Unboxing

Unboxing
91. Brukk!



Keesokan paginya Leon turun kebawah meninggalkan Sandra yang masih meringkuk dibawah selimut. Ia turun kebawah menyiapkan sarapan ditemani oleh Bude yang sudah menuangkan susu disetiap gelas di meja makan.


"Yang lain dah bangun?" Tanya Leon duduk menggulung lengan sweater yang ia kenakan.


"Masih pada tidur nak." Ucap Bude menyendokkan nasi goreng piring yang ada didepan Leon.


"Bude tolong dibuatin satu piring lagi ya." Pintanya dengan senyum.


"Mau makan di kamar?" Tanya Bude menyiapkan permintaan Leon dengan menaruh dua piring dalam satu nampan.


"Bude jangan bilang-bilang kemereka tentang wanita yang kemarin disini bareng gue ya." Ucap Leon yang meletakkan telor mata sapi di atas piring yang akan ia bawa.


"Iya." Sahut Bude membuat beberapa ikan goreng tepung dan sambal balacan juga pakcoy tumis ke atas nampan. "Pakde udah cerita." Mengangkat nampan.


"Leon aja bude." Pinta Leon pada Bude yang membawa nampan berisi makanan.


"Nak Leon bawa susu yang ada di teko sama gelasnya aja." Berjalan meninggalkan meja.


"Thanks Bude." Balas Leon meraih roti bakar yang ada dipiring membawanya bersama susu.


Gio terbangun dari tidurnya dan melihat lengan Stela melingkar di dada telanjangnya. Ia mengangkat sedikit selimut yang menutupi tubuh keduanya.


Mampus! Umpat Gio mendapati dirinya yang tak mengenakan apapun begitu juga dengan Stela. Perlahan ia menyibak selimut dan menjulurkan kakinya dilantai membuat Stela merasakan kepergian Gio dari sisinya. Satu persatu Gio memungut pakaiannya yang tergeletak dilantai. Stela menatap Gio yang kini melangkah dengan pakaian dan tubuh telanjang masuk ke kamar mandi.


Bego! Kenapa gue malah menyerahkannya pada Gio!Bukan Leon. Batin Stela menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya penuh penyesalan.


Sementara itu Frans yang terbangun dari tidurnya langsung mendekap tubuh Jesika memunggunginya dengan tubuh telanjangnya. Ia mengendus leher Jesika dan mengulurkan tangannya pada tubuh yang juga tak mengenakan apapun juga sepertinya.


"Franss..." Desis Jesika persis dengan nada yang membuat Frans menggila semalaman melawan dinginnya malam. Ia bahkan membekam mulut Jesika beberapa kali saat keduanya mencapai puncak kenikmatan yang mengalir masuk kedalam tubuh Jesika.


"Ahh.." Desah Jesika meremas sprei ranjang menerima sentuhan jemari Frans yang kini bermain di pusat tubuhnya. "Urghh.." menangkap tangan Frans dan berbalik badan memeluk tubuh pria itu dengan mata terpejam.


"Belum basah banget." Desis Frans ditelinga Jesika sambil menuntut sesuatu yang telah mengeras dibawah tubuhnya. Naik turun dengan terus-menerus menggetarkan tubuh Jesika dalam dekapan Frans.


Jleb!


"Ouh.." Desah Jesika meremas pundak Frans.


"Jesika." Desis Frans menarik miliknya keluar kemudian menelentangkan tubuh Jesika yang melemas. "Gak peduli elo mau balikan lagi" membuka lebar paha Jesika dihadapannya. "Atau nggak!" Menenggelamkan kembali miliknya. "Gue gak akan melepaskan lo." menghujani tubuh Jesika terus-menerus hingga keduanya sampai kepuncak kenikmatan. Lagi-lagi milik Frans mengalir begitu saja kedalam tubuh Jesika yang lemas dibawah tubuh Frans.


"Ouhh!" Desah Jesika mengulurkan tangannya pada Frans yang mendekatkan wajahnya dengan tubuh berkeringat.


Tak seharusnya gue begini. Batin Frans mencium kening Jesika. Ia menarik selimutnya kembali menutupi tubuh mereka namun Jesika menolak.


"Lo mau kemana?" Tanya Frans bangkit duduk melihat Jesika yang kini berdiri tanpa menutupi tubuhnya dengan apapun.


"Gue mau mandi." Jawab Jesika menoleh ke Frans.


****


Sandra menikmati sarapannya di depan kolam sambil memperhatikan Leon yang berdiri sejak tadi melihat ke bawah. Ia melihat Frans dan Jesika masuk kedalam mobil diikuti oleh Gio dan Stela.


"Kak Leon lihat apa?" Tanya Sandra membuat Leon berbalik melihat Sandra.


