Unboxing

Unboxing
15. Bertahan



Leon duduk memperhatikan Sandra yang membelakanginya. Gadis itu mencepol rambutnya hingga memperlihatkan tengkuknya dari belakang. Ia berdiri didepan wastafel dengan kedua tangannya yang sibuk mencuci piring bekas makan mereka dan juga perkakas lain yang ia gunakan untuk memasak sebelumnya.


Sandra yang sudah terbiasa menemani Bi Ema didapur menawarkan diri memasak makan malam untuk Leon dan dirinya. Menyibukkan diri di dapur bersama bahan-bahan yang ada di kulkas selalu berhasil membuatnya melupakan kesedihan yang ia alami.


Sandra melepas celemeknya dan menaruhnya kembali ketempat semula. Ia berbalik badan melihat sepasang mata menatap kearahnya.


"Kak Leon kenapa bengong?" Tanya Sandra bertopang dagu di pantry.


Sudah sejak tadi Leon menahan untuk tidak tergoda dengan tengkuk seksi itu. Tidak ada jawaban dari Leon . Ia malah semakin menikmati memandangi wajah Sandra yang semakin dekat datang kearahnya. Mata nakal itu turun pada lekuk leher bagian depan yang sangat seksi. Selama ini Leon tidak menyadari bagian itu karna rambut Sandra yang selalu terurai menutupinya.


Leon mengusap bibir bawahnya dengan jari telunjuk ketika Sandra mencondongkan tubuhnya kedepan. Ia mengigit bibirnya menahan hasrat yang bergejolak ketika gadis itu semakin memajukan tubuhnya mengamati wajah Leon.


"Kak Leon." Panggil Sandra. "Aku pulang ya."


"Pulang." Akhirnya Leon merespon Sandra. "Ini udah malam." Melihat jam dipergelangan tangannya menunjukkan jam sembilan.


"Gak pa-pa Kak." Meluruskan tubuhnya tegap kembali. "Inikan malam minggu jalan pasti masih ramai." melangkah ke ruang tamu diikuti Leon dari belakang yang sudah kehilangan imajinasi liarnya.


"Gak takut pulang sendirian." Meraih tangan Sandra. "Nanti Lo diapa-apain dijalan gimana."


Daripada Lo diapa-apain sama orang diluar sana mending gue yang ngapa-ngapain Lo disini. Batin Leon kembali dengan pikiran nakalnya.


"Gitu ya kak." Sahut Sandra polos memakai ranselnya. "Kalau Akunya naik taksi gimana kak?" Tanya Sandra melangkah ke pintu masih dikuti Leon.


"Taksi ya." Menggaruk pangkal hidungnya. "Gue gak bisa jamin sih supirnya baik." Ucap Leon mencari alasan untuk menahan Sandra agar tidak pulang.


"Kak Leon!" Berbalik badan membelakangi pintu.


"Apa?" Tanya Leon pura-pura polos.


"Kok malah nakutin Aku." Melepas tangan Leon dengan wajah merengut.


"Gue bukan nakutin elo!" Menggaruk lehernya. "Gue gak yakin aja. Soalnya perasaan gue rada gak enak." Menatap Sandra.


"Kalau gitu aku telpon mang Danu aja." mengeluarkan hapenya.


"Mang Danu siapa?" Tanya Leon mengernyitkan alisnya. Ia pernah melihat kontak dihape Sandra sebelumnya.


"Supir dirumah." Mengusap layar hapenya.


Oh ternyata supir.Batin Leon lega.


"Tega Lo nyuruh mang Danu jemput malam begini." Celetuk Leon yang masih berusaha menahan gadis itu.


"Terus gimana dong nasib Aku."


"Gak usah pulang." Mengambil hape ditangan Sandra. "Temanin gue tidur dikamar." Menggenggam tangan Sandra.


"Nemanin aja kan Kak." Berjalan sambil bergandengan dengan Leon.


"Iya." Sahut Leon penuh kemenangan.


Buset! Kenapa gue sesenang ini. Batin Leon melipat bibirnya.


"Gak boleh aneh-aneh ya Kak." Ucap Sandra.


"Hm.." Sahut Leon menghentikan langkah kakinya. "Meluk sambil tidur." melihat ke Sandra. "Bolehkan?"pinta Leon dengan wajah polos.


"Enggak."


"Gue lagi sedih San." Ucap Leon mengeluarkan ekspresi kasihan. "Lo kan tau Jesika selingkuh sama Frans." Tutur Leon bawa-bawa perselingkuhan Jesika dan Frans untuk mendapatkan simpati dari Sandra.


"Yaudah deh." Mengiyakan tanpa tahu pria disebelahnya itu sudah tergoda pada tubuhnya.


Sementara di lantai yang berbeda Frans dan Jesika duduk santai di balkon sambil menikmati pemandangan dimalam hari.


"Frans.."panggil Jesika. "Hmm?" Melihat ke Jesika.


