunci mobilnya melempar kepetugas untuk mengambil mobil Frans dari parkiran.
Beberapa menit kemudian mobil Frans dan jasa driver datang bersamaan. Leon melempar Frans kekursi belakang dan meminta driver untuk menanyakan Frans akan alamatnya.
"Tuan!" Panggil driver yang membawa Frans pergi meninggalkan Leon yang kini berbalik mengambil mobilnya. "Tuan mau diantar ke alamat mana?" Tanya Driver lagi pada Frans yang teler dikursinya.
"Jalan Tanjung durian raya." Ucap Frans pada driver.
Satu jam lebih driver berputar-putar mencari apartemen yang dimaksud Frans padanya. Ia hanya mengelantur menyebut nama Jesika pada driver.
"sebenarnya apartemen Jesika yang tuan maksud yang mana?" Tanya Driver yang sudah pusing dibuat Frans. "Mending tuan telpon istri ya deh." Perintah drivernya.
"Dia gak mau angkat panggilanku mas." Rengek Frans membuat driver semakin pusing.
"Yaudah sini biar saya yang hubungi istrinya." Pinta driver pada Frans yang merongoh hapenya dan memberikan pada driver.
"Makanya tuan kalau udah beristri itu jangan main-main diclub lagi." Gerutu driver mengetik nomor Jesika dihapenya. "Lihat dah istrinya gak mau angkat." Gerutu Driver itu kini membuat panggilan pada Jesika menggunakan nomor hapenya.
"Halo,ini siapa ya?" Jawab Jesika menerima panggilan driver.
"Ini mbak Jesika ya?" Tanya Driver.
"Benar saya Jesika." Jawab Jesika. "Bapak ini siapa ya?nelpon saya larut malam begini." Ucap Jesika.
"Saya driver ibu." Jawab Drivernya dengan nada kesal. "Ini suaminya teh mau di kemanain?" Tanya Driver.
"Maaf bapak salah orang." Jawab Jesika. "Saya belum bersuami Pa---"
"---Jesika gue minta maaf." Rengek Frans memotong ucapan Jesika yang terdengar dihape.
"Mbak suaminya dimaafin atuh. Ini suaminya mabuk berat. Mau saya tinggalin dijalanan atau diantar kerumah mbaknya." Jelas Driver yang akhirnya diminta Jesika untuk mengantarnya ketempatnya.
"Mbak ini suami dan kunci mobilnya." Ucap Driver yang memapah Frans sampe kedepan pintu Jesika.
"Bayarannya mas." Ucap Jesika yang keberatan memeluk Frans.
"Udah dikasih sama teman suaminya tadi mbak." Ucap Driver pamitan.
"Fyuh!" Keluh Jesika berhasil membawa Frans dan membaringkannya diranjang. Satu persatu ia melepas,sepatu,kaos kaki, dasi dan jas dari tubuh Frans telentang.
"Jes, maafin gue." Ucap Frans mengigau sementara Jesika melepas ikat pinggangnya dan juga melepas dua kancing atas kemejanya sambil mendengar ngigauan Frans yang terus meminta maaf.
"Jes,gue kangen banget sama Lo." Rengeknya membuat Jesika terdiam sesaat lalu turun dari ranjang dan beranjak keluar. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan baskom berisi air hangat dan handuk. Ia melap wajah dan leher Frans dengan handuk yang sudah ia basahkan dengan air hangat.
"Jes." Panggil Frans meraih tangan Jesika yang hendak pergi.
"Dari tadi Lo pura-pura tidur ya." Ucap Jesika yang dibalas gelengan kepala dari Frans.
"Bohong." Ucap Jesika menarik tangannya dari Frans yang semakin mengenggamnya erat.
"Gue mau muntah." Ucapnya yang dengan sigap Jesika mengambil handuk dan menelentangkannya dibawah mulut Frans.
"Uekkk!" Suara Frans yang dilanjut dengan tangan Jesika mengusap-usap punggungnya dengan lembut.
"Udah?" Tanya Jesika meraih tissu dan membersihkan bibir Frans.
"Udah." Jawab Frans yang kemudian Jesika pergi kebelakang untuk membuat handuk bekasan muntahannya ketempat cucian.
"Minum dulu." Sodor Jesika air hangat untuk Frans untuk diteguknya. "Udah enakan?" Tanya Jesika meletakkan gelasnya berdiri disamping Frans.
"Udah." Jawab Frans melihat ke Jesika.
"Yaudah pulang sana." Pinta Jesika berjalan kearah pintu mempersilahkan Frans untuk pergi dari apartemennya.
"Lo masih marah sama gue?" Tanya Frans.
"Gue gak pernah marah sama Lo." Jawab Jesika berdiri membelakanginya.
"Terus kenapa Lo hindarin gue Jes?" Tanya Frans turun dari ranjang mendekati Jesika.
"Bukankah sudah jelas sebelumnya." Ucap Jesika berbalik badan dan mendapati Frans sudah berdiri dihadapannya. "Gue mau kita berhen---"
"----Enggak Jes!" Potong Frans meraup bibir Jesika hingga mendorong tubuh wanita kedinding. Ia menekannya dengan hasrat dan kerinduan yang sudah tertahan lama.