Unboxing

Unboxing
12. Peringatan!



Cahaya matahari dipagi hari menembus sela-sela gorden jendela membuat Leon tidak bangkit dari ranjangnya. Sudah satu jam lebih ia memandangi wajah Sandra tertidur dilengan yang dijadikan bantal.


Sepanjang malam Leon melakukan segala cara agar Sandra berhenti menangis. Hingga akhirnya Leon memutuskan melepas dekapnya pada Sandra. Ia mendorong pundaknya membuat mereka saling pandang dan menakuti gadis 18 tahun itu.


"Kalau masih nangis gue telanjangin nih!" Ucap Leon menakutinya. "Mau?" tawarnya lagi menangkup wajah Sandra.


Kata telanjang itupun berhasil membuat Sandra membalas dengan gelengan kepala dan berhenti menangis.


"Ya udah!" Menarik selimut melap air mata diwajahn Sandra. "Jangan nangis lagi." Menarik Sandra masuk kepelukanya. "Kenapa tiba-tiba jadi cengeng lagi sih." mengusap punggung gadis itu.


Sandra tersenyum dalam pelukan Leon. Ia membenamkan wajahnya kedada pria itu dan merasakan kehangatan dari dada bidang Leon hingga membuatnya tertidur.


Leon mengelus lembut lipatan kelopak mata Sandra yang sedikit membengkak dengan punggung jari telunjuknya. Tangan itu kemudian turun mengelus pipi dan berhenti pada bibir yang ingin Leon lu**t setiap kali melihatnya.


Dengan sangat hati-hati Leon menarik lengannya dan menggantikannya dengan bantal yang ada disebelahnya. Ia duduk menyikap selimut yang menutupi tubuh mereka dan memeriksa lutut Sandra sudah mendingan dari sebelumnya.


Pelan-pelan Leon turun dari ranjang agar tidak membangunkan Sandra yang masih belum terjaga. Leon menarik selimut menutupi tubuh Sandra hingga ke dagunya. Ia kemudian diam-diam meraih Sling bag milik Sandra dan mengambil hape dari dalam sana.


Sejak bertemu Leon tidak sekalipun pernah mendengar dering panggilan maupun pesan dari hape milik gadis yang sudah dua kali bermalam dengannya ini.


Masa iya keluarganya gak nyariin. batin Leon mengusap layar hape yang bahkan tidak menggunakan pola ataupun kunci hingga memudahkan Leon mengecek panggilan masuk dan pesan didalamnya.


Leon mengernyitkan alisnya setelah mengetahui tak ada satupu panggilan baru ataupun pesan baru didalam sana. Ia kemudian membuka daftar kontak yang dimiliki Sandra hanya ada Mang Danu dan Fransroso Mahesa.


Leon mengembalikan hape itu ke dalam tas dan meletakkannya diatas kabinet sebelah ranjang.


Apa sebenarnya yang terjadi?. Batin Leon berdiri sebentar menatap Sandra lalu memberikan gadis itu kecupan hangat dikeningnya.


****


Beberap menit kemudian Leon keluar dengan dada telanjang dan handuk yang melilit pinggangnya. Ia berjalan pada walk on closet sambil melirik Sebentar pada Sandra yang sekarang meringkuk dibawah selimut.


Selang menit kemudian Leon keluar dengan kemeja dalam hitam, setelan jas merah maroon senada dengan celana dan sepatu Plain toe hitam dikakinya. Ia melangkah keluar menghampiri Sandra yang kini terduduk ditepi ranjang sambil memperhatikan layar hapenya.


"Kalau Lo nangis lagi." Ucap Leon mencondongkan tubuhnya pada Sandra membuat aroma maskulin dari tubuh Leon mengangkat wajah Sandra yang tertunduk sejak tadi menatap hapenya. "Gue bakalan." Sambung Leon dengan satu tangannya melepas dua kancing atas kemejanya. "Ngelakuin--"


"---Sandra gak nangis." Potong Sandra melepas hape ditangannya lalu melingkarkan kedua tangan itu dileher Leon hingga mengikis jarak diantara mereka.


"Mau digendong?" Tanya Leon yang perlahan mengetahui bahwa luka yang membuat gadis itu menangis bukanlah luka dilututnya melainkan luka dihatinya.


Sandra membalas tawaran Leon dengan anggukan kecil disertai senyum dibibirnya.


"Gak ah,Entar ngences Lo nempel lagi kegue." menarik tubuhnya untuk tegap berdiri membuat Sandra ikut tertarik membuat kakinya jinjit menggapai lantai dengan tangan yang masih melingkar dileher Leon.