"Pengganggu." Jawabnya berbalik melihat Sandra.


"Eh?!"


"Mereka udah pergi." Jelas Leon meregangkan otot-ototnya berjalan melewati Sandra.


"Iya." Berbalik badan. "Kena---" ucapan Leon terputus oleh tubuh Sandra yang berhambur memeluknya. "----apa lo sesenang itu?" Sambung Leon melihat kebahagiaan diwajah Sandra.


"Iya." Jawab Sandra. "Emangnya Kak Leon nggak." Mendongak melihat ke Leon yang membalasnya dengan meraup bibir sambil menggendong Sandra keatas ranjang.


Dua jam lebih akhirnya mobil Gio tiba dikediaman Stela. Keduanya diam membisu sejak meninggalkan Villa Leon dan kembali ke kota.


"Gue bakal bertang---"


"---Tak perlu merasa bersalah." Potong Stela melihat ke Gio.


"Tapi ini pertama kalinya buat Lo bukan?" Tanya Gio yang merasa bersalah akan apa yang telah ia lakukan tadi malam pada Stela.


"Gue gak bakal hamil juga kan?" Balas Stela. "Tolong rahasiakan ini pada Frans." Ucapnya. "Juga pada Leon." Masih melihat ke Gio.


"Kenapa Leon gak boleh tahu?" Tanya Gio.


"Gue suka sama Leon." Jawab Stela menampar Gio akan kenyataan bahwa saingannya ternyata bukan Frans melainkan Leon. "Lo harus bantu gue." Pintanya.


"Tapi Leon punya seseorang dihatinya." Balas Gio mengingat Leon memiliki peri kecil dihatinya.


"Maksud Lo Sandra?" Cibir Stela dengan senyum sinis pada Gio.


"Gue gak tahu." Jawab Gio yang cukup terkejut mengetahui bahwa Stela menyadari hubungan Leon dan Sandra sejauh ini.


"Lo gak perlu shock begitu." Ejek Stela. "Gue tahu hubungan adik gue itu dengan pria yang gue suka." Sambungnya. "Lagian Sandra hanya anak 18 tahun yang tidak tahu apa-apa." Ucap Stela. "Gue tahu Leon hanya bermain-main dengannya." Cibir Stela.


"Lantas." Melihat ke depan. "Lo akan biarin Leon mempermainkan Sandra?" Tanya Gio.


"Iya." Jawab Stela keluar dari mobil diikuti oleh Gio yang menyusulnya.


"Stela!" Serunya menarik tangan wanita itu hingga membuat langkahnya terhenti.


"Apa-apaan sih Lo?" Tanya Stela melepas genggaman tangan Gio.


"Apa begini cara Lo berterimakasih?" Tanya Gio yang tak terima akan jawaban Stela yang membiarkan Sandra dipermainkan oleh Leon setelah apa yang telah dilakukan oleh Adit dan Rosa untuknya hingga saat ini.


"Oh itu." Jawab Stela santai. "Gue gak nyangka suatu hari Lo bakal minta imbalan." Ucap Stela yang salah paham dengan pertanyaan Gio padanya. "Tapi gak masalah sih karna bagaimanapun Lo udah banyak membantu Gue akhir-akhir ini." Tambahnya mengusap bahu Gio.


"Imbalan?" Tanya Gio mengernyitkan keningnya.


"Iya, imbalan." Balasnya menarik Gio ke pekarangan yang jauh dari jangkauan Rosa dan Adit. "Lo mau apa dari gue?" Tanya Stela membelai rahang Gio dengan lembut. "Satu malam yang menggairahkan?" Tawarnya menyentuh bibir Gio yang tak bisa berkata-kata lagi melihat sisi Stela yang lain yang belum ia ketahui.


"Stela." Seru Adit berdiri didepan sambil menyemburkan air dari selang membuat Stela mendorong Gio dari dekatnya. "Dari mana aja kamu?" Tanya Adit mematikan air dan meraih pemukulan baseball. Ia berjalan menghampiri Stela yang berdiri bersama seorang pria yang tertutup oleh keberadaan Stela dari jauh. "Gio?" Tanya Adit mendapati Gio pria yang hendak ia pukul dengan pemukul baseball yang sekarang tersembunyi dibalik punggungnya.


"Siang Om." Sapa Gio dengan wajah gugup.


"Apa kamu bermalam dengan Gio diluar?" Tanya Adit langsung ke intinya melihat Stela masih mengenakan pakaian kemarin saat meninggalkan rumah.


"Iya Om." Jawab Gio membuat pemukul Baseball keluar dari balik punggung melayang kearah Gio.


Brukkk!


🍁🍁🍁


Berikan Vote,Like dan Coment ❀️❀️❀️