
Selama ini Rahel selalu berhasil menggunakan prinsipnya dalam mengakhiri hubungan. Namun entah obat jenis apa yang telah membuatnya tak bisa melakukan itu pada Leon.
"Bodoh!" Umpat Frans mendengar keluhan Rahel akan Leon padanya. "Peri kecil itu gak ada!" Ucap Frans.
"Ada!" Sangkal Rahel. "Gue dengar Leon bakal menemuinya setelah acara kelulusan."
"Leon sama sekali belum menemukannya." Ucap Frans menarik tangan Rahel ke meja makan untuk makan bersamanya. "Makan gih!" Menyodorkan nasi goreng yang baru ia pesan sebelumnya.
"Gue gak selera." Balas Rahel.
"Rahel,Rahel!" Ucap Frans sambil terkekeh. "Lo ngapain sih terlalu memikirin peri kecil yang bahkan Leon pun gak tau wujudnya gimana sekarang." Cibir Frans sambil menikmati makanannya.
"Pasti dia lebih cantik dari gue." Sahut Rahel yang tak termakan oleh cibiran Frans. "Lebih pintar." Keluhnya sambil mengaduk-aduk makanannya.
"Hahaha." Tawa Frans meledak mendengar primadona kampusnya insecure dengan peri kecil Leon yang belum pasti bagiamana bentuk dan rupanya.
"Lo malah ngetawain gue sih." Gerutu Rahel kesal.
"Yang gue tahu peri kecil Leon itu lebih muda 10 tahun dari kita." Ucap Frans.
"Kalau gitu dia masih kelas 6 SD." Sahut Rahel dengan wajah bingung.
"Leon ketemu dia waktu masih kecil yaa sekitaran usia 4 tahun kalau gak salah." Jelas Frans yang kemudian menceritakan apa yang ia tahu tentang peri kecil Leon pada Rahel.
"Hel!" Panggil Gio yang berdiri disamping Rahel. Keduannya sedang berada dimeja operasi bersama calon dokter lainnya.
"Ya!" Sahutnya terbangun dari lamunan kemudian melakukan tugasnya yang sudah dibagi sebelumnya.
"Lo mikirin apa sih?" Tanya Gio ketika keduanya berada di kantin. "Gak biasanya Lo melamun begitu." Memberikan minuman botol pada Rahel yang kembali memikirkan Leon yang sudah menempatkan hatinya pada gadis kecil jauh sebelum takdir lain mempertemukan mereka.
"Gak ada." Jawab Rahel bangkit berdiri.
"Mau kemana?" Tanya Gio.
"Ke apartemen Leon." Jawab Rahel meneruskan langkahnya.
"Bukannya Lo ada bimbingan hari ini." Ucap Gio mengingatkan namun Rahel terus melangkah pergi mengabaikan perkataan Gio.
Satu jam berlalu setelah Rahel tiba didepan pintu apartemen Leon. Ia berdiri dengan wajah yang ditekuk kebawah.
Fyuh! Suara hela nafasnya keluar. Seperti biasa Ia tak bisa masuk ke apartemen tanpa memberitahu Leon. Leon tak pernah membertahu password apartemennya setiap kali ia minta padahal keduanya sudah cukup lama menjalin hubungan.
Rahel meraih hapenya dan mengirimkan sebuah pesan untuk Leon.
Tring! Suara pesan masuk di hape Leon yang terletak di atas ranjangnya. Leon meraih hape dan membuka pesan dari Rahel.
📥 RahelAprilia
Password apartemen?
📤LeonardoSanjaya
Lo udah didepan?
Jawaban yang selalu ia terima. Tiga puluh menit berlalu setelah membaca pesan Rahel kembali mengirimkan pesan untuk kekasihnya itu.
Tring! Suara pesan baru dari Rahel yang kemudian dibuka Leon.
📥 RahelAprilia
Ya.
Sambil menutup kembali layar pesan dihapenya Leon berjalan menuju pintu menemui Rahel yang menunggunya disana.
Klek! Suara pintu terbuka.
"Hai!" Sapa Rahel yang kemudian disusul oleh suara dering panggilan masuk dari hape yang ia pegang.
"Halo." Ucap Rahel pada Leon yang menghubunginya sambil melihat Frans berdiri didepannya.
"Lo dimana?" Tanya Leon yang melangkah keluar melewati pintu mencari keberadaan Rahel yang mengatakan sebelumnya bahwa dirinya ada didepan.
"Gue lagi di---." Jawab Rahel dengan mata yang terus menatap Frans.