"Siang gue lihat Leon."


"Terus?" Tanya Frans. Siang tadi ia juga sebenarnya melihat Leon. Tapi ia tidak tahu pasti apa Leon juga melihat mereka.


"Frans...." Menyandarkan tubuhnya dipunggung kursi.


"Iya apa?"


"Gue takut bakal ketahuan sama dia." Menaikan kedua kaki diatas kursinya. "Dua Minggu belakangan ini dia menghindar sama gue." Menyembunyikan wajah dilututnya. Jesika tahu Leon dan Frans dulunya sahabat bahkan seperti saudara. Ia juga tahu hubungan keduanya retak karna seorang wanita. Dan sekarang keberadaannya justru membuka luka yang belum sembuh diantara keduanya.


"Selama pacaran ini lo udah ngapain aja sama dia?" Tanya Frans mengalihkan pembicaraan.


Frans memperhatikan Jesika yang gelisah memikirkan kesalahannya pada Leon. Ia selalu melihat Jesika ketakutan setiap kali mereka bersama.


"Kayak gue ke elo." Masih menyembunyikan wajahnya. "Gue gak perlu jelasin 'kan sampai detail-detailnya."


Frans tersenyum mendengar jawaban Jesika. Ia tidak tahu pasti yang membuat dirinya tersenyum apa karna wanita ini tidak membedakan perlakuannya pada dirinya dan Leon atau ada perasaan lain yang belum jelas adanya.


"Seingat gue Leon itu hebat di ranjang." Ucap Frans membantu Jesika melupakan penghianatannya terhadap Leon.


"Hah kok Lo bisa tahu." Sahut Jesika mengangkat wajahnya. "Lo pernah gitu-gituan ya sama dia. Hayo ngaku." Ledek Jesika yang samar-samar melupakan kegelisahan hatinya.


"Gila!" Umpat Frans."Lo pikir kita cowok yang kekurangan cewek apa!" Sangkal Frans membuat Jesika tergelak tertawa mendengar pria itu menyangkal tuduhan konyol darinya. Ia juga tertawa akan pembelaan Frans yang menyebutkan dirinya dan Leon sama brengseknya dimasa lalu.


Melihat Jesika tertawa membuat Frans merasa sedikit lega. Ia tidak tahu persis alasan Jesika melemparkan diri padannya padahal Jesika tahu benar apa yang telah terjadi antara ia dan Leon.


"Lo cinta gak sama Leon?" Pertanyaan Frans membuat Jesika berhenti tertawa. Ia meneguk anggur tanpa jeda.


"Gue malas jawabnya." Meletakkan gelasnya.


"Karna Lo selingkuh sama gue." Menggoyangkan gelasnya.


"Itu elo tahu." Melipat tangan didada.


"Tapi Lo udah masuk kehatinyakan ?" Tanya Frans melirik wanita disampingnya itu.


"Boro-boro masuk kehatinya." Jawab Jesika memandang langit yang tak berbintang. "Masuk ke kamarnya aja gue gak bisa."


"Jadi selama ini kalian ngelakuinnya dimana?" Meletakkan gelasnya dan bersandar dipunggung kursi.


"Di kamar tamu." Jawab Jesika. "Gue gak pernah ada dihatinya."ucap Jesika dengan nada bergetar menatap langit. "Meskipun Gue bertahan dengan dirinya yang dingin dan cuek." Menurunkan pandangannya dari langit.


"Dia emang begitu anaknya dari dulu." Ucap Frans melihat ke wanita itu yang berusaha menahan tangis. "Gak usah terlalu dipikirin."


"Gue capek Frans." Menundukkan wajahnya. "Bodohnya gue malah ngelibatin lo untuk buat dia berubah. Gue pengen dicemburuin sama dia. Gue pengen dia terbuka dengan apa yang dia rasain ke gue. Tiap kali gue sengaja ngelakuin kesalahan dia hanya diam tanpa emosi. Gue pengen jadi orang yang dia butuh disaat dia mengalami sesuatu." Tutur Jesika menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya membuat Frans terdiam. Ia akhirnya tahu alasan wanita ini datang padanya.


Gue pikir Lo sama dengan Rahel. Ternyata Lo beda. Batin Frans.


"Gue minta maaf udah ngelibatin lo." Tutur Jesika disertai Air mata yang mulai membasahi pipi dan tangan. "Gue takut Leon semakin benci sama Lo gara-gara kebodohan yang gue lakuin."


Frans bangkit dari kursinya menghampiri Jesika yang menangis dengan menutup wajahnya.


"Gue gak nyangka cinta untuknya begitu besar." ucap Frans menarik tangan Jesika dari wajahnya. "Sampai buat lo jadi bodoh begini." Mengusap air mata dipipi Jesika.


"Karna lo bodoh." Duduk disamping Jesika.


Gue akan berbaik hati membantu lo bertahan untuknya. Batin Frans sambil Mengusap punggung Jesika untuk menenangkannya.