
Dua puluh empat jam sebelumnya dikawasan Bundaran HI. Jesika menarik lengan Leon membawanya masuk kedalam kerumunan orang-orang yang menunggu kembang api dimalam pergantian tahun.
"Lo yakin kita berdiri disini." Ujar Leon pada Jesika yang tampak antusias ingin menikmati kembang api ditempat yang cukup membuatnya sesak.
"Iya." Sahut Jesika berdiri tepat dihadapan Leon.
Tiba-tiba salah seorang pengunjung tanpa sengaja menabrak Jesika yang hendak meraih jari tangan Leon yang membuat wanita itu kehilangan keseimbangan. Leon yang menyadari hal itu lantas menangkap Jesika membuat tubuh wanita itu jatuh dalam pelukannya.
"Disini gak aman." Ujar Leo mendekap Jesika. "Lo gak pa-pa 'kan?" Tanya Leon dibalas anggukan kepala dan senyum yang menghiasi wajah Jesika dalam dekapan pria yang ia cintai itu.
Leon membantu Jesika berdiri dan membawa jalan mereka keluar dari keramaian yang menghimpit keduanya. Ia merasa tidak nyaman dengan keramaian orang-orang yang berdesakan disekitarnya.
"Leon kita mau kemana?" Tanya Jesika yang hanya bisa mengikuti jejak langkah panjang Leon yang mencari jalan keluar.
"Keluar dari sini." Jawab Leon menarik tangan Jesika yang berjalan dibelakangnya.
"Gue gak mau!" Tolak Jesika menghentikan langkahnya membuat Leon ikut berhenti dan melepas tangannya yang menggenggam pergelangan tangan Jesika.
"Disini terlalu sesak." Ucap Leon.
"Gue mau lihat kembang api." Sahut Jesika mendongak keatas pada Kembang api yang mulai meluncur keatas membuat Leon teringat pada Sandra.
"Gue tahu! Makanya gue mau ajak lo cari tempat yang lebih aman untuk melihatnya." Ucap Leon berbalik badan dan ingin segera menyelesaikan permintaan Jesika dan segera kembali menyusul Sandra.
"Baiklah kalo begitu." Sahut Jesika yang seketika merasa penglihatannya berubah menjadi kabur. Kepalanya terasa berdenyut membuat ia merasa pusing.
Jesika perlahan menurunkan pandangan pada Leon yang berdiri dengan membelakanginya. Ia melihat Leon tampak ada dua orang juga orang disekitar tampak memiliki kembaran dan melihat. Ia pun melangkah dengan tubuh yang sempoyongan mencoba menggapai Leon yang terlihat ada dua didepannya.
"Brukk!" Suara tubuh Jesika terjatuh.
"Eh ada yang pingsan!" Teriak beberapa pengunjung disana membuat Leon berbalik badan. Ia terkejut ketika mendapati yang pingsan itu adalah Jesika.
"Jes!Jesika!." Panggil Leon mendekap wanita itu kepelukanya. Ia menepuk bahunya Jesika membangunkan dalam pangkuannya. Leon menyentuh pipi dan merasakan panas dari kulit Jesika. Ia pun segera menggendong dan membawanya dari kerumunan. Jesika tak sadarkan diri sampe Leon membaringkannya dimobil untuk dibawa pergi menuju rumah sakit. Di perjalanan sambil menyetir Leon merongoh seluruh kantong yang ada ditubuhnya mencari keberadaan hapennya.
"Sial!" Umpat Leon menyadari hapenya tertinggal disofa saat dirinya menunggu Sandra.
*****
Tiba dirumah sakit Leon meminta perawat untuk membantunya membawa Jesika masuk ke UGD. Sekujur tubuh Jesika panas dan ia masih tidak sadarkan diri hingga tiba dirumah sakit.
"Leon!" Panggil seorang pria yang mengenakan jas putih.
"Gio!" Sahut Leon terkejut melihat sahabatnya itu ada disana. Seingatnya Gio bekerja dirumah sakit ternama disingapur.
"Siapa yang sakit?" Tanya Gio melihat Sahabatnya itu bisa-bisanya berada di rumah sakit dimalam pergantian tahun.
"Jesika pingsan." Ujar Leon menghampiri.
"Dia kenapa?"tanya Gio.
"Kalau gue tahu ngapain capek-capek gue ngebut kesini." Jawab Leon. "Lo bukannya di Singapur?" Tanya Leon.