"Sandra gak ngences kok Kak." Balas Sandra.


"Lututnya gak sakit lagi emang."Meraih pinggang Sandra dan mengangkat tubuh itu untuk menggendongnya.


"Gak lagi." Merekatkan tubuhnya memeluk Leon yang menggendongnya.


"Terserah Kakak." Jawab Sandra meletakkan wajahnya di pundak Leon sambil memikirkan kenapa mama dan papanya tidak mencarinya hingga pagi ini.


Leon membawanya masuk ke kamar yang ada dibawah. Masih posisi menggendong gadis itu ia membuka walk in wadrobe membuat Sandra menegakkan wajahnya.


"Kak,aku boleh tinggal disini gak?" Tanya Sandra melirik sebentar ke Leon lalu kembali melihat ke yang lain.


Bahaya! Batin Leon. Ia tidak seharusnya bersikap lembut hingga membuat gadis polos ini tersanjung dan kehilangan rasa waspada dalam dirinya.


"Emangnya Lo gak punya rumah sampe pengen tinggal disini?" Tanya Leon balik yang malah membuat Sandra terdiam. Ia mengalihkan pandangannya ke baju yang tergantung didepan mereka. Tidak ada jawaban atas pertanyaannya selain kedua matanya yang mulai berkunang.


Kayaknya gue salah nanya. Batin Leon merasa bersalah.


"Lo mau pakai yang mana?" Tanya Leon cepat-cepat mengalihkan pada pertanyaan lain.


"Ini gak pa-pa kak." Jawab Sandra memilah dress didepannya. "Bukannya ini milik kak Jesika." Sambungnya lagi melihat ke Leon yang tidak marah seperti sebelumnya ketika Sandra menyebut nama kekasihnya itu.


"Ini bukan punya Jesika." Sahut Leon. "ini punya seseorang." Tambahnya membalas pandangan Sandra padanya.


"Sama saja." Melihat ke Leon. "Pantesan aja Kak Jesika---." Menatap Leon dengan tatapan aneh yang dibalas dengan anggukan dari Leon dan senyum nakal.


"Terus yang lainnya lagi buat siapa?" Tanya Sandra mengambil satu dress.


"Buat Wanita yang meminta tinggal untuk gue tidurin dikamar ini." Jawab Leon menggoda Sandra dan membawa Sandra ke ranjang. "Lo udah siapkan?" Membaringkan Sandra diranjang. "Gue tidurin malam ini." Berdiri pada kedua lututnya diantara tubuh Sandra yang terbaring diranjang. Leon sengaja melakukannya agar Sandra sadar bahwa pria didepannya ini adalah pria dewasa yang menginginkan lebih.


"Kak Leon jangan begitu." Pinta Sandra mendorong dada Leon yang semakin mendekat.


Bagus! Batin Leon.


"Bukannnya Lo yang bilang mau tinggal sama gue." Ucap Leon yang mengingatkan Sandra kembali pada permintaan sebelumnya.


"I-Itu.." melihat wajah Leon yang semakin dekat. "Sandra mints tinggal." Kedua tangannya masih berada didada Leon. "Bu-Bukan untuk gituin." Menggelengkan kepalanya.


"Digituin gimana?" Goda Leon pada Sandra.


"Di-Ditidurin." Jawan Sandra gugup.


"Kalau gitu Lo gak bisa tinggal disini." Menarik tubuhnya kembali berdiri bersamaan dengan menarik tangan Sandra untuk membuatnya terduduk ditepi ranjang."Gue mau yang bisa ditidurin."ucap Leon merendahkan tubuhnya jongkok didepan Sandra. "Yang bisa muasin gue diranjang ini." Menatap Sandra. "Tanpa penutup apapun." Leon berterus terang untuk memperingati dan mengembalikan kewaspadaan Sandra.


"Jadi,Jangan pernah minta untuk tinggal sama gue. "Menyelipkan rambut Sandra kebalik telinganya.


Karna bahaya kalau Lo sampai tinggal bareng gue. Batin Leon.


Entah perasaan darimana yang membuat Leon tidak ingin membuat gadis dihadapannya itu termakan nafsunya. Meskipun sebelumnya ia memiliki niat untuk melampiaskan amarahnya pada Frans dengan membenamkan jagoannya pada Sandra.


"Lo Mengerti kan maksud gue?" Tanya Leon menegaskan yang dibalas oleh anggukan pelan dari Sandra.


"Bagus!" Ucap Leon yang berhasil memberi peringatan untuk Sandra.