****
Malam itu Rahel melepaskan segala perasaannya pada Leon bersamaan dengan pakaian yang menutupi tubuhnya didepan Frans. Ia sadar sikapnya ini akan membawa dampak bagi persahabatan Leon dan Frans dimasa depan. Namun nafsu sudah tak terbendung lagi.
Ah uh ah! Suara ******* yang berpacu memenuhi kamar Frans. Begitu juga dengan keringat yang mengkilat membasahi sekujur tubuh. Samar-samar suara kecupan terdengar bersamaan dengan jemari yang saling bertaut.
Tek Tek Tek! Suara jarum jam dinding membangunkan Rahel dari tidurnya. Ia menatap Frans yang masih tertidur disampingnya.
"Gio nelpon gue." Desis Rahel yang kini terduduk bersandar pada kepala ranjang sambil melihat panggilan masuk dihapenya. "Dia gak nyari gue sama sekali." Lanjutnya yang tak menemukan panggilan bahkan pesan dari Leon.
"Apa Lo mau pulang sekarang?" Tanya Frans yang kini mendapati Rahel duduk ditepian ranjang sambil mengenakan kembali pakaiannya.
"Ya." Jawabnya memunggungi Frans.
"Lo yakin?" Tanya Frans melihat jama menunjukkan 01.00 dini hari. "Apa mau gue antar?" Tawar Frans menyibak selimut turun dari ranjang.
"Gak usah." Jawab Rahel berbalik badan melihat Frans berdiri membelakanginya tanpa mengenakan apapun.
"Apa masih mau lanjut?" Tanya Frans yang melihat Rahel dari cermin sedang memandangi tubuhnya.
"Elo gak punya pacar?" Tanya Rahel balik sambil berbalik membelakangi kembali.
"Kenapa?" Tanya Frans memakai pakaiannya. "Ayo gue antar." Ajak Frans mengambil kunci mobilnya.
"Gue udah bilang gak perlu." Tolak Rahel.
"Gue benar-benar dalam masalah." Balas Frans melihat ke Rahel.
"Lo belum jawab pertanyaan gue yang tadi." Ucap Rahel.
"Gak ada." Jawab Frans memakaikan Rahel jaket menutupi dirinya. "Kalau ada yang sampai tahu Lo ada disini. Entah apa yang akan mereka pikirkan mengenai Lo." Jelas Frans membawanya pergi keluar dari apartemennya. Karna sejak awal Frans sudah mendengar isu-isu mengenai latar belakang keluarga Rahel.
"Frans." Desis Rahel dari sela-sela buku yang berjejer dirak perpustakaan. Ia diam-diam menemui Frans di waktu Leon keluar kota dan Gio sibuk dengan skripsinya.
"No." Tolak Frans membuang alamat hotel yang diberikan Rahel padannya.
"Apa Leon gak cukup?" Tanya Frans yang lagi-lagi dibuntuti Rahel hingga ke club. Ia menyamar menjadi orang lain dengan penampilan yang jauh lebih menggoda dari biasannya.
"Akhir-akhir ini Lo lebih menggoda." Jawab Rahel mengambil gelas Frans dan meneguk minuman itu untuknya.
"Haruskah kita check-in?" Tanya Frans menarik Rahel kepelukannya di antara hiruk-pikuk musik dan orang banyak yang tak mengenali Rahel.
Ah! Desah Rahel yang mencapai tujuannya. Ia berhasil menarik Frans keatas tubuhnya dengan bantuan sedikit obat dan minuman.
"Gue masih bisa menemui Lo kan?" Tanya Rahel melihat Frans kesal mendapati dirinya di atas ranjang tanpa sehelai pakaian pun.
"Bangsat!" Umpat Frans memejamkan matanya.
"Lo ngatain gue?" Tanya Rahel.
"Bukan." Jawab Frans menoleh ke Rahel yang melihat padannya. "Gue ngatain diri gue sendiri." Jelas Frans.
"Gak kok." Sangkal Rahel.
"Leon bakal kecewa banget kalau sampai ta---"
"---Frans." Potong Rahel. "Bantu gue lupain Leon ya?" Pintanya menatap dalam pada mata Frans yang melihat kearahnya. "Please!" Memohon sambil mengulurkan tangannya ke leher Frans membuat setengah tubuhnya terangkat mengenai dada Frans.
"Rahel."
"Ya?" Sahut Rahel.
"Kenapa harus gue yang Lo libatin?" Tanya Frans.
"Karna Lo sahabatnya."
🍁🍁🍁
Berikan Vito,Like dan Coment untuk dukung masa lalu eh masa depan🤭🤭
thankyou guyss❤️❤️❤️