Unboxing

Unboxing
67. Bukan Cinderella



Dengan senyum yang merekah Leon melangkah masuk yang diiringi oleh Simon dan Mona. Ia tidak berhenti tersenyum dan memikirkan kejadian semalam hingga tak menyadari kini dirinya berdiri didepan lift karyawan.


"Bos." Desis Mona pada Leon yang dengan santai menunggu lift terbuka bersama karyawan lainnya.


"Bos Leon." Bisik Simon pada Leon yang dengan antengnya masuk ke dalam lift membuat cewek-cewek kesenangan.


"Mona hari ini gue ada jadwal kosong gak?" Tanya Leon mendongak keatas masih dengan raut bahagia.


"Haruskah saya jawab disini Bos." Jawab Mona melihat ke Leon yang menurunkan pandangannya padanya. "Apa tak masalah?" Tanya Mona melirik sebentar ke karyawan yang menatap Leon lalu kembali melihat ke Leon.


"Kalian kenapa ada---"


"---Bos ini memang lift karyawan." Bisik Simon memotong pertanyaan Leon.


"Kenapa Lo baru bilang?" Desis Leon berusaha tetap cool didepan karyawannya.


"Dari tadi kita udah bilang Bos!" Jawab Mona dan Simon kompak.


"Benarkah?" Tanya Leon melipat bibirnya menahan tawa.


Gue terlalu senang. Batin Leon memasukkan tangannya ke kantong dan keluar saat lift itu terbuka tepat dilantai divisi Stela dan Jesika.


"Sebentar!" Ucap Leon mengangkat satu tangannya menghentikan langkah kedua asistennya itu tepat di depan pintu ruangan Jesika dan Stela.


"Ada apa Bos?" Tanya Simon melihat Leon berbalik badan masuk ke ruangan dan melihat Jesika yang berdiri dimeja rekan kerjanya yang lain.


"Selamat pagi Pak Leon." Sapa GM divisi keluar dari ruangannya membuat Jesika dan yang lain menoleh ke Leon yang berdiri mencari-cari keberadaan seorang.


"Selamat pagi juga." Sahut Leon dengan mata yang kini bertemu dengan mata Jesika yang melihat padanya.


Kenapa dia sedikit berbeda hari ini? Dia bahkan jauh lebih cantik. Batin Leon menatap Jesika dari ujung sepatu hingga atas kepala.


"Auristela?" Tanya Leon melihat ke GM divisi yang berdiri disebelahnya.


"Stela sakit Pak!" Jawab GM panik. "Jadi dia ga---"


"---Okey!" Potong Leon kembali melihat Jesika dengan raut wajah yang memiliki banyak sekali pertanyaan untuknya. "Jesika Anastasya!" Panggil Leon membuat Mona terkejut begitu juga dengan Jesika yang menjatuhkan pena ditangannya. "Apa ada yang ingin kamu katakan?" Tanyanya menaikan salah satu alisnya membuat karyawati yang ada disana meleleh akan pesonanya.


"Jesika beraninya kamu menantang---"


"---Jangan salah paham ibu." Potong Leon memberikan senyum pada GM yang hendak memarahi Jesika didepan yang lain. "Dia cantik!" Puji Leon melirik ke Jesika membuat karyawati lain tercengang sekaligus iri pada Jesika yang mendapat pujian dari Bos mereka yang dikenal dingin. "Makanya Saya memanggilnya dan bertanya seperti itu." Lanjutnya lagi membuat Mona menyenggol Simon.


"Lo habis ngasih Bos makan apa?" Desisnya pada Simon.


"Bukan gue yang ngasih." Jawab Simon yang sudah kenyang lebih dulu melihat tingkah aneh Bosnya sebelum tiba perusahaan.


****


Sorenya Jesika meneguk minuman dingin di depan minimarket menunggu kedatangan Frans. Ia melamun memikirkan pujian Leon yang dilontarkan pagi tadi untuknya didepan karyawan lain.


"Jes!" Panggil Frans yang sudah tiba sejak tadi. "Lagi mikirin apa?" Tanya Frans pada Jesika yang kini duduk disebelahnya.


"Minggu lalu Lo bilang Leon habis kecelakaan bukan?" Tanya Jesika mengingatkan kembali cerita Frans yang ia dapat dari Gio.


"Iya." Memutar setirnya. "Kenapa?" Tanya Frans melihat sebentar ke Jesika lalu fokus kembali ke jalan.


"Hari ini dia muji gue didepan yang lain." Jawab Jesika memberitahu apa yang ada dipikirannya. Sejak keduanya menjalin hubungan kembali ia kerap memberitahu apapun yang ia alami pada Frans. "Stela hari ini gak masuk." Melihat ke Frans. "Kabarnya ia jatuh pingsan seperti sebelumnya." Sambung Jesika yang membuat Frans tiba-tiba meminggirkan mobilnya untuk berhenti.