"Inikan malam tahun baru man." Jawab Gio mengingatkan Leon bahwasanya wajar saja ia melihatnya di Indonesia saat ini.
"Iya gak dirumah sakit juga kan." Ledek Leon pada Gio yang pulang malah berakhir dirumah sakit. "Ini rumah sakit bukan rumah Lo." Ledeknya lagi pada Gio yang selalu membantu di rumah sakit kakeknya itu jikalau pulang ke Indonesia.
"Ledek aja terus." sahut Gio."Gue tinggal dulu kalau gitu." Ujar Gio pergi menyusul perawat yang sudah membawa masuk Jesika pergi kedalam ruang ICU.
"Gimana?" Tanya Leon pada Gio bersamaan masuk setelah Jesika dipindahkan keruang perawatan. Ia melihat Jesika terbaring mengenakan baju pasien dan selang infus yang menancap di kulit pergelangan tangannya.
"Dia kecapean makanya sekali serang langsung tumbang gitu deh." Jawab Gio menekan bahu Leon.
"Kecapean gimana?" Tanya Leon mengernyit yang langsung memikirkan perselingkuhan Jesika dan Frans. Imajinasinya membayangkan Jesika melayani pria brengsek itu diranjang sampai membuatnya kelelahan hingga jatuh pingsang tak sadarkan diri.
"Kerja di perusahaan Lo lah." Cibir Gio. "Lo tuh ya pacar sampe disuruh lembur begini. Gak mikir apa dia bakal Lupa istirahat,kurang tidur dan makannya jadi gak teratur." Tutur Gio menjelaskan.
"Eh?Bukan kecapean karna hal lain." Sahut Leon yang sempat berpikir negatif pada Jesika dan Frans.
"Emang Lo mikirnya kecapean ngapain?" Tanya Gio menaikan salah satu alisnya.
"Tau ah!" Jawab Leon berjalan mendekati jendela. Ia menyibakkan gorden hingga memperlihatkan beberapa cahaya gemerlap kembang api yang terlihat samar-samar.
"Senangnya kali ini gue gak sendirian lewatin malam pergantian tahun." Ujar Gio mendekat pada Leon.
"Akhirnya malaikat kami punya cewek juga." Ujar Leon menanggapi perkataan Gio yang juga memiliki paras yang tidak kalah dari Leon dan Frans. Terlebih Gio memilik dua lesung pipi yang membuat pasiennya betah berlama-lama menginap dirumah sakit. Hanya saja ia tidak nakal seperti kedua sahabatnya itu yang sama-sama iblis diranjang.
"Belum kali." Sahut Gio mematahkan pernyataan Leon.
"Terus maksud Lo gak sendirian lagi apaan?" Tanya Leon mengkerut keningnya.
"Lo lah." Jawab Gio disertai senyum yang memperlihatkan lesung pipinya.
"Lo masih normal kan?" Ledek Leon melirik sebentar ke Jesika kemudian menyeringai melihat ke Gio.
"Tonjokan gue lumayan loh. Mau coba gak?" Balas Gio mengusap kepalan tangannya. "Eh bentar lagi nih." Ujar Gio melihat jam ditangannya.
"Apaan?" Tanya Leon.
"Tuh." Jawab Gio menunjuk kembang api yang meledak dilangit menandakan pergantian tahun.
"Pinjam hape Lo bentar." Ujar Leon mengulurkan tangannya pada Gio. Ia teringat pada Sandra ketika memandang kembang api diluar sana.
"Hape Lo dimana?" Tanya Gio merongoh kantongnya.
"Tinggal."
"Lagian lo mau nelpon siapa?" Tanya Gio menyerahkan hapenya.
"Seseorang." Jawab Leon mengusap layar hape.
"Eh?bukannya Jesika ada disini bareng lo." Ujar Gio melihat ke Leon.
"Bego!" Umpat Leon.
"Emang Lo bego." Sahut Gio mencibirnya.
"Gue gak tahu nomornya." Ujar Leon lirih.
"Nomor siapa?" Tanya Gio penasaran. Ia merasa sikap sahabatnya itu sungguh berbeda. Jelas-jelas pacarnya sedang terbaring disini tapi Leon malah memikirkan yang lain.
"Seseorang." Jawab Leon.
Seseorang yang gue tinggal sendirian dengan janji yang gak bisa gue tepati. Batin Leon.