"Gue gak sengaja mendengar pembicaraan Mona dan Simon tadi siang." Jawabnya yang sebelumnya menguping Mona dan Simon membahas tentang hubungan Stela dengan Leon.


"Jadi Mamanya Bos mau melamar Stela untuk Bos kita!" Ucap Mona. "Astaga!" Melihat ke Simon. "Lo gak salah dengar kan?" Tanya Mona tak percaya.


"Emang sejak kapan omongan yang keluar dari mulut gue salah." Jawab Simon mengecek laporan yang baru masuk.


"Tapi kali ini gue berharap itu salah." Sahut Mona melirik kecil ke pintu dan mendapati Jesika berdiri disana.


"Gue juga berharapnya begitu." Ucap Simon. "Tapi yang terjadi tadi malam keluarga Bos mendatangi keluarga Stela." Sambungnya.


"Terus-terus!" Ucap Mona.


"Lo lihat aja tingkah Bos itu." Sahut Simon mengklik mouse pada file yang berisi dokumentasi potret Sandra yang belum ia hapus dari komputernya.


"Halo om!" Sapa Frans dari telpon pada Adit yang kemudian menjelaskan keadaan Stela saat ini.


"Di rumah sakit mana Om?" Tanya Frans yang kemudian ia menyalakan kembali mobilnya dan memutar ke jalur lain. "Oke Om." Tutup Frans mengakhiri panggilannya.


Kedua pria ini apakah begitu menyukai Stela?Benar-benar membuat orang lain iri. Batin Jesika duduk bersandar menatap keluar jendela.


"Jes!" Panggil Frans yang sejak tadi memanggilnya. "Lo tidur ya?" Tanyanya sambil fokus kejalanan. "Mau gue antar ke Apartemen Lo atau---"


"----Turunin gue di mall yang ada didepan sana aja." Potong Jesika menahan rasa yang begitu sesak bergejolak direlung hatinya.


"Lah kok turunin." Ucap Frans melirik Jesika yang memalingkan wajah darinya. "Bukan kita mau jalan." Kembali fokus ke jalan.


"Lain kali aja." Balas Jesika melihat ke Frans. "Lo mau ke rumah sakit kan?" Tanyanya memastikan sesuatu hal yang sudah jelas terlihat diwajah Frans yang sejak tadi mengkhawatirkan Stela.


"Iya." Jawabnya berbelok masuk ke basemant Mall. "Lo mau beli sesuatu?" Tanya Frans. "Gue temanin habis itu kita ke---"


"---Gak usah." Tolak Jesika. "Lo tau gak cewek itu kalau belanja lama." Sambungnya menolak ditemani Frans yang jelas-jelas hati dan pikirannya bukan untuknya. "Gue nitip salam buat Jesika ya." Ucap Jesika keluar dari mobil.


"Lo yakin gak mau gue tunggu." Tawar Frans lagi yang dibalas dengan gelengan kepala dari Jesika.


Jesika bersembunyi dibalik kolom seolah ia sudah masuk melewati pintu mall. Ia berdiam diri memastikan apa Frans benar-benar memiliki perasaan yang lebih untuknya dibanding Leon.


"Dia turun." Desis Jesika melihat Frans yang kini menutup pintu mobilnya dan melangkah kearahnya.


"Fran---" panggilan Jesika terputus oleh suara panggilan masuk untuk Frans.


"---Halo mah!" Jawab Frans melewati keberadaan Jesika sambil berbicara dengan Feny ditelpon yang diikuti oleh Jesika dari belakang. "Kira-kira Stela suka gak yah mah?" Tanya Frans ditelpon menghentikan langkah Jesika yang mengikutinya.


Bodoh! Dia datang bukan untuk Gue. Batin Jesika berbalik badan dan mendapati Leon mendorong troli belanja ditemani Sandra yang berdiri disampingnya.


"Kak Leon mau yang itu gak?" Tanya Sandra menunjuk rak daging yang ada didepan mereka. "Sandra mau coba masak pakai resep Bi Ema." Ucapnya lagi yang mendapat balasan kecupan dikepala dari Leon dengan raut bahagia yang tak pernah Jesika lihat saat mereka bersama. Sementara dibelakangnya samar-samar Jesika mendengar Frans meminta Feny menyarankan apa yang disukai Stela untuk ia bawa.


Jesika terpaku diantara orang yang lalu lalang dengan kecepatan waktu yang mereka punya. Ia berhenti di toko buku anak-anak dan meraih buku bertuliskan Cinderella.


Cinderella bahkan memiliki takdir bersama seorang pangeran karna sejak awal dia berasal dari kalangan kelas atas. Batin Jesika memandang gambar Cinderella pada sampul buku.


Bangun Jes!Lo bukan Cinderella yang selevel dengan mereka. Batin Jesika berbalik badan kearah lain sambil menyeka air mata yang jatuh dipipinya.


🍁🍁🍁